Permainan Gila Bertiga

3611 Words
Jo menarik napas pelan, menikmati ketenangan yang ada di antara kami. Senyum tipisnya masih terlihat jelas. Aku dan Centia tetap diam, menunggu perintah berikutnya. Tak lama kemudian, ia melangkah maju dan duduk di tepi ranjang, tepat di antara kami. Tatapannya tenang, tapi penuh kendali-seperti seorang pemimpin yang tahu pasti apa yang ia inginkan. "Centia," bisik Jo dengan suara rendah dan tenang. "Latih Rara. Ajari dia posisi baru-doggy style." Centia mengangguk pelan. Wajahnya datar, seperti sudah terbiasa dengan situasi semacam ini. "Rara," panggilnya pelan. "Ikuti aku." Aku menatapnya sebentar sebelum bergerak mendekat dengan hati-hati. Rasa gugup membuat gerakanku terasa kaku, tapi aku tetap menuruti arahannya. "Duduk di lututmu dulu," kata Centia sambil menunjukkan dengan tangannya. Aku mengikuti, lututku menyentuh ranjang, tubuh tegak setengah. "Bukan gitu," katanya sambil mencondongkan tubuh ke depan hingga kedua tangannya menumpu di ranjang. Punggungnya sedikit melengkung. "Begini. Tapi angkat pinggulmu sedikit lebih tinggi." Aku menirunya. Tubuhku bergetar kecil saat mencoba menahan posisi itu. "Ya, bagus," ucap Centia dari samping. Ia menepuk punggungku pelan dan memperbaiki lengkung tubuhku. "Angkat sedikit dagumu... tahan." Aku menarik napas pendek-pendek, mencoba tetap tenang. Setiap gerakan terasa penuh kesadaran. Jo memperhatikan dari depan ranjang tanpa bicara. Beberapa detik berlalu dalam diam yang tegang. "Sempurna," katanya pelan akhirnya. Ia tidak perlu berbicara banyak untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali. Sikapnya saja sudah cukup. Dalam diam itu, aku bisa merasakan tekanan yang kuat, bukan dari suara, tapi dari caranya melihat dan bernapas dengan tenang, seolah seluruh situasi ini berada dalam genggamannya. Ia mendekat dan berhenti tepat di belakangku. Aku bisa merasakan hangat napasnya dan detak jantungku jadi semakin cepat. Tanpa perlu melakukan apa pun, wibawanya sudah terasa. "Kalian berdua jangan bergerak," katanya mengingatkan. Centia patuh tanpa berkata apa-apa. Ia menunggu dengan tenang, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Suasana menjadi hening, hanya tersisa rasa tegang dan penasaran di antara kami. Jo melangkah hingga jaraknya sangat dekat denganku. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya meski kami tidak bersentuhan. Ia tampak tenang, seolah menikmati suasana hening yang terasa tegang. Perlahan, tangannya bergerak turun. Jari-jarinya menyentuh pinggangku. Ia menarik rok seragam pelayanku ke atas dengan gerakan perlahan. Kain tipis itu terangkat sedikit demi sedikit, memperlihatkan bagian tubuh bawahku yang tidak tertutupi karena sejak mandi tadi aku memang tidak memakai pakaian dalam. "Aku suka lihat kamu seperti ini," bisiknya pelan, suaranya dalam dan menahan sesuatu yang sulit dijelaskan. Aku hanya bisa menahan napas saat jemarinya turun lebih rendah lagi-menyusuri pantatku sebelum akhirnya jari telunjuknya menyentuh vaginaku dari belakang. Sentuhan itu membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Ia menggosok pelan-atas bawah-merasakan betapa aku sudah basah meski belum ada yang benar-benar dimulai secara aktif. Dan ia tahu persis artinya: bukan sekadar reaksi fisik... tapi kerelaan hati untuk menerima dia sebagai pemilik mutlak diriku. "Kamu mau ini kan?" desis Jo sambil jarinya terus bergerak lambat di celah vaginaku tanpa buru-buru masuk. "Tapi kamu harus diam... dengerin apa yang aku suruh. Jangan menoleh atau bergerak sedikitpun.." Aku menggigit bibir demi membendung desahan yang nyaris keluar. Di sampingku, Centia masih dalam posisi yang sama-berlutut dengan pinggul sedikit terangkat, seperti perintah yang Jo berikan sejak awal. Tanpa berkata apa pun juga Jo telah menjulurkan tangan lain ke arah Centia dan dengan mudah melakukan hal serupa: rok di angkat sama persis seperti padaku lalu jemari satunya menjelajahi v****a milik Centia. Sekarang aku dan Centia merasakan hal yang sama; kami sama-sama pasrah dan rela menerima Jo, dalam posisi dan keadaan yang sama pula. Aku ingin menoleh untuk melihat apa yang sedang terjadi, tapi aku tahu Jo mungkin tidak menyukainya. Aku ingat posisiku sekarang: aku miliknya-tubuhku dan pikiranku miliknya. Aku hanya boleh melakukan apa yang ia perintahkan, meski itu membuatku sedikit tidak nyaman. Semakin lama, rasanya aku ingin ia menyentuhku lebih dalam, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa menunggu dan berharap ia memberiku apa yang aku butuhkan. Aku menahan posisiku, napasku terengah, punggungku melengkung karena dorongan hasrat dan rasa tunduk. Jari Jo masih bergerak perlahan-naik turun-di antara vaginaku yang panas dan basah. Di sampingku, Centia mendesis pelan. Tubuhnya gemetar-aku bisa mendengar lututnya bergesekan di atas ranjang. Jo melakukan hal yang sama pada kami: satu tangan pada vaginaku, satu tangan untuk v****a Centia. Ia mengatur kami berdua dengan tenang, seolah sudah terbiasa melakukannya. Aku menahan napas. Tubuhku bergetar dalam sentuhan Jo yang terus memainkan hasratku dengan perlahan. Dari arah lain, aku mendengar desahan tertahan dari Centia. Jo tetap tenang, seolah tahu persis bagaimana membuat kami terus menunggu dalam ketegangan yang memanas. Satu tangannya tetap menjelajahi celah vaginaku-basah, panas, menggoda-sambil jari lainnya melakukan hal serupa pada Centia, menciptakan irama yang membuat kami sama-sama kehilangan kendali. Suara itu terdengar lagi, rendah dan tegas. "Kalian berdua, mulai bergerak." Aku refleks menegang. "Gerakkan pinggul kalian," lanjutnya pelan. "Naik turun sedikit, ikuti irama jariku." Tanpa perlu melihat, aku bisa merasakan Centia mulai bergerak perlahan-gerakannya lembut, seirama dengan sentuhan Jo. Aku mencoba mengikuti instruksinya, menggerakkan tubuh ske depan dan ke belakang, menyesuaikan dengan arahannya. Aku hampir mengeluarkan suara, tapi segera menahannya. Aturannya jelas: tidak boleh bersuara kecuali diperintahkan. Jo terdengar mengembuskan napas di belakang, suaranya pelan tapi penuh kendali. Ia menikmati momen itu-bukan hanya karena rasa puas, tapi karena ia tahu kami berdua sepenuhnya mengikuti perintahnya. "Ya, betul gitu," bisiknya. "Teruskan. Biar aku liat kalau kalian emang beneran pelayan setiaku." Aku menggerakkan pinggul, mengikuti arah jemarinya yang masih menyentuhku. Setiap kali tubuhku terdorong ke belakang, rasa hangat menjalar dari kepala sampai kaki. Aku gemetar, tapi tetap berusaha tenang-tidak bersuara, tidak mengeluh. Aku dan Centia bergerak dalam irama yang sama, dipandu oleh tangan Jo yang mantap dan penuh kendali. Jari-jarinya mengatur ritme kami, membuat semuanya berjalan lebih cepat tanpa terasa tergesa. Aku bisa merasakan sentuhannya semakin dalam, membuat tubuhku bereaksi lebih kuat. Kulitku seperti menjadi lebih peka terhadap setiap gerakan. Aku coba menahan diri, tapi sulit-ketegangan yang terus meningkat membuatku hampir kehilangan kendali. Jo memperhatikan kami dengan tatapan tenang, tapi jelas penuh perhitungan. Ia tahu kami berdua hampir kehilangan kendali, namun tetap menahan diri untuk tidak memberi apa yang kami tunggu. Ia membiarkan semuanya berlangsung, mengamati bagaimana kami berusaha menahan suara di tengah ketegangan. Aku dan Centia mulai bergerak lebih cepat, berharap ia akhirnya memberi isyarat untuk melanjutkan. Napas kami terdengar berat dan tidak teratur, tapi Jo hanya berbisik pelan di belakang-seolah mengejek kami yang masih mencoba menahan diri. Suaranya memecah keheningan dengan nada yang tegas. "Sekarang... lepaskan desahan kalian." Kalimat itu saja sudah cukup membuat tubuhku bergetar hebat. Aku tidak perlu diminta dua kali. Suara pertamaku keluar serak dan tertahan, seperti napas yang akhirnya lolos setelah ditahan terlalu lama. "Ah-!" Aku menunduk, tubuhku menegang, lalu bergerak mengikuti irama jari Jo yang kini semakin cepat. Di sampingku, Centia juga tak lagi menahan diri. Suaranya pecah dalam desahan rendah. "Ohh... Tuhan..." katanya pelan, lalu terdiam, mungkin sadar ia seharusnya tidak menyebut itu. Tapi Jo hanya tertawa kecil. "Terus," katanya singkat. "Sebut namaku waktu kalian hampir keluar." Aku mendengar perintah itu jelas, membuat panas di tubuhku terasa semakin kuat. "Jo... Tuan Jo..." bisikku terputus-putuDadauaraku bergetar saat jarinya bergerak lebih dalam-satu jari keluar masuk cepat ke vaginaku, sementara ibu jarinya terus menekan dan mengusap di atasnya dengan ritme teratur. Di sampingku, Centia juga mulai memanggil nama Jo dengan suara nyaris memohon. "Tuan... aku... hampir..." katanya, sebelum tubuhnya menegang dan tangannya mencengkeram seprai erat. Dan sesaat setelah itu, semuanya terasa lepas-seperti dunia berhenti sejenak sebelum pecah menjadi satu ledakan rasa yang tak terkendali. o*****e datang begitu kuat, seperti gelombang panas yang tak bisa ditahan. Kakiku terasa lemas, pinggulku bergerak tanpa kendali. Desahan keluar begitu saja, tanpa bisa kutahan. "Jo! Ah! Oh Tuan-" Tubuhku terasa panas dari dalam, seolah semua tenaga hilang dan aku benar-benar menyerah padanya. Hampir bersamaan denganku, Centia juga mencapai puncaknya. Suaranya pecah pelan saat tubuhnya menegang kuat. Kami berdua jatuh ke ranjang hampir bersamaan, napas tersengal dan mata berair karena lega. Jo berdiri di belakang kami, masih dengan napas teratur. Tatapannya hangat tapi penuh sisa hasrat, sementara ekspresinya tetap tenang-seolah baru saja menyelesaikan sesuatu yang sudah ia rencanakan dengan sempurna. Kami berdua menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri setelah pengalaman yang begitu intens. Napas kami masih berat saat menunggu perintah berikutnya. Jo menatap kami dengan tenang, membiarkan kami tetap tertunduk beberapa saat setelah semuanya berakhir, tapi dari tatapannya jelas ia belum selesai hari itu. Ia masih menginginkan lebih. Jo menatap kami beberapa saat sebelum akhirnya berbicara. "Kalian berdua, berbaring sekarang." Suaranya tajam, tanpa sedikit pun keraguan. Ia tahu apa yang diinginkannya, dan kami tahu kami harus patuh. Centia langsung menuruti perintah itu. Ia diam sejenak, lalu perlahan berbaring terlentang di atas ranjang. Gerakannya hati-hati, seperti seseorang yang sudah terbiasa menerima instruksi darinya. Aku menyesuaikan posisi dan ikut berbaring di samping Centia. Tubuh kami hampir bersentuhan; aku bisa merasakan hangat kulitnya, tapi aku tidak berani menatap. Aku hanya menunggu perintah berikutnya dari Jo. "Geser," perintah Jo dengan suara rendah. "Posisikan diri kalian kayak angka enam puluh sembilan." Aku menahan napas, langsung mengerti maksudnya. Tubuhku terasa panas, tapi aku tidak membantah. Perlahan, aku bangun, beranjak menuju bawah badan Centia dan menyesuaikan posisi seperti yang diperintah. Kini kepalaku berada di dekat pinggul Centia, tubuh kami saling berhadapan dan hampir menyatu. Centia mengikuti dengan tenang. Gerakannya mantap meski ia baru saja mencapai puncak beberapa saat lalu. "Mulai," bisik Jo dari atas ranjang. Ia duduk di tepi, mengamati kami dengan tatapan penuh kendali. "Gunain lidah kalian. Bersihkan semua sisa cairan di v****a itu... pelan-pelan aja." Dadaku berdebar keras saat wajahku semakin dekat dengan v****a Centia yang masih basah dan lembap setelah orgasmenya tadi. Aku bisa mencium aroma khas dari sisa yang tertinggal, dan meski ada keraguan di dadaku, aku tahu ini adalah perintah-dan aku harus menaatinya. Perlahan, lidahku mulai menjilati v****a milik Centia dengan hati-hati. Aku berusaha mengikuti perintah Jo, tapi juga ingin membuatnya merasa puas-bukan sekadar membersihkan. Dari bawah, aku bisa merasakan sentuhan lembut dari lidah Centia di antara kakiku. Gerakannya pelan tapi pasti, mengirim gelombang sensasi yang membuat tubuhku kembali bergetar meski belum sepenuhnya pulih. Jo memperhatikan kami tanpa suara, matanya tajam dan penuh kendali. "Lanjutkan," ucapnya pelan. "Jangan buru-buru. Rasain setiap detiknya." Aku menuruti perintahnya. Lidahku terus bergerak perlahan-menjilat, menekan, dan mengusap. Setiap gerakan kulakukan dengan penuh kesadaran; bukan hanya karena disuruh, tapi karena ingin membuktikan. Centia mendesah pelan di bawahku, tubuhnya bergetar setiap kali aku menyentuh bagian paling sensitifnya. Dalam momen itu, aku merasa kuat sekaligus pasrah. Kuat karena bisa membuatnya mengeluarkan desahan, pasrah karena aku tahu semua ini milik Jo-setiap suara, dan setiap sentuhan. Di saat yang sama, lidah Centia mulai menyentuh vaginaku kembali. Gerakannya lembut tapi konsisten, membuat sensasi yang tajam dan dalam. Rasanya seharusnya aku sudah lelah setelah sebelumnya, tapi tubuhku justru kembali menyala karena gairah. Napas kami sama-sama terengah. "Ya... begitu, bagus," gumam Jo pelan dari atas ranjang. Suaranya terasa seperti udara bagi kami-memberi izin untuk terus bergerak dalam kepatuhan. "Gunain ujung lidahmu... masuk sedikit... kayak waktu kamu cium bibir Centia." Aku menuruti perintah itu persis seperti yang dikatakannya. Ujung lidahku perlahan menyentuh dan menekan ke dalam, sementara bagian atasnya tetap kugesek dengan tekanan lembut. Dari nada suaranya, aku tahu Jo memperhatikan setiap gerakan kami dengan saksama. Lalu tanpa peringatan, ia berkata pelan, "Ayo... tunjukin ke aku siapa yang lebih pandai menjilat." Matanya menyipit sedikit, senyum tipis muncul di wajahnya yang tetap tenang. Lidahku bergerak lebih dalam-tantangan itu justru membuatku semakin bersemangat. Ini bukan lagi soal patuh, tapi tentang menjadi yang terbaik di hadapannya. Tentang membuat Jo puas. Ujung lidahku menyusup perlahan ke dalam v****a Centia, sementara bagian atasnya kugesek dengan ritme yang kuatur sendiri-pelan naik turun, kadang berhenti sebentar, lalu kembali menekan lebih kuat. Centia mendesis tajam di bawahku, tubuhnya bergerak kecil. Ia mencoba tetap fokus, tapi aku bisa merasakan lidahnya ikut berubah-lebih cepat, lebih berani, seolah menanggapi tantangan yang sama. "Tuan... aku bisa kan..." bisikku terputus-putus di antara napas berat. Jo hanya tertawa kecil. "Jangan bicara," katanya. "Terusin aja." Aku menuruti perintahnya. Menekan bibir dan hidungku lebih dekat ke area lembap di antara paha Centia- aromanya semakin kuat, tanda tubuhnya mulai kembali bereaksi terhadap setiap sentuhanku. Dan aku... hampir tidak sanggup lagi. Lidah Centia menjelajahi setiap bagian tubuhku seolah tahu persis cara membuatku kehilangan kendali. Aku berusaha tetap menahan diri. Ini bukan hanya soal kenikmatan semata. Ini soal siapa yang paling pantas disebut milik Jo sepenuhnya. Saat ini, aku akan membuktikannya. "Nggh...!" Aku menggoyangkan tubuh perlahan, menahan rintihan yang hampir keluar. Lidah Centia bergerak lincah- masuk dan keluar dengan ritme yang membuat seluruh tubuhku bergetar. Tapi aku tidak boleh kalah. Untuk mengimbanginya, aku memperdalam jilatanku, mengisap lembut bagian sensitifnya sambil menyelipkan jari ke dalam, menyesuaikan dengan gerakan lidahku. Di atas ranjang, Jo hanya mengeluarkan suara kecil. "Ada yang enggak mau kalah sepertinya," katanya pelan. "Tapi bagus... lanjutkan." Kata-katanya membuat darahku berdesir. Aku tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu-ia memperhatikan. Setiap usaha untuk membuatnya puas. Setiap detik dari pertarungan diam-diam ini demi pengakuan darinya. "Ahh-!" Centia mendadak mengerang ketika ujung lidahku menyentuh titik tertentu-seolah aku baru menemukan tempat yang selama ini ia sembunyikan. Ia membalas dengan lebih agresif. Lidah dan jarinya bergerak ke dalam tubuhku, mencoba membuatku kehilangan kendali. Tapi aku justru tersenyum dalam gairah. Aku mendesah dalam, tubuh bergetar saat Centia memperdalam gerakannya-tapi aku tidak mau menyerah. Aku menekan lebih kuat, menggerakkan lidah melingkar cepat di bagian sensitifnya sampai napasnya terputus. Dan tepat ketika tubuh kami berdua mulai gemetar hebat-hampir bersamaan mencapai puncak-ia berkata, "Berhenti." Kami berdua langsung berhenti. Napas tertahan. Tubuhku panas. Rasa yang nyaris pecah tertunda begitu saja. Jo bangkit perlahan dari tepi ranjang, suaranya tenang tapi tegas. "Jangan ubah posisi," katanya. Aku menurut, masih terbaring dalam formasi angka 69 dengan Centia, napasku belum sepenuhnya tenang. Bibir dan lidahku masih dekat dengan vaginanya yang hangat dan sudah sangat basah-terbuka, mengundang. Tapi aku tak bergerak lagi sejak diperintahkan berhenti tadi. Jo bergerak mendekat, penisnya tegak sempurna-panjang, tebal-dan langsung mengarah ke sela kaki Centia yang masih terbuka lebar karena posisinya. "Rara," bisik Jo tegas namun tenang, "Jangan tutup mata." Ia mendorong penisnya masuk pelan-pelan ke dalam v****a Centia. Aku hanya bisa menyaksikan, merasakan perubahan suasana dari cara tubuh Centia menegang pelan. "Ssshhh-" desahan tipis keluar dari bibir Centia saat vaginanya mulai merenggang untuk menerima p***s Jo. Tubuh Centia bergetar-aku tak tahu apakah karena sakit atau nikmat. Yang jelas, tubuhku ikut terasa panas. Jo menunggu beberapa detik di dalam sebelum mulai bergoyang pelan. Lalu tanpa melepas tatapan dari kami... "Rara," katanya serak, "jilat klitorisnya." Aku menarik napas perlahan, lalu kembali menunduk. Lidahku menyentuh k******s Centia tepat ketika tubuhnya bergerak naik turun mengikuti irama dorongan Jo. Setiap kali hentakan itu membuatnya terangkat ke atas ranjang, aku berusaha tetap menjaga ritme-bergerak cepat tapi lembut, menyesuaikan setiap gerak tubuh Centia meski tubuhku ikut terguncang. Dan ternyata, Jo belum puas sampai di situ. "Gunakan jarimu juga, sambil tetap jilat pakai lidahmu," katanya sambil terus bergerak mantap. Aku pun menuruti perintahnya. Sementara lidahku menjilati klitorisnya, jariku pun ikut menggesek cepat bagian itu. Centia terdengar semakin mendesah keras saat merasakan jariku ikut bermain bersama gerakan lidahku. Sementara itu aku berusaha tetap mengikuti ritme-satu jari, lalu dua-bergerak seirama dengan dorongan Jo. Terkadang ritmenya berubah, lebih cepat saat hentakannya menguat, membuat kami bertiga tenggelam dalam irama yang sama. "Ahh! Ahhh!! RARA!" jerit Centia tiba-tiba ketika k******s-nya ditindih oleh ujung lidah dan tekanan jariku secara serempak bersama dorongan p***s Jo ke dasar rahimnya. "Jangan berhenti!!" hardik Jo keras namun sensual-sementara pinggulnya makin liar menggenjot Centia. Lidah dan jariku terus bekerja-memutar, menekan, menyusup-mengikuti setiap hentakan Jo yang semakin liar. Tubuh Centia semakin gemetar di bawahku, suaranya pecah dalam ratapan yang tak bisa dikendalikan. Aku merasakan getaran dorongannya sampai ke tulang belakangku-setiap kali Jo masuk lebih dalam, tubuh Centia tersentak dan aku harus mempertahankan posisiku agar tetap menyentuhnya dengan tepat. Dan entah sejak kapan... lidah Centia juga belum pernah berhenti dari vaginaku. Meski terengah dan hampir kehilangan kendali, ia tetap menjilat-kadang pelan saat lelah menghampiri, kadang tiba-tiba cepat ketika dorongan Jo memicu reaksi refleks di tubuhnya. Rasanya... nyaris tidak tertahan. Aku menahan napas, seolah waktu melambat saat tubuh kami terus bergerak bersama dalam harmoni yang tak terdengar. Wajah Centia basah oleh keringat, bibirnya gemetar, matanya berkaca-kaca-dan tiba-tiba... "Ah! Ahhh!! TUAN JOOOO-!!" jeritnya keras, suara penuh kepasrahan dan ledakan rasa yang tak tertahan. Tubuhnya menegang total. Punggungnya melengkung tinggi. Jemarinya mencakar seprai hingga kain berkerut. Aku merasakan vaginanya berkontraksi kuat di bawah lidah dan jariku-panas, banjir, bergelombang hebat. Orgasmenya datang untuk yang kesekian kalinya. Aku bisa rasakan cairannya membasahi mulut dan tanganku ketika tubuhnya berguncang tanpa kendali-nafsu meledak begitu murni dari jiwanya menuju dunia nyata. Dan Jo? Ia hanya tersenyum... lalu perlahan menarik penisnya keluar darinya v****a Centia yang sudah banjir. Dengan gerakan tenang tapi tegas, ia menggeser posisi-mendekati kakiku yang masih terbuka lebar karena formasi angka enam puluh sembilan ini-lalu dengan satu dorongan mantap... "Hhhnggh!" aku mendadak mengerang saat p***s Jo masuk ke dalam vaginaku dengan kedalaman sempurna-rasanya masih panas dari gesekan dengan Centia tadi... masih basah... masih berdenyut kuat. Tentu saja itu milik dia: Tuan Kami. Ia tak banyak bicara. Jo hanya menggoyangkan pinggul pelan-pelan di awal... penisnya masuk sepenuhnya... diam sesaat... lalu berbisik rendah nan seksi menusuk udara: "Centia..." ujarnya menatap wajah sang pelayan yang belum pulih sepenuhnya dari o*****e dahsyat barusan. "Kayak Rara yang tadi tetap mainin vaginamu, sekarang balas dengan cara yang sama," perintahnya tegas. Jeda pendek terjadi. "Pakai jarimu di vaginanya, sambil tetap pakai lidahmu di klitorisnya," perintah Jo. Aku menahan napas saat Jo mulai bergerak di dalamku-perlahan, dalam, penuh kendali. Setiap dorongannya mengirim getaran panas ke seluruh tubuhku. Centia menatapku dengan mata berkaca-kaca-masih gemetar oleh sisa puncak tadi-tapi ia tidak berhenti begitu saja. Dengan jemari yang masih lembut bergetar, ia menyentuh vaginaku perlahan... lalu masuk satu jari... dua... mengikuti irama Jo yang kini semakin mantap. Lidahnya kembali menyentuh k******s-ku-lembut dulu seperti meminta maaf pada kesakitan yang akan datang... lalu cepat... agresif... seolah ingin membayar setiap detik kenikmatan yang baru saja ia terima dariku. "Ahh..." Desahan kecil keluar tanpa sadar. Aku mencoba menahannya, tapi sulit sekali-terlalu banyak rangsangan mengalir sekaligus: p***s Jo yang keras dan hangat di dalam vaginaku, jari Centia yang lincah dan terampil, lidahnya yang liar menjilati titik paling sensitif milikku... Dan aku tahu... aku tidak akan bertahan lama. Aku mengepalkan tangan di atas seprai, tubuhku bergetar hebat saat semua sensasi menyatu-dorongan dalam dari Jo, jari Centia yang masuk dan keluar cepat, lidahnya yang memutar di klitorisku tanpa ampun. "Jangan tutup mata," bisik Jo tajam sambil tangannya meraih rambutku, menarik sedikit ke samping agar wajahku terangkat. Aku mendongak-dan bertemu matanya. Tegas. Membara. Penuh kuasa. "Katakan siapa yang punya kamu," desisnya pelan, hampir tak terdengar... tapi mengguncang sampai tulang. "Punya Tuan... cuma punya Tuan... ah!" jawabku terengah-engah. Ia tersenyum-satu senyum kemenangan-lalu mempercepat dorongannya. Dan tepat saat tubuhku mulai menegang... otot vaginaku berkontraksi keras di sekitarnya... "JANGAN o*****e!" Perintah itu meledak seperti cambuk. Kami semua membeku-bahkan Centia sempat berhenti menjilat selama satu detik karena syok. Tapi aku... aku sudah nyaris meledak. Tubuhku gemetar hebat, napas tertahan, otot betis terasa kram karena mencoba menahan ledakan yang sudah ada di ambang pintu. "Tahan..." gumamnya sambil mengurangi kecepatan-masih dalam, masih panas-tetapi tak lagi liar. Matanya menatap langsung ke dalam jiwaku. "Aku belum kasih izin." Aku menahan diri dengan semua sisa tenaga yang tersisa. Rasannya seperti seluruh tubuhku akan meledak. Aku hanya bisa berguncang dalam setiap detak jantung yang lebih tinggi, seolah hanya akan butuh beberapa sentuhan lebih untuk menyalakan seluruh api yang sudah dibangun. Aku ingin berteriak frustrasi... tapi aku tahu aku tidak bisa. Ia masih punya kendali atas kami bertiga... ia belum cukup puas. "Tuan... aku... enggak tahan..." bisikku serak, suara pecah. Tubuhku gemetar-setiap otot menegang, napas tercekat, jantung berdegup seolah ingin keluar dari d**a. Tapi Jo hanya tersenyum kecil. Jari-jarinya masih menggenggam rambutku erat. Ia menarik sedikit lagi- memaksa leherku lebih tegak, lebih terbuka. "Lihat aku," perintahnya pelan. Aku memaksakan mata untuk tetap terbuka meski berkaca-kaca oleh tekanan rasa yang tidak bisa kulepaskan. Di samping itu... Centia mulai bergerak lagi-lidahnya menyentuh klitorisku... jemarinya masuk perlahan. Jo pun mulai bergoyang ulang. Dalam-dalam. Perlahan-lahan naik turun di dalam vaginaku yang sudah basah penuh keinginan dan getaran panas tak tertahan. Satu gerakan bersama: lidah Centia berputar cepat... jarinya masuk dua dengan ritme kuat... dan dorongan Jo tepat di titik paling dalam... Aku menjerit tanpa suara-hanya desisan pendek yang terjebak di tenggorokanku. "Aaaa-! Ngghhh!" Tubuhku nyaris meledak. Dan tepat saat aku yakin akan melampaui batas... "Sebentar lagi, Rara. Kita keluar bareng...!!!" katanya penuh gairah. Aku hanya bisa menegakkan kepala, menatap matanya yang tak lepas dari pandanganku. Ada ketegangan di antara kami-campuran antara rasa ingin dan dorongan yang sulit dikendalikan. Rasanya seperti satu kata dari Jo saja bisa membuat semua yang kutahan selama ini pecah begitu saja. Ia menarik napas. Matanya menyempit, tubuhnya mulai gemetar-tanda bahwa ia juga sudah di ambang batas. "Sekarang..." desisnya serak, hampir berbisik. "Lepaskan." Satu kata saja. Dan seperti petir yang melesat dari langit ke bumi-seluruh tubuhku meledak. "TUAANNNN!!!" jeritku terputus-putus saat o*****e menghantam dengan kekuatan luar biasa. Kontraksi hebat menyapu otot vaginaku, menjepit p***s Jo yang masih berdenyut kuat di dalam. Aku tidak bisa bergerak-rasa itu begitu dalam dan panas, seolah aku meleleh menjadi cairan murni hanya untuknya. Dan tepat bersamaan denganku... Jo mendesis keras. Pinggulnya bergerak sekali lagi-kuat, dalam, sampai benar-benar menembus ujung vaginaku. Lalu spermanya yang kental dan hangat terasa memenuhi rahimku- getaran terakhir dari nafsu Jo yang sejak awal mengendalikan semuanya dengan begitu tenang. Kami mencapai klimaks bersama-sama, tubuh kami basah oleh keringat. Malam ini bukan soal siapa yang lebih cepat, atau siapa yang paling keras menjerit-tapi tentang siapa yang paling rela menyerahkan diri. Dan aku tahu... Aku sudah membuktikannya. Perlahan kami berpisah dari posisi itu, tapi masih saling terhubung oleh perasaan yang sama. Centia bangkit dari posisinya sambil tersenyum kecil menatapku, sebelum merebahkan diri di sampingku. Kami saling berpandangan, lalu menatap Jo yang kini duduk santai di ujung ranjang. Tidak ada kata-kata besar, tidak ada janji. Hanya rasa puas yang sunyi-dan keyakinan bahwa malam ini akan menjadi bagian dari kami yang tidak akan hilang begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD