Malam belum sepenuhnya tenggelam ketika Diana membuka matanya dengan tajam. Nafasnya pelan, teratur, tapi detak jantungnya berirama cepat seperti gendang perang. Semua rencana yang dia susun selama ini, yang dia pertimbangkan dengan cermat setiap langkahnya akan dimulai malam ini. Bajak, pria sangar berambut cepak dan bertubuh kekar, kembali duduk di sofa. Matanya tertuju pada layar ponsel, tertawa sendiri saat menonton video tak penting. Gelas bir kelima di tangannya, separuh kosong. Diana berdiri, mengambil selimut yang dijadikan alas duduk, melipatnya seolah hendak tidur kembali. Tapi dengan gerakan cepat, ia melemparkan kain itu ke wajah Bajak, membuat pria itu terkejut dan kehilangan keseimbangan. Tanpa ragu, Diana menendang meja kecil ke arah kakinya, menjatuhkannya seketika. “WA

