13. Kebencian di Pandangan Pertama

1025 Words
Alara memainkan jemarinya. Wajahnya yang terpoles riasan tipis kini berkeringat padahal malam ini cuaca cukup dingin. Berulang kali ia menghela napas panjang sembari mengingatkan kembali dirinya bahwa Selim tak bersungguh-sungguh mengenalkannya pada keluarga pria itu. Selim terus mengemudi sambil sesekali memperhatikan Alara yang terlihat tegang. Tangan pria itu terulur mengelus punggung tangan Alara seolah ia sedang menenangkan kekasihnya. "Tenang saja, Lara. Kita hanya sedang berakting." "Yes, Lara! Ini hanya pura-pura!" Batin Alara berteriak mengingatkan kembali. Mobil Selim memasuki sebuah kompleks perumahan elit. Setelah melewati beberapa blok, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah mewah berlantai dua dengan halaman yang cukup luas. Seorang pria paruh baya yang merupakan salah satu pekerja di rumah orang tua Selim membuka pagar lalu bergeser agar mobil Selim segera masuk. "Alara, ayo turun!" ucap Selim lembut. Alara mengangguk. Namun, sebelum ia turun dari mobil, Selim turun lebih dulu untuk membuka pintu mobil untuknya. Andai ini bukan sandiwara, Alara akan merasa bahagia karena diperlakukan bagai ratu oleh pria tampan itu. Terlebih lagi lengan kekar pria itu memeluk erat pinggangnya. "Santai, Lara! Anggap saja aku benar-benar mengenalkanmu pada calon mertuamu," bisik Selim. Alara melotot kesal pada Selim yang kini menertawakannya. "Dosen gila!" umpatnya. "Kamu bilang apa?" tanya Selim. "Ah, gak! Kapan masuknya kalau kita bicara di depan pintu!" gerutu Alara. Selim kembali tertawa, sembari membawa gadis dalam rangkulannya masuk ke rumah orang tuanya. "Assalamu 'alaikum!" ucap keduanya. "Wa 'alaikumussalam!" seru Efsun begitu mendengar suara sang putra dari luar. Wanita paruh baya itu memeluk erat Selim lalu tersenyum sopan pada Alara. "Siapa dia, Nak?" tanya Efsun. Selim melirik Alara yang tengah menunduk. Sembari tersenyum, ia memegang erat tangan gadis itu. "Dia kekasihku, Annem," ujarnya. Efsun terkejut. Matanya memindai penampilan Alara dari kepala hingga kaki gadis itu. "Siapa namamu?" tanya Efsun. "Alara Tsurayya, Nyonya," jawab Alara sopan. "Ada tamu kenapa tidak diajak makan sekalian?" sela Farhat. Mereka bertiga menoleh pada Farhat yang tersenyum ramah. "Selim, ajak gadis cantik ini masuk dan makan bersama kita!" titah Farhat. "Iya, Baba!" sahut Selim. Pria itu kembali merangkul Alara, membawanya ke ruang makan. "Makanlah, Nak! Jangan malu-malu, ya!" ujar Farhat seraya tersenyum lembut pada Alara. "Iya, Tuan," sahut Alara. Mereka makan dengan tenang. Hanya suara denting sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring. Setelah makan, mereka berbincang di ruang tamu. Efsun memberikan beberapa pertanyaan pada Alara. Namun, yang gadis itu tangkap adalah ia seperti sedang diinterogasi karena tatapan tajam Efsun seolah wanita paruh baya itu tidak menyukai dirinya. "Berapa usiamu? Saya melihat kamu terlalu muda untuk Selim." "Usia saya 18 tahun, Nyonya," jawab Alara. Efsun mendelik pada Selim. "Apa tidak ada wanita yang lebih baik untuk kau jadikan calon istri, Selim? Dia terlalu muda untukmu. Bahkan aku tak yakin kalau dia pandai masak maupun mengurusmu nanti!" ucapnya ketus. Meskipun ini hanya sandiwara, tetap saja Alara cukup tersinggung dengan ucapan ibu kandung Selim tersebut. "Annem, jaga ucapanmu! Belum tentu Alara gadis yang seperti itu, kan?" sela Farhat. Tangan Selim mengusap lengan Alara, seolah ia berusaha menenangkan hati gadis itu. "Kalian kenal di mana?" tanya Efsun lagi. "Dia salah satu mahasiswiku, Annem." Kali ini Selim yang menjawab. Efsun