Dion

2157 Words

“Ayo,” ajak Dion yang melonggokkan kepalanya pada celah pintu ruangan Nirina yang dibukanya. Dalam satu minggu ini, Nirina memang mendapatkan jadwal dari jam 8.30 sampai jam 11.30. Jam praktik yang sama dengan Dion yang bertugas sebagai dokter umum. Entah mulai kapan, keduanya mulai memiliki rutinitas untuk menjelajah kuliner di sekitar rumah sakit. Pertanyaan Nirina tempo hari dianggap Dion serius. Pria itu selalu mendatangi ruangan Nirina saat jadwal praktik usai. Mendongak menatap pria dengan kacamata bertengger. Ah, dokter itu makin tampan saja saat menggunakan kacamata. Nirina tidak bisa mengingkari kenyataannya. Wajarkan kalau mengagumi seseorang karena wajahnya? Tidak, Nirina belum sampai pada tahap mencintai. Hanya sekedar mengagumi ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna saja. Terlal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD