MH 16

1175 Words

* "Lamarannya akan dilangsungkan seminggu lagi," begitu kata yang terluncur bebas tanpa hambatan dari bibir Reinhard. "Uhuk! Uhuk!" Moody terbatuk saat mengunyah fuyunghai buatan Utari. Utari menepuk-nepuk punggung keponakannya. Moody meraih gelas di pinggirnya. "Ya, kita harus terima toh niat baik dari keluarga Dwika. Tika rasanya udah nggak sabar," lanjut Reinhard di tingkahi kekehan kecilnya. "Gimana, Moo?" Reinhard melayangkan pandangnya ke arah Moody. "Tapi ... nikahnya masih lama kan Pa?" cicitnya resah. Dahi pria paruh baya itu mengerut,"Iyalah. Emangnya Moo maunya dipercepat, gitu?" Moody melotot,"Papa, siapa yang pengen cepet... Emh, Moo akan nerima lamaran Dwika kalo Papa mau jawab pertanyaanku dengan jujur." "Hm, apa?" Atensi Reinhard kini penuh pada sang putri. "S

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD