Sekarang Calvin sedang duduk berhadapan dengan Syeila di sebuah ruang tertutup di salah satu kafe ibu Kota. Letak kafe ini tidak jauh dari kantor Calvin dan juga butik Syeila. "A-ada apa?" tanya Syeila langsung keintinya, dia tidak berniat lama-lama. Melihat dari tatapan Calvin dan cara pembawaan diri sangatlah berbeda. Tatapannya mengunci seperti sedang mengintimidasi, sementara raganya memang terlihat santai-santai saja. Calvin tersenyum singkat dengan alis terangkat satu. "Gugup?" tanyanya balik setelah melihat gerak-gerik Syeila. "Tenang aja, bukankah kita sebelumnya juga sering bertemu di tempat les?" Benar, Calvin dan Syeila pernah berada dalam satu wadah yang sama saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Menimba ilmu tambahan ketika sore hari, dilakukan dua kali dalam sem

