Lunch

1222 Words
Diana P.O.V "Diana, mau makan siang dimana kita?" tanya Justin yang membuatku menatapnya dalam diam. "Maaf, tapi saya rasa sudah saatnya saya kembali ke kantor." tolak ku. "Tunggu, biar saya yang izin pada Pak Nas agar mengizinkan kamu disini." cegahnya yang ku jawab anggukan dengan canggung. Justin mulai fokus pada ponselnya, sedangkan aku memilih menatap langit diluar sana yang terlihat cerah saat ini. "Okay, done! Sekarang katakan, dimana kita akan makan siang? Kita masih harus menunggu laporan dari dua orang tadi." ajaknya. "Eeuumm, sebenarnya kalau saya biasanya sih ke apart karna ada anak saya disana." jawabku. "Jadi kamu sudah menikah?" tanyanya yang ku jawab gelengan kepala. "Itu, eeumm dia anak saya. Tapi saya belum menikah." ujarku pelan. "Baik, eeuumm begini saja mumpung kamu off dari kantor, kita bisa makan siang didekat apartment kamu jadi sekalian saja anak kamu diajak. Bagaimana?" tawar Justin yang ku setujui karna saat inipun aku sudah kangen dengan Jasmine. "Baik, ayo! Rafael!" panggil Justin membuat asistennya itu datang. "Nanti jika dua orang tadi sudah menyerahkan laporan, segera berikan pada saya. Kamu harus awasi mereka berdua karna saya merasa salah satu dari mereka itu turut andil dalam kasus ini." suruh justin yang membuatku tersenyum. "Saya pun merasakan hal yang sama. Orang kedua tadi, saya merasa dia begitu tegang dan tertekan. Biasanya itu salah satu ciri orang yang bersalah dan takut ketahuan." kata ku membuat mereka berdua mengangguk. "Baik, tuan. Segera saya awasi, tuan dan nona sendiri mau kemana ya?" tanya Rafael. "Kami akan makan siang terlebih dahulu. Tenang saja kali ini jam istirahat mu yang terpakai akan ku masukan ke bonus." jawab Justin membuat asistennya itu tersenyum lebar dan mengangguk semangat. Kami berdua segera menuju lift dan saat sampai dilantai dasar, banyak pasang mata yang menatap kami. Bisik-bisikpun terdengar. "Bukankah itu Nona Diana? Pengacara yang terkenal itu?" "Astaga! Apakah ini pasangan terbaru di kota? CEO dengan Pengacara, OMG!" Mendengar jeritan histeris itu, aku dan Justin tidak ambil pusing. Kami lebih memilih melangkah hingga sampai di parkiran. "Pakai mobil saya saja." ujar Justin membukakan pintu penumpang depan. Akupun menurut. Setelah dia masuk dan mobil melaju membelah jalanan yang cukup ramai mengingat ini memang jam makan siang, kesunyian menerpa kami. "Jika ternyata memang klien anda menjadi kambing hitam, maka saya akan menarik tuntutannya dan berbalik menuntut pelaku yang sebenarnya. Tapi Diana, bisakah anda menjadi pengacara saya nanti?" tanya Justin. "Eeuumm jika nanti kamu menuntut ya sudah otomatis yang mewakili kamu itu jaksa penuntut nya. Kecuali kalau nanti ada kasus perdata, silakan pakai jasa ku untuk menanganinya." jawabku dengan santai. "Senang mendengar itu. Kenapa kamu ga kerja aja sih di kantor ku? Jadi konselor hukum mungkin?? Lebih enak kan karna bisa stay di kantor." tawar Justin yang ku jawab gelengan. "Aku lebih suka pekerjaan ku ini, bisa kemana-mana ga stay didepan komputer." tolak ku dengan halus. "Iya sih, kamu pasti sudah terbiasa dengan suasana persidangan. Aku justru yang belum terbiasa, sampai kamu harus tau ya kemarin itu waktu pertama kali aku kesana, rasanya begitu asing." sahutnya yang membuatku tersenyum. "Pertama kali aku datang ke pengadilan itu waktu aku masih kuliah. Dan Pengadilan Jakarta Timur adalah pengadilan yang ku datangi untuk pertama kalinya dan itu rutin selama sebulan, setiap rabu aku datang. Awal-awal juga kita sama, asing dengan tempat itu. Tapi lama-kelamaan aku juga betah karna memang aku kesana sama teman kuliahku, para hakim dan jaksa juga baik dan menyambut kami, lalu para pengacara yang lalu lalang disana pun cukup membantu kami mempelajari setiap kasus disana. Karna itulah aku ngerasa kayak okay ini lingkungan pekerjaan yang aku mau." ujarku panjang lebar menjelaskan masa lalu ku di masa perkuliahan. "Seseru itu ya.. kalau aku sewaktu kuliah lebih fokus di organisasi." sahut Justin. "Iya.. oh iya itu apartnya!" seru ku menunjuk apartment yang ku tempati. Justin mengangguk, dia lalu memasuki gerbang area apartment, melewati taman, dan akhirnya berhenti didepan pintu masuk gedung apartment ku. Terlihat ada mbok yang sedang menggendong Jasmin dan ditangan sebelahnya ada tas yang berisi keperluan anakku itu. "Sebentar ya biar aku jemput Jasmin dulu." ujarku dengan pelan. Justin mengangguk, "Aku ikut.. ayo!" ajak nya dengan semangat. Kami berdua keluar mobil bersama dan menemui mbok. "Mbok, mbok bisa pulang.. tapi sekarang ikut kami makan siang dulu ya! Sini, Jasmin biar saya yang gendong.." pintaku. Mbok tersenyum dan menganggukan kepala. "Mbok, sini biar saya yang membawa tas nya Jasmin!" pinta Justin yang membuat mbok menatapku dan setelah ku jawab anggukan, dia pun memberikan tas itu pada Justin. Kami bertiga masuk kedalam mobil dengan Jasmin dalam gendongan ku. Bayi kecilku ini tampak menggemaskan dengan tubuh hang ditutupi mantel berbentuk kelinci, bibir yang sedang ngempeng dan mata yang tertutup. "Ya ampun, lucu banget sih!" ujar Justin dengan gemas. Saat mobil mulai melaju, tidak disangka Jasmin justru terbangun. Dia menangis awalnya tapi setelah sadar kalau dia digendonganku, tangisnya mereda dan kini justru dia menatapku. "Apa sayang? Jasmin baru bangun.. iya.." ujarku bermonolog membuatnya tersenyum lebar. Dengan gemas aku menciumi pipi nya dan dia semakin tersenyum. "Diana, kamu mau makan apa? Mbok mungkin ada request?" tanya Justin. "Eeumm, den.. kalau boleh ini mah saya mau mencoba makanan orang barat. Dari dulu saya mau coba, anak-anak saya pada jauh dan belum pulang-pulang sejak mereka kuliah." jawab mbok yang membuat ku menatapnya. "Loh? Kok mbok ga pernah bilang ke aku? Kalo gitu kan aku pesanin biar mbok bisa makan di rumah. Udah mbok, pokoknya mulai sekarang kalo mbok mau sesuatu, bilang sama aku ya.." ujarku yang dijawab anggukannya. "Yaudah kita ke Warung Pasta aja lah ya. Ada kok dideket sini.. mbok, mulai sekarang jangan canggung ya kalau ketemu saya dan Diana. Mbok bisa anggap kami anak mbok juga." kata Justin yang membuatku tersenyum lebar. Mobil kembali terparkir di Warung Pasta. Justin membantuku turun dari mobil karna aku saat ini sedang menggendong Jasmin yang kembali tertidur. "Sebentar, mbok.. mbok bawa gendongan Jasmin kan?" tanyaku. Mbok mengangguk lalu mengeluarkan dari tas. Akupun segera memakainya dan menggendong Jasmin dengan gaya M Shape. "Kok kamu bisa ngegendong dia kayak gitu?" tanya Justin. "Ya kan udah terbiasa.." jawabku dengan santai. Kami masuk kedalam dan segera diarahkan ke ruangan indoor yang berAC. Awalnya Justin mau memesan ruangan VIP tapi aku menolak. Please deh ini bukan mau meeting atau bahkan jamuan agung, ga usah VIP segala. "Nih, mbok pilih aja mau yang mana!" suruh Justin. "Waduh, mbok ga ngerti kalau menu-menu begini, den.. aden dan non aja yang pilihin.." tolak mbok yang kami jawab anggukan. "Meet Seduction nya satu, pasta yang Meet Lover nya satu, Rice and cheese nya satu. Kalo kamu apa?" tanya ku pada Justin. "Aku mau smokey eyes!" jawab Justin. "Okay, terus apa lagi? Aku mau nambah mushroom cream soup sama minumnya Lime Squash.. buat mbok minumnya Lychee Lime." ujarku. "Aku minumnya samain sama kamu aja." sahut Justin. Pelayan datang, aku segera memesan semua menu yang kami inginkan. Ponsel Justin berdering, dia mengangkatnya dan menjauh dari kami. Sesekali matanya menatapku dan mengangguk. Akupun mengerti kalau ini terkait pelaku dari pencucian uang sebenarnya. "Baik, nanti setelah makan siang kami kesana." ujar Justin yang langsung mematikan sambungan telfon. "Apa kamu yakin mau bawa Jasmine ke kantor?" tanyaku. "Iyalah, gapapa juga kalo emang kamu mau bawa. Kalau dia tidur, bisa di kamar aku dulu." jawabnya yang membuatku lega. Makanan datang, kamipun segera menyantapnya. Jasmine yang saat ini sedang tertidur memudahkan ku dalam menyuap makanan ke mulut, meskipun sesekali aku harus mengelap sudut mulutku karna terkena bumbu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD