Alara memarkirkan motornya di tempat parkir khusus mahasiswa. Dengan langkah gontai, ia melangkah memasuki gedung fakultas. Beberapa mahasiswa yang menyapanya hanya ia balas dengan senyuman tipis. Perlahan ia menaiki tangga hingga ke lantai dua, kemudian ia berjalan menuju sebuah ruangan yang mulai sering ia masuki. Dengan kunci cadangan yang ia pegang, ia masuk seraya mengucap salam meskipun tak ada siapa pun di dalamnya. Alara membersihkan ruangan itu terlebih dahulu. Ia tak ingin Selim sampai memarahinya jika ruangannya terlihat kotor dan berantakan. Setelah itu, ia membuatkan kopi hitam sesuai kebiasaan pria itu. Setelah semua pekerjaannya selesai, ia duduk di atas sofa panjang sembari meluruskan kedua kakinya. Tangannya memijat pelan pelipisnya yang terasa nyeri sambil memejamkan m

