Diana P.O.V
Makan siang kami sudah selesai tepat ketika Rafael menelfon Justin dengan mengatakan kalau beberapa karyawan terlihat sedang 'kabur' dari kantor. Tentu saja mendengar hal itu, aku dan Justin tanpa mau berlama-lama segera menyudahi makan siang kami setelah semua menu yang kami pesan, habis. Justin juga menyempatkan diri memesankan makanan untuk dibawa pulang mbok lalu memesankannya juga taksi online agar mbok bisa pulang dengan aman.
Jasmine yang saat ini masih terbangun tampak tenang berada di pangkuan ku. Mobil yang dikendarai Justin segera berbaur dengan kendaraan lainnya di ibu kota yang terkena kemacetan.
"Halo, Rafael. Bagaimana? Apa kamu tau kemana mereka melarikan diri?" tanya Justin. "Belum, tapi saya masih mengusahakan mencari semuanya. Anak buah kita juga sudah mencari dan melaporkan telah menemukan beberapa dari mereka." jawab Rafael dari seberang sana.
"Kalau gitu segera bawa mereka ke ruangan saya, ikat mereka jika memberontak. Siapkan bodyguard disana sesuai banyaknya jumlah mereka!" suruh ku yang dijawab anggukan Justin pertanda dia setuju.
"Baiklah kalau begitu." sahut Rafael.
Sambungan telfon dimatikan, jalanan mulai kembali normal meskipun sesekali kami terkena macet tapi tidak selama sebelumnya.
"Kalau nanti Jasmine masih belum tidur, sebaiknya dia kita bawa saja!" ujarnya sembari fokus ke depan. "Hah? Tidak apa-apa memang?" tanyaku yang dijawab anggukan. "Hanya untuk memastikan dia aman." jawab Justin yang membuatku setuju.
***
"Lepaskan saya! Saya tidak bersalah dalam hal ini!"
"Kami hanya disuruh bukan berarti kami pelaku!"
Tepat ketika lift terbuka, bisa kami dengar suara dari dalam ruangan Justin. Aku menggendong Jasmine yang tertidur bersamaan dengan Justin yang menggandeng tanganku ketika kami masuk kedalam ruangannya. Mataku melihat para karyawan yang tadi dikatakan 'kabur' itu menatap kedatangan kami dengan tatapan beragam. Tegang, tajam, bahkan ada yang menatapku dengan tatapan melasnya.
"Kamu letakin Jasmin dikamar itu aja.. nanti kesini lagi!" ujar Justin yang ku turuti.
Pintu ruangan ini ku buka, ternyata ini sebuah kamar yang didominasi warna abu-abu. Tanpa menunggu lama, Jasmine segera ku letakan dan ku berikan jas ku untuk menyelimutinya, lalu kembali ke ruangan Justin.
"Baik, bisa kita mulai." ujar Justin dengan tatapan dingin ke mereka semua.
"Ini adalah laporan dari dua manajer keuangan yang tadi sudah saya periksa.. silakan tuan dan nona lihat!" kata Rafael menyerahkan dua berkas pada ku dan Justin.
Aku mulai membaca berkas yang ku pegang, lalu bergantian dengan Justin. Bisa ku simpulkan kalau laporan keduanya cukup berbeda di beberapa hal. Laporan dimana di berkas yang pertama ku pegang itu terlihat ada penarikan uang perusahaan dengan tujuan pemindahan dana, investasi, dan sebagainya. Sedangkan di laporan kedua yang ku pegang itu justru laporannya pengambilan dana tersebut untuk proyek.
"Okay, bisa kalian jelaskan mengapa dua laporan ini berbeda?" tanyaku menatap dua orang yang tadi menulis laporan ini dengan tajam.
"Saat pemindahan dana perusahaan itu, saya ingatnya pihak perusahaan sudah memberikan hampir ratusan juta untuk proyek ini tapi Pa Hans bilang kurang jadi saya kembali menambahkan pemasukan dana." jawab orang yang sedari tadi begitu tegang bernama Pa Eddy.
"Bohong, anda bilang ke saya ini untuk investasi perusahaan di beberapa perusahaan lain!" seru temannya yang sejak tadi begitu tenang bernama Pa Pras.
"Apa kalian ada bukti untuk menguatkan alasan kalian?" tanya Justin dijawab anggukan Pa Pras tapi raut tegang dari Pa Eddy.
"Saya memiliki bukti percakapan saya dan Pa Eddy yang mengatakan kalau Tuan Justin menghubungi dia secara personal untuk sebuah investsi." kata Pa Pras memperlihatkan percakapan dalam w******p. Bahkan setelah kami selidiki, Pa Eddy mengaku kerabat jauh dari Justin.
"Bukan itu saja, setelah saya crosscheck rekening yang menerima dana itu adalah milik korban jadi bisa saya simpulkan memang benar dugaan Nona Diana dimana Miko memang dijadikan kambing hitam." ujar Rafael.
"Lalu yang lain, kenapa harus lari?" tanya ku menatap para pekerja yang tadi kabur itu dengan tatapan tajam, mereka masih menundukan wajahnya.
"Jawab!" suruh Justin dingin.
"P-Pak Eddy sudah pernah bilang pada kami, kalau bisnis nya ketahuan, maka kami harus melarikan diri." jawab salah satu dari mereka dengan tegang.
"Ya memang, tapi apa yang kalian lakukan itu memang wajar jika saya laporkan ke polisi. Tapi tenang saja, saya hanya akan melaporkan dalang-dalang utama dari kasus ini, kalian hanya akan saya pecat secara tidak terhormat!" kata Justin.
Pa Eddy segera menghampiri Justin dan berlutut.
"Ampun tuan.. ampuni saya, saya hanya menuruti tawaran Pa Hans." ujarnya memelas.
Saat kami sedang tenggelam dalam situasi ini, terdengar tangisan dari Jasmine yang membuat ku segera beranjak dari kursi namun tanpa ku duga Pa Eddy berlari dan dengan paksa masuk ke ruangan dimana anakku berada. Dia keluar dengan menggendong Jasmine dan gunting ditangan kirinya yang diarahkan ke Jasmine.
"Pa Eddy, jangan macam-macam anda terhadap anak saya!" ujarku dengan tatapan tajam kearahnya.
"Kalian tidak akan tau bagaimana jika anak kalian sekarat saat kalian tidak memiliki uang. Tuan Justin, pilih anak ini selamat dan tetap menerima saya bekerja disini atau anak ini terluka karna anda?" tanya Pa Eddy.
Aku langsung menatap Justin, dia terlihat menatapku seolah memberikan ku keyakinan kalau dia tau apa yang harus dia lakukan.
Aku juga baru menyadari kalau kini ada Rafael dibelakang Pa Eddy tapi memang diluar dugaan, Pa Eddy mengarahkan gunting ke paha Rafael saat dia akan memukul Pa Eddy.
"Rafael!!!" teriak Justin yang terkejut.
"Saya tidak segampang itu dibodohi!" kata Pa Eddy dengan senyuman culas diwajahnya. Tapi dia tidak menyadari kalau kini aku sudah berada didekatnya, tepat ketika dia menengok kearah depan, tangan ku segera mencengkram lehernya dengan kencang bahkan mungkin saja kuku ku ini ada yang menancap disana.
"Sudah saya peringatkan jangan main-main dengan anak saya!" ujarku dengan dingin. Justin segera menggendong Jasmine yang menangis kencang sedangkan Rafael, dia meringkus tangan Pa Eddy meskipun sesekali dia meringis kesakitan.
"Saya akan tambahkam tuntutan untuk anda, pak! Bersiaplah menerima surat tuntutan kedua!" kata ku dengan tegas.
Aku segera mengambil Jasmine dari Justin, anakku ini akhirnya mulai tenang. Akhirnya polisi datang dan menangkap Pa Eddy. Sedangkan karyawan yang terlibat, mereka berurusan dengan bagian HR.
"Maaf tadi Jasmine hampir jadi korban.." kata Justin yang ku jawab anggukan. "Tidak apa.. yang penting Jasmine selamat." sahutku.
Hari sudah mulai sore, aku memutuskan untuk segera pulang. Justin yang awalnya ingin mengawal mobilku, terpaksa ku pinta tidak melakukannya. Aku sudah cukup lelah dan tidak mau nanti harus mengajaknya masuk ke flat.
Saat mobil yang ku kendarai melewati drivethru dari salah satu merk fastfood, aku segera berhenti untuk memesan.
"Saya mau McBurger nya satu yang double keju, banyakin selada nya, tanpa acar. Terus McNuggets nya dua. Eeeuuummm ayam McSpicy yang d**a nya juga deh satu, minumnya satu cola dan satu lemon tea!" ujarku memesan apa yang ku inginkan.
Setelah pihak mereka mengulang pesananku, akupun melanjutkan ke stand dimana aku harus membayarnya lalu akhirnya pesananku selesai. Jasmine yang tertidur di baby carseat nya memudahkanku untuk menyantap pesananku.