Michael
_
Keheningan itu lebih buruk daripada teriakan.
Jutaan orang sedang menyaksikan aku lupa cara bernapas.
Aku menatap kosong ke kamera sementara teleprompter di depanku terus bergerak, seperti deretan kata tanpa makna.
“Michael,” suara Lena mendesis tegang di earpiece-ku. “Bicara.”
Aku tidak bisa.
Dadaku seperti terkunci rapat.
Lampu studio menembus kulitku.
Setiap suara berubah menjadi distorsi.
Terlalu keras.
Terlalu tajam.
Suara kecelakaan itu terus berulang di kepalaku seperti rekaman yang rusak.
Hujan.
Lampu mobil.
Kaca pecah.
Darah.
Suara ibuku.
Lalu gelap.
Keringat mengalir di tengkukku di bawah kerah kemeja.
Aku menjadi sangat sadar pada setiap detak jantung di tubuhku.
Penonton mulai menatap.
Co-anchor di sampingku bergerak gelisah.
Seseorang di luar kamera berbisik,
“Apa yang terjadi padanya?”
Tanganku gemetar hebat di bawah meja.
Aku mencoba menarik napas.
Tidak bisa.
Panik meledak di dalam darahku.
Aku tiba-tiba berdiri terlalu cepat hingga kursi terlempar mundur di lantai studio.
Suara terkejut terdengar di seluruh ruangan.
Kamera masih live.
“Potong ke iklan!” seseorang berteriak.
Terlambat.
Seluruh negara sudah melihat semuanya.
Aku meraih tepi meja berita untuk menahan diri, tapi pandanganku mulai kabur.
Studio berubah.
Bukan studio.
Jalan raya.
Bukan lampu.
Lampu mobil.
Bukan kamera.
Hujan.
Terlalu banyak hujan.
“Michael!”
Seseorang menyentuh bahuku.
Aku bereaksi seketika.
Dengan kasar.
“JANGAN SENTUH AKU!”
Kata-kata itu keluar sebelum aku sempat mengenali suaraku sendiri.
Aku mendorong orang itu keras hingga ia terseret ke belakang mengenai rig kamera.
Seluruh studio membeku.
Tuhan.
Tidak.
Nafasku menjadi tersengal.
Daniel—produser yang aku dorong—menatapku dengan shock.
Bukan marah.
Tapi takut.
Dan itu lebih buruk.
Aku bisa merasakan semua mata di ruangan menatapku saat aku hancur di depan mereka.
Bisikan mulai terdengar.
“Ya Tuhan…”
“Dia mabuk?”
“Panggil seseorang—”
Aku mencabut earpiece-ku dengan kasar.
“Matikan lampu sialan ini dari aku!”
Suaraku menggema di studio.
Akhirnya seseorang memotong siaran utama.
Tanda LIVE merah besar menghilang.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Aku mundur terhuyung, jantungku seperti kehilangan ritme.
Aku tidak bisa bernapas.
Tidak bisa berpikir.
Ruangan miring ke samping.
Satu detik yang mengerikan, aku pikir aku akan mati di depan semua orang.
Ethan mendekat hati-hati, seperti mendekati hewan yang terluka.
“Mike… dengar aku.”
“Jangan,” potongku tajam.
Tanganku tidak berhenti gemetar.
Aku menatapnya dan merasa takut pada diriku sendiri.
Lemah.
Tidak terkendali.
Menyedihkan.
Aku berbalik dan tersandung keluar dari set menuju backstage.
Suara-suara mengikuti.
Langkah cepat.
Seseorang memanggil namaku berulang kali.
Lampu koridor terlalu terang.
Setiap suara menghantam kepalaku.
Aku sampai di lorong backstage sebelum lututku benar-benar menyerah.
Tubuhku jatuh keras ke lantai.
Rasa sakit menjalar di bahu.
Seseorang mengumpat.
Lalu tangan-tangan menarikku lagi.
Terlalu banyak tangan.
Pandangan mulai kabur.
“Tidak—”
Aku meronta secara buta.
“JANGAN SENTUH AKU!”
Panik mengambil alih semuanya.
Aku tidak bisa lagi membedakan memori dan kenyataan.
Aku mendengar napasku sendiri seperti anak kecil yang ketakutan.
Seseorang berkata,
“Dia sedang mengalami episode.”
Episode.
Kata yang menarik.
Seolah kegilaan bisa dibuat terdengar profesional.
Aku bersandar ke dinding, berusaha tetap sadar.
Langit-langit koridor berputar di atas kepalaku.
Lalu tiba-tiba—
FLASH.
Cahaya kamera.
Seorang paparazzi berhasil masuk ke area backstage.
Flash itu meledak tepat di wajahku.
Dan sesuatu di dalam diriku patah sepenuhnya.
Aku menerjang maju, meraih hoodie fotografer itu.
“Kamu pikir ini lucu?”
Suaraku terdengar pecah.
Seperti binatang.
Fotografer itu mundur terkejut.
Security langsung menariknya pergi, sementara flash lain menyambar-nyambar.
Tentu saja.
Bahkan ini akan jadi hiburan.
Aku melepaskannya tiba-tiba.
Seluruh tubuhku mulai bergetar lebih keras.
Lalu semuanya menjadi gelap.
_____________
Jane Alister
_
“Anda aman di sini.”
Wanita muda di seberangku masih menangis tanpa suara, tangannya gemetar di pangkuan.
Usia dua puluh tiga tahun.
Bekas luka di pergelangan tangan tersembunyi di balik lengan baju longgar.
Depresi berat.
Pikiran untuk bunuh diri.
Dan mata yang terlihat terlalu lelah untuk seseorang seusianya.
Aku menjaga suaraku tetap lembut.
Stabil.
“Lihat saya, Emily.”
Perlahan, dia menatap.
Maskara mengotori pipinya.
“Aku merusak semuanya,” bisiknya.
“Tidak,” jawabku pelan. “Kamu hanya terlalu lelah untuk bertahan sendirian.”
Napasnya makin tidak stabil.
“Aku tidak mau merasa seperti ini lagi.”
Kalimat itu selalu memecahkan sesuatu di dalam diriku.
Bukan karena mengejutkan.
Tapi karena aku mengerti terlalu dalam.
Rasa sakit mengubah manusia secara diam-diam.
Kebanyakan penderitaan tidak terlihat dramatis.
Kadang hanya terlihat seperti:
tersenyum di kantor,
membalas pesan,
membayar tagihan,
lalu menangis diam-diam di parkiran.
Aku sedikit condong ke depan.
“Kamu datang mencari bantuan hari ini,” kataku lembut. “Itu berarti masih ada bagian dari dirimu yang ingin hidup.”
Emily terdiam.
Orang-orang sering menatapku seperti itu.
Seolah mereka menunggu izin untuk hancur.
Aku mengerti itu.
Ruangan klinik tetap hangat dan tenang.
Musik jazz lembut mengalun.
Hujan mengetuk jendela gedung di pusat Blackmore City.
Klinikku memang dirancang untuk aman.
Tidak ada cahaya keras.
Tidak ada dinding putih dingin.
Hanya kayu gelap.
Lampu hangat.
Buku-buku.
Keamanan yang tenang.
Karena orang yang terluka selalu merasakan suasana sebelum kata-kata.
Emily menyeka matanya.
“Kalau aku tidak pernah sembuh?”
Aku menatapnya tenang.
“Kita akan terus mencoba sampai kamu sembuh.”
Dan aku sungguh-sungguh.
Itulah masalahnya.
Aku tidak pernah berhenti mencoba menyelamatkan orang.
Bahkan ketika itu menghancurkanku.
Terutama saat itu.
Setelah sesi selesai, Emily pergi lebih tenang dari saat ia datang.
Belum sembuh.
Penyembuhan tidak pernah sinematik.
Ia lambat.
Berantakan.
Melelahkan.
Tapi dia masih hidup.
Dan kadang itu cukup untuk satu hari.
Aku kembali ke ruang kerja dan menghembuskan napas panjang.
Beban emosional pasien selalu tertinggal di ruangan ini.
Kebanyakan terapis belajar menjaga jarak.
Aku tidak pernah benar-benar bisa.
Mungkin karena kesepian membuat orang seperti aku menjadi terlalu peduli.
Asistenku, Nora, mengetuk sebelum masuk.
“Kamu belum makan.”
“Aku bekerja.”
“Kamu bilang itu seperti hal yang sehat.”
Aku tersenyum tipis sambil melepas kacamata.
Telepon kantor tiba-tiba berdering.
Nora melirik.
“Nomor tidak dikenal.”
“Biarkan voicemail.”
Tapi dia tetap mengangkat.
Aku membuka file pasien tanpa fokus.
Lalu ekspresinya berubah.
Sedikit terkejut.
“Ini kantor Dr. Alister.”
Jeda.
“Baik… tunggu sebentar.”
Nora menurunkan telepon pelan.
“Dari Hart Broadcasting Network. Mereka mencari kamu.”
Aku langsung mengernyit.
“Stasiun TV itu?”
Dia mengangguk.
“Mereka bilang ini urgent.”
Kata urgent membuat perutku sedikit menegang.
Aku meraih telepon.
“Ini Dr. Jane Alister.”
Suara pria profesional langsung menjawab.
“Dr. Alister, terima kasih sudah menerima telepon ini. Saya Richard Vale, direktur eksekutif HBN.”
Aku bersandar perlahan di kursi.
Di luar jendela, hujan terus turun di Blackmore City.
Dingin.
Konstan.
Tak berakhir.
“Apa yang bisa saya bantu, Mr. Vale?”
Jeda singkat.
Lalu—
“Kami membutuhkan bantuan Anda untuk Michael Hart.”