berdecih. "Lebih baik Zayna ke mana-mana daripada dia!" "Bisakah kau menghargai pilihan anakmu sendiri, Efsun?" ujar Farhat tak terima. Pria paruh baya itu merasa perlu menegur istrinya agar tak asal berucap. Ia bahkan sudah merasa tak enak hati pada gadis cantik yang kini wajahnya semakin tertunduk lemah. *** Alara fokus menatap jalan raya yang mulai sepi karena sudah jam sembilan malam. Tangannya mengusap kaca mobil yang berembun karena hujan deras. Suasana hatinya sangat buruk. Sekali lagi, ia harus kembali menerima kenyataan bahwa ia hanya anak yang lahir dari keluarga sederhana, bukan keluarga berada lagi terpandang. Selim mengemudi dengan kondisi sama buruknya dengan Alara. Padahal mereka hanya berperan sebagai sepasang kekasih, tetapi rasa sakit akibat penolakan ibunya begitu nyata. Mobil berhenti di depan rumah Alara. "Lara, aku minta maaf," ucap Selim, lirih. Alara menoleh seraya tersenyum tipis. "Kenapa minta maaf? Bukankah ini hanya sandiwara? Kenapa ini terdengar seperti sungguhan? Padahal saya hanya membantu Anda." Selim hendak membuka mulut, akan tetapi Alara kembali mengucapkan kalimat yang tak terduga. "Saya sudah menjadi cinderella untuk Anda, Pak." Alara melirik jam digital di ponselnya. "Pukul 22.00, saya kembali menjadi Alara setelah sempat merasakan makan malam bersama seorang pria tampan dan keluarganya. Untung saja kita tidak berdansa, ya, Pak!" kekehnya. Jantung Selim seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. "Alara," lirihnya. Alara kembali tersenyum. "Tenang saja, Pak. Setidaknya saya merasa lega karena kita tak perlu berakting lagi karena ibu Anda sudah menolak saya. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih. Assalamu 'alaikum!" "Tunggu!" Tangan Selim mencegah Alara pergi. "Ada apa lagi, Pak?" Kening Alara mengernyit. "Ini!" Selim menyerahkan dua paper bag. Alara membuka satu per satu. Yang pertama berisi dua long dress yang Selim pilihkan dan masih terbungkus plastik beserta pakaian yang sempat Alara pakai saat di kampus, sedangkan yang lain berisi satu paket skin care perawatan wajah dan tubuh. "Maaf, Pak. Saya-" "Aku mohon, terimalah! Setidaknya ini tanda terima kasihku karena kamu bersedia membantuku." Selim berucap lembut sekaligus tegas. Alara menghela napas pasrah. "Baiklah, Pak. Terima kasih. Saya pamit dulu, assalamu 'alaikum!" "Wa 'alaikumussalam." Alara masuk ke rumahnya tanpa menoleh lagi pada Selim yang masih menatapnya dari jauh. Begitu pintu rumah itu tertutup, Selim memutar mobilnya meninggalkan rumah itu. *** "Nak, kamu baik-baik saja?" ujar Winda. Ia begitu khawatir karena anaknya pulang larut malam dengan pakaian yang tak biasanya. Alara tak menjawab, malah memeluk tubuh sang ibu. Ia butuh menghidu aroma tubuh ibunya yang begitu menenangkan. "Ibu," panggil Alara seraya berbisik. "Iya, Nak?" Winda mengelus surai lembut putri satu-satunya itu. "Aku mau tidur sama Ibu malam ini. Boleh?" tanya Alara. "Tentu saja boleh, Nak! Mau di mana? Di kamar Ibu?" Alara mengangguk. "Kalau begitu, kamu mandi dulu. Jangan sampai wajah cantikmu jadi jerawatan karena gak dibersihin dulu sebelum tidur!" Alara mengangguk patuh. Gadis itu berjalan memasuki kamarnya dengan lesu. Membuat Winda bertanya-tanya tentang hal yang terjadi pada putrinya itu. Sementara di sebuah apartemen, Selim meneguk wine langsung dari botolnya. Kondisinya sudah mabuk. Kesadarannya nyaris hilang karena minuman beralkohol itu. Mulutnya tak berhenti meracau menyebut nama Alara berkali-kali. Sampai akhirnya ia menangis sesenggukan dan lagi-lagi nama Alara yang terucap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD