Kiran menuruni anak tangga dengan berlari kecil. Papa Dean dan Mama Naya yang masih menonton televisi di ruang tengah menautkan kedua alisnya saat melihat si sulung Kiran berjalan menuruni anak tangga dengan langkah tergesa. Papa Dean dan Mama Naya saling menatap saat melihat Kiran mengambil salah satu kunci motor koleksi di tempat mereka menyimpan kendaraan naik motor atau mobil.
“Kamu mau ke mana Kiran? Ini kan sudah malam Kiran. Besok kamu ada kuliah pagi kan Kiran?” tanya Papa Dean.
Kiran terkesiap saat mendengar suara Bariton Papa Dean di dekatnya. Kiran memutar kepala ke arah sumber suara. Kiran menautkan kedua alis saat melihat papa dan mama masih berada di ruang tengah menonton televisi.
“Papa dan Mama belum istirahat? “ Bukannya menjawab pertanyaan Papa Dean. Namun Kiran mengajukan pertanyaan kepada Papa Dean.
Papa Dean berdecak kesal dengan apa yang diucapkan oleh si sulung, “Kiran.. Kalau orang tua bertanya itu dijawab bukannya bertanya balik seperti itu."
“Kiran mau keluar sebentar Pa. Suntuk di rumah,” lanjut Kiran
“Kembali ke kamar kamu sekarang Kiran! Papa tidak akan mengijinkan kamu keluar malam ini. Apalagi kamu sebentar lagi akan menikah dan menjadi istri orang. Papa harap kamu berubah setelah kamu nanti menikah dengan dosen killer kamu di kampus Kiran,” seru Papa Dean.
“Pa!” balas Kiran dengan nada sedikit tinggi.
“Papa tidak menerima penolakan! Kamu masuk kamar atau semua fasilitas yang kamu miliki akan Papa cabut detik ini juga!” titah Dean tegas tanpa penolakan
“Ma,” rengek Kiran minta bantuan kepada sang mama.
“Maafkan Mama Kiran. Kali ini Mama setuju dengan apa yang papa kamu ucapkan Kiran. Mama setuju jika kamu menikah dengan dosen killer di kampus kamu itu. Ini semua demi kamu, Ki. Mama harap kamu bisa mengerti dan dapat berubah lebih baik lagi ke depan nanti. Hidup kamu masih panjang Ki,” balas Naya.
“Papa dan Mama tidak asyik,” omel Kiran lalu melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju kamar yang berada di lantai dua.
Papa Dean dan mama Naya saling menatap lalu tersenyum saat melihat Kiran kembali ke kamarnya dan mendengarkan apa yang di diperintahkan oleh papa Dean dan Mama Naya kali ini. Papa Dean mengambil semua kunci kendaraan yang disimpan dengan rapi di tempat biasa lalu dibawa ke kamar oleh papa Dean. Papa Dean takut jika Kiran akan keluar rumah saat papa Dean dan mama Naya telah beristirahat seperti apa yang sering dilakukan oleh Kiran selama ini. Papa Dean dan mama Naya memutuskan untuk kembali ke kamar lalu beristirahat karena hari telah larut malam.
***
Kiran merasa kesal dengan Papa Dean dan Mama Naya yang melarang Kiran pergi malam ini. Kiran melempar bantal dan guling ke lantai dengan penuh emosi. Kiran merasakan jenuh berada di rumah. Apalagi setelah mendengarkan perbincangan antara Papa Dean dan Pak Dave dari siang tadi yang memutuskan tentang lamaran Kiran yang akan dilangsungkan besok malam. Malam ini Kiran ingin melepaskan segala beban yang ada dalam diri Kiran bersama Alma sahabat Kiran di sebuah Cafe tempat Kiran dan Alma nongkrong seperti biasa. Namun tampaknya Kiran malam ini harus mengubur niat untuk pergi meninggalkan rumah mengingat papa Dean pasti akan meminta penjaga rumah dan anak buah papa Dean untuk melarang Kiran pergi dari rumah malam ini.
Kiran mengetuk pintu kamar adik kembarnya untuk melepaskan rasa jenuh buang saat ini menyelinap dalam diri Kiran. Kinar sang adik kembar Kiran membuka pintu kamar dengan wajah mengantuk. Kinar menatap sang kakak kembar dengan tatapan penuh tanda tanya saat melihat air muka sang kakak kembar yang tampak murung malam hari ini. Kinar mempersilahkan kakak kembar masuk ke dalam kamar. Kiran mengikuti langkah kaki adik kembar masuk ke dalam kamar yang selalu tertata rapi tidak seperti kamar Kiran.
Ya. Kiran dan Kinar saudara kembar anak pasangan dari Dean dan Naya yang memiliki kepribadian sangat berbeda dan saling terbalik. Kiran sang kakak kembar memiliki kepribadian tomboy sperti anak laki-laki. Sedangkan Kinar memiliki kepribadian feminim seprti sang ibu dan juga karakter yang lembut. Sifat saudara kembar yang sangat berbeda itu terkadang membuat sang mama menggelengkan kepala dengan sifat yang dimiliki oleh sang anak kembarnya.
“Kakak kenapa? Wajahnya kenapa suntuk banget seperti itu? Bukankah kakak sebentar lagi akan dilamar oleh Pak Dave. Ah.. Maksud Kinar itu dosen killer yang selama ini kakak benci itu,” tanya Kinar disertai dengan ledekan
Kiran berdecak kesal dengan sang adik kembar yang selalu meledek dirinya, “Kamu ini iya Dek. Bukannya menghibur kakak malah bikin kakak semakin badan mood saja ih. Menyebalkan."
“Makanya kak jangan terlalu membenci seseorang. Tidak tahu kan ke depan bagaimana nanti. Apalagi kalau orang yang kita benci itu jadi jodoh kita,” lanjut Kinar.
“Bodo ah. Kakak malas sama kamu. Sudah sana tidur. Semua orang di rumah ini sama saja. Tidak ada yang asyik,” ketus Kiran lalu melangkahkan kaki keluar meninggalkan kamar sang adik kembar.
Kinar menatap nanar ke arah sang kakak kembar yang keluar meninggalkan kamarnya dengan emosi. Kinar hanya berniat becanda kepada sang kakak kembarnya. Namun sang kakak menanggapi dengan sungguh-sungguh apa yang diucapkan oleh Kinar. Kinar menghela nafas kasar lalu berjalan menuju ke arah pintu untuk menutup pintu kamar setelah melihat sangat kakak masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan sedikit keras. Baiklah.. Kinar akan meminta maaf kepada sang kakak besok sebelum apa yang diucapkan kepada sang kakak beberapa saat yang lalu semain panjang. Kayana sangat mengenal bagaimana sifat sang kakak yang cukup temperamental itu. Kinar memutuskan untuk beristirahat mengingat hari telah larut malam.
***
Kiran meraih ponsel yang berada di atas nakas saat mendengar suara dering ponselnya. Kiran menautkan kedua alis saat melihat nomor yang tidak dikenal menghubungi Kiran malam ini. Kiran mengabaikan panggilan telepon yang pertama dari nomor tidak dikenal itu lalu meletakan kembali ponsel ke atas nakas.
Ya. Kiran paling tidak suka jika menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenal atau nomor yang tidak tersimpan dalam kontak di dalam ponsel. Suara dering ponsel kembali menginterupsi Kiran yang tengah bersiap untuk memejamkan mata. Kiran kembali meraih ponsel lalu melihat ke layar ponsel ID pemanggil yang menghubunginya malam ini. Kiran menautkan kedua alis kembali saat melihat ID pemanggil nomor yang sama saat panggilan pertama. Kiran menggulir tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan itu karena Kiran tidak ingin kembali terganggu saat tengah beristirahat. Kiran juga merasa penasaran dengan siapa yang menghubunginya malam ini. Apalagi waktu telah menunjukan pukul sebelas malam.
“Assalamu’alaikum..”