Jo tiba-tiba menghentikan gerakannya, membuatku kehilangan napas sejenak karena tubuhku masih mencari kehangatannya. Tanpa mengatakan apa pun, ia mengencangkan pegangan di pinggangku, lalu menurunkanku dari pangkuannya dengan cara yang begitu tegas hingga aku tidak sempat bertanya apa-apa.
Matanya tetap gelap ketika ia berdiri. Dalam satu tarikan pendek namun mantap, ia membimbingku ke depan lemari besar yang memiliki cermin. Pegangannya tidak kasar, tetapi tidak memberiku ruang untuk menolak. Jarak kami begitu dekat sehingga aku bisa merasakan hembusan napasnya di tengkukku.
Ia membalikkan tubuhku perlahan hingga punggungku menempel pada dadanya, membuatku berdiri tepat menghadap bayanganku sendiri yang ada di depan cermin. Pandanganku terperangkap oleh pantulan seorang perempuan dengan pipi memerah, d**a naik turun, dan tatapan yang tidak lagi stabil.
Jo menunduk sedikit, bibirnya hampir menyentuh telingaku ketika berbisik pelan,
“Lihat.”
Tangannya kembali naik ke pinggangku—erat, dan membuatku dipaksa untuk melihat diriku sebagaimana ia melihatku. Pandangannya bertemu mataku dari pantulan kaca, tatapannya intens seperti sedang menuntut pengakuan yang lebih dalam daripada apa pun yang sudah kukatakan.
“Aku mau kamu lihat gimana ekspresi nikmat seorang p*****r,” ucapnya dengan suara rendah.
Pinggangku masih ada dalam genggamannya. Tubuhku terasa seperti terkunci di antara dirinya dan pantulan diriku sendiri, dan untuk sesaat aku tidak tahu mana yang membuatku gemetar—sentuhannya di tubuhku, atau tatapannya yang terus menusuk tepat ke pantulan bayanganku di cermin.
Matanya tidak pernah lepas dari wajahku. Bahkan sebelum aku bisa mengatur napas, Jo sudah mengarahkan kepalaku sedikit—cukup agar aku benar-benar menatap pantulan diriku sendiri di cermin. Rasanya seperti ia sedang memaksaku menghadapi setiap reaksi yang muncul di wajahku, tanpa bisa kusembunyi.
Tangannya bergerak perlahan di tubuhku, menyentuh bagian atas dadaku, turun ke perut, lalu naik kembali dengan tekanan yang terukur. Tidak ada gerakan yang tergesa atau ragu; semuanya terasa seperti cara halusnya menegaskan bahwa aku berada sepenuhnya dalam genggamannya. Ia tidak memberi ruang untuk bergerak, seakan genggamannya adalah peringatan lembut bahwa aku harus tetap di tempat yang ia inginkan.
Jo menarik napas dalam, matanya gelap dan berat ketika ia melihat pantulan tubuhku di cermin. Tangannya mencengkeram pinggangku erat, menahan tubuhku tetap tegak seolah aku adalah miliknya sepenuhnya.
“Lihat,” bisiknya serak sambil jarinya menyentuh cairan yang sudah menetes deras dari vaginaku.
“Kamu sendiri yang bilang… badan kamu juga minta hal yang sama,” ucapnya pelan namun penuh makna.
Tanpa peringatan apapun—ia masuk. Dalam satu dorongan keras dan mantap—penisnya meluncur masuk sepenuhnya ke vaginaku dari belakang hingga terasa sampai di ujung. Napas Jo terdengar keras di tengkukku, membuat seluruh tubuhku tersentak. Refleks, aku mengerang kecil—tidak bisa menahannya ketika melihat wajahku sendiri di kaca. Bibirku terbuka, mata melebar, pipi memerah karena kedekatan kami.
“A-Ah… J-Jo—”
Jo menggeram pelan di telingaku, napasnya menghantam kulitku seperti bara panas. Dengan satu tarikan kuat, ia menarik tubuhku lebih dekat ke cermin hingga dadaku hampir menempel pada permukaan dingin kaca itu.
Cengkeramannya di pinggangku mengencang, tak memberi ruang untukku bergerak ke mana pun selain arah yang ia kendalikan. Setiap jari di pinggangku menahan seluruh tubuhku tetap takluk di bawahnya.
“Lihat,” desisnya serak, suaranya rendah seperti ancaman yang manis, membuat bulu kudukku berdiri.
Ia menarik tubuhku ke belakang hanya untuk mendorongku kembali maju dalam satu gerakan mantap yang membuat dadaku menghantam cermin dengan hentakan lembut. Napas keluar dari bibirku tak beraturan.
“Haaah—”
Suaraku pecah tanpa bisa dikendalikan ketika vaginaku dipenuhi oleh penisnya dalam satu gerakan brutal itu. Jo tidak memberiku waktu untuk menyesuaikan diri—ia mulai menggenjotku dari belakang:
Plakk! Plakk! Plakk!
Jo menangkap daguku dengan tangan bebasnya dan mengarahkan kepalaku, menghadapi bayanganku sendiri tanpa bisa berpaling. Cengkeramannya memastikan aku melihat semua yang ingin ia tunjukkan.
“Terus lihat,” bisiknya, suaranya berat dan mengalir seperti perintah yang menembus ke dalam tulang.
Gerakan tubuhnya di belakangku tetap mantap—dorongan kuat yang membuatku terdorong dan tertahan dalam ritme yang ia tentukan. Pantulan di kaca memperlihatkan semuanya: pipiku merah, napasku naik turun tak stabil, mataku berair oleh intensitas yang tidak bisa dihindari.
Tepat ketika ritmenya semakin intens dan napasku makin kacau—ponselku bergetar keras di meja.
Bunyi dering itu memotong konsentrasi kami berdua. Aku menoleh sekilas ke arah suara itu, jantungku langsung berdegup kencang ketika kulihat nama yang tertera di layar.
“Mama.”
Jo berhenti sejenak, napas kami sama-sama berat. Ponsel itu terus berdering. Aku menelan ludah, tangan sedikit gemetar… sementara Jo masih menempel di belakangku, menatap pantulan kami di cermin.
Ponselku masih berdering ketika aku menatap layar yang menampilkan nama Mama. Napasku belum stabil, tubuhku masih gemetar karena momen intens barusan. Jo berdiri tepat di belakangku, tubuhnya menempel erat, kedua tangannya masih di pinggangku, menahan agar aku tidak menjauh.
Napasnya menyapu tengkukku saat ia menunduk mendekat.
“Angkat,” bisiknya pelan, suaranya rendah dan menggetarkan.
“Jangan sampai mamamu curiga.”
Aku menelan ludah keras-keras.
“Tapi… Jo… aku—”
Jo menunduk sedikit, menempelkan dahinya ke samping kepalaku. Gerakannya tidak agresif, tapi penuh kendali—cukup untuk membuatku tetap tersudut pada cermin. Ia tidak bergerak lebih jauh, tapi kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat dadaku terasa sesak.
“Tidak apa-apa,” ujarnya lembut tetapi tetap tegas.
“Kamu bisa.”
Ponsel itu terus bergetar. Tanganku gemetar ketika meraih perangkat itu. Jo menahan pinggangku dengan satu tangan, tidak menekan, hanya memastikan aku tetap pada posisiku. Tangannya yang lain naik, menyapu pelan sisi lenganku, membuatku sulit bernapas stabil. Aku menekan tombol untuk mengangkat.
“Halo, Ma…” ucapku, suaraku sedikit goyah—dan Jo, tentu saja, memperhatikan itu.
Ia menunduk ke telingaku dan berbisik, hampir tidak terdengar,
“Tenang. Tarik napas.”
Aku mencoba. Rasanya mustahil.
“Rara? Kamu lagi apa? Mama nelpon dari tadi nggak diangkat,” suara Mama terdengar jelas dari speaker.
Aku reflek menegakkan tubuh, tapi Jo menahanku dalam jarak dekat, membuatku tidak bisa menjauh.
“Maaf, Ma… tadi Rara lagi… n—”
Aku terhenti karena Jo tiba-tiba mendorong penisnya pelan, tapi cukup untuk membuatku kehilangan kata.
Kemudian, ia tersenyum tipis di pantulan cermin.
“Fokus,” bisiknya.
“Rara lagi apa?” tanya Mama lagi.
Aku memejamkan mata sebentar, mencoba menenangkan napas yang masih berantakan.
“Rara lagi… beres-beres kerjaan habis event pameran makeup artist di mall kantor, Ma,” jawabku akhirnya, berusaha terdengar normal. Suaraku sedikit bergetar, tapi aku berharap Mama tidak menyadarinya.
Jo menurunkan tangannya dari pinggang, lalu meraih tanganku perlahan. Gesturnya lembut, tapi intens— seolah mengingatkan bahwa momen itu belum selesai, hanya tertunda. Aku bisa melihat wajahku di cermin— pipi merah, napas belum pulih. Sementara ponsel masih menempel di telingaku, Jo tetap berdiri tepat di belakangku—dekat, terlalu dekat bahkan—membuat napasku sulit stabil. Tatapannya mengunci pada pantulan mataku.Ia tidak bergerak, tetapi kehadirannya cukup untuk membuat pikiranku buyar.
“Ooo gitu. Rara, Mama cuma mau ngabarin,” suara Mama terdengar sibuk, seperti sedang mengemas sesuatu.
“Sore nanti Mama jadi berangkat ke Jakarta selama seminggu, mumpung sekolah lagi libur semester.”
Aku mengerjap, sedikit terkejut. Jo menatapku di cermin, alisnya terangkat tipis, memperhatikan reaksiku.
“Oh… seminggu?” tanyaku, menjaga suaraku tetap stabil.
“Iya. Makanya Mama mau tanya, kamu pulang jam berapa? Bisa antar Mama? Mama berangkat jam lima.”
Saat itu Jo memindahkan tangannya ke bahuku, menekan lembut namun dominan, membuat tubuhku tegang seketika. Bukan kasar—justru terlalu halus. Tapi cukup untuk membuatku kehilangan fokus sepersekian detik. Aku hampir mendesis, tapi segera menutup mulut rapat-rapat.
“Rara pulang… hmm… agak sore, Ma,” jawabku pelan, mencoba menjaga nada supaya tidak terdengar aneh.
“Kayaknya nggak sempat.”
Jo tersenyum tipis melihatku berjuang menjaga ketenangan dan desahan supaya tidak terdengar dalam obrolan di telepon. Ia lalu menyentuh daguku dari bawah, mengangkat wajahku sedikit, memaksaku menatap cermin. Kemudian ia membenarkan posisiku dengan lembut, seolah mengingatkanku agar tetap di tempat.
“Oh gitu… ya sudah nggak apa-apa. Mama naik taksi online saja,” jawab Mama santai.
“Mama cuma mau kabarin biar kamu nggak kaget nanti kalau pulang rumah kosong.”
Aku mengangguk.
“Iya, Ma…”
Jo menurunkan jarinya dari daguku dan bergerak ke belakang leherku, mengecupnya ringan—hanya sekilas, namun cukup untuk membuat napasku memburu lagi. Nafasku hampir pecah dalam suara, dan aku buru-buru menutup mulut sebelum Mama menyadarinya.
“Ra? Kamu kenapa? Napasnya kayak ngos-ngosan.”
“A—nggak, Ma,” kataku cepat, mencoba tertawa kecil meski suaraku sedikit bergetar.
“Rara baru naik tangga, Ma.”
Jo tertawa pelan di belakangku—hanya satu hembusan napas yang terdengar seperti ejekan lembut—malah membuatku semakin sulit mempertahankan suara stabil.
“Iya, Ma… nanti Rara pulang habis kerja,” jawabku akhirnya.
“Okee nak, semangat ya kerjanya hari ini,” kata Mama dengan suara lembut.
“Mama doakan semoga lancar semua.”
Aku tersenyum kecil—atau berusaha.
“T-Terima kasih, Ma…”
Tepat saat itu Jo menggeser posisinya sedikit, menekan penisnya hingga tubuhku terdorong setengah langkah ke depan—tekanan cepat dan mendadak yang membuat tubuhku terhenti dan napasku pecah.
“Ahhh—” desahan kecil hampir lolos, dan aku buru-buru menutup mulut.
Jo hanya menatapku di cermin, ekspresinya seperti sengaja menunggu reaksiku.
“Rara? Kamu kenapa? Napasnya kok kedengaran… aneh?”
“A-anu, M-Ma…” aku menelan ludah, suaraku pecah setengah mendesah karena terkejut oleh gerakan Jo tadi.
“Tadi… kaget, Ma. Jo—eh, Rara hampir jatuh barusan…”
Jo menekan penisnya semakin dalam, membuatku sedikit maju, lalu menahan bahuku agar tetap tegak— cukup intens, membuatku kehilangan kendali nafas selama sedetik.
Mama terdengar makin bingung.
“Lho? Kamu nggak apa-apa, Ra?”
“Ng-nggak apa-apa…” jawabku cepat.
“Rara cuma… lagi beresin barang. Hampir jatuh, terus kaget sendiri.”
Jo menunduk ke telingaku dan berbisik pelan,
“Tenang. Selesaikan dulu.”
Bisikannya membuatku hampir mengerang, bukan karena sakit—tapi karena seluruh konsentrasiku hancur.
Mama melanjutkan dengan nada lembut,
“Ya sudah. Kamu jangan lupa makan. Mama berangkat ke Jakarta nanti sore, doakan perjalanan Mama lancar.”
Aku menggigit bibir, sementara Jo masih saja menggerakkan penisnya maju mundur di dalam tubuhku.
“I-Iya, Ma… Rara doain Mama hati-hati juga… di jalan…”
Suaraku bergetar aneh—setengah mendesah, setengah berusaha stabil. Mama berhenti sejenak.
“Rara… kamu yakin baik-baik saja?”
Aku jadi semakin panik.
“B-baik, Ma! Rara… Rara harus siap-siap kerja lagi. Nanti Rara telepon Mama lagi, ya.”
“Oke, Ra. Tuhan memberkatimu ya Nak.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel karena tanganku gemetar.
“Tuhan memberkati juga, Ma—”
Aku cepat-cepat menekan tombol merah. Begitu telepon terputus, aku membiarkan desahanku keluar keras seperti menahan diri terlalu lama. Jo tersenyum, menatapku dari pantulan cermin.
“Suaramu barusan… kedengaran mau pecah.”
Aku meremas tangan sendiri, tubuhku masih panas oleh ketegangan tadi.
“A-aku… hampir nggak bisa ngomong normal…”
Jo mendekat.
“Aku tahu.. Tapi kamu hebat, bisa menahan diri dengan baik.”
Jo tertawa pelan—sementara tatapannya mengunci mataku lewat pantulan cermin. Tangannya turun dari pinggangku perlahan, melepas penisnya dari vaginaku, lalu memutar tubuhku menghadapnya. Gerakannya lembut namun penuh kendali, membuatku mengikuti arah yang ia inginkan tanpa bisa menghindar.
Punggungku kini bersandar ke cermin, wajahku tepat di depan wajahnya.
Jo mengambil ponsel dari tanganku yang masih gemetar. Ia meletakkannya di meja di samping kami dengan gerakan lambat, seolah waktu sengaja ia tarik mundur agar setiap detik terasa lebih panjang dan lebih menekan.
Jari-jarinya kembali naik ke daguku. Ia mengangkat wajahku sedikit, memaksaku menatap matanya langsung.
“Aku suka lihat kamu seperti ini,” bisiknya serak. Suaranya hangat, nyaris menyentuh kulit.
Jempolnya menyapu bibir bawahku yang masih lembap karena napas tak stabil barusan.
“Merem-melek… napas ngos-ngosan… tapi tadi kamu pura-pura bilang ‘baik’ di telepon padahal tubuhmu sendiri sudah gemetar sambil nahan desahan yang bahkan nggak bisa keluar.”
Tubuhku menegang. Pipiku terasa panas. Aku ingin menjauh, tapi tidak bisa—dan bagian terburuknya adalah… aku tidak yakin aku ingin. Jo memperhatikan reaksi itu, dan senyumnya muncul pelan. Ia mendekat sedikit—tidak menyentuhku lebih jauh, hanya cukup dekat hingga hembusan napasnya menyentuh wajahku.
“Shhh…” gumamnya, nadanya setengah menggoda setengah menenangkan.
Ia mencondongkan wajahnya dan menggigit lembut ujung telingaku—sekilas, tidak sensual, hanya menggoda dan cukup untuk membuatku tersentak pelan.
“Telepon sama Mamamu udah selesai,” bisiknya dekat sekali.
“Dan sekarang… cuma ada kita berdua.”
Tangannya turun ke sisi tubuhku, menahan pinggangku sekadar untuk menstabilkan langkahku yang sedikit goyah—bukan untuk menarikku jadi lebih dekat… tapi cukup untuk membuatku sadar betapa dekatnya kami. Ia memiringkan kepala, tatapannya menusuk.
“Kamu siap?” tanyanya pelan.
Bukan ancaman. Bukan juga paksaan. Hanya nada yang yakin bahwa aku mendengarnya—dan merasakannya. Aku menelan ludah, napasku masih tidak stabil.
“J-Jo…” bisikku.
Ia menatapku sebentar—tatapan yang cukup dalam untuk membuatku berhenti berpikir, seolah ia sedang memastikan aku benar-benar memperhatikannya.
“Ke sini.”
Nada suaranya tenang, tapi tidak memberi ruang untuk menolak.
Aku merasakan genggaman Jo di pergelangan tanganku sebelum ia menarikku menuju pintu kaca balkon. Gerakannya lembut, membuatku mengikuti tanpa sempat berpikir. Saat pintu terbuka, angin sore langsung menyapu wajahku. Udara dingin itu terasa kontras dibandingkan hangat tubuh Jo yang masih menempel.
Ia menutup pintu pelan. Kami kini berdiri di balkon lantai tujuh belas, dengan pagar kaca transparan yang membuat pemandangan kota terlihat jelas dari ketinggian.
“J-Jo… ngapain ke sini…?” tanyaku dengan suara yang hampir hilang.
Ia berdiri tepat di belakangku, begitu dekat sampai bayangannya menyatu dengan bayanganku di kaca. Tangannya menyentuh bahuku dan menuntunku perlahan mendekati pagar.
“Aku mau lihat,” katanya pelan, “seberapa kamu bisa tetap tenang… di ruang terbuka.”
Jantungku langsung berdebar kencang. Kakiku terasa berat, seakan menempel di lantai.
“Tenang aja,” bisiknya sambil mendekat hingga wajahnya sejajar dengan wajahku.
“Enggak ada yang akan lihat. Tapi kamu… akan ngerasa dilihat.”
Aku menarik napas panjang tanpa sadar. Jo memegang lenganku dari belakang, lalu mengarahkan tanganku ke pagar kaca.
“Lihat ke bawah,” perintahnya.
Aku menuruti. Jalanan terlihat jauh di bawah, membuat dadaku terasa sesak.
“Kamu gemetaran,” katanya sambil menggeser rambutku ke samping hingga leherku terbuka.
“Takut… atau senang?”
“A-aku… malu, Jo…” jawabku pelan, suaraku bergetar.
Jo mendekat lagi, bisikannya jatuh tepat di telingaku.
“Kamu nggak perlu malu.”
Tangannya menahan lenganku dengan mantap, nada suaranya lembut tapi tegas.
“Justru… rasa malu itu yang bikin semuanya jadi lebih asyik, bukan?”
Kata-katanya seharusnya membuatku salah tingkah—tapi anehnya, bagian dalam diriku justru mengakui bahwa ia benar. Rasa malu itu memang membuat semuanya terasa lebih hidup, lebih kuat, dan sulit kuabaikan.
Dia mengusap lenganku perlahan, gerakannya lembut tapi tetap terasa menguasai. Ibu jarinya menyentuh sisi leherku, membuat kulitku meremang. Udara luar terasa dingin, tapi tubuh Jo di belakangku hangat—terlalu dekat untuk kuabaikan. Aku tahu apa yang ia inginkan, tapi aku belum punya keberanian untuk menolaknya.
“Lihat… sedikit saja, reaksimu sudah sekuat ini,” bisiknya serak.
Tangan kirinya mencengkeram pergelangan tanganku, mendorong tubuhku sedikit ke depan hingga dadaku menyentuh pagar. Angin sore menusuk kulit, sementara tubuhku sendiri terasa terlalu peka oleh sentuhannya.
Plak!
Tangan Jo menepuk pantatku—tidak keras, tapi cukup untuk membuatku tersentak. Aku berteriak kecil— lebih seperti hembusan napas tertahan—tidak cukup keras untuk terdengar siapa pun.
Jo justru tertawa pelan. Tangan yang tadi menepukku kini menuju vaginaku, mengusapnya perlahan seolah menenangkan sensasi yang ia buat sendiri. Aku tahu ia sengaja menahan diri. Ia ingin aku meminta.
Ia mendekat, napasnya hangat di telingaku. Tiba-tiba ia menarikku ke belakang—lebih kuat dari sebelumnya—membuat tubuhku menempel padanya tanpa ruang tersisa.
“Kamu benar-benar p*****r nakal,” desisnya sambil menggigit pelan sisi leherku.
Dingin dari luar bertabrakan dengan panas yang terasa di tubuhku, membuat setiap sentuhannya terasa lebih tajam daripada seharusnya. Tangannya tiba-tiba bergerak cepat: satu tangan meremas payudaraku dengan kasar, sementara yang lain menancapkan dua jari ke vaginaku tanpa peringatan.
“Ah—!” Suara itu lolos begitu saja sebelum sempat kutahan.
“Dengar baik-baik,” geram Jo di telingaku, napasnya kini berat dan tidak lagi stabil.
“Aku mau dengar kamu minta… buktikan kalau kamu memang seorang pelacur.”
Jarinya memutar pelan di dalam sambil ibu jarinya mengusap klitorisku dengan tekanan sempurna.
“A-Ah… J-Jo…”
Aku menggigit bibir bawahku sampai terasa sedikit perih, mencoba menahan suara desahan yang terus keluar. Ia hanya tersenyum—senyum dingin dan penuh kendali.
“J-Jo... aku...”
Suaraku pecah ketika gerakannya tiba-tiba menjadi lebih tegas, membuat tubuhku tersentak kecil.
Dia menggeram pelan di leherku, membelai rambut yang terurai di pinggangku dengan tangannya yang lain.
“p*****r nakal kayak kamu harus belajar cara minta yang benar.”
Gerakannya berhenti sejenak—cukup lama untuk membuatku meronta kecil karena kehilangan arah sejenak. Dengan gerakan yakin, dia membalik posisiku hingga aku menghadapnya. Satu tangannya masih menahan posisiku di antara pahaku, sementara tangan lainnya mencengkeram daguku, memaksaku menatapnya.
“Lihat,” bisiknya sambil mengarahkan pandanganku ke kaca transparan.
Di pantulan itu, wajahku memerah—bibir bergetar, mata berkaca-kaca oleh ketegangan yang menumpuk tanpa jalan keluar. Dan di depanku, Jo berdiri tegak dengan senyum dingin penuh kemenangan.
Saat itu aku bisa merasakan jantungku berdetak terlalu cepat—campuran gugup, malu, dan rasa ingin yang hampir tak tertahankan. Rasanya seperti berada di titik di mana tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Angin sore menyapu kulitku yang panas ketika akhirnya aku mengeluarkan suara kecil:
“J-Jo... please masukin...”
Suara itu pecah—dan matanya langsung menggelap, seolah mendapatkan jawaban yang ia cari sejak awal.
Di tengah semua itu, ada sesuatu yang muncul tanpa kusadari. Tempat terbuka seperti balkon ini—angin, ketinggian, rasa was-was karena bisa terlihat kapan saja—justru membuat sisi liarku menyala kuat. Dan yang paling mengejutkan… aku mulai menyadari bahwa aku menyukai perasaan itu.