BAB 10

1025 Words
Sepulang kuliah, di jam setengah empat sore lewat, Kafka sudah ada di rumah dan kebetulan kakak laki-lakinya pun sudah pulang. Sebenarnya Yusuf dan Kafka bisa saja membeli rumah sendiri, tapi karena mereka tak tega membiarkan ayahnya tinggal sendirian, mereka pun memutuskan untuk tinggal bersama. Kelak jika mereka punya istri barulah berdiskusi dengan istri masing-masing. Sekali pun akan pisah rumah, mereka tak akan jauh-jauh. Hari ini Yusuf sudah kembali ke rumah karena kemarin ia sudah lembur. Sekalipun sedang di rumah, kalau sewaktu-waktu ada pasien yang membutuhkannya, ia siap datang. Ia menjadi dokter memang untuk itu--membantu orang-orang yang sakit. Ia tak mau kejadian yang ibunya rasakan dahulu terulang kembali di depan matanya tanpa ia perjuangkan sedikit pun. "Kak?" panggil Kafka saat mendapati Yusuf sedang duduk santai di sofa ruang tengah sambil membaca koran. Di meja ada segelas teh yang masih mengepul beserta bakwan yang baru saja dibuatkan oleh bi Siti--perempuan paruh baya yang bertugas menjadi asisten rumah tangga. Yusuf menjawab panggilan Kafka dengan gumaman tanpa menoleh dari apa yang sedang ia baca. Kafka sudah tidak aneh, kakak laki-lakinya memang seperti ini. Dahulu, Kafka sempat berpikir kalau kakaknya tidak menyayangi ia, tapi setelah ia mengerti, ia mulai memaklumi, kakaknya sudah lahir sebelum ia lahir, kakaknya sudah merasakan masa-masa sulit lebih lama dari ia, terlebih setelah tahu kalau kakaknyalah yang menjadi perantara ibunya bisa melahirkan ia, meski hanya ia yang selamat. Ayahnya bilang, sejak kecil Yusuf memang tidak banyak bicara, dia lebih sering memendam semuanya sendiri. Bahkan saat di-bully teman-teman seusianya saat masih kecil dulu pun ia tak pernah mengadu dengan ayah ataupun ibu. Dia bisa menjaga diri sendiri dan paling anti mengadu. Diamnya Yusuf tak menjadi arti bahwa ia tak menyayangi Kafka, ayahnya selalu berkata seperti itu. "Kakak yang urus administrasi ayahnya Zulaikha?" tanya Kafka. Kali ini Yusuf menatap ke arah Kafka, ia menghela napas pelan sambil melipat koran. "Kenapa emangnya?" "Jadi iya?" tanya Kafka lagi. Yusuf menganggukkan kepalanya lalu meraih gelas teh. Salah satu kebiasaan Yusuf sebelum meminum teh ataupun kopi pasti dihirup dulu aromanya barulah ia minum. "Tadi siang dia kembaliin uangnya ke aku," ucap Kafka sambil menaruh amplop pemberian Zulaikha yang belum ia buka sama sekali ke atas meja. "Dia keberatan?" tanya Yusuf. Kafka menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa lalu menghela napas pelan. "Iya kayaknya, kelihatan, sih, dari cara dia bicara dan raut wajahnya. Zulaikha itu ... walaupun baru beberapa kali bertemu, aku bisa nilai satu sedikit tentang dia." Kafka langsung menegakkan tubuhnya lalu menatap Yusuf. "Dia pekerja keras, jadi enggak suka dikasihani orang lain, bagus, sih." Yusuf menganggukkan kepalanya setuju, Zulaikha memang seperti itu di matanya. "Yaudah kamu pegang aja, atau kalau uang kamu udah kebanyakan kasih ke orang yang membutuhkan." Kafka tergelak. "Iya aku bakal kasih ke orang yang membutuhkan, tapi bukan berarti uangku udah kebanyakan." Yusuf tersenyum kecil lalu mengambil korannya kembali, ia mulai membaca lagi. Melihat Yusuf fokus baca, akhirnya Kafka bangkit dan jalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Rumah mereka sangat sepi, tapi kalau ayahnya sudah pulang kata sepi itu tak akan terjadi, ayahnya selalu punya banyak topik untuk dibicarakan dengan anak-anaknya. *** Di pukul lima sore Zulaikha