Diana P.O.V Pagi itu aku terbangun karena tangisan Jasmine yang nyaring menusuk telinga. Suara isaknya sudah terdengar sejak dini hari, tapi kali ini tangisannya terdengar berbeda. Lebih nyaring, lebih rewel. Aku segera duduk dari posisi tidurku, meraba tubuh mungil yang terbaring di sebelahku, dan—astaga, tubuhnya panas sekali. "Jasmine?" bisikku panik sambil mengangkatnya ke pelukanku. Dia menggeliat kecil di gendonganku, wajahnya memerah, dan matanya tampak berat menahan rasa tidak nyaman. Dengan cepat aku menuju meja kecil di sisi tempat tidur. Mengambil termometer digital yang selalu kusempatkan standby dalam kotak kecil. Setelah meletakkannya di bawah ketiak Jasmine dan menunggu beberapa detik, angka yang tertera membuatku panik. 38,5°C. Jantungku langsung berpacu. Kukecup kenin

