Denisa meringis sambil memegangi kepalanya. Kedua matanya perlahan mulai terbuka. Ia mencoba menormalkan kembali pandangannya yang sedikit kabur sembari memperhatikan area ruangan di sekitarnya. Denisa menoleh ke arah kiri, Bima sedang tertidur di kursi, tepat di sampingnya. Ia berusaha mengingat hal apa yang sudah terjadi padanya. Tapi kepalanya terasa sakit saat memikirkan hal itu.
Wanita itu mencoba untuk duduk. Secara perlahan ia pun akhirnya bisa terduduk dengan sempurna. Kemudian, Denisa menatap Bima kembali yang tampak begitu lelah. Denisa menyentuh pundak Bima dan mengguncangnya sedikit, hingga akhirnya Bima pun terbangun.
"Oh, kamu udah sadar. Maaf, aku ketiduran," ucap Bima sambil mengusap wajahnya.
"Iya gak apa-apa. Harusnya aku yang minta maaf karena udah ngerepotin Kakak."
Bima tersenyum. "Ya aku gak mungkin biarin kamu pingsan gitu aja dong. Aku aja panik banget tadi. Soalnya darah yang keluar dari hidung kamu banyak. Aku takut aja."
"Terus, dokter yang periksa aku bilang apa sama Kak Bima?" tanya Denisa. Ekspresinya tampak takut.
"Dokter bilang, kamu cuma capek aja. Harus banyak istirahat. Jangan kebanyakan mikir," jawab Bima.
Denisa menghela napas lega. Setidaknya, Bima tidak tahu apa yang baru saja terjadi padanya. "Kita udah bisa pulang, kan? Aku gak mau rawat inap, Kak."
"Oh, udah kok. Yuk, kita pulang," ajak Bima. "Administrasinya udah aku selesaikan semua. Kamu gak perlu cemas."
"Sekali lagi makasih ya, Kak."
"Iya."
Bima membantu Denisa untuk turun dari tempat tidur. Kemudian mereka berdua keluar dari puskesmas setelah menebus resep dokter di sana. Bima memutuskan untuk mengantarkan Denisa pulang ke rumah Vera. Ia tidak tega membiarkan Denisa pulang sendirian.
Saat Denisa baru tiba di rumah bersama Bima, Vera yang sejak tadi gelisah mencari keberadaan sepupunya pun langsung menghampiri Denisa. Wajah cemasnya terlihat dengan jelas. Karena tidak biasanya Denisa pergi tanpa memberi kabar pada Vera.
"Kamu tuh kemana?" tanya Vera saat Denisa sudah duduk di sofa.
"Tadi dia pingsan, Ver. Jadi aku bawa dia ke puskesmas. Soalnya hidung dia mimisan," sahut Bima. "Maaf ya, lupa ngabarin kamu."
Vera menghela napas lega. "Makasih ya udah bantuin Denisa, Kak Bima."
"Iya sama-sama."
"Terus, apa kata dokternya?" tanya Vera.
"Katanya cuma capek aja. Disuruh banyak istirahat." Bima mengeluarkan bungkusan plastik berisi obat yang ditebusnya tadi kepada Vera. "Ini obatnya. Minumnya abis makan ya."
Vera menerima bungkusan plastik tersebut dengan raut wajah bingung. "Yakin cuma capek aja, Kak? Soalnya kan si Denisa...."
Denisa langsung menggenggam tangan Vera dengan kuat sambil menatap sepupunya itu secara intens. Seolah ia meminta Vera untuk diam dan jangan mengatakan apapun pada Bima. Bima yang merasa terganggu dengan kalimat menggantung dari Vera pun mulai sedikit kesal.
"Kenapa sih? Kalau ngomong tuh jangan setengah-setengah. Langsung aja," ucap Bima dengan nada kesal.
Vera menatap Bima. "Maaf, Kak. Aku cuma takut aja dia sakit yang parah."
"Enggak kok. Dokter bilang, dia gak boleh stres, terus gak boleh tidur larut malam. Banyakin makan sayuran. Itu aja sih," ujar Bima.
"Oh, gitu. Makasih banyak ya, Kak. Maaf kalau Denisa ngerepotin. Aku bakal jaga dia kok, Kak."
Bima mengangguk. "Ya udah, aku pulang dulu ya. Besok, jangan masuk kelas dulu kalau belum sehat ya, Denisa."
"Iya, Kak," ucap Denisa.
"Assalamualaikum," pamit Bima.
"Wa'alaikumsalam."
Vera dan Denisa menjawab dengan kompak. Bima pun keluar dari rumah Vera dan bergegas menghentikan angkutan umum yang mengarah ke kos-kosannya. Sementara di rumah, Vera tampak mengomeli Denisa.
"Kamu tuh susah banget dibilangin. Obatnya diminum sebelum pergi ke kampus. Untung aja dokternya gak ngasih tahu Kak Bima," ucap Vera.
"Ya karena dokternya emang gak tahu. Makanya dia cuma bilang capek doang, Ver."
Vera mendecak. "Gak tahu apanya? Jelas-jelas dokternya ngasih resep yang sesuai sama obat-obatan kamu."
Denisa yang tidak percaya pun langsung mengambil obat yang ada di tangan Vera. Apa yang dikatakan sepupunya itu memang benar. Resep yang Bima tebus tadi sesuai dengan obat yang ada di rumah Vera. Untung saja Bima tidak mengerti dengan obat-obatan jenis itu.
"Alhamdulillah ya Allah." Denisa mengelus dadanya sambil mengucapkan syukur pada Sang Pencipta. "Aku gak nyangka, ternyata dokternya pintar nutupin semuanya. Padahal tadi aku belum sadar. Pas sadar, aku malah ketakutan, Ver."
"Iya, Sa. Aku juga deg-degan tadi waktu Kak Bima bilang kamu mimisan. Alhamdulillah. Allah masih nutupin semuanya, Sa."
Denisa mengangguk setuju sambil tersenyum bahagia. "Ya udah, aku mau ke kamar dulu ya. Mau istirahat."
"Iya. Nanti aku panggil kalau udah waktunya makan ya. Aku mau masakin kamu sup. Biar kamu tetap sehat," kata Vera.
"Oke."
Denisa beranjak ke kamar, sementara Vera pergi ke dapur untuk membuatkan sup ayam. Vera mengambil beberapa sayuran segar, ayam potong dan lain sebagainya dari dalam kulkas. Selanjutnya, ia akan memotong, mencuci dan memasak bahan-bahan yang sudah disediakan tadi. Tak lupa juga ia membuatkan jus sehat untuk Denisa. Vera memang sepupu yang baik.
***
Bima sampai di kos dan melihat Jojo sudah duduk di kursi teras. Di atas meja, tersedia secangkir teh hangat beserta camilan ringan berbahan dasar kentang. Bima pun menghampiri Jojo, lalu duduk di kursi yang satunya. Ia menghela napas panjang sambil bersandar.
"Kamu darimana, Bim?" Jojo mulai bersuara. "Dari tadi si Vera nyariin Denisa loh. Kamu gak sama Denisa tadi?"
Bima menatap Jojo. "Iya, aku sama Denisa. Tadi kami di taman. Tapi pas dia mau ke kelas, eh hidung dia mimisan terus pingsan."
Jojo terkejut dan hampir saja menjatuhkan cangkir tehnya ke lantai. Ia langsung duduk menyamping untuk bisa menatap Bima. Jojo sangat ingin mendengarkan kelanjutan cerita buruk itu.
"Kok bisa? Emang si Denisa punya penyakit?" tanya Jojo.
"Hush! Gak boleh ngomong gitu. Dia tuh cuma capek, Jo. Makanya dia mimisan."
Akhirnya, Jojo bisa bernapas lega. "Alhamdulillah. Terus, udah kamu antar pulang dianya?"
"Udah. Tadi aku juga udah minta maaf sama Vera, karena lupa ngabarin dia. Untung aja dia gak marah," kata Bima.
"Ck! Padahal tadi dia udah marah-marah loh, Bim. Katanya mau penjarain kamu. Ayas juga dimarahi sama dia. Padahal Ayas gak tahu kamu dimana."
Bima terkekeh mendengar nada kesal Jojo. Ia juga menyesal tidak memberitahukan Vera sampai Jojo yang dijadikan sasaran kemarahan Vera.
"Ya udah, maaf deh. Kamu dimarahi gara-gara aku, kan? Maaf ya," ucap Bima.
"Udah gak usah minta maaf. Yang penting si Denisa baik-baik aja. Biar kamu gak dituntut sama tuh nenek lampir," kata Jojo sambil memberikan julukan yang tepat untuk Vera. "Eh btw, si Chandra kok bisa datang ke kampus kita ya? Ayas kaget banget tadi."
Bima menghela napas berat. Mendengar nama Chandra, Bima merasa dadanya menjadi sangat sesak. Apalagi saat mengingat ungkapan-ungkapan merendahkan yang terucap dari mulut Chandra. Ia tidak habis pikir dengan perangai pria itu.
"Tadi pas di kafe, aku sempat dengar si Chandra marah karena Denisa nolak cintanya. Ternyata dulu mereka temen satu SMA," ujar Bima.
"Satu SMA?"
Bima mengangguk. "Dia itu mikirnya si Denisa naksir dia. Padahal Denisa cuma kagum doang karena dia populer dulunya. Tapi cowok gak waras itu malah kepedean. Kamu kan juga tahu gimana tingkat kepedean dia."
"Ya Allah. Tuh anak gak berubah ya. Masih aja kayak dulu. Heran Ayas. Emaknya dulu ngidam apaan sih? Masa sampai punya anak modelan kayak gitu," gerutu Jojo.
"Aku gak mau tahu soal itu, Jo. Yang bikin aku kesel, dia tuh hampir aja mau nampar si Denisa. Perkara ditolak cintanya. Waras gak tuh menurut kamu, Jo?"
"Wah, gak waras emang udah. Cocoknya kita kirim ke planet merkurius, biar gosong dia di sana. Kebakar matahari."
Bima terkekeh. "Ada-ada aja kamu. Ngirim dia ke planet lain biayanya mahal. Mending dimasukin aja ke kandang buaya. Biar main bareng dia sama si buaya."
"Iya juga ya. Cocok itu."
Suara kumandang adzan ashar pun terdengar. Bima bergegas masuk untuk membersihkan diri, kemudian melaksanakan sholat ashar. Jojo juga ikut masuk dan langsung melaksanakan sholat di dalam kamarnya sendiri.