Ponsel di atas meja tiba-tiba berdering, memecah keheningan kamar. Suaranya sebenarnya biasa saja, tetapi setelah semua yang terjadi, bunyinya terasa jauh lebih keras. Centia terkejut lalu segera mengambil ponselnya.
Di layar muncul nama “Mama”. Wajahnya langsung berubah—antara panik dan canggung.
“Aduh… aku lupa,” gumamnya pelan.
Ia sempat menatapku dan Jo, seolah meminta izin. Jo mengangguk, memberi tanda bahwa ia mengizinkan. Centia pun duduk di tepi ranjang dan menekan tombol hijau.
“Halo, Ma…” suaranya pelan dan agak serak, berusaha terdengar tenang.
Dari seberang, suara ibunya terdengar cemas dan sedikit tegas,
“Kamu di mana, Nak? Masih di rumah Rara? Sekarang sudah jam delapan, ingat ya, jam dua belas kita harus berangkat ke kondangan. Cepat pulang, Mama sudah siapin bajumu.”
“Iya, Ma… maaf. Aku bentar lagi pulang, ini baru bangun,” jawab Centia cepat-cepat.
Ia sempat melirik ke arahku, lalu menambahkan dengan nada hati-hati,
“Tapi aku sama Rara mau beli sarapan dulu, Ma. Sekalian makan bareng, habis itu langsung pulang, boleh ya?”
Dari ujung sana terdengar suara ibunya yang sedikit melunak,
“Ya sudah, tapi jangan lama-lama. Makan yang cepat, nanti kesiangan.”
“Iya, Ma, tenang aja. Aku nggak lama kok,” balas Centia sambil tersenyum lega.
Jo memperhatikan dari ujung ranjang. Sementara itu, Centia terus mengangguk kecil, mendengarkan ibunya.
“Ya, Ma. Iya, aku segera pulang. Jangan marah, ya…”
Begitu panggilan itu berakhir, Centia menatap layar ponselnya lama, lalu menarik napas panjang. Ia tampak menimbang sesuatu—antara rasa bersalah, lega, dan sedikit kebingungan. Jo hanya tersenyum kecil, sementara aku masih berbaring, memperhatikan perubahan ekspresinya.
“Aku harus pulang sekarang,” katanya lirih sambil duduk di tepi ranjang, merapikan rambut yang berantakan.
Jo mengangguk, suaranya tenang,
“Pergilah. Keluarga tetap nomor satu.”
Centia masih duduk di tepi ranjang, menatap lantai beberapa saat sebelum akhirnya berdiri.
“Jo… boleh aku mandi sebentar? Biar bersih sebelum pulang,” katanya pelan.
Jo mengangguk pelan.
“Boleh aja. Tapi kamu mandi sendiri. Rara tetap di sini,” katanya.
Centia hanya tersenyum tipis.
“Terima kasih,” ujarnya pelan.
Tanpa banyak bicara, ia berjalan menuju kamar mandi. Centia terlihat masuk dan menutup pintunya pelan. Yak lama kemudian, suara air mulai mengalir dari balik pintu kamar mandi.
Napasku belum sepenuhnya tenang saat Jo berdiri dari ujung ranjang. Tatapannya kini tertuju padaku— tenang, tapi penuh makna. Sebelum mendekat, Jo membuka laci meja dan mengambil beberapa barang.
Aku tidak melihat jelas apa saja, namun gerakannya teratur dan yakin, seolah semua sudah ia rencanakan.
“Rara, tutup matamu,” bisiknya.
Aku langsung menurut. Perlahan, kelopak mataku menutup rapat ketika ia mengambil selembar kain hitam dari laci meja—lembut tapi agak tebal. Ia melilitkannya di mataku, sampai semuanya menjadi gelap.
Aku bisa merasakan jemarinya bergerak di kulit leherku saat ia mengikat kain itu dengan hati-hati—cukup kencang agar tidak lepas, tapi tetap nyaman.
“Lidahmu masih ada tugas nanti,” katanya dengan senyum tipis.
“Tapi sekarang... diam dulu.”
Sebelum aku bereaksi, sesuatu yang dingin menyentuh bibirku—sebuah ball gag kulit hitam berukuran sedang. Jo memasukkannya perlahan ke dalam mulutku, lalu mengencangkannya di belakang kepala dengan sabuk lembut yang pas menahan daguku agar tidak terlalu terbuka. Desahan refleks kecil keluar dari hidungku.
“Aaaa—! Ngghhh!”
Jo mendengarnya dan tertawa pelan.
“Tahu apa artinya ini?” katanya sambil mengambil borgol kulit yang bentuknya menyerupai sabuk dari meja.
“Ini bukan sekadar alat... ini tanda bahwa kamu benar-benar dalam kuasaku.”
Ia duduk di sampingku dan memegang pergelangan tanganku. Satu per satu ia memasangkan borgol kulit itu, suara gesekan talinya terdengar jelas saat dikencangkan. Ia kemudian melakukan hal yang serupa pada kakiku. Jo menarik sedikit betisku ke atas ranjang sebelum memasang borgol kulit tipis namun kuat di kakiku. Sekarang aku benar-benar tidak bisa bergerak bebas.
Tertahan di posisi itu, aku hanya bisa diam dalam gelap—terlilit rasa pasrah dan tenang, saat tubuhku seolah terkurung oleh pengaruhnya yang tegas tapi tetap penuh kendali.
Dari balik pintu kamar mandi, suara air masih terdengar mengalir dan bergemericik. Centia belum juga keluar. Sementara Jo... ia sudah punya rencana lain untuk hari ini—bersama kesetiaanku yang hanya untuknya.
“Diam aja,” bisiknya lembut di telingaku, nadanya seperti sentuhan yang membuat tubuh bergetar.
“Nanti kamu akan terbiasa.”
Aku hanya bisa terdiam. Tubuhku terkunci, mulut terhalang bola kulit yang membuatku hanya bisa bernapas lewat hidung. Kini telingaku menangkap setiap suara dengan lebih jelas: gesekan kain saat Jo bergerak, derit kecil ranjang ketika ia duduk kembali di dekat kakiku, dan suara air dari kamar mandi—Centia masih di dalam.
Tapi bukan itu yang membuat jantungku kembali berdetak cepat. Ada sesuatu di udara—dalam hening setelah semua yang terjadi tadi—yang terasa seperti awal baru, bukan akhir.
Jo menyentuh pahaku perlahan. Jemarinya terasa dingin di awal, tapi panas segera menjalar dari titik sentuhan. Lalu ia menarik garis halus dari lutut hingga pangkal paha—pelan, seolah sengaja membuatku menahan napas. Kemudian Jo berhenti tepat di sana. Di batas antara kendali dan keinginan.
“Aku tahu kamu dengerin aku,” bisiknya pelan di dekat telinga kananku.
“Meski enggak bisa bicara… meski enggak bisa melihat… kamu tahu ini punya siapa.”
Aku mengangguk perlahan—gerakanku terbatas oleh borgol dan penutup mata—tapi sepertinya cukup untuk membuatnya mengerti. Aku merasakan ia tersenyum… dalam diam yang dipenuhi hasrat tanpa perlu kata.
Dari arah kamar mandi, suara air perlahan berhenti. Jo bangkit perlahan, tenang dan percaya diri, seolah yakin waktu sepenuhnya miliknya hari ini. Ketika pintu mulai terbuka, ia sempat membungkuk ke arahku sekali lagi.
“Jangan takut,” bisiknya lembut, hampir seperti hembusan angin.
Aku hanya bisa mendengar—napas Centia yang masih berat setelah mandi, dan langkah pelan di lantai dingin. Tubuhku masih terkunci, tapi pikiranku melayang... setiap detik terasa seperti janji yang belum selesai.
Tiba-tiba, suara Jo memecah keheningan.
“Centia,” panggilnya pelan namun tegas.
“Ke sini.”
Langkah kaki berhenti. Ada jeda singkat—seolah ia menunggu perintah berikutnya dengan napas tertahan.
“Lihat dia,” lanjut Jo tenang.
“Enggak bisa bicara. Enggak bisa melihat. Tapi tetap punyaku sepenuhnya.”
Aku merasakan kain penutup mata bergeser sedikit saat Jo menyentuhnya—tapi tidak dibuka. Sentuhan itu seperti penegasan, bahwa gelap inilah tempatku sekarang: ruang di mana hanya suara dan rasa yang hidup.
“Berdiri," perintah Jo datar, tapi tak bisa dibantah.
Aku berusaha menggerakkan tubuh yang masih terkunci, namun borgol kulit di pergelangan dan mata kaki membuat setiap gerakan terasa kaku. Dua tangan kuat membantuku duduk, lalu berdiri—Jo memegang lenganku dengan kendali sempurna, seolah tahu betul seberapa lemah aku sekarang.
Perlahan, ia menuntunku beberapa langkah: ke lemari besar di sisi ruangan. Pintunya terbuka dengan suara derit pelan. Dingin menyentuh kulitku sesaat sebelum tubuhku dimasukkan ke dalam ruang sempit itu.
“Naikkan lenganmu...," bisiknya.
Aku mengangkat kedua tanganku yang terikat setinggi mungkin meski gemetar. Jo kemudian melepaskan borgol di salah satu pergelangan tanganku. Ia mengaitkan sisi borgol yang terbuka itu pada gantungan logam di dalam lemari, memastikan talinya menggantung dengan kuat. Setelah itu, ia kembali mengaitkan borgol tersebut ke pergelangan tanganku, membuatku terangkat lebih tinggi dan tubuhku tertarik ke belakang.
Kakiku nyaris tidak menyentuh dasar lemari. Tubuhku melengkung lemah seperti busur—d**a naik, pinggul tertahan oleh posisi ini. Napasku memburu lagi, masuk lewat hidung dengan ritme cepat dan dangkal.
“Bagus…” gumamnya pelan dengan nada puas sambil memastikan borgol terpasang kuat dan tidak goyah.
“Diam di sini dulu… aku akan mengantar Centia ke bawah untuk memesan kendaraan online.”
Ia mundur selangkah keluar dari lemari, lalu menutup pintunya pelan-pelan—hanya menyisakan celah tipis cahaya yang menusuk gelap tempatku terpenjara.
Dalam sunyi itu, rasanya bukan hanya tubuhku yang dikurung. Tapi juga detak jantung. Napas. Dan pikiran...
Aku tergantung dalam gelap—hanya terdengar suara napasku sendiri, dan detak jantung yang tak beraturan. Udara dingin di dalam lemari menyentuh kulitku yang masih lembap, menimbulkan rasa dingin yang menembus perlahan. Tubuhku terasa lemah, d**a naik turun cepat.
Dari kejauhan—atau mungkin hanya di sisi lain ruangan—terdengar langkah Jo menapak perlahan di lantai. Pintu kamar berderit pelan saat dibuka.
“Ayo,” kata Jo pada Centia dengan nada tenang tapi tegas.
Centia tidak langsung menjawab. Ia hanya diam sesaat, seolah ragu untuk pergi.
Jo menarik napas pelan, lalu suaranya terdengar lebih dekat.
“Rara,” katanya pelan, “tunggu aku, ya. Sabar sebentar. Aku pasti kembali.”
Aku hanya terdiam. Ingin membalas, ingin memohon agar dia tidak meninggalkanku. Tapi bola di mulutku membuatku hanya bisa mengeluarkan suara teredam, nyaris tak terdengar. Jo tidak menambahkan apa pun setelah itu, hanya keheningan singkat sebelum langkahnya menjauh.
Centia kemudian mendekat. Suaranya lembut, seperti berusaha menenangkan.
“Jangan khawatir, Rara. Semua akan baik-baik saja,” katanya.
Lalu setelah jeda singkat, ia menambahkan pelan,
“Aku pulang dulu, ya.”
Aku ingin berteriak memintanya jangan pergi, tapi suara itu tertahan di tenggorokanku. Hanya napas berat yang keluar, cepat dan tak beraturan. Centia terdiam sejenak, lalu langkah kakinya terdengar semakin menjauh, menyusul Jo ke luar kamar. Begitu pintu tertutup, dunia kembali sunyi.
Cahaya tipis menembus celah pintu lemari, satu-satunya tanda bahwa dunia di luar masih ada. Tapi bagiku, waktu seperti berhenti sejak bola itu dipasang di mulutku dan borgol mengunci tanganku tinggi-tinggi.
Aku masih berdiri dalam kegelapan, terkurung oleh borgol dan rantai yang membuat setiap gerak terasa kaku. Detak jantungku berdentum cepat, napasku berat dan tak beraturan. Di tengah keheningan itu, pikiranku terus berputar—mengingatkanku pada kenyataan yang tak bisa kuhindari: aku terkunci di dalam lemari, terperangkap dalam kendalinya yang tak tergoyahkan.
Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Jo belum juga kembali. Setiap detik terasa seperti siksaan. Dadaku terasa sesak, dan udara di dalam lemari semakin pengap. Aku mulai takut... benar-benar takut.
Aku mencoba berpikir positif—mungkin Jo hanya keluar sebentar, mungkin dia akan kembali. Tapi semakin aku menunggu, semakin kecil harapan itu terasa. Setiap kali aku menutup mata, wajah Jo muncul di pikiranku: tatapannya dingin, tenang, tapi tajam seperti pisau. Tatapan itu membuatku gemetar.
Aku menarik borgol yang mengikat tanganku, berharap ada celah agar bisa bebas, tapi logam itu tetap kuat. Suaranya berderak pelan, mengingatkanku kalau aku tidak punya jalan keluar. Bola di mulutku membuatku sulit bernapas, dan setiap kali aku mencoba bersuara, hanya bunyi teredam yang keluar.
Air mata mulai menetes. Aku tidak bisa menahannya lagi. Rasa takut, lelah, dan dingin bercampur jadi satu. Aku menangis tanpa suara, hanya terdengar napasku yang tersengal di antara isakan. d**a terasa amat nyeri, bukan hanya karena ketakutan, tapi juga karena kesepian yang begitu dalam.
“Jo…” panggilku pelan, meski aku tahu suaraku tidak akan sampai ke mana-mana.
Tidak ada yang menjawab. Hanya keheningan. Dalam gelap, aku merasa benar-benar sendirian. Tidak ada langkah kaki, tidak ada suara apa pun—hanya aku, borgol, dan rasa takut yang terus menelan pikiranku.
Aku ingin percaya Jo akan kembali. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, tapi di dalam hati, aku tahu... mungkin mereka sudah pergi. Dan aku—ditinggalkan sendirian di sini.
Mungkin sudah hampir satu jam aku berada di dalam lemari ini. Napasku berat, d**a terasa sesak, dan setiap detik yang kulalui berlalu terasa seperti selamanya. Aku bahkan tak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana. Hanya suara detak jam dan bunyi jantungku sendiri yang menemani.
Lalu tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka dari kejauhan—klik pelan, seperti janji yang akhirnya ditepati.
Aku menahan napas. Telingaku menangkap setiap suara: langkah kaki perlahan, mantap, dan semakin dekat. Hanya satu orang yang berjalan seperti itu—tenang, terkendali, seolah waktu miliknya sendiri.
Pintu lemari perlahan terbuka. Aku tidak bisa melihat apa pun—mataku masih tertutup kain yang sejak tadi menempel di wajah. Tapi aku bisa merasakan udara dingin masuk, menggantikan pengapnya ruang sempit ini. Suara langkah itu berhenti di depan. Dan kemudian, suara yang paling kuingat di dunia ini terdengar.
“Rara,” bisiknya pelan. Satu kata, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhku akhirnya tenang.
Ia mendekat. Dari langkahnya, aku tahu ia masuk ke dalam lemari. Tangan hangatnya menyentuh pipiku sebentar, lalu bergerak pelan ke atas—menuju gantungan tempat borgol kulit yang menahan tanganku terikat. Suara klik pelan terdengar saat pengait itu dibuka, membebaskan kedua lenganku yang sejak tadi tergantung.
Begitu tanganku bebas, aku langsung bersandar padanya—bukan karena tak berdaya, tapi karena lega. Tubuhku mencari pelukannya sendiri, seolah hanya di situ tempatku bisa bernapas lagi.
“Hhhngg…” desahku tertahan di dadanya ketika air mata akhirnya pecah, mengalir panas di pipi. Aku masih tidak bisa bicara karena masih memakai bola penggigit di mulut, tapi pelukanku sudah cukup untuk berkata: Aku takut… aku kira kamu tak akan kembali.
Jo diam, hanya membelai punggungku dengan lembut. Ia mencium ujung rambutku yang basah, lalu berbisik,
“Aku sudah janji, kan? Kamu nggak akan sendirian.”
Ia lalu berlutut, melepaskan borgol di kakiku dengan hati-hati. Setelah itu, ia melepas bola dari mulutku, disusul kain penutup mataku yang akhirnya terangkat. Cahaya redup kamar menyambut pandanganku yang masih buram. Sosok Jo kini tampak jelas di depanku, dengan senyum tipis di wajahnya.
“J-Jo…” suaraku pecah, di antara isak yang belum sepenuhnya berhenti.
“Jangan tinggalin aku lagi…”
Jo menatapku lama, lalu berkata dengan suara tenang tapi tegas.
“Itu pelajaran buat kamu, Ra. Kalau kamu nggak setia ke aku, kamu akan tahu rasanya ditinggalkan sendirian, tidak berdaya, dan tanpa bisa berbuat apa-apa tanpaku.”
Aku terdiam. Kata-katanya menusuk, tapi aku tahu dia benar. Semua yang baru saja terjadi membuatku sadar betapa rapuhnya aku tanpa dia. Aku menunduk, berusaha menahan air mata yang masih tersisa.
“Aku paham, Jo,” kataku pelan.
“Aku janji bakal selalu setia sama kamu. Aku bakal nurut apa pun yang kamu bilang.”
Jo mengusap rambutku perlahan, senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
“Bagus,” katanya lembut.
“Aku cuma mau kamu percaya sama aku, dan nggak ninggalin kepercayaan itu.”
Aku mengangguk pelan. Saat itu, aku tahu, janji yang kuucapkan bukan sekadar kata-kata—tapi keputusan yang akan mengikatku padanya sepenuhnya.
Jo masih berada di depanku, matanya menatapku lekat, seolah memastikan aku benar-benar kembali utuh.
Dalam keheningan itu, hanya terdengar suara napasku yang perlahan mulai teratur lagi. Tangannya terulur, menyentuh pipiku—kali ini bukan untuk menguji, tapi untuk menenangkan. Sentuhan itu lembut, menyalurkan rasa hangat yang perlahan menggantikan sisa dingin dan takut dalam tubuhku.
“Sudah cukup,” katanya pelan.
“Sekarang istirahat dulu, ya?”
Aku hanya mengangguk, suaraku belum kembali sepenuhnya.
Lalu, dengan gerakan pelan, tangannya menyentuh kalung di leherku—kalung tipis dengan gantungan kecil yang tadi kupakai sebagai tanda kepatuhan. Ia menatapku sejenak sebelum membuka penguncinya.
“Sekarang,” ujarnya sambil menurunkan kalung itu dari leherku, “kamu kembali jadi Rara. Bukan pelayan, bukan siapa pun yang harus patuh. Hanya kamu, seperti apa adanya.”
Aku menatap kalung di tangannya—kecil, tapi terasa begitu berat maknanya. Ketika ia meletakkannya di meja, rasanya seperti beban yang ikut terangkat dari dadaku.
Ia kemudian membantuku berdiri dan membimbingku menuju ke tempat tidur. Setiap langkah terasa berat, tapi juga menenangkan—seperti langkah pertama setelah badai reda. Saat duduk di tepi ranjang, aku menarik napas dalam-dalam. Di dadaku, masih ada gemetar halus yang belum sepenuhnya hilang.
Jo duduk di sampingku, tanpa berkata apa-apa. Ia hanya memegang tanganku erat, menyalurkan kehangatan yang pelan-pelan membuatku merasa aman lagi. Aku menatapnya, mencari sesuatu di matanya—mungkin penjelasan, mungkin permintaan maaf, atau mungkin sekadar keyakinan bahwa semua ini tidak sia-sia.
“Aku… takut tadi,” bisikku akhirnya.
“Aku tahu,” jawabnya lembut.
“Tapi aku juga tahu kamu kuat. Dan aku di sini sekarang.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuatku mengeluarkan napas lega yang seolah kutahan sejak awal. Malam itu, tidak ada kata-kata lagi di antara kami. Hanya keheningan yang terasa hangat, dan perasaan bahwa meski banyak hal belum selesai, kami berdua masih di tempat yang sama—bersama.
Udara di kamar masih terasa berat, meski semuanya sudah selesai. Aku duduk di tepi ranjang, melihat tanganku yang masih sedikit gemetar. Ada bekas merah samar di pergelangan, sisa dari ikatan borgol tadi. Aneh, bukannya sakit, justru terasa seperti pengingat bahwa aku baru saja melewati sesuatu yang sulit.
Jo tetap diam, seolah tahu aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Setiap kali menarik napas, aku masih mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir—bahwa aku tidak sendirian lagi.
Aku memejamkan mata sebentar. Semua yang terjadi barusan terulang lagi di pikiranku: suara pintu terbuka, langkah kakinya, rasa lega saat ia muncul, dan kalimat itu—“Sekarang kamu kembali jadi Rara.” Kata-kata sederhana itu seakan membuka bagian diriku yang selama ini tertutup rapat.
Perlahan, aku mulai menyadari betapa lelahnya tubuhku—dan mungkin lebih dari itu, betapa lelahnya hatiku. Aku ingin bicara, mungkin mengucapkan terima kasih atau hanya memastikan bahwa apa yang barusan terjadi bukan hukuman, melainkan pelajaran yang tidak perlu terulang. Tapi suaraku belum siap.
Jadi aku hanya menatap Jo, mencoba memberi tanda lewat pandangan bahwa aku butuh waktu, namun tidak menyesal telah mempercayainya. Ia menatap balik, lalu bangkit sebentar untuk mengambil segelas air, kembali mendekat, dan menyerahkannya kepadaku.
Air dalam gelas itu bergetar sedikit, mungkin karena tanganku masih gemetar. Tapi ketika aku meminumnya, rasanya seperti mengambil kembali bagian diriku yang sempat hilang. Mungkin ini yang disebut mulai pulih—bukan berarti semuanya sudah baik, tapi karena aku akhirnya berani merasakan lagi.
Jo masih duduk di sampingku, menunduk sedikit, seperti sedang mencari kalimat yang tepat. Aku menunggu, kali ini tanpa rasa gelisah. Akhirnya ia bicara pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Ra, kamu tahu kan… aku nggak pernah bermaksud bikin kamu takut.”
Suaranya membuat dadaku hangat. Aku menatapnya, mencari sesuatu di wajahnya—mungkin penyesalan.
“Tadi rasanya seperti kehilangan semua hal yang aku pegang. Termasuk diriku sendiri.” jawabku pelan.
Jo mengangkat wajahnya, menatapku dengan serius.
“Itu yang bikin aku khawatir,” katanya.
“Aku terlalu fokus sama pesan yang mau aku sampaikan, sampai lupa kalau kamu bisa ngerasa sendirian.”
Ada bagian kecil dalam diriku yang ingin marah, tapi yang muncul justru rasa lega—karena ia mengerti.
“Waktu kamu buka pintu tadi,” kataku perlahan, “aku cuma mikir satu hal: semoga yang datang itu kamu. Aku nggak peduli kenapa, aku cuma mau kamu datang.”
Ia tersenyum tipis, lalu sedikit mendekat.
“Dan aku datang, mungkin memang sedikit lama, tapi aku datang,” katanya pelan.
Aku menarik napas panjang, menatapnya lama sebelum akhirnya berkata dengan suara bergetar,
“Aku nggak mau kamu pergi, Jo. Aku nggak mau sendirian lagi. Aku janji… aku bakal setia sama kamu.”
Jo tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku dalam-dalam, seolah membaca isi hatiku. Lalu tangannya terulur, menyentuh pipiku dengan lembut.
“Nggak akan, Ra,” katanya lembut.
“Aku akan tetap jaga kamu asal kamu selalu patuh ke aku.”
Aku menutup mata, membiarkan kalimat itu meresap dan menenangkan dadaku yang masih berdebar. Untuk sekarang, itu sudah cukup. Aku bersandar pelan ke arahnya, membiarkan kehadirannya jadi bukti kecil bahwa aku tidak akansendirian lagi. Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, aku benar-benar percaya itu—dan jauh di dalam hati, aku tahu aku akan tetap setia, apa pun yang terjadi.