Ya, Tuan...

2992 Words
Aku menarik napas panjang, bukan karena takut, tapi karena merasa sedang melakukan sesuatu yang sudah seharusnya aku lakukan. Aku menoleh dan melihat Centia di belakangku. Wajahnya tenang, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. Jo menarikku lebih dekat hingga kami sejajar dengan Centia. Kami berdiri sangat dekat, tapi aku tidak ingin menjauh. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan. Dia tidak langsung bergerak. Tangannya menyentuh kulit dadaku, turun ke perut, lalu berhenti di pangkuan. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tapi tubuhku bereaksi tanpa bisa aku kendalikan. Aku mencoba bernapas normal, tapi tetap terengah saat tangannya bergerak lebih rendah, seperti ingin menguji seberapa lama aku bisa menahan diri. Tangannya berhenti di pinggang, jemarinya menggenggam erat, lalu perlahan menyusuri sisi tubuhku—seolah menulis sesuatu di kulitku. “Kamu sepenuhnya punyaku,” bisiknya. Suaranya pelan, tapi terdengar jelas di ruangan itu. Aku hanya bisa mengangguk kecil, lidahku terasa kaku. Jo mendekat lagi, bibirnya hampir menyentuh telingaku. “Mulai sekarang, kalau kamu merasa takut atau bingung,” bisiknya lembut, “lihat gelang itu.” Aku menatap gelang di pergelangan tanganku—simbol dari keputusan yang baru saja aku ambil. “Ya, Tuan.” Ia tersenyum. Aku tahu itu bukan permintaan, tapi perintah. Ia tahu aku tidak akan menolak atau melawan. Aku miliknya, dan aku tahu apa artinya. Jo menarikku lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara kami. Napasnya yang hangat menyentuh kulitku sebelum ia menempelkan bibirnya pada bibirku—dalam dan yakin, seolah ia benar-benar menginginkannya. Lalu ciumannya berkembang, dari lembut menjadi lebih mendesak, membuatku hampir kehilangan kendali. Lidahnya perlahan menyentuh bibirku, menunggu respons. Saat aku membalasnya, Jo memperdalam momen itu, lidahnya mengikuti ritme dengan milikku—penuh hasrat, tetapi tetap terjaga dan tidak pernah melewati batas yang tidak kuinginkan. Tangannya di pinggangku terasa hangat, menegaskan intensitasnya sekaligus menunjukkan kehati-hatiannya, seakan memastikan aku bisa berhenti kapan saja. Ia menciumku cukup lama, hampir semenit penuh, seakan sedang menikmati sesuatu yang ia anggap miliknya. Baru setelah itu, Jo perlahan melepaskan ciumannya, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ketika ia akhirnya menjauh, napas kami sama-sama terengah, dan tatapannya memerlihatkan perpaduan keinginan, rasa hormat, dan ketulusan yang sulit untuk kuabaikan. Aku masih terdiam. Dalam keheningan itu, Jo berbisik pelan di antara jarak napas kami. “Aku mau kasih kamu tes pertama,” katanya dengan nada serius. “Ayo kita lihat seberapa jauh batasmu.” Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ada rasa takut bercampur penasaran, seperti menyadari bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang baru—dan mungkin tidak mudah. Aku menatap Jo dan menjawab dengan suara pelan, “Ya, Tuan. Aku siap.” Jo mengangguk dengan penuh percaya diri, seolah tahu aku sudah sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Aku menahan napas, menunggu apa yang akan ia katakan. Aku tahu apa pun itu mungkin tidak mudah, tetapi aku ingin memahami maksud Jo dan bagaimana ia ingin menguji batasku. Aku tidak berniat menentangnya, karena aku sudah membuka diri secara emosional padanya. Rasanya seperti hubungan kami baru saja memasuki tahap baru, dan aku tidak ingin mundur. Yang bisa kulakukan hanyalah berharap bahwa apa pun yang akan terjadi nanti, aku siap untuk menghadapinya. Matanya menatapku tajam namun tenang, seakan sedang menilai apakah aku benar-benar siap menerima apa pun yang akan ia katakan. Setelah beberapa detik hening, ia mulai berbicara dengan suara rendah dan terkontrol, memberi instruksi yang membuat suasana di antara kami terasa semakin tegang dan serius. “Perintah pertama: berbaring.” Aku menuruti perintahnya dan berbaring di ranjang. Jo berdiri dan berjalan perlahan mengelilingi tempat tidur seperti sedang mengamati mangsanya. Tatapannya menyusuri tubuhku dari kepala sampai kaki. “Jangan tutup mata,” bisiknya. “Kamu harus lihat semuanya.” Aku mengangguk, jantungku berdetak cepat. Jo membuka laci di samping ranjang dan mengambil sesuatu. Dari posisiku, aku hanya bisa melihat kilau hitam di tangannya—seutas pita sutra. “Perintah kedua: angkat tanganmu.” Aku langsung mengangkat tangan tanpa berpikir. “Ya, Tuan.” Jo memegang lenganku dan mengikatnya dengan pita di bagian atas ranjang. Ia melakukan hal yang sama pada tangan satunya sampai kedua pergelanganku terikat kuat. Aku menarik napas saat simpulnya mengencang. “Gimana perasaanmu? Aman, kan?” tanyanya lembut. “Aku baik-baik aja, Tuan,” jawabku pelan, meski suaraku sedikit bergetar. Jo mengangguk, tampak puas dengan responsku. Ia mengangkat daguku agar aku menatapnya langsung. “Terusin aja kayak gitu,” katanya tenang. “Selalu jujur, dan ingat kalau kamu punyaku.” Aku tahu aku harus jujur—bukan hanya lewat kata-kata, tapi juga lewat tindakan dan perasaan. “Perintah selanjutnya: buka mulutmu.” Tanpa keraguan, aku menurut. Aku membuka mulut perlahan, menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Jo menyentuh bibirku dengan ibu jarinya, seolah ingin melihat reaksiku. Sentuhan itu membuatku terdiam. Aku hanya bisa pasrah dan membiarkannya melakukan apa pun yang ia mau. Ada perasaan aneh bercampur nyaman—sulit dijelaskan. Aku menatapnya tanpa bicara, menyerahkan diri sepenuhnya. Jo tersenyum kecil lalu menarik tangannya kembali. “Kamu cepat belajarnya,” katanya pelan. “Aku suka caramu nurut sama setiap arahanku.” Aku tidak menjawab, tapi aku tahu dia benar. Aku sudah menyerahkan semuanya padanya, bahkan bagian terdalam dari diriku. Aku hanya menunggu, menebak apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Jo kemudian berdiri di atas ranjang, tubuhnya tampak dominan di hadapanku. Penisnya yang masih tegang perlahan diarahkan ke wajahku. Aku melihat tetesan bening di ujungnya berkilat dalam cahaya redup. “Tadi kamu udah buka mulut kan,” ucapnya pelan dengan suara serak. “Sekarang, gunain mulutmu itu.” Aku menatapnya sebentar. Dengan napas pendek, aku membuka mulut lebih lebar… dan menyambut masuk penisnya ke dalam mulutku. Rasanya hangat, dan penuh kuasa. Aku tidak menahan diri saat ia mulai bergerak pelan—mendorong masuk lebih dalam dengan ritme yang santai namun tegas. “Bagus,” katanya singkat sambil mengelus kepalaku lembut—seolah memberi pengakuan atas kepatuhanku. Aku terus mengikuti gerakan penisnya, setiap helaan napasku penuh dengan aroma tubuhnya yang maskulin. Ia memegang kepalaku dengan kuat, namun tidak kasar—seolah tahu batas antara d******i dan penghargaan. “Kamu tau nggak? Kamu tuh cantik banget waktu lagi kayak gini, dan kamu bahkan nggak nyadar.” bisik Jo. Gerakannya perlahan, seolah memberiku waktu untuk memahami setiap instruksinya. Dari sudut mataku, kulihat Centia masih memperhatikan dari tempatnya duduk. Wajahnya tampak tenang, tapi sorot matanya menunjukkan kebanggaan—seolah aku sudah benar-benar menjadi bagian dari dunia mereka. “Aku bakal kasih kamu ujian berikutnya,” ucap Jo dengan nada datar namun dalam. Ia menarik penisnya perlahan dari mulutku, memberiku waktu untuk bernapas. Jo berdiri tegak, lalu berjalan ke sisi ranjang dan mengambil sesuatu dari laci. Aku penasaran dengan apa yang sedang ia lakukan, tetapi aku tahu aku tidak boleh mencari tahu. Aku tetap berbaring diam dengan tangan terikat ke atas, sementara Jo sibuk menyiapkan sesuatu yang tidak bisa kulihat. Saat Jo kembali mendekat, di tangan kirinya tergenggam sebuah alat berbentuk p***s berukuran cukup besar, memancarkan cahaya merah redup. Di tangan kanannya, ia memegang remot mungil dengan beberapa tombol di permukaannya. Aku menarik napas panjang, berusaha tetap tenang. Tubuhku masih hangat, tetapi pikiranku mencoba jernih, bersiap menghadapi langkah Jo berikutnya. “Ini punya Centia,” katanya lembut. “Sekarang, bakal aku pakai buat kamu.” Aku hanya bisa menatapnya tanpa suara. Jo tersenyum tipis. “Ya, Tuan,” bisikku tanpa sadar—seolah kata-kata itu keluar begitu saja dari dalam hatiku. Lalu Jo menekan salah satu tombol di remot yang digenggamnya. Perangkat di tangan kirinya langsung mengeluarkan dengungan halus yang perlahan berubah semakin jelas, disertai getaran lembut. Ia menatapku dengan sorot mata yang penuh kendali, seolah ingin memastikan aku siap untuk apa pun yang akan terjadi. “Angkat kakimu,” perintahnya pelan. “Lalu, buka yang lebar.” Tanpa ragu, aku menuruti ucapannya. Napasku tersengal saat mengangkat lutut dan membuka paha— menyerahkan diri sepenuhnya pada apa yang akan terjadi. Jo berlutut di antara kakiku. Ujung jarinya yang hangat menyentuh bagian dalam pahaku; sentuhan lembut itu justru membuat tubuhku bergetar. “Ssshh… santai aja,” katanya pelan. “Biar aku lihat seindah apa kamu waktu nerima ini.” Aku hanya mengangguk. Jantungku berdetak semakin cepat saat ia mendekatkan alat itu ke tubuhku. Permukaannya terasa dingin di kulit, tapi ketika tersentuh, getaran halus mulai menjalar ke seluruh tubuh. Aku menahan napas, berusaha tetap tenang seperti yang ia perintahkan. “Jangan tutup mata,” ucapnya pelan namun tegas. “Ya, Tuan,” jawabku dengan suara tercekat. Jo mendekatkan alat itu ke bibir vaginaku dengan perlahan. Getarannya sudah menyala, tapi ia tidak langsung memasukkan—hanya menggesek perlahan di luar, seperti menggodaku dengan penundaan yang sengaja. Aku menarik napas dalam-dalam. Tubuhku menegang sedikit, dan punggungku terangkat tipis dari ranjang, sementara tanganku tetap terikat rapi di atas kepala sebagai bagian dari prosedur yang sedang dilakukan. “Kamu gemetar,” bisik Jo sambil tersenyum tipis. “Tapi kamu tetap buka mata… bagus.” Centia tertawa lembut dari pinggir ranjang, suara serak yang masih membawa bekas kenikmatan tadi malam. “Dia kuat kok… cuma belum tahu aja seberapa jauh dia bisa pergi.” Jo tak menjawabnya langsung—tapi aku melihat kedip cepat antara mereka berdua... seperti bahasa tanpa kata yang hanya mereka pahami sendiri. Lalu... dengan satu gerakan mantap, Ia masukkannya pelan ke vaginaku. Aku mendesis—otot-otot vaginaku berkontraksi saat alat itu menerobos masuk. Tubuhku menegang secara refleks, merasa dingin pada awalnya, lalu perlahan berubah menjadi hangat seiring tubuhku menyesuaikan. Getaran halus dari benda itu justru semakin terasa setelah sepenuhnya berada di dalam. “D-dalam banget…” desahku gemetar. “Ya emang harus,” balas Jo datar—tapi nada suaranya hangat dibalut hasrat terselubung. Ia menekan tombol lain pada remot. Getarannya bertambah—tidak keras sampai sakit, tapi cukup untuk membuat lutut kakiku gemetar dan napasku pecah menjadi erangan pendek-pendek tanpa bisa kutekan lagi. “Ahh… Tu-Tuan…” gumamku parau . Rasanya masih agak perih—mungkin karena ini baru kedua kalinya sesuatu masuk ke dalam vaginaku. “Coba bilang,” bisiknya sambil menatap mataku dalam-dalam. “Gimana rasanya?” Tubuhku bergetar, tapi aku tetap mencoba menjawab jujur seperti yang ia minta. “Pa… panas, Tuan. Terus… kayak bergetar, dalam banget.” Jo tersenyum puas dan memutar tombol pada remot di tangannya. Intensitas getarannya terasa semakin kuat. Aku hampir saja mengerang lebih keras saat sensasinya meningkat. Suasana kamar terasa makin panas. “Nggghhhh.” Aku bisa merasakan tatapan Centia di samping kami—matanya tak lepas dari tubuhku. Jo mengusap pipiku, lembut tapi tetap menunjukkan kendali. Wajahnya mendekat hingga aku bisa merasakan napasnya di kulitku. Di antara kami, suasana terasa tegang namun tetap terjaga oleh rasa saling percaya yang kuat. “Kamu kelihatan semakin cantik waktu lagi kayak gini,” ucapnya dengan suara tenang. Lalu Jo kembali bergerak ke atas tubuhku. Penisnya yang masih berdiri ia masukkan begitu saja ke mulutku, menekannya sangat dalam sampai hampir menyentuh pangkal tenggorakan. Tak lama mengeluarkannya lagi—tapi belum sampai terlepas, ia tekan lagi masuk ke dalam. Dan ia melakukan itu berulang kali. Sensasi ini sungguh baru bagiku. p***s pria dewasa keluar masuk mulutku dengan bebas dan alat berbentuk p***s itu masih ada di dalam vaginaku, dengan getaran hebat di dalam dan hisapan kuat pada klitorisku. Aku hanya bisa pasrah, membiarkan tubuhku mengikuti irama yang Jo ciptakan. Napasku terputus-putus, di antara desahan dan getaran halus yang seolah menguasai setiap nadiku. Segalanya terasa di luar kendaliku— seakan diriku kini sepenuhnya berada dalam genggamannya. Jo menunduk sedikit, menatapku dengan sorot mata yang menggetarkan. Suaranya terdengar penuh kendali. “Coba bilang,” ujarnya lembut namun tegas, “siapa yang bisa bikin kamu sampai begini?” Aku berusaha menjawab meski mulutku masih penuh olehnya. “K-Kamu… Tuan... hhh... cuma k-kamu...” Ia mengelus kepalaku dengan lembut—seolah menunjukkan apresiasi atas penyerahanku. “Benar,” katanya puas. “Cuma aku yang bisa bikin kamu ngerasa kayak gini—sampai kamu lupa gimana rasanya malu.” Aku menangis pelan, bukan karena sakit, tapi karena untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar dimiliki. Setiap desah dan getaran di tubuhku seolah menjadi miliknya sepenuhnya. Tatapan Jo masih tertuju padaku. Masih dengan ketenangan yang sama, ia kembali menekan tombol di remot yang digenggamnya, meningkatkan intensitas getaran dan hisapan ke titik tertinggi. Seketika, denyutan di vaginaku meningkat lagi, membuat udara di antara kami terasa lebih berat. “Ahhhhh, Tuan!!!” Aku menjerit saat semua sensasi menghantam bersamaan—getaran di dalam tubuh, hisapan kuat di k******s, dan p***s Jo yang terus bergerak di mulutku. Tubuhku menegang; setiap otot seperti menutup rapat saat gelombang kenikmatan datang secara bertubi-tubi. “Lepasin aja,” bisiknya kasar di telingaku. “Biar semuanya keluar, nggak usah ditahan.” Dunia serasa berputar. Suara, napas, dan sentuhan melebur jadi satu dalam luapan yang tak tertahan. Tubuhku bergetar hebat, napas tersengal—dan dari bibirku meluncur desahan panjang, penuh kelegaan. “Jo... Tuan... a-ahhh… aku keluar!!!” Aku hanya bisa berharap suaraku tidak terdengar terlalu keras... tapi aku tahu Jo pasti sangat menyukainya. Dan benar, ia tertawa pelan—penuh kepuasan, seolah bangga telah membawaku sampai ke puncak sekali lagi. “Iya… gitu, bagus banget.” Aku menarik napas panjang, mencoba mengembalikan kesadaranku. Tubuhku terasa lemas, seperti baru saja melalui sesuatu yang dalam—bukan cuma di tubuh, tapi juga di dalam diri. Jo tersenyum puas, matanya berkilat dalam cahaya redup kamar. Ia menekan tombol di remot, perlahan menurunkan intensitas getaran sampai hanya tersisa dengung halus yang nyaris tak terdengar. “Belum,” katanya pelan sambil mengusap air liur di sudut mulutku, “aku belum selesai sama kamu.” Aku tersenyum lemah, napasku masih berat. “Ya... Tuan.” Jo lalu kembali mendorong penisnya keluar masuk di mulutku dengan tempo yang jauh lebih cepat dan brutal. Aku menahan diri agar tidak tersedak, membiarkan mulut dan tenggorokanku menyesuaikan setiap gerakan Jo. Setiap dorongan kuat dan dalam, kuterima tanpa perlawanan. Tatapan Jo penuh kendali; ia tahu persis sejauh mana batas yang bisa ia dorong. Setiap gerakannya semakin dalam, membuat mataku berair dan tubuhku bergetar—bukan hanya karena sensasinya, tapi juga karena rasa pasrah yang sepenuhnya. Aku tidak melawan. Aku bahkan tak sanggup berpaling. Ketika ia akhirnya mendesis rendah—suara berat tanda bahwa ia akan mencapai puncak—Jo menarik sedikit penisnya keluar... lalu menyemprotkan spermanya ke mulutku tanpa ampun. "Ah—! Rara... sialan, mulutmu nggak kalah panas dari vaginamu!" teriaknya parau, jari-jarinya mencengkeram rambutku erat saat s****a mengalir deras ke dalam mulutku. Napasnya tersengal, wajahnya dipenuhi kepuasan. “Kamu sempurna... benar-benar sempurna.” Aku menahan napas saat cairan hangat itu memenuhi mulutku—rasanya begitu hangat, kental, dan lengket. Beberapa tetes jatuh ke lidah dan tenggorokan, sementara sisanya menetes perlahan dari bibir bawahku. Jo memperhatikanku tajam, seolah ingin memastikan aku tetap di tempat, tanpa bisa menolak atau berpaling. Ia menyentuh pipiku dengan punggung jemarinya, lalu berbisik pelan: “Bersihkan dan telan semuanya,” ucapnya lembut, tapi dengan nada yang tak terbantahkan. Aku menelan semuanya perlahan. Rasanya asin, kental, dan kuat. Aku tak berani menyisakan apa pun; lidahku membersihkan sisa yang masih tertinggal, seolah ingin menunjukkan bahwa aku benar-benar menerimanya. Saat selesai, aku menatap Jo—bibirku sudah bersih, mataku masih berkaca tapi penuh keyakinan. “Sudah... Tuan.” Jo tersenyum tipis, matanya menunjukkan kepuasan yang tenang. Ia mengangkat daguku perlahan. “Good girl.” Ia menarik napas dalam, napasnya masih belum stabil. Di bawah cahaya temaram, matanya tampak berkilat— penuh kuasa dan rasa puas. Ia duduk perlahan, memandangku yang masih terengah dengan mulut basah dan napas tak teratur. Jemarinya menyentuh sudut bibirku, mengusap sisa cairan bening yang tertinggal. “Rara…” suaranya serak tapi hangat. “Ini pertama kali kamu ngerasain s****a laki-laki kan… gimana rasanya?” Aku menatapnya pelan, berusaha menahan gugup. “Asin,” bisikku lirih. “Hangat… kental…” Jo tersenyum kecil—senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya. “Pertama kali pasti aneh ya? Tapi kamu nggak muntah… malah nelan semuanya.” Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Kenapa?” Aku terdiam sesaat sebelum menjawab pelan, “Karena itu dari Tuan… jadi nggak ada alasan buat nolak.” Jo menatapku lama, seolah ingin membaca isi pikiranku lewat tatapan. Napasnya mulai terasa tenang. “Lain kali,” katanya lembut namun tegas, sambil menyentuh daguku dengan punggung jarinya, “aku mau kamu jawab jujur… itu beneran enak, atau kamu cuma pura-pura karena takut.” Aku menunduk pelan, bibirku sedikit bergetar. “Tapi…” lanjutnya dengan nada lebih lembut, “buat pertama kalinya, kamu luar biasa.” Jo mencium keningku cepat, lalu bersandar—terlihat puas tanpa perlu mengucapkan apa pun. Ia membuatku merasa seperti milik sepenuhnya, dan mungkin memang begitu; tubuhku kini benar-benar hanya untuknya. “Coba bilang...” desisnya sambil berhenti sejenak, masih di dalam mulutku. “Katakan, siapa kamu.” Aku menatapnya dengan pandangan kabur, mataku berair. “A-Aku... budakmu... Tuan...” Ia tahu aku telah menyerahkan segalanya padanya—dan jelas, ia sangat menyukainya. “Benar,” katanya lembut tapi tegas. “Kamu budakku... sepenuhnya punyaku.” “Dan kamu suka, kan?” bisiknya pelan sambil mengusap leherku dengan ujung jarinya. Aku menelan ludah—lidahku masih terasa asin olehnya. Tubuhku lemas, tapi jantungku berdebar cepat. “Ya... Tuan,” bisikku nyaris tak terdengar. “Aku... aku suka.” Jo mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik rendah, “Karena dari awal kamu memang diciptakan buat jadi budakku.” Aku terdiam saat mendengarnya. Kata-kata itu seolah menyusup ke dalam pikiranku, membuat segalanya terasa masuk akal. Aku tahu, di saat itu, aku memang sudah menjadi miliknya sepenuhnya—dan ia, tuanku. Jo lalu menoleh ke arah Centia yang masih duduk diam di tepi ranjang. “Bantu dia,” katanya tenang. Centia mengangguk pelan dan mendekat. Tangannya menyentuh pergelanganku yang masih terikat, lalu membuka simpul pita sutra itu perlahan satu per satu. “Kamu luar biasa,” bisiknya lembut. Setelah itu, ia membantuku melepaskan alat kecil yang masih bergetar di dalam vaginaku. Dengan hati-hati, ia mengambilnya dan menyerahkannya kepada Jo. Jo menekan tombol pada remot dan mematikan getarannya, lalu meletakkannya di atas meja. Aku hanya menatap mereka. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih, tetapi kami sama-sama paham— ini bukan akhir, melainkan awal perjalanan kami bertiga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD