“Wanita seperti dia?!!” Edzar menegaskan bicaranya.
Suara dari balik punggung Ana berhasil membuat mereka terkejut. Belum tersadar dari keterkejutannya, makian suaminya berlanjut, "Seperti dia yang seperti apa sehingga bibi mengatakan dia tidak layak, huhhh?!!”
“Ed. . .” hanya sahutan dari paman yang mencoba melerai perdebatan ini.
“Ed... nak, ada apa? Kenapa kau berteriak-teriak seperti ini?” Mami Catherine datang menghampiri bersama Jose.
Ana menghampiri Edzar, mencoba menenangkan suaminya. Ia sentuh lengan Ed dan membisikan, “Ed, tenanglah, oke?”
Tanpa menghiraukan mami dan istrinya, “Asal kalian tahu! Perempuan yang kalian hina dan kalian sebut tidak layak, perempuan itulah yang memberi hidupnya untuk putramu!! Dan perempuan inilah yang tak pernah lupa memikirkan kenyamanan anak kalian disaat kalian justru tidak peduli!!”
Ana adalah wanita jujur dan penyayang. Lahir dan besar tanpa kasih sayang kedua orang tua tidak menjadikannya salah pergaulan. Dia wanita cerdas dan dewasa. Edzar menikahi Ana bukan hanya karena kecantikan dan kelembutannya, tapi dengan segala bentuk kedewasaan Ana.
Bukan hanya karena status keluarga yang tidak sepadan, bibi dan paman Morgan tidak menyukainya. Alasan lain karena yayang Morga milik mendiang kakek Edzar, ayah Cathrine dan Alex justru diberikan pada Ana. Sebenarnya, Ana hanya membantu mengelola saja. Nyatanya kepemilikan yayasan masih menggunakan nama mami Cathrine. Bibi dan paman Morgan merasa mereka kehilangan kesempatan mengelola yayasan besar itu karea kehadiran Ana.
“Siapa mereka, huh?!”
“Paman dan bibimu.”
“Berani sekali mereka menghinamu! Apa mereka pikir mereka layak?!”
“Sudahlah, Ed. Aku tidak apa, sungguh. Mereka hanya mencemaskanmu.” Dengan lembut Ana berusaha menenangkan suaminya, ia beri usapan lembut pada dada bidang suaminya agar merasa sedikit tenang.
Saat ini mereka sedang berada di mobil, Ana mengajak Ed menjauh dari acara dan meminta Samuel, sekretaris pribadi Edzar melanjutkan acara peluncuran produk.
“Kita pulang” ucap Ed setelah beberapa lama diam menguasai mereka.
“Baiklah, tapi biar aku yang mengemudi.”
Membiarkan Ed berkendara dalam kondisi emosi yang meluap-luap samadengan menyerahkan diri dengan maut.
Sedangkan suasana di dalam gedung masih memanas. Tidak seluruh ruangan, karena setelah Ana membawa Ed menjauh, perhatian para tamu sudah kembali pada urusannya masing-masing. Hanya saja tidak dengan Cathrine dan Jose. Dengan tatapan dan raut kecewa, “Apa yang kau lakukan, Sesil? Kau melukai putriku!”
“Alex, kakak tidak pernah menyangka kalian bisa menghina kami seperti ini. Apa tadi kalian bilang?! Ana tidak layak?! Huhh. Kalian yang tidak layak untuk kami.”
“Sungguh, aku tidak habis pikir dengan mereka.” Omelan Ed berlanjut sesaat setelah mereka sampai rumah.
“Mereka tahu pasti selama ini kau berusaha keras untuk biaya pendidikan dan bahkan kehidupan layak untuk putranya. Lihatlah, bahkan Axl begitu menyayangimu karena perhatian dan kasih sayangmu lebih daripada kedua orang tuanya, tapi lihat orang tuanya! Sungguh memalukan.” Makinya seraya melepas jas yang melekat.
Ana mengambil alih jas yang baru suaminya lepas, “Sudahlah, Ed. Kalau dipikir mereka juga ada benarnya.” Ucapan Ana mampu membuat gerakan tangan Ed yang sedang berusaha melonggarkan ikatan dasi langsung berhenti. Ditatapnya istri yang sudah selama delapan tahun selalu melimpahkan cinta dan perhatian untuk Ed beserta keluarga besarnya. Merasa tak habis pikir.
“Jangan bicara hal bodoh, Ana! Dimana letak kebenarannya?! Apa meneriakimu itu benar?! Apa mencoba mempermalukanmu itu juga benar?! Satu-satunya kebenaran adalah kau istriku, dan mereka tidak pantas menyakiti hati yang kujaga dengan jiwa raga.”
“Ed, kau tahu?” Ana diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, “Saat kau membelaku tadi, sungguh aku tak merasa lebih baik.”
Degg, Kenapa?? Apa aku juga melukai dia tanpa sadar?---Ed
“Memang terasa lega saat orang yang kau cintai membelamu, tapi percayalah, Ed. Disaat bersamaan aku merasa sesak, bahkan lebih sesak dari saat sebelum kau membelaku” tanpa sadar bulir itu jatuh, pelan tapi pasti air mata jatuh dari mata lentik Ana, ia menangis. Ana berusaha keras menahan tangis sedari awal ucapan dan makian bibi Sesil. Ia mencoba tenang. Akan tetapi, usahanya luruh. Ia tak bisa lagi berpura-pura menjadi kuat didepan satu-satunya kekuatan yang ia miliki.
“An. . .” saut Ed terlihat panik melihat air mata mengalir di pipi indah istrinya. Ed melangkah mendekat, dan ia peluk erat tubuh mungil yang selalu menjadi obat dari segala lelah, tubuh yang selalu menjadi penenang.
Ed membiarkan istrinya menangis. Dapat ia rasakan bagaimana terlukanya Ana.
Setelah sedikit menguasai emosi, “Biarkan aku berbicara, kau cukup dengarkan. Sungguh rasanya masih sesak, Ed” ungkapnya ditengah isak tangisnya. pelukan hangat Ed mampu menenangkan sekaligus menambah sesak. Ya, sesak. Semakin erat semakin sesak, penuh rasa bersalah.
Andai aku bisa memberikanmu anak, andai aku bisa menghadirkan kebahagiaan ditengah-tengah keluarga kita, Ed. --Ana
“Ed, aku merasa menjadi orang jahat, aku selalu merasa tidak bisa melengkapi kebahagiaanmu. Kau memberikan aku seluruh cinta dan bahkan duniamu, tapi aku tak cukup jika hanya memberimu duniaku. Aku belum bisa memberikanmu kesempatan menjadi seorang ayah, Ed. Aku tidak layak, Ed.” Tangisnya kembali pecah.
Suara tangis yang mulai mereda, kembali tenang. Keheningan menyelimuti mereka. Pelukan hangat masih belum terlepas. Diusapnya dengan lembut punggung Ana yang masih terisak tanpa suara. Pelukan yang selalu mereka butuhkan, pelukan yang akan selalu menjadi pereda dari segala emosi.
Bertahanlah meski hanya lara kau rasa.
Berhenti sejenak, jangan kau lepas.
Mari bertahan dalam segala kondisi, ---Ana & Ed