Prolog
“Na … kayaknya kita memang harus cerai.”
Gerakan jariku seketika terhenti. Pucuk kuku yang baru saja membuat garis lengkung pada d**a bidang tanpa sehelai pakaian, terpaksa harus berhenti di tengah jalan.
Aku mendongak.
“A-apa, Mas? Ulangi sekali lagi!”
Mata yang semalam masih membara dalam hangat, kini sudah menajam dalam dingin. “Aku ingin kita cerai. Kurang jelas?”
Aku langsung bangun, buru-buru memakai kimono satin yang teronggok mengenaskan di nakas samping tempat tidur. Aku menghela napas pelan, mencoba menekan emosi.
“Mas ngajak cerai dalam kondisi kita baru saja …” aku tak kuasa melanjutkan kalimatku. “Mas bahkan belum pakai celana!”
Mas Dewa bangun. Dia masih dengan tatapan seriusnya. “Anggap saja, yang barusan adalah sentuhan perpisahan dariku—”
PLAK!
Satu tamparan kuat mengenai pipi Mas Dewa. Aku benar-benar tak bisa menahannya.
“Mas harusnya bisa menahan diri buat enggak mengatakan kata laknat itu sampai kita mandi. Atau nanti setelah sarapan. Kenapa harus sekarang?”
Mas Dewa tak menjawab. Dia bangun dan memakai celana serta kaosnya. Dia juga berjalan ke arah laci dekat meja rias.
Dia mengambil sebuah kartu ATM warna biru.
“Meski bukan hitam, isinya cukup untuk menghidupmu selama setahun. PIN-nya ulang tahunmu. Kejar mimpimu, Na. Menikahlah dengan laki-laki yang bisa memberimu keturunan, yang benar-benar darah dagingmu sendiri.”
Tangisku seketika pecah. Aku menangis terisak-isak karena lagi-lagi Mas Dewa membahas yang satu itu.
“Dokter bilang Mas enggak mandul! Mas hanya sedikit lebih sulit, dan aku baik-baik aja dengan itu.”
“Tapi udah berapa tahun, Na? Hasilnya nihil! Itu hanya kalimat penenang dari dokter!”
“Baru tiga tahun lebih, dan Mas udah nyerah? Bahkan jika peluangnya hanya 1%, selagi enggak benar-benar 0, aku enggak papa. Aku bisa menunggu keajaiban itu datang. Bilang sama aku, Mas. Ini cuma alasan aja, kan? Mas ada masalah lain yang aku enggak tahu?”
Mas Dewa diam. Artinya memang ada.
“Bisnis hotel makin kacau? Atau Mas terlilit utang?”
Mas Dewa menggeleng. Dia kini malah berdiri di pinggir jendela.
“Aku juga udah setuju misal kita adopsi anak,” ujarku lagi. “Aku enggak mau ceraiii!” aku berteriak histeris.
Mas Dewa kini mendekat. Dia jongkok di depanku. Dia juga meraih kedua tanganku.
“Kamu masih muda, kamu cantik, dan kamu juga berbakat. Kamu bisa jalanin hidupmu dengan baik tanpaku. Kamu juga pernah bilang, kamu ingin punya anak dari rahimmu sendiri karena di dunia ini kamu benar-benar sendirian. Kamu sehat, kamu bisa dapetin apa yang kamu mau dari laki-laki lain.”
“Aku c-cuma mau punya a-anak dari Mas Dewa aja, atau enggak sama sekali.” Air mataku terus berlinang.
“Terakhir aku ke rumah sakit, presentasenya makin kecil. Nyaris enggak ada harapan, Na.”
Akhirnya, aku mengangguk.
“Baiklah! Ayah dan Ibu kandungku enggak menginginkanku. Sekarang suamiku juga enggak menginginkanku. Kenapa dunia sebegitunya enggak adil padaku? Aku ada salah apa sebenarnya?”
“Aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaan lain. Tapi bukan sama aku. Aku hanya jadi penghambat mimpimu. Kamu berhak mendapat yang terbaik, Na.”
“Mas tahu enggak, kalimat Mas itu bikin aku muak banget?”
“Aku emang memuakkan, makanya aku ingin kamu pergi.”
“Oke, kalau itu yang Mas Dewa mau.”
Aku bangkit, lalu mengusap air mataku sampai kering. Setelah itu, aku segera menarik koper di atas lemari.
“Na, ya jangan pergi sekarang juga. Ini bahkan masih jam empat pagi.”
“Aku enggak mau satu atap lagi sama suami yang udah mengungkit kata cerai lebih dari tujuh kali.”
“Kamu menghitungnya?”
Aku tak menyahut. Aku memilih untuk ke kamar mandi dan mandi cepat-cepat.
Ya, Mas Dewa memang sudah menyebut kata laknat itu lebih dari tujuh kali. Memang belum jatuh talak. Dia hanya sebatas mengungkit, dan itu sudah membuatku muak.
Setelah beres mandi, aku mengemasi semua barang pentingku di kamar ini. Mas Dewa diam, menyimak. Dia sama sekali tak menahanku.
“Na, kamu mau ke mana sepagi ini—”
“Sekalipun Bapak dan Ibuku yang sekarang hanyalah orang tua angkat, tapi mereka enggak pernah satu kali pun nyuruh aku pergi. Enggak seperti pengecut yang udah pernah janji akan jagain aku seumur hidupnya, tapi akhirnya ingkar juga.”
Setelah beres berkemas, aku menghampiri Mas Dewa lagi. Kuturunkan semua gengsiku untuk bertanya satu hal.
“Mas … sebenarnya saat ini aku marah dan kecewa banget. Tapi aku tetap ingin tanya satu hal.”
“Apa?”
“Mas yakin ingin kita cerai?”
Mas Dewa tak langsung menjawab. Namun, dia terus menatapku lekat.
“Mas?”
“Iya, aku ingin kita cerai.”
“Oke. Mas yang urus semuanya. Kalau udah turun putusannya, langsung kirim suratnya ke rumah orang tuaku di Klaten.” Aku mengambil kartu warna biru yang tadi Mas Dewa berikan. “Karena aku enggak mau rugi, ini kuambil. Makasih!”
Aku berjalan ke arah pintu, lalu berhenti di sana. Mas Dewa masih bergeming di tempatnya.
“Mas, sekaliii lagi aja aku tanya. Ini bener-bener terakhir kali aku nanya hal ini. Mas sungguh-sungguh ingin kita cerai?”
“Iya.”
Aku tersenyum, lalu mengangguk paham “Oke, kita cerai. Tapi ingat, jangan pernah bermimpi ada kesempatan kedua!”
***
Jateng, 4 Februari 2026