“Ed, kau ingat persyaratan yang ku ajukan saat menerima lamaranmu?”
Sebuah pertanyaan dari Anastasya Aqila mampu membuat fokus Edzar Morris teralihkan. Kembali mengenang bagaimana delapan tahun lalu, wanita yang kini menjadi istrinya itu semakin bisa menambah perasaan yang sudah ia miliki.
Ya. Delapan tahun lalu, saat ia baru mulai mengemban tugasnya sebagai pewaris tunggal Morris Group dan yayasan Morgan Corp. Mengenal Ana sejak masa pendidikan bersama, kedekatan mengubah senti demi senti perasaan yang mereka miliki. Edzar menyadari ia mencintai Ana, dan begitu juga sebaliknya. Namun, diantara mereka tidak ada niat mengungkapkan rasa. Hingga saat kabar lamaran untuk Ana datang dari seorang kawan lama, Edzar menyadari ia tak mau kehilangan Ana, membayangkan Ana menikah dengan orang lain sudah membuat sesak.
Tepat setelah ia resmi menjadi wakil pimpinan di perusahaan keluarga, saat itu juga ia meyakinkan diri dan menguatkan niat untuk menjadikan Ana istrinya, mematenkan hak milik atas Anastasya Aqila.
“Ah. Hei! Lihat aku! Kenapa kau ini malah asik makan? Kan aku sudah katakan, aku akan membicarakan hal serius?” ketus Edzar saat melihat lawan bicaranya justru asik mengunyah redvelvetnya.
“ Heheh, maaf maaf. Kan kau tahu aku dan makananku satu. Aku tidak bisa berpaling darinya.” Jawab Ana dengan senyum manisnya.
Tak ada respon. Hening
Duh sepertinya dia merajuk.—Ana
“Sudahlah, Ed. Jangan marah. Aku minta maaf ya, maaf sudah mengabaikanmu.” Bujuk Ana mencoba meredakan emosi lelaki didepannya.
“Hmm”
“Baiklah aku sudah selesai dengan ini.” Ucap Ana sembari mendorong piring miliknya menjauh. “Apa yang ingin kau sampaikan, Ed?”
“Cih. Aku memang selalu kau nomor duakan” sinis Edzar.
“Kau ini dengan makanan pun hendak cemburu” tanpa rasa bersalah Ana justru menatap Edzar dengan tatapan dingin.
“Bagaimana jika lamar. . .”
“HEH! Kau ini bagaimana?! Kan sudah kubilang aku sedang tidak dalam kondisi mau menerima lamarannnya! Kau juga tahu, Ed. Dia pernah berseligkuh. Bagaimana mungkin aku menerimanya, bodoh?!?” Makinya penuh ketidaksukaan.
“Ana, kau memakiku?” Ujar Edzar santai, menanggapi amarah Ana.
“IYALAH! KAU INI BODOH!” maki Ana dengan suara yang sudah tidak pada tempatnya. “Ah, aku jadi kesal mengingat lamaran itu!” Lanjutnya dengan nada suara kembali normal, membuang muka malas.
“Dengarkan aku, An” Hening. “Aku sedang tidak membicarakan lamaran temanmu, bahkan aku baru tahu ternyata teman yang kau maksud adalah mantanmu.”
“Terus lamaran siapa yang kau bahas?” masih tetap enggan membahas perihal lamar melamar.
“Hei, dengarkan sini dulu.” Digenggamnya tangan Ana erat. Ibu jari Edzar membelai lembut punggung tangan halus dalam genggamannya.
Tidak ada jawaban. Ana memang sedang tak mau membahas lamaran. Apapun kasusnya, akhir-akhir ini ia sangat menghindari pokok pembahasan lamar melamar. Sibuk dengan pikirannya, karena bagaimanapun ia harus menghadapi ini. Fokus pada pikirannya yang melalangbuana entah kemana, Ana memikirkan penyelesaian masalah tanpa masalah. Bagaimana ia mengakhiri rencana lamaran itu, sehingga ia tak perlu merasa sugkan untuk menolak.
“Menikahlah denganku!”
Hening beberapa saat, Ana masih tetap dalam lamunanya.
Merasa diabaikan mitra tuturnya, Edzar mengeraskan suaranya ketus, “Menikahlah denganku, bodoh!”
Tersadar dari lamunan. “APA?!?” Pekik anak. Apa ini, kenapa pembicaraan ini jauh dari bayangannya. Tidak. Tidak. Dia tak pernah berpikir atau bahkan membayangkan akan ada lamaran mendadak ini, dan lagi dari orang yang memang ia harapkan secara diam-diam.
“Iya, menikahlah denganku.” Jeda hening beberapa detik. “Ana, aku pikir kita bisa hanya menjadi teman, tapi aku sadar tak ada yang bisa sekadarnya saja saat bersamamu. Aku selalu ingin melakukan lebih dari yang bisa aku lakukan dan aku berikan. Kau tahu? Aku pasti akan marah pada diriku sendiri, apabila aku terlambat dan kehilangan kamu nantinya.” Ia tatap gadis manis yang masih tertegun berusaha mencerna penjelasan baru saja.
“Hmmm.” Masih dalam usaha mencerna semua pembicaraan Edzar.
“Aku mencintaimu dengan berlebihan, aku mengagumi segala sifat dan sikapmu. Aku menyayangimu tanpa aku minta dan tidak bisa aku hentikan. Hanya dengan mendengar kau hendak dipinang orang, aku sudah merasa sesak, sesaat seperti ada jangkar berat tenggelam kedasar hati, berat dan tidak ada kerelaan. Aku ingin menghabiskan kuadriliun detik menua bersamamu. Menghabiskan ribuan matahari tenggelam dengan guarauan dari bibirmu.” Ungkap Edzar dengan kesungguhan dan penuh kelembutan.
Ana masih berusaha dengan keras mencerna frasa demi frasa, kalimat demi kalimat, dan mengeja sebuah rasa. Ana berusha mencari kebohongan dari mata Edzar. Tapi bukan ketidakjujuran, justru ia lihat dengan jelas keteduhan dan ketulusan terpancar dari sorot mata itu.
Bukan kali pertama memang, Ana selalu merasa dicintai oleh Edzar, tapi enggan merusak persahabatan dan kedekatan mereka, Ana tak pernah menuntut kepastian. Ia selalu merasa cukup dicintai dengan banyak.
Mencoba meyakinkan diri, “Hmm, apa kau yakin, Ed?” pertanyaan yang justru lebih mengarah pada upaya meyainkan diri sendiri.
“Iya.” Jawab Edzar tegas.
“Kau tahu? Aku menyusahkan”
“Iya”
“Aku merepotkan”
“Iya, aku tahu.”
“Ishh. Kau ini, kenapa kau yakin sekali sih.” Dipukulnya lembut punggung tangan yang sedang menggenggam tangannya itu. “Aku takut kau keberatan dengan segala sifatku nantinya, Ed.” Ujar Ana pelan.
“Aku lebih mengenal kamu dari siapapun bahkan dirimu sendiri, An. Kau memang merepotkan, menyusahkan, bahkan terkadang menyebalkan. Tapi lain sisi, kamu adalah wanita paling mandiri yang aku kenal. Denganmu aku merasa nyaman. Segala kedewasaanmu membuatku sedikit menggantunggkan harapan. Dan lagi, kan kau merepotkan dan menyusahkan hanya saat denganku, dengan yang lain tidak. An, sedikitpun tidak, tidak ada alasan untukku tidak menerima semua sikap manjamu yang manis itu.”
“Heheh, aku baru tahu kau mencintaiku dengan banyak.” Guraunya, hening untuk beberapa saat, hingga, “Baiklah, Ed.” Disertai anggukan pelan Ana
Hanya Ana, tak ada barang sedetikpun Edzar mengalihkan pandangannya dari melihat wajah cantik nan manis itu.
“Haa? Kau yakin?” Mencoba meyakinkan bahwa ia tidak salah dengar.
“Hm.. aku pikir tidak ada ruginya menikah denganmu. Kau tampan, cerdas, baik hati, dan lagi kau kaya. Aku pikir tak akan mengalami kerugian.” Diiringi gelak tawa Ana
Benar. Bagaimana bisa? Atau lebih tepatnya Ana tak memiliki alasan apapun untuk tidak meneriman seorang Edzar, si pria tampan dengan kecerdasan yang luar biasa. Hahah. Bonusnya adalah dia berasal dari keluarga kaya, sangat mapan secara finansial.
“Tapi, aku sedikit ada peraturan, apa kau mau menerima aku mengajukan itu sebagai syarat, Ed?” tanyanya ragu, ia menarik kembali tangan yang sedari tadi berada dalam genggam Edzar.
“Apa? Banyak juga tidak apa, Apa uang bulananmu ingin jadi mingguan atau mau kau jadikan harian?” Edzar antusias
“Heh, kau kira aku serius dengan kekayaanmu?! Aku tidak peduli pada uangmu, Ed. Itu hanya bonus. Hahah.” Ana terkikik pelan.
Edzar menarik sudut bibirnya keatas. Dia tahu Ana bukan wanita yang akan menuntut kekayaan, ia paham betul bagaimana kedewasaan Ana dalam mengelola keuangan.
Ana letakan kedua tangannya di atas meja, saling memilin satu sama lain
“Hanya ada dua poin, Ed. Pertama, aku bisa memaafkan segala kesalahanmu, apapun itu, tapi tidak dengan penghianatan. Disaat kutemui kau berselingkuh dan menghianatiku, detik itu juga tanpa aku meminta kau harus menceraikan aku. Ingat. Aku mau kau yang menggugat dan mengajukannya ke pengadilan. Dengan begitu artinya kau mengakui kesalahanmu, dan tak ada kesempatan kedua.” Ana menjelaskan dengan penuh keyakinan, yakin bahwa lelaki hebat didepannya ini tak akan melakukan kesalahan.
“Setuju tanpa menawar” jawab Edzar mantap.
“Kedua, aku tidak akan melarang kau mencintai orang lain. Mencintailah sebanyak yang kau mau. aku hanya ingin kau menjadikan aku rumah, tempat kau pulang. aku akan mengizinkan kau membagi hati, aku akan merelakan kau menikah lagi, Ed. Asal wanita itu baik dan memang layak kau beri cinta.”
“Sebentar. . . aku tidak setuju, An. Kau tahu, hanya kau satu-satunya wanita yang ku biarkan dan ku izinkan ada dikehidupanku."
"Ya, ya. Aku tahu, aku hanya tidak ingin terlalu mengikatmu dengan cinta buta, aku ingin mengikatmu dengan kebebasan, Ed. Maka terimalah syarat ini, aku ingin hidup bahagia tanpa beban, tanpa curiga kau akan menghianatiku, ya meski itu tidak mungkin. Tapi aku akan tetap menjaga cintamu tanpa penghianatan dengan kebebasan, Ed.”
“Baiklah, as you wish”
Menikahi Ana adalah dermaga terindah yang ingin ia tuju, dari dermaga itu akan ada tujuan baru mencari pelabuhan-pelabuhan kebahagiaan.
Bagaimana Edzar akan melupakan dua poin yang menjadi alasan rasa cintanya pada Ana semakin bertambah. Namun, kenapa istrinya tiba-tiba menanyakan itu. Setelah delapan tahun menikah kenapa Ana sekarang membicarakan itu.
“Ed, menikahlah lagi.” Kalimat yang berhasil membuat jantung Edzar berdegup kencang.
Degg. Kenapa ini? Apa aku telah melakukan kesalahan.—Edzar
“Aku rela. Bukankah aku mengizinkanmu membagi hati, Ed? Menikahlah, aku ingin kau berlayar ke pelabuhan lain sendiri. Jemput kebahagiaanmu, bawa dia ke dermaga kebahagiaan kita. Biar ada bahagia lain di tengah-tengah kita.”