THE PERFECT MAN IS BREAKING — The Man Everyone Loves
Michael Hart
_
Orang-orang selalu bilang aku terlihat tenang di televisi.
Itu kebohongan pertama.
Kebohongan kedua adalah bahwa aku menikmati semua ini.
Kamera.
Lampu sorot.
Tawa palsu di ruang berita.
Tekanan tanpa henti untuk tersenyum, seolah aku tidak sedang berada satu memori buruk dari kehilangan kewarasan di depan jutaan orang.
“30 detik, Michael.”
Suara Lena terdengar pecah melalui earpiece-ku, sementara para makeup artist bergerak cepat di sekitarku seperti burung-burung yang gelisah.
Aku menatap pantulan diriku di cermin ruang rias.
Setelan sempurna.
Rambut sempurna.
Rahang sempurna.
Kehancuran yang sempurna.
Dasi biru gelap di leherku tiba-tiba terasa terlalu ketat.
Aku melonggarkannya sedikit.
Lalu sekali lagi.
Tetap tidak bisa bernapas.
Dinding ruangan ini terasa semakin kecil malam ini.
Terlalu terang.
Terlalu bising.
Lampu vanity besar yang mengelilingi cermin seperti lampu interogasi, menusuk mataku tanpa ampun.
Detak jantungku menghantam tenggorokan.
Tidak sekarang.
Tidak malam ini.
Aku menarik napas perlahan melalui hidung, seperti yang dulu diajarkan terapis lamaku—sebelum aku berhenti pergi ke terapi.
Empat detik masuk.
Tahan.
Empat detik keluar.
Tidak membantu.
Karena panik tidak peduli seberapa sukses kamu.
Tidak peduli wajahmu terpampang di billboard seluruh negara.
Tidak peduli orang menyebutmu “pria paling dipercaya di media.”
Ketakutan tetap akan menemukanmu.
Setiap kali.
“Michael?”
Aku berkedip.
Sophie, asistennya, berdiri di dekat pintu sambil memeluk tablet di dadanya.
“Kamu… baik-baik saja?”
Aku memberikan senyum yang sudah kupakai bertahun-tahun.
Mudah.
Menawan.
Terkontrol.
Senyum Michael Hart.
“Lebih dari baik.”
Dia ragu sesaat.
Orang-orang selalu ragu di sekitarku sekarang.
Seolah mereka tahu ada yang retak, tapi terlalu takut untuk bertanya.
Atau mungkin mereka takut jawaban itu akan menghancurkan ilusi.
“Klip wawancara senator tadi sudah trending,” katanya hati-hati. “Sudah tiga juta views.”
“Bagus.”
Suaraku terdengar meyakinkan.
Itulah bagian paling menakutkan.
Aku bisa terdengar meyakinkan bahkan saat sedang tenggelam.
Sophie menatapku lagi sebelum akhirnya keluar ruangan.
Begitu pintu tertutup, senyum itu langsung lenyap dari wajahku.
Tanganku otomatis meraih saku dalam jas.
Botol obat resep berwarna oranye itu masih ada di sana.
Syukurlah.
Aku berdiri terlalu cepat.
Dunia langsung berputar sedikit.
Tidak.
Tidak, tidak, tidak.
Aku memegang tepi meja rias.
Harus keluar dari sini.
Aku melangkah cepat ke kamar mandi pribadi yang terhubung dengan ruang rias, lalu mengunci pintunya.
Dan seketika itu juga—
napasku runtuh.
Panik datang seperti gelombang yang sudah lama menunggu pecah.
Terlalu cepat.
Aku memegang wastafel marmer, sementara keringat mulai muncul di bawah kerah bajuku meski AC dingin menyala.
Lampu di atas kepala berkedip.
Hanya sekali.
Tapi cukup.
Dada langsung mengencang.
Otakku berteriak “bahaya” padahal tidak ada apa-apa.
Aku sudah hafal rasa ini.
Serangan panik selalu datang seperti hantu yang tidak diundang.
Tanpa peringatan.
Tanpa belas kasihan.
Tanganku gemetar saat membuka botol obat itu.
Satu pil.
Lalu satu lagi.
Aku menatapnya di telapak tanganku.
Menyedihkan.
Usia empat puluh dua tahun.
Selebriti nasional.
Penyiar pemenang penghargaan.
Dan aku tidak bisa melewati siaran tanpa obat.
Aku menelannya tanpa air.
Rasa pahitnya menggores tenggorokanku.
Di luar, suara samar terdengar dari lorong studio.
Tawa.
Telepon berdering.
Produser berteriak menghitung mundur.
Kehidupan normal.
Sementara aku berdiri di kamar mandi terkunci, mencoba tidak runtuh.
Aku membasuh wajah dengan air dingin.
Satu kali.
Dua kali.
Tetap tidak bisa bernapas dengan benar.
Aku menatap cermin lagi.
Di sana dia.
Michael Hart.
Pria yang semua orang cintai.
Wanita menginginkannya.
Pria mengaguminya.
Negara mempercayainya.
Tapi pria di cermin itu terlihat… lelah.
Ada bayangan di bawah matanya yang bahkan makeup tidak bisa sepenuhnya menutupi.
Aku hampir tidak tidur lebih dari tiga jam per malam akhir-akhir ini.
Setiap kali aku memejamkan mata—
aku mendengar suara logam remuk.
Kaca pecah.
Teriakan ibuku.
Tanganku mengencang di wastafel.
Berhenti.
Sekarang bukan waktunya.
Ketukan keras menghantam pintu.
“Mike?” suara Ethan dari luar. “Kamu live lima menit lagi.”
Aku menutup mata sebentar.
Tenang.
Kendalikan dirimu.
“Aku keluar.”
Suaraku serak.
Aku benci itu.
Karena kelemahan selalu mulai dari suara.
Aku merapikan manset jas—satu kali, dua kali, tiga kali.
Lalu meluruskan jam tangan perak di pergelangan tangan sampai sejajar sempurna dengan ujung lengan baju.
Lagi.
Dan lagi.
Ritual itu akhirnya menenangkan kepalaku cukup untuk berfungsi.
Hampir.
Ketika aku keluar ke lorong, studio langsung meledak dalam gerakan.
Lampu terang.
Staf berlari.
Layar besar dengan headline berita.
Semua terasa hidup.
Dan lapar.
Hart Broadcasting Network tidak peduli kamu manusia atau tidak.
Yang penting kamu bisa tampil.
Ethan berjalan di sampingku menuju studio sambil melihat catatan produksi.
“Kamu siap untuk segmen kedua?”
“Tentu.”
“Kamu tadi agak pucat.”
“Aku memang tampan secara alami. Orang sering salah paham.”
Dia tertawa.
Itu trik lainnya.
Humor membuat orang tidak bertanya lebih jauh.
“Kamu ini menyebalkan,” gumamnya.
Aku tersenyum tipis.
Andai dia tahu.
Begitu aku melangkah ke set studio, tepuk tangan langsung pecah dari penonton kecil di studio.
Otomatis.
Terlatih.
Seperti menyambut seorang raja.
Layar besar di belakang meja menampilkan namaku:
MICHAEL HART — LIVE AT NINE
Aku duduk dengan mulus.
Silang kaki.
Rapikan earpiece.
Postur sempurna.
Ketenangan sempurna.
Obat mulai meredam puncak panik, tapi detak jantungku masih salah.
Terlalu cepat.
Terlalu berat.
“30 detik.”
Seorang makeup artist mendekat, menepuk sedikit bedak di bawah mataku.
“Kamu terlihat luar biasa malam ini,” bisiknya.
Aku hampir tertawa.
Luar biasa.
Kalau dia tahu aku tadi hampir muntah di kamar mandi karena panik.
Hitungan mundur muncul di layar.
Aku menatap langsung ke Kamera Satu.
Senyum.
Rilekskan rahang.
Bernapas normal.
Jangan sentuh manset lagi.
Abaikan tangan yang gemetar.
Abaikan suara di kepala.
Pura-pura.
Bermain peran.
Lampu merah menyala.
Dan Michael Hart kembali hidup.
“Selamat malam,” kataku dengan suara halus.
Suara televisiku.
Dalam.
Hangat.
Dapat dipercaya.
“Malam ini kita memulai dengan perkembangan terbaru dari luar negeri—”
Kata-kata mengalir otomatis.
Bertahun-tahun latihan.
Bertahun-tahun menjadi karakter.
Aku bisa membacakan berita sambil perlahan hancur di dalam.
Itulah hal paling menakutkan dari orang sepertiku.
Kami ahli dalam terlihat hidup.
Segmen berjalan sempurna.
Analisis politik.
Laporan ekonomi.
Lelucon kecil dengan co-anchor.
Semua orang di studio mulai santai.
Michael Hart melakukan apa yang selalu dia lakukan.
Berhasil.
Sampai sesuatu berubah.
Di tengah segmen kedua, seorang teknisi audio secara tidak sengaja memicu efek suara yang salah.
Hanya dua detik.
Hampir tidak berarti.
Tapi bagiku—
itu seperti suara logam dipelintir.
Seluruh tubuhku membeku.
Dan tiba-tiba aku tidak lagi berada di studio televisi.
Aku berusia sepuluh tahun lagi.
Hujan menghantam kaca.
Ban berdecit.
Ayahku berteriak sesuatu yang tidak kupahami.
Lalu—
BENTURAN.
Keras.
Mengerikan.
Teriakan ibuku merobek kepalaku.
Aku tidak bisa bernapas.
Lampu studio berubah menjadi lampu mobil.
Kamera menjadi pecahan kaca.
Aku tidak bisa bergerak.
“Michael?”
Suara seseorang terdengar jauh di earpiece.
Terlalu jauh.
Terlalu kabur.
Tanganku gemetar di bawah meja.
Tidak.
Tidak.
Tidak.
Teleprompter terus berjalan.
Aku tidak melihat satu kata pun.
Dada mengencang.
Aku tidak bisa menarik napas.
Tidak bisa berpikir.
Suara tabrakan itu berulang di kepalaku.
Logam menghancur.
Kaca pecah.
Ibuku menjerit.
Dan tanpa sadar—
“Mom…”
Sunyi.
Studio membeku.
Seseorang di kejauhan mengumpat.
Dan kamera masih terus menyala.
Untuk pertama kalinya dalam seluruh karierku—
Michael Hart benar-benar hancur di depan semua orang.