Kiran menautkan kedua alis saat mendengar suara yang tidak asing di indera pendengaran Kiran di seberang line. Kiran mendengus kesal dengan diri sendiri.
‘Kenapa aku terima panggilan ini. Kenapa aku tidak tahu kalau ini nomor dosen gila itu. Huh.. Efek tidak pernah menyimpan nomor kontak dosen killer jadi kaya ini. Ah. Sudahlah.. Nasi sudah menjadi bubur. Kepalang tanggung. Terima saja panggilan dari dosen paling menyebalkan ini,’ batin Kiran.
“Kalau ada orang mengucapkan salam dijawab Kanaya. Tidak usah bicara dalam hati calon istri aku,” ucap Pak Dave dari seberang line.
Jeder..
Kiran tercengang dengan apa yang diucapkan oleh sang dosen killer yang berada di seberang line saat ini. Kiran berdecak kesal dan Pak Dave mendengar Kiran berdecak kesal.
“Jangan terlalu percaya diri anda. Memang siapa yang bersedia menjadi istri anda? Memang siapa yang bersedia menerima lamaran anda? Dasar dosen killer,” balas Kiran dengan ketus.
“Saya tidak memerlukan jawaban kamu bersedia atau tidak. Bagi saya yang paling penting itu restu dari orang tua dan calon mertua saya. Orang tua saya dan calon mertua sudah merestui saya untuk melamar dan menikahi kamu. Kamu harus bersedia menerima lamaran saya untuk menjadikan kamu sebagai istri saya,” tukas Pak Dave.
Kiran kembali berdecak kesal dengan apa yang diucapkan oleh dosen killer yang sangat pemaksa ini, “In your dream Pak dosen killer. Saya tidak bersedia untuk menjadi istri anda. Orang kaku kaya kanebo dan suka memaksa. Saya tidak mungkin bisa hidup dengan orang seperti anda. Dasar dosen killer!”
“Saya akan memberikan nilai D ke kamu di mata kuliah saya calon istri dosen killer.” Pak Dave memberikan ancaman kepada Kiran.
“Anda pikir saya akan takut dengan ancaman dari anda? Saya tidak takut dengan ancaman dari anda. Nilai jelek dari mata kuliah yang anda ampu telah saya peroleh di semester empat. Jika anda ingin memberikan nilai jelek kepada saya, silahkan. Saya lebih memilih memperoleh nilai jelek dari anda daripada saya harus menjadi istri anda,” tukas Kiran dengan penuh emosi.
Tut..
Kiran menutup sambungan telepon tanpa menunggu balasan dari Pak Dave yang berada di seberang line. Kiran kembali meletakan ponsel di atas nakas lalu menarik selimut yang berada di bawah kaki untuk melindungi tubuh Kiran dari udara dingin yang diciptakan oleh pendingin ruangan di kamar Kiran.
***
Pak Dave menggelengkan kepala saat sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Kiran. Pak Dave menatap nanar ke layar ponsel yang kini tampak gelap itu. Entah kenapa pak Dave tertarik dengan wanita tomboy, angkuh dan slengean yang bernama Kiran itu. Mahasiswi di kampus sang dosen killer yang sering datang terlambat di kelas pak Dave dengan penampilan yang apa adanya dan sikap sesuai hati Kanaya menarik perhatian dan rasa ingin tahu pak Dave akan sosok Kiran. Pak Dave merasakan debaran di hati saat berada di dekat Kiran. Bahkan pak Dave merasakan sedih saat Kiran datang terlambat dikelas pak Dave dan Pak Dave menghukum Kiran demi kedisiplinan yang selalu diterapkan oleh pak Dave kepada setiap mahasiswa di kampus.
Kiran juga tidak memahami kenapa pak Dave dengan berani mengatakan akan melamar Kiran di depan kedua orang tua Kiran saat berkunjung ke rumah orang ria Kiran siang tadi. Pak Dave hanya ingin bersilaturahmi untuk mengenal orang tua Kiran dan mencari informasi tentang Kiran. Namun pak Daren berubah pikiran saat mendengar alasan Kiran datang terlambat hari ini di mata kuliah yang diampu oleh Pak Dave. Pak Dave merasa bersalah karena tidak bersedia untuk mendengarkan penjelasan Kiran pagi tadi. Pak Dave tersenyum mengingat semua tentang Kiran. Sikap Kiran, penampilan Kiran dan semua yang berada dalam diri Kiran dapat menarik perhatian pak Dave. Entahlah. Pak Dave juga belum mengetahui kenapa hati pak Dave berdesir saat melihat Kiran dengan segala kesederhanaan dibalik tampilan yang tomboy itu.
Pak Dave beranjak dari tempat duduk lalu melangkahkan kaki menuju tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuh setelah seharian merasa lelah dengan aktivitas hari ini sebagai dosen di kampus. Ah.. Lebih tepatnya dosen killer di kampus.
***
“Papa.. Mama.. Nanti malam ada acara apa tidak?” tanya Dave setelah menikmati hidangan sarapan.
“Tidak ada Dave. Kenapa iya Dave?” balas papa Dave yang bernama Richard.
“Dave ingin minta tolong kepada papa dan mama mengantarkan Dave ke tempat seseorang. Dave ingin melamar seorang wanita untuk menjadi istri Dave,” imbuh Dave.
Jeder..
Papa Richard dan Mama Mira kedua orang tua Dave tercengang setelah mendengarkan apa yang diucapkan oleh Dave. Papa Richard dan Mama Mira saling menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Papa Richard dan Mama Mira menatap ke arah Dave yang tampak santai sembari memakan buah yang telah dipotong oleh Mama Mira.
“Apa kamu serius? Papa tidak salah mendengar ucapan kamu kan Dave?” tanya Papa Richard
“Apa Dave pernah membohongi papa dan mama? Kemarin papa dan mama Minta Dave agar cepat menikah. Dave ingin melamar anak orang, papa dan mama tidak percaya. Terus Dave harus bagaimana Pa?” balas Dave.
“Bukan begitu maksud papa Dave. Bukan papa tidak percaya. Tapi papa dan mama tahu kamu selama ini jauh bahkan cenderung antipati sama wanita. Kamu juga masih trauma dengan masa lalu. Bagaimana papa dan mama tidak terkejut mendengar kamu akan melamar anak orang lain,” terang Papa Richard.
“Habis Dave tidak suka sama wanita yang berlebihan dan hanya mengincar harta saja Pa,” tukas Dave.
“Baiklah. Siapa pun wanita beruntung yang telah memenangkan hati kamu, papa dan mama akan merestui. Papa dan mama akan melamar wanita beruntung itu kamu, Dave,” pungkas papa Richard.
“Terima kasih papa dan mama. Dave berangkat ke kampus dulu. Dave ada mata kuliah jam sembilan,” tukas Dave lalu beranjak dari tempat duduk berjalan ke arah papa dan mama untuk mengecup punggung tangan kedua orang tua.
Dave melangkahkan kaki menuju mobil yang telah disiapkan oleh Pak Rahman pekerja yang khusus merawat mobil di keluarga Dave. Papa dan mama menatap punggung Dave dengan senyum bahagia setelah mendengar niat baik Dave.
“Alhamdulillah.. Anak kita akhirnya akan menikah iya ma,” ucap papa Richard.
“Iya pa. Kita harus merestui siapapun wanita pilihan Dave kan Pa balas mama Mira.
“Iya ma,” tukas papa Richard lalu merengkuh bahu sang istri.
Papa Richard dan mama Mira merasa sangat bahagia setelah mendengar niat baik Dave. Papa Richard lalu berpamitan kepada sang istri untuk berangkat ke kantor setelah mengecup kening sang istri tercinta.