Ruang Bersama Centia

2735 Words
Aku masih berbaring di ranjang, tubuhku terasa berat setelah semuanya. Centia duduk tenang di sebelahku, sementara Jo bangkit dan berjalan ke kulkas kecil di kamar apartemen. Ia mengambil dua botol air mineral- satu untuk dirinya, dan satu lagi sepertinya untuk diberikan kepada kami agar bisa meminumnya bergantian. Saat kembali, Jo menyerahkan botol itu kepada Centia lebih dulu. "Kalian harus tetap berbagi," katanya pelan. "Kalian kan sama-sama pelayanku, jadi hal kecil kayak gini pun harus dilakukan bareng." Centia membuka tutup botol itu dan meminumnya terlebih dulu, baru setelah itu menyerahkannya kepadaku. Aku bangkit duduk supaya lebih nyaman saat minum. Setelah meneguknya, aku mengangguk. "Terima kasih ya Cent," ucapku pelan. Centia tersenyum kecil. "Minum lagi kalau kamu masih haus, Ra. Kamu kelihatan capek banget." "Aku nggak apa-apa kok," jawabku. "Cuma butuh napas sebentar." Jo mendekat sedikit, tatapannya tertuju padaku. "Kamu luar biasa," bisiknya. "Di antara semuanya, kamu yang paling cepat mengerti arti penyerahan." Pipiku terasa panas, meski tubuhku sudah terlalu lelah untuk bereaksi lebih jauh. Centia menatapku sambil tersenyum lembut, seolah ingin meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja. "Dia memang benar," ujarnya lembut. "Nggak banyak orang yang bisa nerima semuanya secepat kamu... bahkan tanpa nanya apa-apa." Aku hanya bisa menunduk malu mendengar hal itu. Jo kembali menatapku, kali ini lebih serius. "Ini baru awal," katanya pelan. "Kami bakal ngajarin kamu banyak hal... tentang batasmu, rasa takutmu, dan gimana cara ngubah semuanya itu jadi sesuatu yang bisa kamu nikmati." Napasku sempat tertahan-bukan karena takut, tapi karena jantungku berdebar. Aku menggenggam ujung selimut di bawah tubuhku dan berbisik: "Ya... Tuan." Dalam diam, aku hanya bisa bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Jo menatap kami berdua sebentar sebelum berkata tenang, "Sekarang, kalian berdua mandi dan bersihkan diri dulu," ujarnya singkat. Aku dan Centia saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk. "Ya... Tuan," jawab kami hampir bersamaan. Aku sempat terkejut dan merasa sedikit malu mendengarnya-malu karena suaraku terdengar terlalu patuh, terlalu cepat menanggapi, dan karena aku sadar betapa naturalnya aku mengikuti instruksi Jo tanpa ragu. Untuk sesaat, aku juga merasa seperti sudah menyatu dengan Centia sebagai sesama pelayan Jo, bergerak dan merespons dengan cara dan waktu yang yang sama tanpa sadar. Sebelum kami beranjak, Jo memanggil Centia dengan nada lembut. "Centia," panggilnya pelan. Centia menoleh dan berjalan mendekat. Ia sedikit membungkuk saat Jo membisikkan sesuatu ke telinganya. Aku tidak bisa mendengar apa pun; aku hanya melihatnya mengangguk pelan dengan wajah serius. Beberapa detik kemudian, Centia membuka lemari kecil di dekat tempat tidur dan mengambil sebuah kantong hitam kecil. Ia menggenggamnya erat tanpa berkata apa-apa, lalu berjalan bersamaku menuju kamar mandi. Aku tidak tahu apa isinya, tapi rasa penasaranku langsung muncul dan membuat jantungku berdetak cepat. Kami berjalan perlahan tanpa banyak bicara. Suasana tetap sunyi; hanya langkah kaki kami yang terdengar menyentuh lantai. Sesampainya di depan kamar mandi, aku sempat menoleh ke arah Jo. Ia masih duduk di tepi ranjang, menatap kami dengan pandangan lembut namun penuh makna-seolah ingin memastikan kami tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang perlu kami lakukan nanti. Aku dan Centia akhirnya masuk ke kamar mandi. Saat pintu tertutup, pandanganku langsung tertuju pada kantong di tangannya. Aku ingin bertanya, tapi sebelum aku sempat berbicara, Centia sudah meletakkan benda itu di atas wastafel yang ada di dekatnya. Ia menatapku sebentar, lalu tersenyum tipis saat melihat rasa penasaranku, kemudian kembali bersikap tenang, seolah tak ada yang aneh. Centia membuka kantong hitam itu perlahan. Di dalamnya ada dua kalung kulit tipis, masing-masing dengan gantungan logam kecil berbentuk inisial JO. Setiap kalung memiliki dua lonceng perak kecil yang tergantung di sisi kanan dan kiri. Saat kalung itu bergerak, terdengar bunyi lembut-halus, nyaris seperti bisikan. Ia mengangkat salah satunya dan menatapku dalam-dalam. "Ini bukan sekadar aksesori," katanya pelan. "Kalung ini seperti lambang pengabdian. Kalau kita lagi sama Jo, kalung ini jadi tanda kalau kita ada di bawah perintahnya. Kalung ini cuma dipakai pas kita lagi bareng Jo-buat nunjukin hubungan itu." Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum lembut. "Dan kamu ingat gelang kulit hitam yang dia pasang di pergelangan tanganmu tadi kan?" Saat itu aku sudah menyadarinya, benda kecil itu bukan hanya perhiasan-tapi pengingat bahwa kami telah memilih untuk jadi bagian dari hidup Jo sepenuhnya. Bukan karena paksaan, tapi karena keinginan sendiri. "Gelang ini sama sekali nggak boleh dilepas," kata Centia pelan. "Itu pengingat... kalau kita udah milih buat jadi miliknya. Kapan pun, di mana pun." Ia menatapku sebentar dan tersenyum kecil. "Kalau kalung cuma dipakai waktu bareng Jo, gelang ini beda. Ini kayak janji yang harus tetap kita bawa ke mana pun. Biar kita ingat, pilihan itu bukan cuma waktu dia ada, tapi juga waktu kita jauh dari dia." Aku memandangi kalung yang ada di tangannya-terlihat sederhana, tapi tampak memiliki arti penting. Gantungan logam kecil itu berkilau di bawah cahaya lampu, dan dua lonceng di sisinya bergerak pelan setiap kali kalungnya terangkat. Suara kecil dari lonceng itu membuatku merasa aneh-campuran antara tenang, sedikit gugup, dan seolah sedang memikul tanggung jawab baru. Centia mendekat dan mengalungkan kalung itu di leherku. Sentuhan ujung jarinya terasa dingin di kulitku. "Sibakkan rambutmu," bisiknya. Aku menuruti ucapannya, menyibakkan rambutku ke samping dengan tangan yang sedikit gemetar saat ia mengunci kait di belakang leherku. Suara lonceng kecil itu terdengar sekali-halus, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat jantungku berdebar. Setelah itu, ia mengenakan kalung miliknya sendiri di depan cermin. Gerakannya tenang dan yakin, seolah benda itu sudah lama jadi bagian dari dirinya. Ia berbalik dan tersenyum samar. "Sekarang, kita berdua benar-benar punya Jo. Ayo, kita jalanin semuanya bareng-bareng." Hari itu terasa seperti awal yang baru-hubungan yang tidak bisa dipisahkan oleh waktu atau pun keraguan. Aku tahu masih banyak hal yang akan datang, tapi aku siap menghadapinya bersama Centia. Kalung di leherku terasa dingin dan sedikit berat, nyata dengan makna yang sulit dijelaskan. Lonceng kecil di ujungnya bergetar pelan saat aku menunduk, suaranya lembut, seperti pengingat antara aku dan Jo. Kamar mandi masih sepi, air belum mengalir. Tapi aku tahu ada sesuatu yang sudah berubah-bukan karena paksaan, tapi karena pilihanku sendiri. Aku menyentuh kalung itu sekali lagi sebelum melangkah ke arah pancuran bersama Centia. Ia membuka keran perlahan. Suara logam terdengar pelan sebelum air mulai mengalir deras dan hangat. Uap tipis perlahan memenuhi ruangan, membuat cermin berembun. Kami berdiri di dekat pancuran, membiarkan percikan air hangat mengenai kulit kami. Suasananya tenang, meski tetap membuatku agak sedikit gugup. Kami mengikat rambut masing-masing tanpa banyak bicara. Centia tetap terlihat tenang, bahkan dalam keadaan seperti ini. Ia sempat menoleh dan tersenyum padaku, seolah ingin menenangkan. Aku tahu apa yang akan kami lakukan setelah ini, tetapi jantungku tetap berdebar. Di bawah pancuran, kami saling berhadapan. Tubuh kami sudah lebih tenang, dan air yang mengalir terasa menyegarkan. Aku masih sulit percaya dengan apa yang terjadi sebelumnya. Walau diam, ada bagian dalam diriku yang ingin tahu lebih banyak. Aku melirik Centia, mencoba menebak pikirannya. Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya yang sulit ditebak. Ia menarik napas dalam dan berkata pelan, "Sekarang, aku mau ngajarin kamu beberapa hal." Aku mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti maksudnya. Hujan terus turun, membuat suasana semakin dekat dan tegang. Aku menunggu tanpa tahu apa yang akan terjadi. Centia melangkah lebih dekat hingga jarak kami tinggal beberapa sentimeter. Ia menatapku dalam sebelum mengulurkan tangan kanannya. Aku terdiam saat merasakan telapak tangannya yang hangat di kepalaku. Tatapannya terkunci pada mataku. Ia mulai mengacak rambutku perlahan, dan aku merasakan ujung jarinya menyentuh kulit kepalaku sampai ke tengkuk. Sentuhan itu membuat tubuhku kaku, tetapi tetap terasa nyaman. Aku menelan ludah, berusaha terlihat tenang. Centia tersenyum kecil, seolah tahu usahaku sia-sia. Dia memang selalu tahu saat aku gugup. Tangannya kemudian turun perlahan ke leherku dan berhenti pada kalung kulit tipis yang baru saja ia pasangkan. Jemarinya menyentuh gantungan logam kecil bertuliskan JO, lalu menggoyangnya sedikit. Suara lonceng kecil berbunyi-ting-bercampur dengan suara air di sekitar kami. "Kamu merinding," bisiknya, menatap mataku tajam. "Bukan karena dingin, tapi karena kamu udah mulai ngerasain. Itu bagus." Ia mendekat lagi, napasnya hampir menyentuh bibirku-hangat dan membuatku gugup. "Dengerin baik-baik," ucapnya pelan. "Jo nggak cuma mau kita nurut. Dia juga mau kita nikmatin semuanya-setiap sentuhan, setiap perintah, bahkan rasa takutmu. Semua itu bagian dari prosesnya." Jarinya menyentuh pelipisku dengan lembut. "Dan mulai sekarang... kamu boleh belajar dariku." Aku mengangguk, tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Ada rasa kosong di dadaku, tapi juga sesuatu yang membuat jantungku berdebar cepat. Aku menunggu Centia melanjutkan-antara penasaran dan takut. Centia tersenyum, seolah tahu apa yang sedang kurasakan. Ia menghentikan gerakan jemarinya di kepalaku, lalu menurunkan tangannya ke bahu kiriku. Tatapannya tetap padaku beberapa saat sebelum ia berkata pelan, "Kalau ada hal yang mau kamu tahu atau masih bingung soal semuanya, tanya aja ke aku. Aku bakal jawab semuanya, dan kamu nggak akan dimarahin cuma gara-gara nanya." Air hangat masih mengalir di bahu Centia. Suaranya terdengar lembut, seperti bisikan yang menenangkan. "Kalau kita ngelanggar aturan, bakal gimana?" bisikku akhirnya, suaraku hampir tenggelam oleh suara air. Centia tidak langsung menjawab. Ia menatapku lama-tenang dan dalam, seolah tahu lebih banyak dari yang bisa diucapkan. Lalu ia mengangkat tangannya, menyentuh kalung di leherku dengan ujung jarinya. "Kita nggak disuruh jadi sempurna," katanya pelan. "Tapi tiap kesalahan ada konsekuensinya sendiri." Ia tersenyum tipis-bukan seperti mengancam, tapi penuh pengertian. "Jo nggak bakal marah cuma karena kamu salah. Dia cuma mau kamu belajar dari situ," lanjutnya. Kemudian ia mendekat lagi. "Tapi selama kamu jujur dan nurut, dia bakal terus ngebimbing kamu." Aku menunduk sebentar, merasakan berat dari kata-katanya. "Aku harus takut sama dia, nggak?" tanyaku pelan. Centia tertawa kecil, lembut sekali. "Nggak harus." Ia mengangkat tangannya dan memegang daguku agar aku kembali menatapnya. "Tapi rasa takut kadang muncul sendiri... waktu kamu sadar seberapa besar dia nguasain kamu." Aku berusaha fokus mendengarkan kata-katanya, tapi rasa penasaran masih menguasai pikiranku. Aku menelan ludah sebelum akhirnya bertanya, "Nanti Jo bakal ngelakuin apa aja ke aku?" Aku menatap Centia. Napasku terasa berat karena udara lembap di kamar mandi dan detak jantung yang tak tenang. Air mengalir di pundaknya, membasahi kulitnya yang tampak halus di bawah pancuran. "Pertanyaan bagus," bisiknya. "Tapi Jo nggak pernah ngasih tahu bakal ngelakuin apa... soalnya kejutan itu bagian dari pelajaran darinya." Ia menggeser telunjuknya perlahan dari kalungku ke tulang selangkaku, sentuhannya ringan dan hati-hati. "Mungkin nanti dia bakal nyuruh kamu berlutut... atau merangkak tiap kali dia manggil," ucapnya pelan. "Atau bisa juga... dia malah nyuruh kamu milih sendiri hukumanmu. Tapi justru itu yang paling susah." Aku menahan napas. Centia tiba-tiba memelukku-hangat dan menenangkan. Ia berbisik di telingaku, "Santai aja... aku bakal nemenin kamu di setiap langkah." Sebelum aku sempat menjawab, lonceng kecil di kalung kami bergoyang bersamaan saat air semakin panas. Aku menggigil-bukan karena dingin, tapi karena setiap kata dari Centia terasa semakin menekan perasaanku. Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantung yang masih cepat. "Jadi... aku nggak akan pernah tahu?" tanyaku pelan. Centia perlahan melepaskan pelukannya dan menatapku lembut. "Nggak akan," jawabnya tenang. "Dan justru itu yang bikin semuanya jadi lebih menarik." Ia tersenyum tipis. Matanya terlihat hangat meski basah oleh air. "Kamu udah mulai ngerasain, kan? Rasa rindu buat diarahkan, dituntun, sama dimiliki." Aku diam, karena dia benar. Centia mengambil sabun dan mulai mengusap lenganku. "Sekarang," bisiknya lembut, "sebelum kita keluar, kamu harus benar-benar bersih buat Jo." Aku mengangguk pelan. Sentuhannya lembut, sedikit menenangkan meski aku masih gugup dan bingung. Pandanganku jatuh ke kalung di leherku-pengingat bahwa aku milik Jo. Setiap bagian dari diriku terasa seperti sudah menjadi bagiannya: ketakutanku, kebimbanganku, bahkan napasku. Centia terus mengusap sabun ke kulitku-dari lengan, d**a, perut, sampai paha. Ia terkekeh kecil ketika aku mengerang pelan saat ia menyentuh vaginaku. Rasanya semakin intim, tapi juga membuatku semakin tunduk. Aku tahu ini baru awal, dan aku sudah terlanjur terlalu jauh untuk mundur. "Aku... udah nggak bisa balik lagi, ya?" bisikku, suaraku hampir pecah. Ia berhenti dan tetap menatapku. Matanya dalam dan tenang, seolah sudah tahu apa pun yang akan terjadi dan menerimanya. Tatapan itu membuatku merasa dilihat sepenuhnya-bukan hanya tubuhku, tapi juga semua ketakutanku. Seakan ia mau bilang bahwa apa pun yang kupikirkan, ia sudah lebih dulu memahaminya. "Nggak usah mikirin balik, Ra," ucapnya lembut sambil menyentuh pipiku. "Kamu sekarang di sini sama aku. Kamu aman, kamu dijaga, dan kamu nggak sendirian lagi. Di belakang sana, nggak ada yang nunggu kamu. Nggak ada yang peduli. Di sini, kamu punya tempat." Aku menelan ludah perlahan. "Aku cuma... takut ini hal yang salah," jawabku pelan. "Tapi kalau kamu bilang aku aman... aku bakal percaya." Centia tersenyum kecil, tangannya berhenti sebentar di pahaku. Matanya naik perlahan menatapku-dalam, seolah memeluk melalui pandangan itu. "Rasa takut itu wajar... itu tanda kamu mulai benar-benar ngerasain semuanya," bisiknya. "Kamu nggak salah. Kamu cuma baru mulai sadar sama hal-hal yang dulu disembunyiin." Air mengalir di antara kami, membawa busa sabun turun pelan ke selokan. Ia berdiri lagi, mendekat sampai d**a kami hampir bersentuhan. Suaranya teredam gemericik air, tapi tetap jelas di telingaku. "Jo nggak butuh yang sempurna. Dia cuma butuh yang tulus-yang mau menyerah tanpa pura-pura kuat." Ia menyentuh kalungku lagi, mengangkat sedikit rantainya hingga lonceng itu berdenting lembut. "Kamu udah punya ini... artinya kamu udah milih dia lebih dari dirimu sendiri." Aku menunduk; rasanya sesuatu pecah pelan di dalam dadaku. Centia mengangkat daguku dengan dua jari. "Jadi, nikmati aja prosesnya... karena ternyata, kamu lebih kuat dari yang kamu kira." Aku menarik napas saat Centia berlutut dan mulai menyabuni lututku perlahan. Ia tidak perlu menyuruhku membuka kakiku jadi lebih lebar; gerakannya saja sudah cukup membuatku melakukannya. Aku sadar dia memperhatikan reaksiku, tapi aku sudah tidak berusaha menyembunyikannya lagi. Centia berdiri, lalu mengusap dadaku dan naik ke leher. Ia memutarku agar menghadap ke dinding dan berdiri di belakangku. Sabunnya berpindah ke punggungku, turun perlahan ke pinggul. Sentuhannya lembut tapi terasa sangat dekat. Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, jarinya menyelip pelan di sela bokongku. Aku menahan napas, tubuhku menegang, lututku terasa lemas. "Tenang," bisiknya di telingaku. Napasnya hangat di kulitku. "Kamu harus belajar menerima... tanpa perlawanan." Aku mengangguk pelan, mencoba rileks dan membiarkan tubuhku mengikuti setiap gerakannya. Centia terus membersihkan tubuhku sampai benar-benar bersih. Gerakannya terukur, seolah setiap sentuhan punya arti. "Kamu udah ngelakuinnya dengan baik," katanya lembut sambil tersenyum tipis. "Jo pasti senang." Centia kemudian mengambil sabun lagi dan menatapku sambil mengangkat alis. "Sekarang gantian," katanya pelan. Aku sempat terdiam, tidak yakin harus mulai dari mana. Centia menatapku sabar, hanya menunggu. "Anggap aja kamu lagi belajar," lanjutnya lembut. "Nggak cuma nerima, tapi juga ngasih." Aku mengangguk, lalu mengambil sabun dari tangannya. Dengan hati-hati, aku mulai mengusap tubuhnya. Kulitnya licin dan hangat di bawah sentuhanku. Centia memejamkan mata, tampak rileks. "Pelan aja," katanya tenang. "Nikmati setiap gerakanmu." Aku mengikuti ucapannya. Tanganku bergerak ke bahunya, lalu turun perlahan ke punggung dan pinggang. Aku berusaha meniru gerakannya tadi-lembut, terukur, dan penuh perhatian. Saat sabun meluncur di kulitnya, aku mulai mengerti apa yang sebenarnya ia ajarkan: memperlakukan seseorang dengan hati-hati, memahami batas, dan belajar percaya. Setelah selesai, Centia tersenyum dan menatapku. "Bagus," katanya pelan. "Sekarang kamu udah tahu rasanya." Aku tersenyum lemah. Tidak ada yang bisa kukatakan. Aku tahu Jo baru saja memulai pelajaran pertamanya, dan rasanya jauh lebih kuat dari yang kubayangkan. Aku tidak tahu apa yang akan mereka ajarkan selanjutnya, tapi aku tahu aku ingin melanjutkannya. Aku juga ingin tahu bagaimana Jo memandangku. Aku ingin ia melihatku seperti dia melihat Centia-dengan kendali, pengertian, dan perhatian yang tulus. Setelah itu kami sama-sama berdiri dalam diam sejenak. Air masih mengalir, membilas sisa sabun dari kulit. Suasananya tenang, tidak sesulit atau setegang awalnya. Ada perasaan ringan-seperti aku dan Centia baru melewati sesuatu bersama. Tanpa perlu banyak bicara, kami mulai bergerak keluar dari area shower, mengambil handuk kecil untuk mengeringkan tangan dan wajah. Semuanya terasa natural, seolah tubuh kami sudah tahu apa yang harus dilakukan tanpa harus saling mengarahkan. Kami lalu berdiri di depan wastafel, menyikat gigi dalam diam. Hanya terdengar suara air dan gerakan kecil. Setelah itu, kami mengeringkan tubuh dengan handuk bersih sebelum memakai body lotion. Sentuhan lotion yang dingin dan aromanya yang lembut membuat tubuh terasa rileks dan hangat. Aromanya membuat ruangan terasa lebih bersih dan nyaman. Setelahnya, aku mengambil handuk bersih yang sudah terlipat di dekat wastafel dan melilitkannya di tubuhku. Semuanya terasa berbeda. Aku tidak hanya menerima, tetapi mulai belajar memberi. Aku tahu nanti aku mungkin tidak sepenuhnya bisa mengontrol tubuh atau pikiranku, tetapi aku sudah menerimanya dan mulai mengerti maknanya. Masih banyak yang harus kupelajari tentang kepercayaan, batas, dan persetujuan. Selama bersama Jo, aku tahu posisiku jelas. Setelah kami selesai, Centia tersenyum kecil padaku. Ia mengambil handuknya sendiri, dan kini kami sama-sama terbalut kain putih. Ia mengulurkan tangan dan menarikku keluar dari kamar mandi. Sebagai bagian dari Jo, aku tahu setiap langkahku harus seirama dengan Centia. Aku mengikutinya tanpa ragu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD