* Dwika berulang kali menghembuskan napasnya setiap kali gadis di sampingnya mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Telinganya panas, kepalanya berdenyut. Terlalu banyak pertanyaan. Belum lagi suara cempreng Moody, nambah polusi suara saja! Jadi, begitu Dwika bilang tentang Egi, Moody mendadak penasaran dan menarik cowok itu untuk mengajaknya pergi. "Dokter eh, Mbak Egi itu kakakmu. Otomatis dia tahu dong siapa malaikatku?" Dwika membalas tatapan Moody yang sangat ingin tahu itu. Dwika jadinya serba salah. "Udah, sekarang makan aja dulu..." timpal Dwika seraya mendorong piring berisi spaghetti ke arah Moody. Moody cemberut. Kedua tangannya bersedekap di atas meja. Menggemaskan sekali melihat mimik merajuk gadis itu. Dwika sampai khawatir akan perubahan atmosfer dalam hatinya kini.

