Denisa tampak memasuki area kampus pada pukul delapan pagi. Ia berjalan bersama Vera yang ada di samping kirinya. Hari ini, Denisa ingin pergi ke perpustakaan untuk meminjam sebuah buku. Meskipun kesehatannya belum benar-benar pulih, Denisa enggan untuk berlibur di rumah. Ia merasa bosan jika harus tidur seharian di rumah, tanpa melakukan apa-apa. Padahal Vera sudah melarangnya untuk datang ke kampus.
Saat masuk ke dalam perpustakaan, Denisa langsung mendekati beberapa rak buku dan memilih buku yang ingin ia pinjam. Sementara di tempat lain, Bima tampak menyiapkan sesuatu sebelum menyatakan cintanya pada Denisa.
"Jo, ini bakalan berhasil gak ya? Aku kok takut jadinya," ucap Bima saat berada di taman bersama Jojo.
"Takut apa sih? Denisa kan bukan hantu. Ngapain takut?" tanya Jojo keheranan.
Bima mendecak sambil memasang raut wajah gelisah. "Ya takut dia nolak, Jo."
"Ya elah, Bim. Udah tenang aja. Ayas yakin, dia gak bakal nolak. Dia tuh suka sama kamu. Percaya sama Ayas."
Bima hanya bisa menghela napas panjang dengan segala kegelisahan di hatinya. Ia tahu, hari ini, Denisa datang ke kampus karena Vera telah mengabarinya. Bima semakin gelisah menunggu kehadiran Denisa. Hingga beberapa saat kemudian, muncullah Denisa yang berjalan ke arah taman sambil memegang tiga buah buku di tangan kanannya.
Bima yang melihat kehadiran Denisa pun langsung menepuk pundak Jojo berkali-kali, sampai akhirnya Jojo menoleh dengan raut wajah kesal. Seolah ingin memukul Bima yang telah mengganggu kegiatannya.
"Apaan sih?!" tanya Jojo kesal.
"Denisa, Jo."
Jojo mengikuti arah pandang Bima dan langsung meminta Bima untuk berdiri di dekat rangkaian bunga bertuliskan kata cinta. Sementara Jojo bersembunyi di tempat lain, meninggalkan Bima yang semakin gugup.
Saat Denisa hampir dekat ke lokasi Bima berdiri, Bima pun memanjatkan doa pada Tuhan untuk memudahkan rencananya hari ini. Dan Denisa terkejut melihat keberadaan Bima di taman tersebut. Wanita itu langsung mendekati Bima.
"Kak Bima, ngapain di sini sendirian?" tanya Denisa sambil melihat rangkaian bunga di samping kaki kanan Bima. "Terus, ini buat apa, Kak?"
"Ehm, buat ... buat itu...."
Bima tampak begitu gugup, sampai tidak sanggup untuk menyelesaikan kalimatnya. Hal itu membuat Jojo menepuk dahinya sendiri melihat kegugupan Bima. Sementara Denisa masih diam, menunggu Bima melanjutkan kalimatnya.
Untuk beberapa saat, Denisa mencoba mencari tahu sendiri mengapa ada rangkaian bunga seperti itu di dekat Bima. Karena sejak tadi, Bima masih diam saja, tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kak Bima lagi mau nyatain perasaan ke seseorang ya?" terka Denisa.
Bima langsung mengangguk. "I-ya."
"Oh, gitu. Siapa cewek yang beruntung itu, Kak? Aku jadi penasaran," ucap Denisa yang sedikit gelisah menunggu jawaban Bima.
Momen inilah yang digunakan Bima untuk menyatakan perasaannya. Bima meraih tangan kiri Denisa sambil menggenggamnya dengan erat. Tatapannya begitu teduh.
"Cewek yang beruntung itu ... kamu, Denisa."
Seketika Denisa tertegun, seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Denisa masih menganggap Bima sedang bercanda. "Kak Bima lagi bercanda, kan?" tanya Denisa.
"Enggak, Sa. Aku gak lagi bercanda. Aku serius sama ucapan aku tadi. Kamu mau gak terima cinta aku?"
Denisa mulai terlihat gugup. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pernyataan cinta Bima benar-benar mendadak dan Denisa belum menyiapkan mentalnya.
"Denisa?" Bima berusaha menyadarkan lamunan wanita yang dicintainya itu. "Kamu kok ngelamun."
"Oh, gak apa-apa, Kak. Aku cuma kaget aja sama ini semua," jawab Denisa sambil melepaskan genggaman tangan Bima. Ia berbalik membelakangi Bima dan berjalan ke arah kursi taman yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari tempat Bima berdiri. Kemudian, Denisa duduk di sana dan memberi isyarat agar Bima juga duduk di sampingnya.
Bima berjalan mendekati Denisa dan duduk tepat di samping kanan wanita itu. Hati Bima semakin cemas karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Denisa. Begitu juga yang dicemaskan oleh Jojo. Jojo takut, Denisa menolak Bima dan membuat Bima patah hati lagi.
"Ehm, kamu gak suka ya sama kejutan aku?" tanya Bima.
Denisa tersenyum. "Aku suka kok, Kak."
"Terus, kenapa gak direspon pas aku tanya mau terima cinta aku atau gak," protes Bima.
"Emangnya, Kak Bima yakin suka sama aku?" tanya Denisa.
Bima langsung mengangguk. "Aku yakin, Sa. Aku yakin banget. Dari awal kita ketemu, aku udah mulai suka sama kamu. Aku sayang sama kamu. Aku mau jagain kamu, Sa. Aku janji gak akan nyakitin kamu, apapun alasannya."
Denisa pun tersenyum, lalu menggenggam tangan Bima. Cukup lama ia menatap Bima, sampai akhirnya ia menganggukkan kepala. Pertanda bahwa Denisa membalas perasaan Bima.
"Aku juga sama. Aku sayang sama Kakak," ucap Denisa. "Sebenernya, udah lama aku punya perasaan ini buat Kak Bima."
Bima mengernyit heran. "Sejak kapan? Bukannya kita baru ketemu di kampus ini ya?"
"Kak Bima gak ingat apa-apa?" Denisa balik bertanya dengan raut wajah kecewa.
"Enggak, Sa," jawab Bima. "Emang kita udah pernah ketemu sebelumnya ya?"
Denisa menganggukkan kepala. "Waktu itu, Kakak nolongin aku di dekat kafe. Umurku masih tujuh belas tahun. Kak Bima juga antar aku pulang."
"Aku pernah nolongin kamu?"
"Iya, Kak," jawab Denisa. "Kakak ingat?"
Bima mencoba mengingat kembali kejadian di masa lalunya. Saat itu, Bima masih berusia 18 tahun dan baru saja keluar dari kafe sambil membawa buku. Saat hendak menyeberang, Bima tidak sengaja melihat Denisa berjalan sempoyongan dan sudah hampir mendekati jalan raya. Sementara dari arah belakang Denisa, terlihat sebuah mobil minibus hitam sedang melaju kencang. Karena takut terjadi sesuatu pada wanita itu, Bima bergegas mendekati Denisa dan menariknya hingga ke tepi jalan. Denisa langsung ambruk dalam pangkuan Bima.
Dengan pandangan yang sedikit kabur, Denisa bisa melihat wajah tampan Bima, meskipun terhalang oleh topi yang dipakai pria itu. Denisa mengucapkan terima kasih pada Bima dan setelah itu Bima memutuskan untuk mengantarkan Denisa pulang ke rumah Vera.
Bima pun tersentak saat pundaknya disentuh oleh Denisa. Ia langsung menoleh ke arah wanita itu. "Aku ingat semuanya, Sa. Pantes aja aku kayak gak asing sama kamu. Aku ngerasa udah pernah ketemu kamu sebelumnya, tapi aku beneran lupa. Maafin aku karena udah lupa sama kamu. Maaf ya."
"Iya, gak apa-apa, Kak," ucap Denisa.
"Jadi, beneran kamu suka sama aku dari pertama kali kita ketemu?" tanya Bima sekali lagi.
Denisa mengangguk. "Iya, Kak. Terus, soal lukisan wajah Kakak di buku gambar aku itu ... sebenernya udah lama aku buat. Supaya aku tetap ingat sama Kak Bima."
"Serius?"
"Iya, aku serius, Kak. Kak Bima gak percaya? Tapi Vera gak tahu soal itu. Cuma aku aja yang tahu," kata Denisa sambil tersipu malu.
Bima tersenyum, lalu mengacak gemas rambut Denisa. "Makasih ya karena kamu udah nungguin aku dari dulu. Maaf karena aku gak terlalu fokus sama kamu waktu itu. Soalnya aku lagi ada masalah keluarga."
"Iya, Kak. Aku bisa ngerti kok."
"Ehm, jadi, kita udah resmi pacaran, kan?" tanya Bima memastikan.
Denisa terkekeh. "Menurut Kakak, gimana?"
"Ya kalau menurut aku sih, udah," jawab Bima sambil terkekeh.
"Iya, kita udah resmi pacaran."
Bima langsung bersorak kegirangan, lalu meneriaki nama Jojo untuk segera keluar dari persembunyiannya. Bima dan Jojo saling berpelukan dan bersorak bersama hingga membuat Denisa tertawa melihat tingkah mereka.
Hari ini, kebahagiaan Denisa akan dimulai bersama Bima. Denisa berharap, tidak ada hambatan lain yang akan memisahkan mereka berdua, kecuali kehendak Sang Pencipta.