Chandra baru saja duduk di sebuah kafe terdekat sambil menyodorkan secangkir cappucino untuk Denisa, sementara dirinya menyesap kopi hitam biasa. Chandra menatap Denisa yang tidak pernah berubah sedikitpun. Tetap cantik, mempesona dan rapi. Rambut panjangnya selalu terurai, disandingkan dengan bando berbentuk pita di kepalanya. Gaya berpakaian Denisa juga selalu sederhana namun tetap menawan. Seketika, Chandra tersenyum saat mengingat kenangan manisnya dulu bersama Denisa.
"Kamu ngajak aku ke sini mau bahas soal apa?" tanya Denisa tanpa basa-basi. Bahkan ia belum menyesap cappucino di depannya. "Satu jam lagi aku ada kelas lain. Kalau ada yang penting, bicarain sekarang. Kalau gak ada, aku balik ke kampus."
Chandra tersadar dari lamunannya. "Eh, jangan balik dulu dong."
"Ya udah, buruan ngomong."
Chandra kembali tersenyum, lalu menggenggam tangan Denisa yang berada di atas meja. "Kamu masih ingat kenangan kita dulu, kan? Waktu SMA."
"Kenangan yang mana?" tanya Denisa.
"Ck! Masa kamu lupa sih. Dulu tuh, kamu kan suka sama aku. Tapi gak mau ngaku. Nah, sekarang masih berlaku gak? Aku mau kita resmi jadian."
Denisa terkejut mendengar pernyataan Chandra. Ia langsung menarik tangannya dari genggaman pria itu. Denisa menatap Chandra cukup intens. Menurutnya, rasa suka itu hanya masa-lalu. Dimana Denisa hanya sekedar mengagumi Chandra yang selalu menjadi pusat perhatian siswi di sekolahnya dulu. Tidak ada keinginan untuk menjadi bagian dari hidupnya. Bahkan, Denisa sendiri tidak pernah mengungkapkan kekagumannya pada Chandra. Lalu, siapa yang memberitahunya? Pikir Denisa.
Chandra melambaikan tangannya di depan wajah Denisa. Ia sadar bahwa wanita itu sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu kok diam?" tanya Chandra setelah Denisa tersadar dari lamunannya.
"Kamu tahu darimana soal itu? Aku kan gak pernah cerita ke siapapun," ujar Denisa.
Chandra justru terkekeh. "Gampang banget kok. Semua temen SMA kita kan udah tahu kalau kamu suka sama aku. Mereka yang cerita semuanya. Makanya aku nekad nyariin kamu."
"Chan, aku emang pernah kagum sama kamu. Tapi cuma sebatas kagum aja, karena kamu siswa terfavorit di sekolah," ujar Denisa.
"Berarti bener dong kalau kamu suka sama aku. Aku gak salah nyariin kamu."
Denisa menghela napas. "Kagum bukan berarti suka dalam artian cinta, Chan. Aku cuma kagum doang. Kagum karena kamu populer, baik dan pintar."
"Jadi maksudnya, kamu nolak aku?!"
Suara Chandra terdengar mulai meninggi, tidak lembut seperti sebelumnya. Bahkan Denisa sampai terkejut sambil mengelus d**a.
"Ngomongnya bisa santai aja gak? Aku gak suka," protes Denisa.
"Gak bisalah!" Suara Chandra justru semakin terdengar menantang. "Kamu tuh gak hargain perasaan aku ya. Udah capek-capek nyariin kamu, sekalinya ketemu, malah dikecewain kayak gini. Nyesel aku."
Denisa justru mendecih. Ucapan Chandra sedikit aneh baginya. Ia pun menimpali ucapan Chandra, "Itu bukan urusan aku. Lagian aku juga gak minta kamu buat nyariin aku, kan? Kamunya aja yang kepedean. Ini salah satu sifat yang aku gak suka dari kamu. Gak pernah berubah dan emang gak pernah mau berubah. Kamu juga masih sombong."
"Oh, aku paham sekarang." Chandra mengangguk-angguk sambil menyeringai. "Ini pasti karena si Bima yang kampungan itu, kan? Kamu suka sama dia? Aduh. Rendah banget selera kamu ya. Masa mau sama yang kampungan gitu."
"Udah deh, Chan. Aku malas debat sama kamu, karena kamu emang gak pernah mau ngalah," ujar Denisa.
"Kamu yang buat aku kayak gini!"
Denisa yang sudah mulai geram pun akhirnya berdiri sambil menggebrak meja. Hingga beberapa orang yang ada di sana menatap ke arah Denisa. Tapi Denisa seakan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Ia sudah sangat kesal dengan pria yang tidak punya akhlak itu.
"Aku tuh nolak kamu bukan karena siapapun. Bukan juga karena Kak Bima. Tapi kamu emang udah keterlaluan. Suka banget hina orang yang levelnya di bawah kamu. Padahal di mata Allah, kita semua sama. Aku benci sama kamu, Chan," ucap Denisa sarkas.
Chandra pun turut berdiri. "Kamu jadi ikutan kampungan ya semenjak gabung sama si Bima. Padahal kamu tuh anak orang kaya. Tapi kampungan banget."
Denisa sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Ia pun menampar pipi kiri Chandra hingga berbekas. Denisa benar-benar sudah kehabisan kata-kata untuk menanggapi ucapan kurang ajar Chandra.
Tidak terima dengan tamparan Denisa, Chandra ingin membalasnya. Tapi sayang, tangannya sudah ditahan oleh seseorang yang tidak lain adalah Bima. Denisa bahkan terkejut melihat kehadiran Bima di kafe tersebut.
"Jangan pernah sentuh dia sedikitpun. Berani kamu sakiti dia, urusan kita bakal lebih panjang dari ini. Mending kamu pergi terus ngadu ke Nenek kamu itu," ucap Bima sambil melepaskan tangan Chandra dengan kasar.
Tanpa menunggu lama, Bima langsung membawa Denisa untuk pergi dari tempat itu. Meninggalkan Chandra dengan segala kemarahannya. Bima mengajak Denisa untuk kembali ke kampus, karena sebenarnya ia ingin mengetahui ada hubungan apa Denisa dengan Chandra. Bima tidak menduga Denisa bisa mengenal Chandra.
Saat ini, mereka sudah duduk di kursi taman. Untuk beberapa saat, keduanya masih tetap terdiam. Tapi kemudian, Bima mulai membuka pembicaraan.
"Ehm, kalau boleh tahu, kamu ada hubungan apa sama Chandra? Apa ada hubungan spesial?" tanya Bima. "Soalnya Vera bilang tadi, kamu sama Chandra dulunya satu sekolah. Itu bener?"
Denisa mengangguk. "Iya, Kak. Kami memang satu sekolah, tapi gak ada hubungan spesial. Jadi dulu tuh aku dekat sama dia karena kagum aja. Soalnya dia cowok populer di sekolah. Pintar juga. Makanya aku temenan sama dia."
"Terus, kenapa dia sampai mau nampar kamu tadi? Apa kamu udah nolak cintanya?"
"Dia memang ngomong suka sama aku, Kak. Ngajakin jadian. Tapi akunya gak mau. Dia kepedean. Dikiranya aku suka sama dia, padahal enggak sama sekali," jawab Denisa jujur.
Bima mengernyit heran. "Kenapa ditolak? Dia kan cakep. Terus pintar, kayak yang kamu bilang tadi."
"Aku gak suka sama sikapnya, Kak. Dia suka banget hina orang. Ngerasa dirinya itu paling kaya sedunia. Yang lain kecil di mata dia. Aku paling gak suka itu. Makanya aku nolak dia. Mau secakep apapun dia kalau kelakuannya buruk, cewek lain pun pada mikir buat nerima dia, Kak. Kecuali yang matre," ujar Denisa.
"Jadi, tipe cowok idaman kamu kayak siapa dong?" tanya Bima penasaran.
Denisa tersenyum sambil menatap ke arah Bima. Lalu, jari telunjuknya mengarah ke wajah Bima. "Kayak Kak Bima."
"Eh?" Bima terkejut dan langsung terdiam membisu. Ia tak bisa berkata apapun selain hanya menatap Denisa. Bima masih tidak percaya, wanita secantik Denisa menjadikannya sebagai tipe pria idaman.
"Kenapa, Kak? Kakak gak suka ya kalau aku jadiin Kakak sebagai tipe idaman aku?" tanya Denisa.
"Eh, enggak gitu kok," ucap Bima. "Aku suka kok. Cuma gak nyangka aja bisa jadi tipe cowok idaman kamu."
Denisa terkekeh. "Abisnya Kak Bima tuh gemesin. Baik juga. Senyumnya manis, gak dibuat-buat. Tampil apa adanya, gak sok keren kayak cowok-cowok lain. Aku emang suka cowok yang sederhana aja. Gak banyak tingkah juga."
"Ck! Pujian kamu terlalu lebay. Aku tuh gak pernah ngerasa kayak gitu," ujar Bima.
"Ih, yang nilai kan aku, Kak. Masa Kakak gak percaya sama penilaian aku sih."
Bima tertawa lalu mengacak rambut Denisa karena gemas. "Iya deh, aku percaya."
"Nah, gitu dong."
Seketika, pandangan Bima tertuju pada aliran darah yang keluar dari hidung Denisa. Wajah wanita itu juga sedikit pucat. Bima langsung berkata, "Denisa, kamu mimisan."
Denisa yang menyadari segera menghapus darah tersebut dengan tangannya. Bima berinisiatif mengambil saputangan di saku celana dan memberikannya pada Denisa.
"Pakai ini aja," ucap Bima.
"Makasih, Kak."
Denisa menerima saputangan tersebut dan membersihkan noda darah di hidungnya sampai bersih. Bima pun memegang dahi Denisa yang terasa panas menurutnya.
"Kamu lagi gak sehat ya?" tanya Bima. "Kalau ngerasa gak sehat, aku antar pulang aja ya. Muka kamu juga pucat itu."
Denisa menggeleng. "Enggak kok, Kak. Aku cuma capek aja. Aku masuk kelas dulu ya, Kak. Udah telat soalnya.
Bima hanya bisa mengangguk dan tidak bisa memaksa Denisa untuk pulang. Bima terus menatap Denisa yang berusaha berdiri sambil memegangi kepalanya. Dan saat Denisa baru berjalan beberapa langkah, tubuhnya mulai terhuyung, hingga akhirnya jatuh dalam pelukan Bima. Denisa sudah tidak sadarkan diri, sehingga Bima memutuskan untuk membawa Denisa ke puskesmas terdekat.