Mr.Gray?

1049 Words
Diana P.O.V Jalanan di Kota Jakarta masih dipadati kendaraan. Aku menatap Jasmine yang tertidur di baby chairnya. Putri ku ini begitu tenang tertidur meskipun mobil kami sedang terjebak macet yang berkepanjangan. Ting 'Dinner, baby girl?' Chat itu muncul dari nomor yang tidak ku kenali. Dia mengirimkan foto dimana ada beberapa makanan. "Ck! Ada aja deh." decak ku sambil meletakan ponsel ku kembali. Melihat jalanan yang masih macet, aku menghubungi mama. "Halo, princess! Is everything okay?" tanya mama. "No, mama. Jalanan macet banget, ma. Ini kayaknya ada pejabat mau lewat kali ya kita di stop begini. Haish! Padahal aku udah laper banget!" jawabku dengan sebal. "Kalau begitu, mama akan panasin lagi makanan untuk kamu nanti. Baru aja mam-- wait ada yang datang!" Terdengar suara bel dari flatku, mama sepertinya mengobrol dengan orang itu. "Oh baik, nanti akan saya sampaikan." Mendengar itu, aku menjadi penasaran. Siapa kira-kira? "Halo, Diana?" panggil mama. "Halo, iya ma.. aku masih disini." sahutku. "Ada yang mengantarkan makanan untuk kamu, sayang. Ada banyak.. mie ayam, bakso, bahkan ada ayam geprek. Apa kamu yang memesan?" tanya mama. "Enggak, ma.. aku ga pesan tapi memang ada yang bilang ke aku kalau dia mau ngirimin makanan." jawabku. "Apa ini aman?" tanya mama. "Entah, biar nanti aku yang coba, ma." jawabku. Tidak lama kemudian, jalanan berubah menjadi lancar. Aku segera mematikan sambungan telfon dengan mama dan mengendarai mobil ku. Saat melewati lampu merah, terlihat ada beberapa orang bertuxedo mengatur lalu lintas dan saat mobil ku melintas, mereka memberikan hormat. "Salah liat kali gw." monolog ku sembari kembali menatap jalanan yang lancar. Dalam lima belas menit, aku bisa sampai di apartment. Tepat ketika mobil ku terparkir di basement, disebelah ku ada Rania dan Citra baru saja turun dari mobil. "Oy guys!" sapa ku. "Yo!" sapa mereka berdua. Aku segera memakai gendongan dan menggendong Jasmine. Anak ku ini mulai terbangun tapi segera kembali ku tenangkan hingga dia kembali tertidur. "Wih! Si Jasmine ikut sama lo, kak?" tanya Citra. "Iya tadi dia nangis pas nyokap yang gendong makanya gw bawa ke kantor. Untung aja dia tau mama nya kerja jadinya dia ga rewel disana." jawabku. Kami melangkah bersama masuk ke dalam lift dan Rania memencet tombol lantai kami. "Sini kak biar gw bantu bawa." kata Citra. "Thanks, dek.." sahutku. "Si Lysa belum balik berarti?" tanya ku. "Belum, tadi gw belum liat mobilnya. Kalo ga salah dia bilang ada event gede gitu." jawab Rania. "Syukurlah kalau EO nya ramai, gw sempet takut waktu awal-awal dia mau buka EO." ujarku. "Iya wajar lah kak. Kan awalnya aja dia kan ngikut lo, terus tiba-tiba mau buka EO. Jangankan lo, kita aja kaget." sahut Citra. Ting! "Gw duluan ya, kak! Salam buat tante sama om!" ujar Citra menyerahkan tas ku. "Makasih ya.." ujarku. "Gw juga ya, Di.. udah pegel-pegel badan gw." kata Rania yang ku jawab anggukan juga. Kami bertiga berpisah. Aku melangkah dan memencet bel flat. Pintu terbuka, mama tampak dengan senyuman. "Wah! Udah pulang ya sayang.. sini Jasmine biar sama oma!" pinta mama. Aku langsung membiarkan mama menggendong Jasmine. "Papa ada dimana?" tanya ku. "Tadi papa kamu tuh mau ketemu sama beberapa rekan bisnis makanya dia pergi, mama disini biar kamu pulang ada kami." jawab mama sembari menggendong Jasmine. "Okay, eeuumm mama.. aku mau mandi dulu ya!" ujarku. *** Tok! Tok! Mendengar suara ketukan dari pintu kamar, aku segera kembali meletakan laptop yang berada diatas paha ku ke ranjang. "Sebentar!" ujarku sembari membukakan pintu, ternyata mama yang sedang membawa Jasmine. "Ma?" panggilku. "Sayang, papa udah pulang. Ayo kita makan dulu!" ajak mama yang ku setujui. Kami bertiga langsung ke meja ruang makan dan terlihat papa yang sedang membaca sebuah berkas ditangannya. "Papa?" panggilku. Dia menengok dan tersenyum. "Princess! Ini dari Uncle Benjamin. Tadi dia memberikan ini saat kami bertemu. Lalu eeuumm ini papa menemukan berkas satu ini di pintu mobil. Papa juga ga tau siapa yang ngeletakin ini tapi pas papa lihat isinya terkait kasus kamu yang sama jadi papa bawa." ujar papa sembari memberikan ku dua berkas. "Can you guys stop working right now? Ayo kita makan!" Titah mama yang membuatku tertawa pelan dan menurut. Jasmine yang saat ini berada dalam ayunan dekatku terdengar sedang asik bermonolog dengan bahasa yang hanya dia mengerti. "Apa kamu belum mau cari calon hmm?" tanya papa. "Eummm, belum pa.. aku masih nyaman begini." jawabku. "Tapi papa rasa ada yang tertarik sama kamu deh tapi eeuum papa masih awasin dia." ujar papa. "Aku belum kepikiran kesana, pa.." sahutku. Saat aku mulai makan ayam geprek, rasa gurih dan pedas menyeruak membuatku begitu ketagihan akan rasa ini. Ini enak banget! "Astaga, enak banget!" kata ku dengan senyuman lebar. Bulir keringat terus-menerus berjatuhan dari wajahku tapi tetap aja rasanya ini terlalu enak dan bikin nagih. "Diana, jangan banyak-banyak makan sambal nya!" ujar mama menasehatiku. "Ga bisa, ma. Ini terlalu mantap!" ujarku dengan semangat terus menyuap makanan ke mulut ku. "Kalau kamu suka, papa akan selalu beliin ini untuk kamu sayang." kata papa. "Makasih, papa! Ini ayam geprek terenak sejauh ini hehehehehe!" sahutku dengan senyuman lebar. "Perlu papa cariin chef pribadi untuk kamu makan begini tiap hari?" tawar papa. "Eh? Ga usah papa.. aku sama yang lain bisa kok jalan cari makanan." tolak ku membuat papa tersenyum tenang. "Nanti setelah ini kamu istirahat ya.. biar Jasmine sama mama aja." suruh mama. "Enggak, ma.. aku mau ngeberesin kasus dulu. Jasmine biar sama aku aja tidurnya." ujarku. "Beneran gapapa?" tanya mama. "Iya, ma.. lagian aku udah biasa kok jagain Jasmine sambil ngerjain kasus hehehehe.." jawabku. *** Mataku membaca berkas-berkas dihadapanku ini. Sesekali menuliskan beberapa poin yang menurut ku penting dan setelah itu barulah aku menganalisa bagaimana kejadian awal hingga akhirnya Sarah jadi korban seperti ini. "Hmmm, berarti dari sini bisa disimpulin kalo Sarah juga ga kenal sama pelaku ini tapi kenapa dia bisa ngincer Sarah?" monolog ku membaca beberapa berkas yang ku cocokan dengan keterangan Sarah. Mataku menatap berkas yang tadi dikatakan papa kalau dia tidak tau siapa yang memberikannya. Saat ku buka dengan perlahan, ternyata ada beberapa foto didalamnya dan beberapa kertas. Ada satu surat yang membuatku tertarik untuk melihatnya, surat dengan amplop hitam dan tinta emas bertuliskan 'Read Me!' segera ku buka. 'Just call my name when you need me. Kalau kamu bingung siapa aku, just called me Mr.Gray and I'll help you. Izinkan aku mengejar kamu dan dengan perlahan masuk ke kehidupan kamu.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD