Jerat Tanpa Tali

3360 Words
Selama beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Yang terdengar hanya napas kami yang masih berat dan detak jantung yang perlahan kembali stabil. Aku berbaring di ranjang bersama Centia, tubuh kami masih basah oleh keringat, sisa dari kenikmatan yang baru terjadi. Kami tetap diam, menunggu Jo memberi instruksi berikutnya. Ia lalu bergerak dari posisinya dan duduk di tengah ranjang, bersandar pada kepala kasur. Gerakannya tenang, seolah ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Jo lalu menatapku dan berbicara dengan suara jelas, “Rara, ambilin HP kamu.” Aku menoleh sedikit, bingung menatapnya. “Kenapa?” Jo tersenyum tipis. “Aku mau atur sesuatu,” ucapnya dengan nada tegas, seperti tidak memberi ruang untuk bertanya lebih jauh. Aku lalu bangun dan segera beranjak mengambil ponsel di meja samping ranjang dan menyerahkan padanya. Setelah itu, aku duduk bersimpuh di depan Jo, menunggu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Jo menatapku sebentar; tatapannya dalam tapi sulit ditebak. “PIN-nya berapa?” tanyanya lagi. “Biar kalau aku butuh buka nanti, nggak harus nunggu kamu.” Aku terdiam. Permintaan itu terdengar agak aneh, tapi tatapannya begitu tenang seolah ingin meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja. Akhirnya aku menyebutkan enam angka itu dengan pelan. Jo mengetiknya, membuka ponselku, dan mulai melakukan sesuatu tanpa menjelaskan apa pun. Beberapa menit berlalu sebelum ia berkata, “Aku barusan pasang telegram dan masuk pakai nomormu. Aku juga masukin kamu ke satu grup.” Ia memutar layar ponsel ke arahku. “Nih, lihat sendiri,” katanya santai. Sebuah notifikasi muncul: Jo has added you to the group “Para Pelayan Jo.” Aku membaca nama grup itu dan menatapnya dengan alis terangkat. “Para Pelayan Jo?” Jo tertawa kecil, suaranya ringan tapi ada sesuatu di baliknya. “Grup kecil biar kita gampang komunikasi. Di dalamnya cuma ada aku, kamu, dan Centia,” ujarnya santai. Setelah memberi waktu agar aku bisa melihatnya, Jo mengulurkan tangannya, mengambil ponsel itu kembali. Jo mengangkat wajahnya, lalu berkata pelan, “Centia, bangun. Duduk di sebelah Rara.” Nada suaranya tetap tenang, tetapi jelas—instruksi yang tidak meninggalkan ruang untuk ragu. Aku menoleh sekilas ke arah Centia. Ia tampak terkejut sesaat, namun tetap bangun dan merangkak mendekat. Ia mengambil posisi di sampingku, namun tampak jelas di matanya masih tersirat kebingungan. Saat kami sudah cukup dekat, Jo berkata pelan, “Diam. Jangan bergerak.” Jo memegang bahuku, lalu memiringkanku sedikit ke arah Centia. Ia kemudian mengarahkan tangan Centia ke belakang punggungku dan mengatur posisi kami agar tubuh kami saling mendekat—seperti orang yang sedang berpelukan. Gerakannya tenang dan teratur, seolah ia hanya sedang menyusun pose untuk sebuah foto. Saat posisi kami sudah sesuai keinginannya, Jo berhenti sejenak. Ia menatap Centia—tatapan singkat, namun jelas mengandung sesuatu. Sebuah isyarat halus, hampir seperti kode yang hanya Centia yang mengerti. Tanpa peringatan, Centia tiba-tiba mendekat, memegang daguku, lalu mencium bibirku dengan cepat dan penuh gairah. Aksinya begitu mendadak hingga membuatku terpaku. Beberapa saat berikutnya, Jo mengangkat ponselku dan menangkap momen itu melalui kamera—mengambil beberapa foto dengan cepat, memastikan seluruh pose yang ia atur masuk ke dalam bingkai. Begitu Jo selesai, Centia melepaskan ciumannya, kembali mengambil jarak kecil di antara kami. Sesi singkat itu berakhir ketika Jo menepuk kedua sisi ranjang di dekatnya—gerakan sederhana, tetapi cukup sebagai isyarat agar kami mendekat. Aku bergerak lebih dulu, merangkak ke arahnya dan duduk di sisi kanannya. Beberapa detik kemudian, Centia menyusul dengan langkah hati-hati, duduk di sisi kirinya. Setelah kami berdua duduk di sampingnya, Jo membuka telegram, men-scroll sebentar, lalu memilih foto yang baru diambil. Ia mengetuk layarnya beberapa kali sebelum menetapkannya sebagai foto profil grup. Tak lama kemudian, layar ponsel itu berputar diarahkan ke kami. “Lihat,” ujar Jo pelan, memperlihatkan hasilnya—foto kami yang kini resmi menjadi foto profil grup telegram. Di layar muncul tulisan: Group Photo Updated. Saat itulah aku sadar: grup itu bukan sekadar tempat ngobrol. Grup itu adalah alat bagi Jo untuk mengatur kami—aku dan Centia—di bawah arahannya. Lewat grup itu, ia bisa memberi instruksi, memantau, dan memastikan semuanya berjalan sesuai keinginannya. Jo menatap layar ponselku. Aku dan Centia memperhatikannya tanpa berkata apa pun. Ia membuka telegram yang baru saja ia pasang, masuk ke grup itu, lalu mulai mengetik. Suara ketikannya terdengar jelas. Beberapa detik kemudian, ponsel Centia yang ada di meja bergetar. Ia mengambilnya tanpa ragu, seolah sudah tahu apa yang akan muncul. Ia membaca pesannya dengan tenang, seakan ini bukan hal yang asing baginya. Aku ikut melihat ponselku. “Centia, jawab aku di sini.” Centia langsung mengetik tanpa keraguan. “Iyaa.” Jo tersenyum kecil dan mengetik balasan dengan ritme yang pasti. “Aku cuma mau pastikan Rara sudah terhubung di grup.” Centia membaca pesannya, lalu mengangguk kecil. Jo kemudian menatapku sebentar sebelum mengirim pesan berikutnya untuk kami berdua. “Ke depannya, apa pun yang aku minta akan kukirim lewat sini. Kalian cuma perlu mengikuti instruksiku.” Ada jeda singkat sebelum ia mengirimkan pesan lain: “Mulai sekarang, kita bertiga bergerak dalam satu alur yang sama.” Centia membaca pesan itu tanpa perubahan ekspresi, seolah ia sudah memahami pola yang biasa Jo gunakan. Aku ikut merasakan perubahan suasananya—dari yang awalnya tenang menjadi lebih terarah, seperti Jo sedang menyusun bentuk hubungan kami secara lebih terstruktur. Setelah itu, Jo kembali menatapku. “Ra, sekalian satu lagi,” katanya tenang. “Aku mau wajahku didaftarin ke Face ID HP kamu. Biar nanti aku lebih gampang buka kalau aku butuh.” Permintaan itu terasa makin janggal, tapi aku hanya mengangguk. Jo mengambil ponselku dan mendaftarkan wajahnya ke Face ID, seolah itu hal yang sepenuhnya wajar. Aku menatap Jo, jantungku tiba-tiba berdebar lebih cepat. Cara ia mengatur semuanya—hangat, tegas, dan intens—membuatku merasa sulit menolak apa pun yang ia katakan. “Jadi… sekarang aku punya dua pelayan plus akses ke HP-nya?” godanya pelan. Matanya terlihat senang saat ponselku memindai wajahnya, dan Face ID langsung mengenalinya. Ia memandangku dan berkata: “Kalau nanti aku kirim instruksi… tolong dibalas cepat ya, Rara.” Centia tersenyum kecil di sampingnya, seperti sudah terbiasa dengan pola Jo. Entah kenapa, aku justru merasa semakin penasaran menunggu perintah pertama yang akan masuk ke ponselku. Setelah Face ID selesai dipindai, Jo masih memegang ponselku. Ia membuka layar beranda dan menggulirnya perlahan, seperti sedang memeriksa isinya satu per satu. Gerakannya sangat santai, padahal ini terasa sangat pribadi bagiku. Centia melihatnya tanpa menunjukkan kejutan, seolah hal ini bukan hal baru baginya. “Jo, kamu ngapain?” tanyaku hati-hati. “Ngecek pesan,” jawabnya tanpa menutup layar. “Aku cuma mau tahu… kamu dekat sama siapa?” Pertanyaannya membuatku terdiam. “Aku lagi nggak dekat sama siapa-siapa,” jawabku akhirnya. “Aku lagi fokus ke diri sendiri. Lagipula, aku malas nanggepin cowok-cowok iseng yang tiba-tiba nyapa.” Jo menghentikan jarinya dan menatapku. “Bagus,” katanya pelan. “Soalnya laki-laki yang sekarang kamu punya itu cuma aku.” Aku tertegun mendengar kalimat itu—tenang, tapi terasa menekan. Jo kemudian menutup aplikasi pesan dan menatapku lebih serius. “Sekarang aku perlu satu hal lagi. Aku mau kamu tautin semua akun media sosial kamu ke HP-ku—i********:, w******p, Email. Supaya kalau aku butuh akses, aku nggak harus minta kamu dulu.” Dadaku terasa mengencang, tapi ia tetap menunggu dengan sabar. “Buat apa, Jo?” “Supaya aku bisa jagain kamu,” ujarnya tenang, tapi terdengar seperti perintah. “Mulai sekarang kamu di bawah pengawasanku, Ra. Jadi kalau mau keluar, ketemu orang, atau posting sesuatu, kamu harus izin dulu ke aku.” Aku menatapnya, memastikan aku tidak salah dengar. “Izin… untuk semuanya?” Jo mengangguk pelan. “Iya. Aku harus tahu kamu di mana, sama siapa, dan lagi ngapain. Aku nggak mau kamu ngambil keputusan tanpa aku tahu. Ini juga buat kebaikanmu.” Nada suaranya lembut, tetapi tetap membuatku tertekan. Ada sesuatu dalam ucapannya yang terasa membatasi gerakku. Ia memberikan ponselnya dan menunggu dengan tenang. Dengan tangan gemetar, aku mulai menautkan akun-akunku—i********:, w******p, sss, dan lainnya—ke ponsel Jo. Setiap kali aku selesai menautkannya, Jo memeriksanya dan tersenyum kecil. “Bagus,” katanya pelan. “Mulai sekarang, kamu nggak perlu mikirin apa pun. Aku yang ngatur semuanya.” Aku hanya diam, menatapnya tanpa tahu harus berkata apa. Jo bukan lagi sekadar orang yang menenangkanku malam itu. Sekarang, perlahan-lahan ia menjadi seseorang yang mengendalikan seluruh hidupku. Jo tersenyum lembut, tetapi tatapannya tajam, seakan bisa membaca pikiranku. “Tenang aja, Ra… Kamu nggak akan kehilangan apa-apa. Justru kamu bakal merasa lebih aman.” Ia menarikku ke dalam pelukannya. Dagunya bersandar di kepalaku. Rasanya hangat dan menenangkan, tetapi ada bagian di dadaku yang terasa sesak—ada sesuatu yang ingin lepas tapi tidak tahu ke mana harus pergi. “Nggak usah takut,” bisiknya sambil menyisir rambutku pelan. “Kamu punyaku... dan aku nggak akan biarkan siapa pun—bahkan dirimu sendiri—menghancurkan itu.” Aku menelan ludah dan mencoba bernapas perlahan. Ada hangat yang menenangkan, tapi juga dingin yang membuatku merasa terikat. Tanpa sadar, aku mengangguk kecil—gerakan sederhana yang menandakan satu hal: aku sudah menyerahkan kendali. “Bagus… begitu, Ra. Kamu nggak akan nyesel,” bisik Jo di telingaku. Tangannya membelai rambutku perlahan, seperti menenangkan anak kecil. Sentuhannya lembut, tapi ada sesuatu di baliknya—ritme yang membuatku mengikuti napasnya tanpa sadar. Aku bisa merasakan dagunya di rambutku dan mendengar napasnya yang stabil. Namun pandanganku jatuh pada ponsel di tangannya—ponselku. Layar itu kini sepenuhnya miliknya. Semua akun sudah tersambung, semua pesan, semua notifikasi, bahkan chat yang belum kubuka, sekarang ada dalam genggamannya. “Kamu tahu?” katanya pelan. “Dari semua hal yang bisa kamu kasih, kepercayaanmu yang paling berharga.” Jo menatapku. Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu di matanya yang sulit kutebak. “Tapi ingat ya…” ucapnya lembut, hampir seperti janji. “Kalau kamu melenceng sedikit aja… bukan karena aku jahat kalau harus menghukum atau memperbaiki kamu. Aku cuma mau kamu tetap utuh… dalam genggamanku.” Kata itu terdengar lembut, tapi terasa seperti jerat. Jemariku refleks menggenggam seprai saat jarinya menyentuh pipiku—sentuhan yang seharusnya menenangkan, tetapi terasa seperti cap yang tak bisa kuhapus. “Lagipula…” bisiknya lagi, sangat dekat di telingaku sampai kulitku merinding. “Kamu punya siapa selain aku?” Pertanyaan itu langsung terasa berat. Aku ingin menjawab, ingin berkata bahwa aku masih punya kehidupan di luar dirinya. Tapi kata-kata itu hanya berhenti di tenggorokan. Aku hanya diam. Dan dalam diam itu, aku sadar: ada bagian dari diriku yang baru saja hilang. Detak jantungku bergetar, seperti ingin melompat, tetapi tertahan oleh sesuatu yang lebih kuat. Aku ingin menjauh, tapi tubuhku tetap diam—seolah suaranya mengunci gerakanku. “Enggak ada…” bisikku akhirnya, hampir tak terdengar. “Aku… cuma punya kamu.” Jo tersenyum. Senyum lembut yang terasa seperti kemenangan. Matanya berkilat, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan apa yang ia mau. Ia mencondongkan wajah dan mencium ujung bibirku dengan ringan—bukan penuh gairah, tapi seperti tanda kepemilikan. “Jawaban sempurna,” gumamnya, terdengar seperti ia sedang memuji hasil kerjanya sendiri. “Kamu punyaku,” bisiknya lagi. Suaranya tenang tapi tegas, seperti peringatan yang tidak bisa ditolak. “Dan aku nggak akan biarkan siapa pun—atau apa pun—mengambilmu dari aku.” Jemarinya mengangkat daguku perlahan sampai aku menatapnya. Tatapannya tajam, penuh kendali. Tidak ada kelembutan di sana—hanya keyakinan bahwa aku harus tetap berada di bawah pengawasannya. “Kalau kamu patuh, semuanya akan berjalan mudah,” katanya sambil menyentuh bibirku dengan ibu jarinya. “Tapi kalau kamu berani melawan…” Ia berhenti sebentar, menatapku dalam. “…aku akan pastikan kamu belajar caranya tunduk.” Dadaku terasa berat. Aku ingin bicara, ingin menyanggah, tapi suara itu tidak keluar. Ketika ia menarikku lagi ke pelukannya—erat, menekan—yang bisa kulakukan hanyalah memejamkan mata dan mengangguk perlahan di bahunya. Lagi. Seolah tidak ada pilihan lain. Seolah kehendakku sendiri tidak lagi menjadi milikku. Jo tertawa pelan saat aku mengangguk dalam dekapannya. Dia menjauhkanku dari tubuhnya, menatapku, lalu menekan ujung bibirku dengan ibu jarinya, menurunkannya sedikit. “Bagus. Itu yang aku suka.” Aku tetap diam, tidak sanggup berkata apa pun. Ia menarikku ke pangkuannya sampai aku duduk di atasnya. Tubuhnya terasa lebih besar, membuatku merasa kecil dan tidak berdaya di bawah tatapan dan sentuhannya. Jo memelukku erat. Jemarinya perlahan menyentuh kulit telanjangku, membuat tubuhku menegang. “Jangan gemetar,” bisiknya dekat di telingaku. “Aku cuma mau kamu tahu rasanya dimiliki sepenuhnya.” Napasnya hangat di kulitku, suaranya rendah dan berat. “Mulai sekarang, tubuhmu juga bukan milikmu sendiri. Setiap bagian darimu… aku yang atur.” Ia memiringkan wajahku dengan jarinya sampai tatapan kami bertemu. Kali ini, tidak ada lagi permintaan izin. “…dan kalau kamu lupa?” katanya pelan. Ia menempelkan keningnya ke pelipisku. “Aku akan ingatkan. Berkali-kali. Sampai kamu benar-benar hafal: kamu punyaku.” Lalu ia menunduk dan mencium leherku perlahan—seperti meninggalkan tanda yang tidak akan hilang. Aku menahan napas saat bibirnya menyentuh leherku—ciuman yang terasa seperti tanda kepemilikan, bukan kasih sayang. Tubuhku masih gemetar meski aku berusaha menenangkannya. Tapi Jo tahu. Ia selalu tahu. Ia mengangkat kepala perlahan dan menatapku dalam, seperti membaca setiap ketakutanku. “Kamu nggak perlu takut… selama kamu jujur sama aku,” gumamnya pelan, seolah merasa iba. Jemarinya menyentuh pipiku, menyusuri garis rahang dengan lembut. Aku mengangguk kecil. “Iya Jo…” Suaraku hampir tidak terdengar. Jo tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke matanya. “Ulangi,” bisiknya. “Apa?” tanyaku lemah. “Kamu punya siapa?” Rasa dingin mengalir di punggungku. Aku tahu apa yang ia inginkan. “A-aku… punyamu, Jo,” ucapku pelan. Kata-kata itu seakan tersangkut di tenggorokan. Jo menatapku tanpa berkedip. “Sekarang bilang: ‘Aku nggak punya siapa-siapa selain Jo.’” Dadaku terasa semakin sesak. Tapi aku tahu—tidak ada ruang untuk menolak. Hanya ada pelukannya yang menahan, dan suara rendahnya yang tidak bisa dibantah. “Aku… nggak punya siapa-siapa…” suaraku pecah di tengah kalimat. Jo menekan punggungku lebih erat ke dadanya, memberi isyarat agar aku melanjutkan. “…selain Jo,” lanjutku pelan, seperti menutup bagian lain dari diriku. Ia menarik napas, terdengar puas. Kepalanya sedikit menengadah, matanya menatap langit-langit kamar. “Nggak peduli apa yang kamu rasakan nanti…” katanya lembut tapi tajam. “Kamu harus ingat, setiap kali hatimu berdetak… itu bukan untukmu lagi.” Ia menunduk dan mencium pelipisku sekali. “…itu punyaku.” Aku terdiam dan memejamkan mata saat bibirnya menyentuh pelipisku—ciuman yang terasa seperti penegasan, bukan ketenangan. Tubuhku terasa asing, seperti bukan milikku lagi. Setiap detak jantung seolah mengikuti kehendaknya. Jo memelukku lebih erat, seakan ingin menahanku di tempatnya. Napasnya teratur dan tenang, seolah tidak ada yang aneh. Centia masih berada di ruangan yang sama, duduk tidak jauh dari kami. Ia hanya memperhatikan dalam diam, tanpa memberi reaksi. Kehadirannya terasa, tapi ia tetap pasif dan tenang, seperti hal ini sudah biasa baginya. Di balik keheningan itu, ada suara kecil di dalam diriku—bagian dari diriku yang dulu, yang masih bisa bernapas bebas tanpa takut harus menaati seseorang. Aku tidak berani membuka mata. Karena kalau aku melihat bayangan itu, mungkin aku akan menangis. Atau mungkin mencoba lari. Tapi Jo selalu tahu apa yang ingin kulakukan sebelum aku melakukannya. “Shhh…” bisiknya sambil menyusupkan jemarinya ke rambutku. “Jangan berpikir keras-keras.” Ia tertawa kecil—lembut, menenangkan, tapi juga menahan. “Kamu nggak usah mikir lagi… kan kamu punyaku.” Aku tetap diam, bukan karena takut, tapi karena tidak bisa menemukan kata-kata. Setiap kali ingin bicara, suaraku seperti terhenti sebelum keluar. Jo menarik napas panjang seolah menikmati keheningan. Ia mengecup puncak kepalaku pelan, lalu mendekat ke telingaku. “Aku senang kamu nggak melawan,” bisiknya. Nada suaranya terdengar angkuh, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan kemenangan besar. Aku hanya bisa diam. Banyak hal yang ingin kukatakan, tapi yang keluar hanya gumaman kecil tanpa arti. Aku tetap diam, terjebak di bawah kendalinya. Rasanya seperti kehilangan kebebasan, seperti hidupku sepenuhnya ada di tangannya. Aku tidak bisa bergerak bebas, dan tidak bisa membela diri. Jo menyeringai puas melihat keadaanku. Ia mendekat hingga bibirnya hampir menyentuh telingaku. “Sudah lama aku mau lihat kamu seperti ini,” bisiknya pelan. “Sebelum ini… kamu berani, mandiri, dan keras kepala. Aku suka itu,” katanya sambil menyisir rambutku. “Tapi aku lebih suka waktu kamu seperti sekarang—lemah, pasrah, dan di bawah kendaliku.” Aku menahan napas, jantungku berdegup kencang seolah ingin melarikan diri dari d**a. Setiap kata yang keluar dari mulut Jo terasa menembus dalam—bukan karena kekerasan, tapi karena kelembutan yang perlahan menghancurkan. Ia tidak berteriak, tidak memukul… namun menghapusku sedikit demi sedikit. Aku ingin membantah. Ingin berteriak bahwa aku masih ada, bahwa aku bukan boneka yang bisa ia kendalikan sesuka hati. Tapi lidahku kelu, seolah seluruh otot menyerah sebelum pikiranku sempat melawan. Jo merasakan getaranku—kecil, cepat, seperti burung yang terjebak di dalam sangkar. “Jangan khawatir,” bisiknya sambil menempelkan telapak tangannya di dadaku. “Aku nggak akan ngecewain kamu… asal kamu tetap begini.” Napasnya terasa hangat di kulit leherku. “Mulai sekarang, setiap kali kamu bangun, pesan pertama harus buat aku,” katanya pelan. Ia menggeser ponsel di dekat bantal. “Dan sebelum tidur, pesan terakhir juga harus aku.” Senyumnya tipis, tapi sarat makna. “Karena hidupmu? Sekarang punya ritme baru. Rhythm by me.” Aku hanya bisa mendengarkan. Dan perlahan, tanpa sadar, bibirku membentuk satu kata kecil: “Siap…” Jo tertawa pelan, seperti seseorang yang baru saja menang dalam permainan yang ia ciptakan sendiri. Ia menarikku lebih dekat hingga d**a kami saling bersentuhan. Tubuhnya terasa besar dan kuat, membuatku hanya bisa terpaku tanpa bisa bergerak. “Kamu sangat patuh,” katanya lembut. “Itu bagus. Tapi aku ingin kamu benar-benar tunduk padaku.” Aku terdiam. Ingin melawan, tapi tak tahu caranya. Ingin membantah, tapi suaraku seolah terperangkap di dalam d**a. Ingin bebas dari genggamannya, tapi aku tahu aku tak punya kekuatan untuk itu. Yang bisa kulakukan hanyalah menerima. Aku bisa merasakan detak jantung Jo—stabil, tenang, tanpa sedikit pun rasa gugup. Ia tampak begitu yakin bahwa aku sudah sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Ia bahkan tak perlu berusaha lagi untuk menundukkanku. Aku sudah menyerah pada kekuasaannya. “Saat ini kamu punyaku. Setiap bagian dari dirimu punyaku,” katanya pelan namun tegas. “Apa pun yang terjadi, kamu tidak boleh melawannya.” Aku tetap diam, menyadari betul bahwa kata-katanya kini adalah kenyataan. Aku adalah miliknya. Aku seperti benda yang dimiliki. Seperti boneka tanpa kendali. Jo menarik tubuhku hingga wajah kami hanya terpaut beberapa sentimeter. Ia menatapku tajam, memperhatikan setiap detail di wajahku—termasuk ketakutan yang tak bisa kusembunyikan, dan rasa pasrah yang mulai tumbuh di dalam diriku. Tatapannya menunjukkan kepuasan atas ketakutanku dan ketundukanku yang terpampang di mataku. Ia tersenyum lalu menjatuhkan ciuman lembut di keningku, lalu turun ke kedua mataku yang otomatis terpejam saat merasakan ciuman itu. Terakhir, dia mengecup bibirku, menempelkannya cukup lama hingga terdengar debaran jantungku. “Kamu sangat mempesona waktu lagi kayak gini,” katanya lembut. “Enggak melawan, cuma tunduk pada perintahku.” Aku membuka mata dan menatapnya. Kurasa aku tahu apa maksudnya. Aku bukan orang lagi di matanya—hanya boneka, hanya mainan. Aku terdiam, tidak sanggup membalas. Rasanya seperti semua kemampuan untuk melawan telah hilang. Aku hanyalah tubuh tanpa kendali, menerima apa pun yang ia inginkan. Aku adalah bonekanya. Aku adalah mainannya. Jo kembali menarik tubuhku, mendekapku erat dalam pangkuannya, sehingga posisi kami menjadi intim. Hangat kembali menjalar di sekujur tubuhku. Pelukannya seperti memberi arti bahwa ia sangat puas, seperti memiliki sesuatu yang sangat berharga yang akhirnya menjadi miliknya. "Mulai sekarang, enggak ada orang lain yang bisa nyentuh tubuhmu selain atas izinku." katanya dengan tegas. Dadaku berdebar cepat, lebih kuat dari sebelumnya. Di dalam hati, aku tahu Jo benar. Aku sepenuhnya berada di bawah kendalinya—tubuhku, pikiranku, bahkan perasaanku. Aku ingin melawan, tapi tak tahu bagaimana caranya. Tak ada kekuatan tersisa untuk melawan balik. Yang bisa kulakukan hanyalah diam di atas pangkuannya, seperti boneka tanpa kendali atas dirinya sendiri. Di sudut pikiranku, masih ada sedikit suara yang berbisik untuk pergi, tapi suara itu terlalu kecil untuk terdengar. Dan perlahan, aku mulai takut kalau suara itu suatu hari akan benar-benar hilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD