Di pagi hari yang cerah itu, aku terbangun setelah semalam aku tertidur saat menggendong Jasmine. Mataku mengerjap dengan perlahan untuk menerima masuknya cahaya kedalam matanya lalu menatap Jasmine, putriku yang saat ini masih tertidur.
Ting Tong!
Mendengar bel yang berbunyi, aku berjalan dengan Jasmine dalam gendongan. Aku melangkah mendekati pintu dan membukanya, ternyata ada Mbok dan Bibi yang akan membantunya mengurus rumah serta menjaga Jasmine.
"Pagi, non.." sama keduanya. "Pagi, bibi dan mbok.. apa kalian sudah makan?" tanya ku yang mereka jawab gelengan.
"Yaudah kalau gitu kita sarapan bersama. Mari!" ajak ku membuat kedua asisten rumah tanggaku itu mendelikan mata dan langsung menggelengkan kepala.
"Jangan, non. Kami nanti makan setelah non berangkat aja.." tolak mbok. "Tapi saya maunya sekarang, ayo.. lagian kenapa harus nunggu saya pergi dulu? Kan kalian harus mengurus flat ini, mbok juga harus mengurus Jasmine." bujuk ku yang berhasil membuat keduanya pasrah lalu mengangguk.
Kami menyantap sarapan ini bersama, hingga tidak lama terdengar suara tangisan Jasmine dari kamarnya. Mbok yang baru saja mau berdiri segera ku larang,
"Biar saya aja, mbok." cegah ku sembari bergegas ke kamar Jasmine. Terlihat bayi ku itu sedang menangis dan saat merasakan ada aku disini, tangisannya mereda.
"Anak mama kenapa nangis hmmm? Tau ya, mama mau pergi? Mama mau kerja dulu ya sayang.." ujarku sambil menggendongnya.
Kaki ku menuruni tangga dan setelah sampai di meja makan, mbok segera mengambil alih Jasmine.
"Saya berangkat ya, bi.. mbok.. kalau ada apa-apa segera kabari saya!" ujarku.
Setelah mengecup kening Jasmine, akupun pergi.
"Eyyowww, ibu muda! Mau kemana lo kak?" tanya Isabella yang baru aja pulang dengan sneli putih ditangannya.
"Mau ke Crown Property. Pak Nas bilang gapapa gw kesana." jawabku dengan santai. "Okay deh kalo begitu. Gw mau balik dulu, mata gw udah 5 watt rasanya." pamit Isabella yang ku jawab anggukan.
Ting!
Lift terbuka, akupun masuk dan memencet tombol basement.
***
Lima menit sudah aku duduk di ruang tunggu kantor The Crown Property. Resepsionis mengatakan kalau CEO mereka sedang meeting dan sebentar lagi akan selesai.
"Permisi, nona.." panggil seseorang. Aku menengok, ternyata seorang officeboy.
"Ada apa ya, mas?" tanyaku. "Saya mau menawarkan anda kopi atau teh melihat anda menunggu disini." jawabnya menawarkanku. Akupun tersenyum, "Saya minta es teh manis saja ya, jangan terlalu manis." pintaku yang dia jawab anggukan.
Tidak berapa lama kemudian, dari kejauhan bisa ku lihat para pekerja yang berdiri tegak kemudian menunduk hormat, sepertinya CEO itu sudah datang.
Benar saja, beberapa saat kemudian dihadapanku kini sudah berdiri laki-laki yang kemarin bertemu denganku di pengadilan.
"Nona Diana! Maafkan atas keterlambatan saya!" sapanya dengan langkah cepat. Kami bersalaman, "Tidak apa, tuan. Saya pun mengerti." sahutku.
"Bisa kita ke ruangan saya saja?" tanyanya yang ku jawab anggukan, "Tentu, tapi tadi saya sudah terlanjur memesan minuman ke pekerja disini." jawabku. "Tidak apa, hey kalian! Beritahu keberadaan kami jika minumannya sudah siap!" suruhnya.
Kami berdua melangkah ke dalam lift khusus eksekutif diikuti salah seorang karyawan, mungkin dia sekertarisnya.
"Sekali lagi saya ucapkan maaf atas keterlambatan saya menemui anda. Apa anda sudah makan?" tanyanya. "Tidak apa, kebetulan saya juga sudah makan tadi pagi di flat." jawabku dengan santai.
"Sebenarnya, saya memanggil anda disini untuk meminta bantuan, Nona Diana." ujarnya.
"Just called me, Diana." ucapku. "Okay, then you can just called me, Justin!" suruhnya yang kami berdua setujui.
"Oh iya, dia juga orang kepercayaanku. Namanya Rafael!" kata Justin memperkenalkan pekerjanya.
"Rafael, senang bertemu dengan anda nona!" sapanya sembari kami berjabat tangan. "Senang bertemu dengan anda juga. Okay, Justin.. back to topic! Apa bantuan yang kamu mau? Selain berpihak pada mu dalam sidang, aku rasa aku bisa membantu." ujarku.
"Ini mengenai tanggapan mu kemarin dalam pembuktian. Aku ingin tau sudut pandang mu dalam kasus ini. Aku tidak mau jika harus memecat orang yang tidak bersalah." sahut Justin. "Okay, kalau begitu kita bahas diruangan mu saja." ujarku.
Ting!
Lift terbuka dilantai paling atas, ternyata disini hanya ada ruang kantor, ruangan yang tertutup, dan kamar mandi. Serta ada pintu kearah rooftop.
"Ruangan yang indah.." puji ku. "Terima kasih.. aku sendiri yang men-desain nya." jawab Justin dengn senyuman kecil.
Kami segera duduk di sofa. Rafael memperlihatkan beberapa berkas diatas meja.
"Bisakah kamu memperlihatkan bukti kalau klien mu itu hanyalah kambing hitam?" tanya Justin.
"Sure.. lihatlah!" sahutku memperlihatkan bukti chatan antara Miko dengan temannya. Aku juga memperlihatkan bukti dimana Miko sempat mencoba menghubungi temannya itu tapi memang tidak pernah ada respon.
"Saya kesal jika kejadiannya seperti ini. Karna keputusan sementara masih minggu depan, saya usahakan segera menemukan pelaku utama itu. Dan untuk klien anda, saya rasa saya akan mencabut tuntutan kepadanya." kata Justin yang sukses membuatku tersenyum lega.
"Syukurlah jika anda berpikir demikian. Klien saya pun ingin menuntut pencemaran nama baik ke pelaku utama." ujarku merasa lega.
"Saya akan mencoba mencarinya. Jika dia ditemukan, maka keadilan bisa ditegakan." sahut Justin yang ku jawab dengan menganggukan kepala.
Terjadi kesunyian diantara kami berdua, aku memilih fokus melihat data-data karyawan dan langsung terpikirkan sesuatu.
"Justin, bisa ga ya kalau kamu memanggil manajer keuangan kesini?" tanya ku. "Tentu, tapi kenapa?" tanya Justin balik. "Kalau memang dugaanku tidak salah, manager keuangan juga pasti terlibat. Dia pasti turut membantu pelaku utama." jawabku.
"Bagaimana bisa begitu, nona?" tanya Rafael.
"Lihat, klien saya itu tidak memiliki proyek yang sama dengan si DPO tapi kenapa dia bisa memakai rekening klien saya? Lalu kenapa juga pihak keuangan ACC dengan pengajuan dana meskipun tau kalau uang nya masuk ke rekening pribadi orang lain? Kenapa dia tidak pakai rekening teman seproyek nya aja? Udah pasti dia juga merencanakan hal ini dengan bagian keuangan. Dan ini, lihat! Bukti laporan audit keuangan selalu bilang tidak ada masalah padahal nyatakan di beberapa tanggal yang saya lihat disini itu cocok dengan tanggal dimana uang dari kantor masuk ke rekening klien saya." jelasku panjang kali lebar.
"Cukup make sense. Raf, kamu panggilkan bagian keuangan. Mau langsung ke manajer nya pun boleh." suruh Justin.
Rafael segera keluar dari ruangan, aku lanjut membaca beberapa laporan keuangan. Tak lama kemudian, pintu ruangan ini diketuk, Justin menganggukan kepala dan menekan salah satu tombol didekatnya. Pintu pun terbuka, dua orang laki-laki masuk diikuti Rafael dibelakangnya.
"Duduk." suruh Justin dengan nada datar.
Salah satu dari mereka memperlihatkan wajah tegang yang tidak begitu ketara, dia seperti berusaha menyembunyikan sesuatu. Sedangkan yang satu lagi, dia tampak seperti bingung.
"Maaf, tuan.. apakah ada yang anda perlukan?" tanya salah seorang yang memperlihatkan raut kebingungan.
"Iya, saya ingin melihat laporan yang kalian berdua kerjakan. Kalian pasti selalu memiliki draft satu sama lain, jadi kali ini saya minta semua laporan keuangan di beberapa bulan ini diberikan pada saya!" jawab Justin yang membuat orang itu menghela nafas lega namun berbeda dengan kawannya yang sedari tadi terlihat panik.
"Maaf, tuan. A-apakah salah satu dari kami saja atau dua-dua nya?" tanyanya.
"Kalian berdua." jawab Justin dengan tegas. "Tapi maaf sekali, tuan. Laporannya itu sudah saya backup ke hard disk lain." kata orang itu yang membuatku yakin kalau dia terlibat.
"Ya kan bisa di cek. Pokoknya saya mau melihat laporan dari kalian berdua!" ujar Justin dengan tegas.