1. Bertemu Kembali

1177 Words
Empat tahun kemudian …  “Fafa … doain Mama, ya! Hari ini Mama mau kerja tambahan. Uangnya lumayan. Nanti kalau udah deal, Mama beliin Fafa mainan baru.” Fafa langsung mengangguk berkali-kali. Senyumnya juga seketika merekah lebar. “Oke, Ma. Semoga, Mama berhasiiil!” “Aamiiin.” Aku ikut tersenyum lebar, lalu kuusap kepala Fafa berulang kali. “Fafa beneran enggak mau ketemu teman-teman hari ini?” Fafa menggeleng pelan. “Enggak mau, Ma. Mau di rumah aja.” “Kenapa, kalau boleh Mama tahu?” Fafa kembali menggeleng “Enggak mau aja pokoknya.” “Ya udah. Fafa baik-baik sama Bi Endah di rumah. Kalau mau keluar, boleh. Tapi enggak boleh jauh-jauh dari Bi Endah.” “Siap, Mama!” “Cium Mama dulu, buruan!” “Oke.” Fafa mencium kedua pipiku bergantian. Setelah cukup, gantian aku yang mencium kedua pipinya. Fafa pun langsung lari dan naik ke atas sofa dekat jendela. Spot itu adalah spot favoritnya. Aku tersenyum pada Bi Endah, dan dia langsung mendekat padaku. Bi Endah adalah orang yang tadinya asing, tetapi kini sudah seperti saudara kandung untukku. “Bi, hari ini aku kayaknya bakal pulang telat. Tolong temenin Fafa, ya? Dia enggak mau ke daycare katanya. Asal enggak bahaya, turutin aja. Nanti aku transfer uang ke rekening yang biasanya.” “Yang kemarin masih, kok, Mbak Na. Fafa enggak banyak jajan, enggak banyak pula beli mainan. Malah yang kemarin masih banyak.” “Terus kalau keluar, kalian ngapain?” “Ya jajan, ya main, tapi maksudnya Fafa enggak banyak mau. Katanya, kasihan Mama cari uang terus.” Mendengar itu, mataku langsung memanas. “Padahal aku kerja mati-matian juga buat dia, lho, Bi. Jangan terlalu irit. Tolong kasih paham ke Fafa pelan-pelan. Bilang kalau aku punya banyak uang. Nanti aku juga akan bilang gitu ke dia.” Bi Endah tersenyum, lalu megangguk. “Iya, Mbak Na. Nanti aku akan kasih paham Fafa pelan-pelan.” “Makasih, ya, Bi.” “Jangan makasih terus, Mbak Na. Itu udah tugasku. Eh, ini Mbak Yuna mau ada kerja tambahan apa? Bukannya jadi dosen udah sibuk, ya?” “Ada proyek, Bi. Masih dari jurusan, kok. Jadi enggak ganggu ngajarku.” “Lho, di kampus masih ada proyek gitu, Mbak? Enggak fokus ngajar aja?” “Karena aku dosen baru, jam kerjaku belum banyak. Aku juga masih dalam uji coba selama satu semester. Lalu, kebetulan kemarin kepala jurusan nawarin aku ikut proyek dari luar kampus. Resmi, kok, enggak illegal. Dia tertarik sama aku karena lihat disertasiku cocok sama proyek yang mau dibahas itu. Uangnya lumayan. Aku harus berusaha keras biar deal.” “Oh, gitu. Aku doain lancar, Mbak Na. Pokoknya Fafa aman sama aku.” “Aamin, Bi. Aku berangkat dulu, ya!” “Iya, Mbak. Hati-hati!” “Ingat, Bi. Fafa jangan terlalu irit. Dia lagi masa pertumbuhan. Harus makan yang banyak, tapi tolong jangan makan sembarangan.” “Iya, Mbak. Paham.” Setelah melambaikan tangan pada Fafa dan anak itu membalas dengan antusias, akhirnya aku segera keluar. Aku buru-buru naik mobil yang sebelumnya sudah kusiapkan di halaman. Entah kenapa, aku merasa sejak bangun tidur tadi jantungku terus berdebar kencang. Padahal ini bukan pertama kalinya aku dapat proyek yang lumayan besar. “Tenang, Na, Tenang! Bismillah, semoga hari ini berjalan dengan lancar.” *** “Awal mula ada proyek ini, itu karena di hotel klien kita sempat ada penyebaran virus bawaan dari sebuah negara. Bikin satu hotel harus dikarantina selama tiga hari. Pihak hotel kena protes keras, rating turun, dan mereka juga harus mengganti biaya kerugian yang enggak sedikit. Makanya, si owner ini pengen naikin level. Nah, dia dapat rekomendasi buat kerja sama dengan kita,” ujar Pak Hadi, rekan dosen yang sudah sangat senior. Jika proyek ini jadi, beliau akan menjadi ketua tim dan aku anggotanya. Memang dua orang saja cukup. Pak Hadi sebagai penganggung jawab dan aku sebagai ahli teknisnya. Ya, sekalipun aku dosen baru, sejak ambil S3 di Malaysia, aku sudah biasa terjun di lapangan. Sedangkan kalau semua langsung kuambil sendiri, tentu tidak mungkin karena aku adalah junior. Kasarannya, aku harus tahu sopan santun. “Kenapa pihak hotelnya enggak ke dinas kesehatan, ya, Pak?” “Jawaban yang paling benar, hanya pihak hotel yang tahu. Tapi kalau dari yang tertera di proposal, mereka ingin pendampingan dari ahlinya. Dan dosen Kesmas dinilai menjadi pilihan paling aman, efektif, dan strategis. Karena nanti fokusnya pada pencegahan berbasis sistem, opersional nyata, dan mitigasi risiko reputasi. Kalau dengan dinas kesehatan malah saya nilai kurang pas, Bu. Mungkin nanti mereka dilibatkan, tapi bisa jadi di akhir.” Aku mengangguk paham. “Oke, Pak. Saya terharu, ini, sudah dipilih.” “Pihak jurusan dan fakultas itu objektif, Bu Yuna. Setelah menilai dari banyak dosen, Bu Yuna paling pas untuk ikut proyek ini. Selain jam ngajar belum banyak, tema disertasinya juga cocok. Poin plusnya lagi, pengalaman lapangan juga sudah lumayan. Pihak hotel butuh yang kerja nyata. Bukan cuma banyak teori aja.” “Ah … begitu.” Aku tersenyum. “Baik, Pak.” “Bu Yuna mau baca lagi proposalnya atau enggak?” “Enggak usah, Pak. Sudah saya baca intinya, kok.” “Hotel yang kerja sama dengan kita ini paling laris di antara hotel-hotel yang lokasinya dekat bandara, lho.” “Apa namanya, Pak?” “Lah, Bu Yuna belum lihat nama hotelnya?” “Saya kemarin langsung baca intinya saja, Pak. Pihak hotelnya belum saya baca. Saya percaya fakultas enggak mungkin kerja sama dengan hotel problematik. Apalagi ketua jurusan kita, kan, perfeksionis orangnya.” Pak Hadi tersenyum. “Benar. Kami selektif milih proyek di luar kampus. Udah disetujui dekan juga.” “Baik, Pak. Padahal, alasan sebenarnya adalah karena aku sudah kerepotan mengurus Fafa dan membuat bahan ajar untuk mahasiswa. Proposal yang dikirim padaku langsung k****a intinya saja— pihak sana maunya apa dan uang kontrak berapa. Selebihnya, aku tidak terlalu peduli. Pokoknya, semua sudah kupercayakan pada Ketua Jurusan dan Pak Hadi selaku penanggung jawab. Toh nanti aku akan langsung terjun ke lapangan. Soal yang lain-lain, Pak Hadi yang akan mengurus. “Pihak hotel sudah datang, Mbak.” Pak Hadi menyenggolku. “O-oh, iya. Siapa yang datang?” “Owner-nya langsung sama sekretarisnya.” “Oke.” Berselang lima detik, ada dua laki-laki yang masuk ruangan. Aku merapikan bajuku, lalu berdiri. Begitu melihat siapa yang kini berdiri tepat di depanku, mataku langsung melebar selebar-lebarnya. Jantungku seketika seolah terjung payung, melesat sampai inti bumi. Berikutnya, Pak Hadi memperkenalkanku dengan semangat. “Karena di pertemuan sebelumnya saya sudah kenalan, maka saya langsung perkenalkan rekan saya. Perkenalkan, Pak Dewa. Dia Bu Kamayuna. Bisa dipanggil Bu Ayuna, atau Bu Yuna saja. Dosen baru jurusan kami, tetapi sudah biasa terjun lapangan selama menempuh S3 di Kuala Lumpur. Dia yang akan menjadi ahli teknisnya.” Pak Hadi mejeda sejenak. Kini beliau menatapku. “Dan Bu Yuna, dia Pak Sadewa. Owner Havenwood. Dia yang akan nge-handle sendiri kerja sama dengan kita kali ini.” Tangan kekar yang dulu sering mengangkatku dengan begitu entengnya, kini sedang mengulur mengajak berjabat tangan. “Selamat datang kembali, Bu … Kamayuna Naranjani!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD