1. Aluna Bertemu Aksara
Pagi itu Aluna benar-benar dikejar oleh waktu. Siapa suruh semalaman nonton drakor hingga lupa waktu sampai paginya dia bangun kesiangan. Jam di ponselnya sudah menunjukkan lima menit sebelum waktu masuk kantor yang membuat dadanya berdebar panik. Ojek motor yang dia tumpangi berhenti mendadak di depan gedung tiga puluh lantai milik Mahendra Sentra Utama Group. Dan tanpa sempat menarik napas panjang, Aluna langsung turun, mengucap terima kasih pada sang driver lalu melangkah cepat menuju pintu utama. Flat shoes yang ia kenakan berbunyi cepat di atas lantai gedung. Tangannya sibuk mengobrak-abrik isi tasnya, jemarinya gemetar mencari benda kecil yang ia simpan di saku dalam tasnya. Sebuah ID card yang tanpa kartu itu ia tak akan bisa masuk ke dalam gedung tersebut.
"Astaga, di mana sih!" gumamnya pelan, langkahnya tak melambat meski matanya fokus ke dalam tas. Pagi yang seharusnya biasa, mendadak terasa mendebarkan.
Karena terlalu fokus, Aluna sampai tak menyadari jika beberapa langkah di depannya, ada dua orang petinggi perusahaan yang sedang berjalan sembari berdiskusi.
"Aduh!" Aluna menubruk sebuh punggung lelaki dengan cukup keras, membuat tubuhnya terhuyung dan tas ditangannya hampir terlepas. Sebelum Aluna hilang keseimbangan sepenuhnya, sebuah tangan melingkar kuat di pinggangnya, menahan tubuhnya agar tak jatuh. Gerakan itu refleks, cepat, dan terasa begitu nyata hingga membuat napas Aluna tercekat. Matanya terangkat, mengikuti arah tangan yang masih melingkar di pinggangnya. Detik itu juga dunia terasa menyempit.
Aksara Mahendra berdiri begitu dekat. Terlalu dekat. Tatapan mereka bertemu, terkunci dalam jarak yang tak sampai sejengkal. Mata Aksara membesar sesaat, jelas tak menyangka ia akan bertemu dengan seseorang dari masa lalunya.
Sementara Aluna merasakan darahnya seolah berhenti mengalir. Wajah itu, wajah yang berusaha ia kubur dalam ingatan kini ada di depannya, nyata, hangat, dan terlalu dekat untuk dihindari. Tangan Aksara masih di pinggangnya, seolah pria itu lupa melepaskan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung dan penuh keterkejutan. Hiruk-pikuk lobi seakan menghilang, menyisakan hanya detak jantung mereka yang sama-sama tak beraturan.
Hingga suara deheman dari pria yang tadi Aluna tabrak punggungnya, menyadarkan keduanya. Pria bernama Jodi, adalah asisten pribadi Aksara, menatap keduanya saling bergantian.
Aluna tersadar lebih dulu. Ia menegang, menarik tubuhnya mundur dengan cepat. “Ma—maaf,” ucapnya lirih, nyaris tak bersuara, sebelum menunduk dan melangkah pergi.
Sementara Aksara masih berdiri di tempatnya, menatap punggung kecil itu dengan perasaan yang tak pernah ia duga akan kembali.
"Ehem!" Jodi kembali berdehem karena melihat keanehan pada diri sang atasan.
"Pak, mau sampai kapan kita diam di sini?" tanya Jodi lebih menyerupai sebuah sindiran.
"Dia ...." Aksa menjeda kalimat yang akan keluar dari mulutnya dan Jodi sudah langsung menyela.
"Namanya Arsa Aluna. Karyawan outsourche di bagian legal dan dokumen. Baru satu minggu ini ditempatkan di perusahaan bapak."
Aksa menjawab sinis, seolah dia tidak suka jika ada pria lain yang lebih mengenal Luna ketimbang dirinya. "Kenal baik kamu sama dia?"
"Tidak juga, Pak. Tapi bapak kan tau sendiri. Kaum-kaum jomlo seperti saya ini selalu tertarik jika ada karyawati baru, apalagi yang cantik seperti Luna."
Aksa berdecak. "Ck, jangan macam-macam kamu sama dia!" Lalu pria itu melangkah pergi menuju lift khusus direksi dengan pikiran yang tak tenang sebab pertemuannya kembali dengan sosok Aluna. Meninggalkan Jodi yang menggaruk rambutnya berusaha mencerna ucapan sang atasan.
•••
Di meja kerjanya, Luna menutup wajah dengan kedua tangannya. Pikirannya langsung berkecamuk. "Kok bisa sih ketemu dia?" tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. Padahal selama satu minggu ini, Luna sudah sedikit lega karena tidak pernah bertemu langsung dengan pria itu. Siapa dia yang hanyalah seorang karyawan kontraktor. Yang karyawan tetap saja belum tentu bisa dengan mudah bertemu dengan CEO mereka.
"Jadi ... benar jika Mahendra Sentra Utama adalah perusahaan milik keluarganya? Dan dia CEO-nya? Ya, Tuhan! Kalau sudah begini gimana dong? Dia sudah tau aku kerja di sini. Mana mungkin aku membatalkan kontrak kerjanya. Argh!" Luna menjambak rambutnya frustasi.
Sudah tahu hal ini akan terjadi tapi Luna malah membiarkan saja dirinya terjebak dalam lingkungan yang mana ada Aksa di dalamnya.
Tujuh tahun lamanya dia putus kontak dengan sosok lelaki bernama Aksara Mahendra. Dan sekarang karena ulahnya sendiri yang justru menantang keadaan, mereka harus dipertemukan kembali.
Ingatan Aluna berputar akan kejadian satu minggu yang lalu. Saat di mana sang atasan memberinya pekerjaan baru.
“Luna.”
Suara itu membuat Aluna mendongak. Pak Hendra yang merupakan atasannya di perusahaan outsourcing tempat ia bekerja selama tiga tahun ini, tengah berdiri di depan mejanya sambil membawa map biru tua. Wajah pria paruh baya itu tampak serius, tapi bukan berarti ada masalah. Biasanya, ekspresi seperti itu justru pertanda perpindahan tugas.
“Iya, Pak?” jawab Aluna sopan.
Pak Hendra menarik kursi dan duduk di hadapan Aluna. Ia membuka mapnya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen. “Mulai minggu depan kamu akan saya tempatkan di perusahaan klien baru.”
Aluna mengangguk kecil. Ia sudah terbiasa dengan kalimat pembuka seperti itu.
“Perusahaan properti dan konstruksi,” lanjut Pak Hendra. “Namanya Mahendra Sentra Utama Group. Mereka membutuhkan karyawan di bagian legal dan dokumen.”
Jari Aluna yang semula menumpu di tepi meja menegang. Mahendra Sentra Utama. Entah kenapa acapkali mendengar nama Mahendra, tubuhnya refleks bereaksi demikian.
“Tapi saya kan masih ada tanggung jawab untuk membuat laporan audit internal, Pak?” ujarnya tenang, bukan maksud menolak tawaran kerja, tapi memang Luna adalah tipe karyawan yang selalu bertanggungjawab akan setiap pekerjaan yang diberikan padanya.
Pak Hendra tersenyum tipis. “Tidak masalah. Nanti saya oper kerjaanmu ke yang lain. Laporanmu juga sudah hampir selesai.”
Aluna mengangguk. “Baik, Pak.”
Tak ada protes. Tak ada pertanyaan lanjutan.
Begitulah hidupnya selama tiga tahun terakhir. Sebagai staf outsourcing, Aluna tak pernah benar-benar memiliki tempat tetap. Ia datang, bekerja, menyelesaikan tugas, lalu pergi dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain. Kontraknya jelas, per tiga atau enam bulan. Setelah itu, ia akan dipindahkan, atau digantikan, atau diperpanjang di tempat lain. Dalam tiga tahun, ia sudah ditempatkan di tiga perusahaan berbeda. Mahendra Sentra Utama akan menjadi yang keempat.
"Terima kasih, Aluna. Mulai dari sekarang kamu bisa menyiapkan diri. Mahendra Sentra Utama adalah salah satu perusahaan besar di kota ini. Gajinya pun juga lebih besar dari perusahaan lain. Nanti kamu bisa nego langsung dengan pihak HRD saat interview."
"Siap, Pak."
Pak Hendra mengangguk puas lalu melangkah pergi.
Aluna mulai membuka dokumen yang diberikan oleh atasannya, mempelajari portofolio perusahaan tersebut. Dadanya berdenyut nyeri saat membaca siapa CEO di perusahaan tersebut. Aksara Mahendra.
Ingin menolak tawaran tersebut tapi tidak enak hati sebab Aluna terlanjur mengiyakan dan dia harus tetap profesional. Lagipula ia juga tergiur dengan iming-iming gaji besar.
"Ya, aku memang harus profesional. Baiklah, Aluna. Anggap saja kamu tidak pernah kenal dengan lelaki bernama Aksara Mahendra," ucapnya memantapkan hati.