Bab 11

1279 Words
Di kediaman mendiang Bisma, Endry baru saja menampar pipi Chandra. Pria berusia 25 tahun itu tahu apa yang terjadi pada Bima dan Chandra dari seorang mata-mata yang selalu mengawasi Bima dari kejauhan. Mereka memang disewa oleh Endry untuk mengetahui segala aktivitas Bima, baik di kampus, di tempat kerja, maupun di kos-kosannya. Itu sebabnya, Endry bisa mengetahui lokasi tempat tinggal Bima saat ini. Endry benar-benar kecewa pada Chandra karena telah menghina Bima di depan orang lain. "Kamu tuh bisa gak sih berubah?! Mau sampai kapan sikap kamu kayak gini terus, hah?! Kakak capek kerja di rumah sakit, kamu malah bikin masalah di luar! Mau kamu apa, hah?! Bima itu lebih tua dari kamu! Dia juga gak pernah ganggu kehidupan kamu! Ngapain kamu ganggu dia?! Bikin malu aja!" "Ngapain orang kampungan kayak dia Kakak belain?! Dia bukan siapa-siapa kita, Kak! Bahkan dia bukan anak kandungnya Ayah! Dia cuma anak di luar nikah!" teriak Chandra geram. Seketika Endry terdiam. Ia terduduk di sofa dengan tubuh yang sangat lemas. Apa maksud Chandra? Endry sama sekali tidak mengerti. Ditatapnya Chandra yang masih menunjukkan kekesalannya. "Maksud kamu apa? Jangan buat Kakak makin pusing," ucap Endry. "Oh, jadi Kakak belum tahu ya." Chandra menyeringai sambil menatap Endry dengan sangat tajam. "Ibunya Bima udah hamil duluan sebelum nikah sama Ayah. Ayah dijebak sama dia karena Ayah kandungnya Bima kabur, alias gak mau tanggungjawab. Jadi, dia manfaatin Ayah biar si Bima kampungan itu punya status di keluarga kita. Mereka tuh jahat, Kak! Gara-gara mereka, Ayah sama Ibu kita cerai! Kakak masih mau belain si anak kampung itu, hah?!" Endry menyandarkan kepalanya sambil memijat pelipisnya. Hari ini, ia memang sudah sangat lelah karena harus menangani beberapa pasien yang akan dioperasi. Ditambah lagi masalah ini. Padahal Endry berharap, tidak ada masalah saat ia pulang ke rumah karena pikiran dan tubuhnya sudah sangat-sangat lelah. "Pokoknya, aku gak mau kalau Kakak bawa dia balik ke rumah ini. Aku gak mau tinggal satu rumah sama anak dari cewek yang udah bikin keluarga kita hancur, Kak. Aku gak mau!" Setelah berkata seperti itu, Chandra bergegas masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Endry hanya membiarkannya saja. Ia sudah terlalu lelah untuk menahan Chandra. Mungkin besok, ia akan kembali berbicara pada adik kandungnya itu. Endry memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Ia berniat ingin membersihkan diri, tetapi ponselnya berdering. Dengan rasa terpaksa, Endry menerima panggilan tersebut. "Halo, Endry." "Ya, halo. Maaf, ini siapa ya?" tanya Endry karena tidak mengenali nomor si penelepon. "Kamu lupa sama aku ya?" Endry mengernyitkan dahi. "Emang kita pernah kenal?" "Ck! Kamu kok gitu sih sama aku. Padahal kita udah dekat dari dulu loh. Masa lupa." Endry mencoba mengingat suara yang didengarnya. Padahal kepalanya sudah sangat pusing. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Endry harus bisa mengingat siapa wanita yang menghubunginya. "Kita temen satu sekolah? Atau kuliah?" tanya Endry, mencoba meminta clue. "Kita temenan dari SMP." Sekali lagi, Endry mencoba berpikir. Sampai akhirnya, ia pun teringat akan satu nama yang memang sejak dulu selalu menjadi teman baiknya. "Deandra, bukan?" tanya Endry ragu. "Iya!" Wanita bernama Deandra itu berseru kegirangan karena Endry mengingatnya. Seperti biasa, Endry akan tertawa ketika Deandra sudah mulai bersorak seperti itu. Ternyata, kebiasaan wanita itu tidak pernah berubah sejak dulu. "Kamu apa kabar?" tanya Endry sambil duduk di tepi kasur. "Aku baik. Kamu gimana? Udah nikah belum?" Endry terkekeh. "Aku baik dan belum nikah. Kamu sendiri udah nikah belum?" "Udah pernah nikah." "Maksudnya?" Helaan napas panjang terdengar dari Deandra. "Aku udah cerai setahun yang lalu, En." "Loh, kamu nikahnya kapan? Kok aku gak diundang sih? Parah kamu," protes Endry. "Ck! Ini nih, suka masuk ke grup tapi gak pernah dibuka. Padahal aku share undangan nikah aku di grup loh. Semuanya pada datang. Kamu doang yang gak datang." Endry terkejut mendengar jawaban Deandra. Ia tak mengetahui hal tersebut. Memang Endry akui, dirinya jarang sekali memegang ponsel atau hanya sekadar melihat pesan masuk saja ia malas. Mungkin karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. "Maaf deh kalau gitu. Dari kapan kamu nikah? Kok cepat cerainya?" tanya Endry penasaran. "Lima tahun yang lalu, En. Kayaknya kamu masih kuliah deh waktu itu. Aku cerai karena suami aku selingkuh sama cewek lain. Udah nikah sirih juga. Alasannya karena aku gak bisa kasih keturunan, makanya dia nekad nikah sirih sama cewek lain. Sekretaris aku di kantor." Endry sampai mengelus d**a sambil menggelengkan kepala. "Udah gak waras itu mantan suami kamu. Emang cocok ditinggalin. Terus, si pelakornya kamu pecat gak?" "Enggak dong. Cuma aku turuni aja jabatannya jadi bagian resepsionis doang." "Loh, kenapa?" tanya Endry. "Ya karena aku mau buktiin, istri sirihnya itu bisa hamil atau enggak. Karena menurut pemeriksaan dokter, yang bermasalah itu mantan suami aku. Kalau rahim aku tuh gak ada masalah apa-apa. Semua normal aja." Endry tertawa mendengar penuturan Deandra. Wanita itu memang selalu bisa mengembalikan mood Endry menjadi lebih baik dari sebelumnya. "Emang mantan suami kamu aja yang suka ganjen sama cewek lain. Makanya cari-cari alasan." "Iya juga sih. Kesel aku tuh." "Udah, gak usah dipikirin. Masih banyak cowok di luar sana yang ngantri. Kamu gak usah kecil hati. Nanti kan dia ngerasain karmanya," ucap Endry. "Kamu tuh cantik, terus mandiri lagi. Gak sama dia juga gak masalah. Kalau cuma jadi benalu, buat apa dipertahankan." "Bijak banget deh," puji Deandra. "Bener sih kata kamu. Aku juga gak ada ruginya cerai sama dia. Toh selama ini, dia yang numpang hidup sama aku." Endry kembali terkejut. "Jadi, dia aslinya gak punya kerjaan tetap?" "Dulunya dia tuh kerja di perusahaan tekstil. Terus dia resign karena mau nikah sama aku. Padahal dia jadi CEO loh di perusahaan aku. Eh, malah cari perkara. Ya sekarang dia udah dipecat. Otomatis jadi pengangguran. Masih untung istri sirihnya gak aku pecat." "Ya udah, biarin aja. Oh iya, btw kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Endry. "Kapan-kapan ketemuan yuk." "Aku lagi di Jakarta nih, En. Kebetulan mau ngurus kantor cabang yang baru di Malang. Kemungkinan besok deh aku berangkat ke Malang." "Pas banget dong. Entar kabari ya kalau udah sampai di Malang. Biar aku jemput," kata Endry penuh semangat. "Oke. See you!" "See you too!" Panggilan telepon berakhir dan Endry bergegas ke kamar mandi karena tubuhnya sudah sangat gerah. Sementara di tempat lain, Bima dan Jojo tampak menikmati waktu santai mereka di teras rumah sambil memakan mie instan cup yang mereka beli di warung terdekat. Di meja, sudah ada dua botol minuman dingin dan ada sepiring buah apel yang sudah dipotong-potong, sebagai makanan penutup. "Bim, kamu udah tanya kabarnya si Denisa belum?" tanya Jojo setelah menghabiskan mie instan miliknya. Bima mengangguk. "Tadi aku chating dia, tapi gak dibalas. Terus aku chating si Vera. Kata Vera, Denisa udah tidur. Tapi udah makan sama minum obat kok." "Alhamdulillah," ucap Jojo lega. "Bim, mending kamu ungkapin aja deh perasaan kamu ke dia. Jangan tunggu lama-lama. Entar si Chandra malah nerobos duluan karena kamunya kelamaan." Bima terdiam lalu meletakkan mie instannya di atas meja. Ia menatap Jojo. "Emangnya dia bakal nerima?" "Ck! Kamu tuh gak peka ya. Denisa tuh emang udah naksir sama kamu, Bim. Kalau gak naksir, ngapain dia sampai ngelukis kamu? Udah, jangan kebanyakan mikir. Mending kamu bilang aja sejujurnya," kata Jojo. "Ehm, tapi bantuin aku ya." Jojo mengangguk. "Tenang aja. Masalah beginian, Ayas ahlinya." "Dih! Ahli apanya? Feni aja gak nerima kamu, Jo," cibir Bima. "Ya elah, nih anak. Gak usah dibahas lagi soal dia. Emang dianya aja yang gak bener." Bima tertawa melihat ekspresi Jojo yang berubah menjadi kesal. "Iya deh. Aku percaya sama kamu, Jo. Bantuin ya." "Siap!" Jojo berseru penuh semangat. "Ya udah, kita masuk yuk. Udah makin dingin di luar. Lagian Ayas juga udah lumayan ngantuk." Bima hanya mengangguk lalu masuk ke dalam bersama Jojo. Malam ini, Bima harus menyiapkan mental untuk menyatakan perasaannya pada Denisa. Bima berharap, Denisa tidak menolaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD