Diana P.O.V Siang itu, panas Jakarta terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Aku baru saja tiba lagi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan setelah tadi sempat makan siang dulu di cafe sekitar sini. Aku langsung masuk ke ruang sidang utama tempat kasus Sarah kembali bergulir. Hari ini adalah agenda pleidoi, dan aku datang bukan sebagai kuasa hukum lagi, melainkan sebagai pengamat, sebagai sahabat, mungkin juga sebagai satu-satunya orang yang masih membuat Sarah kuat bertahan. Sarah duduk dengan tenang di bangku saksi korban, didampingi kuasa hukum dari lembaga bantuan hukum yang ditunjuk jaksa penuntut umum. Tatapannya menatap lurus ke depan, tapi sesekali ia menoleh ke arahku dan tersenyum kecil. Aku membalas senyumnya dengan anggukan ringan, mencoba menyampaikan pesan, "Kamu nggak sendir

