Ketuk Palu Sementara

1474 Words

Diana P.O.V Pagi itu, aku mengenakan setelan formal—kemeja putih, jas hitam, dan celana bahan senada. Tak lupa dasi gelap yang telah kubenamkan rapi di balik kerah. Hari ini bukan sidang pidana, jadi tidak perlu mengenakan jubah advokat. Aku mewakili Pak Ronald dalam perkara perdata, hak asuh atas anak semata wayangnya. Aku tiba lebih awal di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Setelah memastikan semua bukti tambahan yang kupersiapkan telah diterima oleh panitera, aku masuk ke ruang sidang dengan kepala tegak. Klienku, Pak Ronald, duduk tenang di kursi belakang, menatap ke arahku dengan mata yang penuh harap. Di seberangnya, duduk mantan istrinya, Bu Livia, bersama kuasa hukumnya seorang pengacara senior bernama Ibu Anita yang terkenal dengan argumen tajamnya. Majelis hakim memasuki rua

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD