Alara memasuki kawasan asrama santriwati dengan jantung berdebar kencang. Bukan karena ia setengah berlari, melainkan karena bisikan pria itu. Calon istri katanya? Alara yang nyaris berbunga-bunga segera berdecih. Tak bermaksud bersikap kurang ajar di belakang pria yang pernah menjadi dosennya dulu, ia hanya sedang berusaha mencegah hatinya kembali terjebak pada sebuah rasa yang tak pasti. Alara segera menaiki tangga agar ia cepat sampai di kamarnya. Ia butuh guyuran air dingin dan sentuhan busa wangi lavender karena tubuhnya terasa lengket. Saat ia membuka pintu kamar, tak ada siapa pun di dalam karena pasti semua santriwati sudah berkumpul di masjid. Ia pun menutup pintu kamar lalu melepas cadar dan jilbabnya. Ia mengambil handuk serta pakaian gantinya lalu masuk ke kamar mandi. Berun

