Yang hanya diketahui satu
"Kak Ardi?"
Elara tidak menyangka sebelumnya bahwa kakak kelasnya itu akan menemuinya di night club seperti sekarang ini. Dan yang terlihat sekarang laki-laki tinggi itu membuka jaket hitamnya dan menutupi pundak Elara yang terbuka. Menyisakan kaus hitam polos di tubuh Ardi. Dari caranya saja, sudah dapat disimpulkan bahwa Ardi masih peduli padanya.
Dan yang sekarang Elara rasakan adalah tangan dingin Ardi menyentuh telapak tangannya. Menggenggamnya erat. Membawa Elara keluar dari ruangan dengan pencahayaan minim serta suara yang berisik itu. Kini Elara sudah berada di pelataran parkir, tepat di samping motor Ardi. "Ayo pulang!" Hanya kata-kata itu yang Ardi keluarkan dari mulutnya.
Elara masih sadar seratus persen dan memperhatikan wajah Ardi di depannya itu, yang terlihat sibuk merogoh saku celananya untuk mengambil kunci motor. Elara menahan untuk tidak langsung menarik leher Ardi hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka berdua. "Gue mau nanya dulu sama lo, Kak. Lo tau dari mana gue di sini? Lo ngikutin gue ya?"
Dari penglihatan Elara, Ardi terlihat mengangkat sudut kiri bibirnya. Membuat Ardi terlihat semakin menarik. Elara benar-benar ingin menghapus jarak di antara mereka berdua sekarang juga. "Ngapain amat sih gue ngikutin lo, Elara?" Ardi bertanya balik. Sorot mata tajamnya penuh dengan gurat mengintimidasi.
Kedua bahu Elara terangkat. Menantang tatapan Ardi itu. "Lo yang harusnya ngasih tau gue, kenapa?" Setelah mengatakan itu, senyum tipis Elara terlihat.
Ardi mengencangkan rahangnya. Tangannya menarik jaket yang berada di pundak Elara, membawa Elara mendekat ke arahnya. "Sekarang gue yang nanya sama lo. Ngapain lo ke sini? Lo tau besok hari apa?" Suara serak Ardi terdengar pelan, namun mampu mengantarkan sesuatu—yang entah apa ke dalam d**a Elara. Dan Elara suka itu. Sejak pertama mendengar suara Ardi.
"Mm.. hari senin?" Jawaban yang Elara berikan malah terdengar seperti pertanyaan balik untuk Ardi. Dari jarak sedekat ini, Elara yang mau menyentuh sisi wajah Ardi dan akan mengusapnya dengan lembut terurungkan saat tangan Ardi dengan cepat menghentikan pergerakan Elara. Elara mendengus.
"Lo tau besok lo sekolah dan lo malah ke sini?!"
Seharusnya Ardi bersikap tidak peduli dengan gadis itu. Bukannya seperti ini; menghampiri Elara hingga ke night club, menutupi pundak gadis itu yang terbuka dengan jaket hitamnya dan menarik pergelangan tangannya hingga menuju ke arah motor Ardi yang terparkir.
Sekali lagi, seharusnya Ardi tidak bersikap seperti ini.
Elara mendekat lagi ke arah Ardi dan dengan jelas merasakan embusan napas Ardi yang mengenai wajahnya. Kenapa nih cowok makin ganteng aja sih?! batinnya.
"Gue tau besok gue sekolah, makanya gue gak minum. Gue ke sini cuma mau nemenin temen gue aja, Kak," elak Elara. Jawabannya memang benar, Elara hanya menemani Fanya untuk ke night club baru milik temannya. Lalu, tangan Elara sudah terangkat untuk menyentuh sisi wajah Ardi di depannya itu. Mengusap pipi itu dengan lembut, jika saja Ardi tidak menahan tangannya. Lagi.
"Oh ya? Lo gak akan minum?" tanya Ardi dengan nada yang benar-benar tak percaya. Jeda sebentar, lalu laki-laki itu melanjutkan, "Elara, serius gue lebih suka lo yang bertemen sama Clarissa dibanding sama geng lo yang sekarang ini." Suara Ardi kali ini terdengar lebih rendah.
Ardi tidak menyangka juga dengan tingkah Elara yang semakin hari semakin tidak pernah menunjukkan hal-hal yang baik sedikitpun.
Apalagi nanti di sekolah.
Elara memutar kedua bola matanya mendengar nama itu disebut. "Ogah amat!" sahutnya.
"Kenapa sih sama Clarissa?"
"Lo gak ngerti, ah!"
"Kasih tau gue makanya biar gue ngerti."
"Males gue ngomongin dia!"
Ardi menarik napas dan mengembuskannya perlahan. "Lo tau, Ra apa yang dari dulu gue gak suka dari lo? Sikap tempramental lo, sikap lo yang seenaknya. Berubah kenapa sih buat diri lo sendiri." Suara serak laki-laki itu benar-benar terdengar rendah sekarang. Ia hanya ingin Elara tidak selalu mengikuti emosinya. Selalu berpikiran pendek dengan semua yang gadis itu hadapi.
Dan perasaan yang memang belum bisa Elara hilangkan, lagi-lagi dengan mudahnya muncul kembali ke permukaan. Dilihatnya Ardi yang lebih dulu memperhatikannya. Tidak bisa dihindari, Elara merindukan Ardi. "Ini juga yang gue gak suka dari elo, kak Ardi. Lo buat gamon tau gak?!" balasnya.
Kemudian, yang telihat sekarang adalah Elara mendekat ke arahnya, Ardi mundur selangkah. "Lo gagal move on?" tanya Ardi mengulang pernyataan Elara barusan. Alisnya terangkat sebelah.
Tuh kan, Ardi makin ganteng! batin Elara.
Kepala Elara lantas mengangguk. "Lo sendiri yang bilang gue harus ngelupain lo, ngelupain semuanya yang terjadi sama kita berdua. Dan lo tau, lo juga yang dengan berhasilnya buat gue mau ngulang lagi semuanya bareng sama lo, Kak." Kakinya mendekat lagi.
Dan setelah mengatakan itu Elara meraih tangan Ardi. Berjalan mendekat ke arah laki-laki itu hingga ujung bootsnya menyentuh ujung sepatu Ardi. Dan dengan tangan kanannya yang bebas gadis itu menjangkau leher Ardi dan menariknya pelan. Laki-laki itu memang lebih tinggi darinya.
Lalu, Elara memiringkan kepalanya itu. "Balikan aja yuk?" bisiknya di telinga kiri Ardi dan beralih kembali melihat ke arah netra cokelat terang di depannya.
Sebelum membalas perkataan Elara tadi, Ardi membasahi bibir atasnya yang terasa kering. Lalu, dengan perlahan menjauhkan tangan Elara yang berada di lehernya itu. "Enak banget ya lo kalo ngomong." Sudut kiri bibir laki-laki itu lagi-lagi terangkat sedikit.
"Emang ngapain harus dibuat ribet? Mau ya?" Meskipun Elara tahu apa yang akan Ardi keluarkan dari mulutnya itu, tetapi ia yakin sebenarnya juga laki-laki itu menginginkan hal yang sama.
Untuk pertanyaan yang satu itu, Ardi menjawab dengan gelengan kepala seraya mengalihkan pandangannya dari kedua mata Elara.
"Lo sekarang jadi gak pernah jujur sama diri lo sendiri, Ar."
"Jangan sok tau," balas Ardi cepat.
Elara mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Dan tangan kanannya meraih telapak tangan Ardi kembali. Elara berjinjit sedikit dan berbisik, "Nginep di rumah gue ya?" Setelah itu, ia memberikan kecupan lembut di sudut bibir Ardi. "Ayo pulang sekarang."
Ardi di tempatnya berdiri, mengumpat berkali-kali dalam hati. Dan ia meraih ponsel di sakunya yang tak terlihat satupun notif dari gadis itu. Mungkin tuh cewek lagi tidur, pikirnya.
Ya, semoga saja.