baru sampai di rumah, ia memang membiasakan untuk pulang dulu sebelum pergi ke cafe. Hari ini ia akan ke cafe sehabis Maghrib sampai pukul sembilan malam. Ia mulai merasa kurang bekerja di cafe saja, ia sedang mencari informasi lowongan kerja yang income-nya lebih menjanjikan. Tepat saat Zulaikha hendak membuka pintu, Fauzan juga hendak membuka pintu, Fauzan langsung membuang muka saat melihat Zulaikha. "Mau ke mana lagi? Itu kaki kamu masih belum sempurna sembuh, masih mau main juga?" Fauzan berdecak kesal. "Ke depan doang elah! Lagian enggak jauh, bosen di rumah mulu, lagian juga enggak ada yang seru." "Masuk," ucap Zulaikha pelan. "Apaan, sih." Fauzan mulai menampakkan raut emosi. "Masuk, Fauzan!" Kali ini Zulaikha mengatakan dengan volume naik satu oktaf. Lagi-lagi Fauzan berdecak kesal, ia menendang bangku sampai bangkunya terjungkal. Saat berpapasan dengan ibunya ia tak menatap sama sekali, ia langsung masuk ke dalam kamar dan menggabrukkan pintu keras-keras. Bu Wilda menggelengkan kepala lalu membenarkan bangku yang terjungkal. Zulaikha menghela napas pelan sambil memijit kening. Senyumannya langsung tercetak saat mengetahui kalau ibunya ada di depan mata. "Ibu udah makan?" tanya Zulaikha, di saat itu juga ia duduk di tikar dan menyandarkan punggungnya di dinding. "Udah kok, Ibu masakin kamu telur, ya?" Zulaikha menggelengkan kepalanya. "Enggak usah, Bu, Likha belum lapar, nanti kalau Likha lapar bakal masak sendiri." Bu Wilda akhirnya mengangguk lalu ikut duduk di tikar. "Ayah ke mana, Bu?" "Ada di belakang lagi cari angin katanya," ucap Bu Wilda. Zulaikha menganggukkan kepalanya.  "Kamu kelihatannya lelah banget, Lik, istirahat dulu aja, enggak usah kerja. Kamu juga lagi banyak tugas, kan? Ibu tadi lihat di dinding yang ada di depan meja belajar kamu, list tugas kamu masih banyak." Zulaikha terkekeh pelan. "Tenang aja, Bu, Likha udah atur jadwalnya kok, insyaallah bakal selesai dengan sendirinya. Yang namanya manusia itu pasti capek, Bu, bahkan hewan juga sama, harus cari makan buat bertahan hidup. Bahkan nyawa mereka jadi taruhan, dan enggak segan-segan manusia mukul atau bunuh mereka. Kalau ngikutin capek atau enggak mah, enggak ada habisnya." Bu Wilda tersenyum kecil lalu mengusap kening Zulaikha yang berkeringat dengan sayang. "Semoga Allah melancarkan semua urusan kamu, Lik, kamu anak yang berbakti kepada orangtua, Allah juga pasti sayang banget sama kamu." Zulaikha ikut tersenyum. "Aamiin, yaudah kalau gitu Likha izin ke kamar, ya, Bu, mau bersih-bersih." Bu Wilda mengangguk sambil tersenyum. Zulaikha pun bangun lalu melangkahkan kaki ke kamarnya. Zulaikha ini tinggal di rumah peninggalan orangtua ayahnya. Bahkan rumah ini pun sering diungkit-ungkit oleh keluarga ayahnya. Ayahnya ini anak terakhir, kakak-kakak ayahnya selalu iri karena ayahnya mendapatkan rumah sementara mereka tak dapat apa-apa. Karena itu Zulaikha selalu berdoa dan berusaha agar suatu saat dapat membelikan ayah dan ibunya rumah. Saat sudah masuk ke dalam kamar, Zulaikha mengecek handphone yang belum ia cek sejak siang tadi. Yang mendominasi adalah chat dari grup kelompok. Semenjak kuliah w******p-nya jadi banyak group chat karena tugas kelompok di sekolah. Zulaikha menyipitkan mata saat melihat ada nomor asing menghubunginya sekitar tiga puluh menit yang lalu. Orang itu tidak menggunakan foto profil, tapi saat Zulaikha mengklik nomornya terdapat nama dari pemilik nomor. "Kafka Rafasya Alhusayn?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD