Jam empat sore, Nirina memutuskan untuk pulang dari kafenya. Meninggalkan para pegawainya tetap tinggal. Kafe ini tutup jam sepuluh malam. Masih ada enam jam lagi menuju tutup. Badan Nirina sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Terlalu lelah dan menginginkan segera tiba di rumah. Memastikan sudah tidak ada yang tertinggal, berjalan menuju pintu ruangan. Pamit sebentar pada karyawan yang melihat. Menatap sekeliling, masih terlihat beberapa orang yang tengah duduk dan menyantap makanan atau sekedar menatap handphone dengan segelas minum di atas meja. “Saya pulang dulu ya. Nanti kunci di bawa saja seperti biasa,” ucap Nirina. Setelah mendapat anggukkan, meneruskan jalan. Tiba di mobil, dengan segera langsung menancap gas. Membelah jalanan ibu kota di sore hari. Lagi-lagi Nirina lupa untuk

