Diana P.O.V
Melihat Jasmine yang tidak bisa lepas dari dekapanku, aku pun mau tidak mau membawanya ke kantor. Mama langsung memberikan tas berisi keperluan Jasmine serta papa meletakan baby chair ke dalam mobil.
"Diana, mama dan papa akan nunggu kamu di apart ya. Kamu mau makan apa nanti malam? Mama mau masak deh buat kamu." ujar mama.
"Eeuumm, kayaknya aku mau nya bakso aja ma.. bakso bikinan mama tuh juara!" jawabku dengan antusias membuat papa langsung mengacak rambutku gemas dan akupun berdecak sebal.
"Ih papa, ini rambut aku nanti berantakan lagi!" ujarku dengan melas. "Come on, walaupun kamu udah jadi mama kamu itu tetap putri kecil nya papa. Udah sana berangkat!" suruh papa yang ku jawab anggukan lalu memeluk mereka.
Papa membukakan pintu kemudi, akupun masuk ke dalamnya dan meletakan Jasmine didalam baby chair.
"Anak mama manja hmm hari ini.. gapapa deh kan kita di ruangan doang nanti." monolog ku sembari memastikan keamanan Jasmine.
Melihat mobil papa sudah pergi, akupun turut keluar dari area basement untuk menuju ke kantor.
Untuk yang bertanya kenapa aku berani membawa Jasmine ke kantor, itu karna memang Pak Nas atasanku itu mengizinkan para pekerja membawa anaknya jika memang tidak ada yang menjaga dengan syarat tidak boleh mengganggu pekerja lainnya. Karna itulah aku berani membawa Jasmine. Tadi aku lihat juga memang ada beberapa teman ku yang membawa anaknya karna tidak ada yang menjaga.
Dalam lima belas menit, aku sudah sampai di kantor. Saat mau mengeluarkan baby chair dengan Jasmine didalamnya, segera ku tutupi dengan kain putih agar terhindar dari debu.
"Oh my god! Bu Diana bawa anaknya guys!"
"Anjir! Pesona mama muda emang ga bisa ditolak!"
"Kalo mama nya kayak Bu Diana mah gw rasa suaminya ga akan komplain ini itu."
Mendengar itu semua, aku memilih tidak memberikan respon apapun. Tatapan ku fokus ke depan hingga sampai didepan lift yang terbuka dan masuk ke dalamnya. Baru lah aku bisa menghela nafas dengan perlahan dan membuka sedikit kain penutup baby chair nya. Jasmine masih terlelap, anak ku ini begitu cantik. Bahkan pipi nya sekarang gembul banget sampai aku sendiri sering gemes sama dia.
Ting!
Saat lift terbuka, terlihat beberapa klien yang cukup ku kenali. Mereka langsung berdiri menyambut kedatanganku.
"Maaf, saya harus mengurus anak saya terlebih dahulu. Adi, segera kita mulai!" suruh ku. "Baik, mbak!" sahut Adi.
Saat masuk ke dalam ruangan, AC yang masih menyala segera ku besarkan suhu nya agar Jasmine tidak kedinginan. Untungnya aku juga memiliki kursi box yang bisa ku pakai untuk meletakan baby chair Jasmine disebelah meja kerja ku sehingga bisa ku pantau.
***
Matahari mulai terbenam, cahaya nya mulai terlihat kejinggaan dengan begitu indahnya. Mataku sibuk menatap cahaya karya sang pencipta.
Jasmine yang baru saja terbangun, kini sudah berada didalam dekapanku. Dengan menggunakan gendongan yang dibawakan mama, aku bisa menggendongnya dengan nyaman.
Tok!
"Masuk!" suruh ku.
Pintu bilik terbuka, ternyata yang masuk adalah Adi diikuti Sarah, pelayan yang tadi bermasalah di resto.
"Selamat datang, Sarah!" sapa ku dengan tenang. "Eeumm terima kasih, Nona Diana." sahutnya dengan canggung.
"Mbak aja gapapa." ujarku dengan santai menggendong Jasmine kemudian duduk disofa bersama Sarah dan Adi.
"Bagaimana? Apa kamu sudah transfer ke orang itu?" tanya ku. "S-sudah, mbak.." jawabnya. Aku menatap Adi yang langsung mengerti kode tatapanku. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo.."
Mendengar suara diseberang, segera aku mengambil alih telfon milik Adi.
"Halo, Tuan Benjamin. Diana Harrington disini, maaf saya yang tadi siang menghubungi anda." ujarku.
"Harrington? Jadi anda anak dari Tuan Harrington? Hahahaha! Dasar manusia satu itu. Baiklah, ada apa Diana?" tanya Tuan Benjamin yang merupakan salah satu sahabat papa yang ahli dalam hal IT.
Aku segera menceritakan semuanya, dibantu oleh Sarah karna disini dia korban dari pemerasan tersebut.
"Iya jadinya saya harap anda mau membantu saya dalam melacak berdasarkan nomor rekening yang ada." ujarku.
"Hmmm, baiklah kalau memang kamu mau seperti itu. Coba disiapkan nomor rekeningnya!"
Sarah segera mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan kepadaku. Akupun segera menyebutkannya dan Tuan Benjamin segera melacaknya.
Saat sedang berdiskusi, Jasmine menangis. Sepertinya dia lapar.
"Adi, tolong ambilkan di tas itu ada s**u nya Jasmine!" pintaku. Adi menurut dan memberikan s**u Jasmine yang dia ambil dari tas. Aku segera memberikannya pada Jasmine.
"Gotcha! Diana, saya akan segera mengirimkan mu berkas dari pemilik akun ini. Dan untuk klien mu, Nona Sarah. Jangan khawatir, saya sudah menghapus semua foto-foto itu."
"Apakah anda bisa mengambil beberapa bukti kalau mereka memiliki foto-foto itu untuk bukti pengadilan, Tuan?" tanyaku.
"Tentu saja, nak. Aku tidak sebodoh itu. Berkas-berkasnya akan segera ku kirim. Tapi ada satu masalah disini, pelaku nya ada dua orang tapi yang baru kita ketahui hanya satu."
"Tidak apa, melalui proses introgasi nanti dia akan mengaku siapa yang menjadi rekannya dalam beraksi. Terima kasih, Tuan Benjamin. Bayaran anda akan segera saya berikan." ujarku.
"No, please don't do that.. kamu itu anak dari sahabat ku, sudah kewajibanku membantumu. Kalau mau membayarku, cukup bertemu saja dengan ku dan ajak papa mu yang super sibuk itu. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya!"
"Baiklah, segera saya beri tahu pada papa. Terima kasih, tuan!" sahutku menyudahi panggilan.
Tidak lama, Tuan Benjamin mengirimkan beberapa berkas dan benar saja memang ada satu profil laki-laki yang segera ku serahkan pada Adi.
"Segera minta penyelidikan pada kepolisian mengenai ini. Jika memang benar, maka laporkan dia dan kita akan maju untuk gelar sidang nya!" suruhku.
"Baik, mbak." sahut Adi menganggukan kepala.
Jasmine sudah menghabiskan sebotol s**u nya, aku segera menggendongnya dan menepuk pelan punggungnya hingga akhirnya..
Ergh!
Sendawa nya terdengar, dia sudah kenyang dan kini asik menatap ku yang sedang menatapnya dengan senyuman.
"Sebentar lagi, anak mama empat bulan. Iya ya nak!" monolog ku. Jasmine mengangkat tangannya seolah ingin menjangkau wajahku dan dia tersenyum lebar.
"Aduh anak mama, cantiknya!" puji ku.
"Eeuumm, mbak.. apa saya sudah bisa kembali?' tanya Sarah yang membuatku sadar akan dirinya.
"Eh iya sorry, aku lupa kamu ada disini. Ayo kita pulang, aku yang akan antar kamu!" ajak ku. Sarah mengangguk setuju. Tapi secara tiba-tiba Adi masuk ke ruanganku dengan membawa tiga kotak Pizza.
"Loh? Di, saya baru aja mau pulang." ujarku. "Euumm maaf, mbak. Ini ada titipan, didalamnya ada kartu juga." sahutnya yang segera ku ambil kartu itu dan membacanya.
'Jangan lupa untuk makan malam, kamu perlu asupan setelah seharian bekerja. Semangat ya
"Apa dia kira gw perut karet ya? Banyak banget anjir!" umpatku.
"Mbak, kayaknya gapapa deh makan aja dulu. Kebetulan laper juga!" pinta Adi yang akhirnya ku setujui.
Aku, Sarah, dan Adi segera memakan pizza ini. Sisanya segera ku bagi ke tiga porsi perpizza agar bisa dibawa oleh kami ke rumah.
"Syukurlah, kebetulan banget mbak.. adik-adik saya belum pernah makan pizza!" kata Sarah dengan mata berbinar. Aku yang mendengarnya merasa iba dan segera memberikan porsi ku untuk dia bawa.
"Ini, biar kamu bawa aja untuk mereka. Saya bisa membelinya kok." suruhku dengan pelan. Sarah menundukan wajah dan mengusap matanya, dia menangis.
"Alhamdulillah, terima kasih!" katanya.