07

966 Words
Jeffrey menggerakkan giginya, sementara Yongtae tetap bersikap tenang. "Terimakasih," ucap Yongtae pada pegawai salon yang tadi melayaninya. Rambutnya sudah selesai dicreambath dan ditata. Tinggal menunggu ibunya selesai, kemudian mereka menyapa Haura dan lanjut jalan-jalan. Namun saat Yongtae baru bangkit berdiri dari kursi, Jeffrey ikut berdiri. Ia kemudian menarik kerah baju Yongtae, sebelum menghantam keras pipi kanan Yongtae menggunakan kepalan tangannya. Para pegawai dan pengunjung salon tentu saja terkejut, dan tidak berani melerai. Saat ini yang pria di dalam salon, hanyalah Jeffrey dan Yongtae. Untungnya salah satu pegawai, berinisiatif pergi keluar salon untuk memanggil satpam. "Masih berani mendekati istriku, hah?!" seru Jeffrey. "Kenapa aku harus takut? Kau pikir aku tidak bisa melawanmu?" balas Yongtae. Duk! Tendangan Yongtae layangkan tepat ke ulu hati Jeffrey, tanpa aba-aba, membuat Jeffrey tidak bisa berkutik. Dan di saat seperti itu, Yongtae mengambil kesempatan untuk meninju perut dan menyikut kepalanya, hingga tubuh Jeffrey langsung jatuh ke lantai. Jeffrey mencoba berdiri, dan ingin membalas Yongtae lagi, namun tak lama tiga orang satpam datang, dan menengahi keduanya. Ibu tak lama keluar dari salah satu ruangan yang ada di salon karena mendengar suara keributan, sementara Haura... Dia menghilang.                                                                ••• "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cob-," Jeffrey langsung mematikan sambungan telfon, begitu yang ia dengar malah suara dari operator. Ia menghela napas berat, kemudian mengacak rambutnya. Haura menghilang, dan semua pegawai salon tidak tahu ia kemana. Salah satu pegawai salon bilang, saat dia baru membersihkan wajah Haura, ia terkejut melihat banyak luka dan memar di wajah Haura, jadi Haura hanya mendapat perawatan yang tidak intens dan berdurasi sebentar. Setelah selesai facial, Haura langsung membayar dan pergi begitu saja. Sepertinya ia pergi saat Jeffrey dan Yongtae sedang ribut. Jeffrey menghempaskan tubuhnya di jok mobil, sembari menatap langit-langit mobilnya. Sebelum mereka ke salon, mereka baru dari dokter kandungan untuk konsultasi, dan ternyata, dua-duanya sama-sama bermasalah hingga tidak bisa memiliki anak. Tapi Jeffrey tidak terima dengan kondisinya sendiri, dan membuat mereka bertengkar hebat selama di mobil. Saat pertengkaran mereka sudah reda, dan Jeffrey menyadari kesalahannya, ia membawa Haura ke mall, dengan niat membawanya jalan-jalan dan belanja sebagai permintaan maaf. Tapi sekarang ia malah kabur. Nomornya juga tidak aktif. Haura tidak pernah begini sebelumnya. Apa ia sekarang memang hampir berpaling ke orang lain? Batinnya. 'Jangan sampai...' ••• "Selamat datang!" sapa Johnny sembari tersenyum lebar, namun senyumannya seketika hilang, saat melihat siapa datang. Raut wajahnya jadi berubah keheranan. "Nona Haura?" gumam Johnny. "Haha, Nona?" gumam Haura, pengunjung yang baru datang itu. "Aku sudah Nyonya, hahaha," tutur Haura dengan tawa dipaksakan. "Tapi anda masih terlihat muda, masih pantas dipantas Nona," "Tolong, bicara biasa saja denganku. Eum... aku kan juga temannya temanmu," "Oke, bukan masalah. Silahkan duduk, pesanannya seperti biasa? Atau mau yang dingin? Kau tampak kelelahan, bahkan sampai ngos-ngosan begitu, seperti baru lari maraton," Haura tersenyum kecil, sambil berusaha mengatur napasnya yang berantakan. "Hah, yah, aku memang agak buru-buru. Eum, apakah ada tempat yang lebih tertutup di sini? Aku tidak mau duduk di dekat jendela, agak panas. D-dan aku sedang tidak ingin ada dikeramaian," tutur Haura. "Eum, tentu ada. Di atas," kata Johnny sambil menunjuk ke atas. "Itu sebenarnya tempatku dan istriku istirahat. Tapi tempatnya nyaman, ada kursi dan meja. Kau bisa minum di atas, seperti minum di tempat biasanya." "Apa tidak apa-apa?" tanya Haura. "Tidak apa-apa kok. Istriku juga tidak akan keberatan," "Dia ada di atas juga?" "Ya, dia sedang masak untuk makan siang sih tadi. Santai saja dengan dia, dia lebih muda darimu," "Kenapa kau bisa berpikir begitu?" "Oh, sebenarnya Yongtae sudah memberitahu berapa umurmu padaku. Dan istriku sebenarnya tujuh tahun lebih muda dariku, haha," Mata Haura membulat. "Hah?" "Ah, aku menikahinya saat usianya sudah legal kok, hahaha. Jangan berpikir yang aneh-aneh," "Ah, tidak kok. Meskipun... memang sedikit terkejut sih..." gumam Haura. "Kau ke atas saja, nanti aku antarkan pesanananmu. Yang seperti biasakan?" Haura menganggukkan kepalanya, kemudian bergumam terimakasih. Johnny lalu menunjukkan tangga menuju lantai atas, yang berada di sudut kiri kafe. Di sana ada lorong pendek, dengan tangga yang mengarah ke depan. 'Aku tidak mau pulang, Jeffrey pasti akan memukulku kalau pulang,' ••• "Oh, jadi kau teman perempuan kak Yongtae yang dimaksud John? Aku Heni, salam kenal," gadis berkulit hitam manis, dengan rambut ikal yang tergerai itu, tersenyum ramah sembari mengulurkan tangannya pada Haura. "Aku Haura, salam kenal juga. Wah, nama kita sama-sama H depannya," kekeh Haura, sembari menjabat tangan Heni. Heni pun mengajak Haura untuk duduk terlebih dahulu, sebelum melanjutkan pembicaraan. "Ah, benar juga. Semoga kita secocok nama kita. Ngomong-ngomong kau tidak terkejut dengan kulitku kan?" tutur Heni. "Heum? Memangnya ada apa dengan kulitmu?" tanya Haura. "Kulitku kan gelap, orang-orang di sini sering terkejut melihatnya. Aku memang bukan orang sini sih... aku orang keturunan jawa dan Belanda, jadi beginilah...," kata Heni. "Ahh, aku terlalu banyak bicara, maafkan aku!" Haura tertawa. "Haha, tidak apa-apa. Kau sepertinya sangat ceria. Aku suka, sangat jarang bertemu anak muda yang punya energi positif di sekitarku. Dan soal masalah kulit, aku merasa semua warna kulit sama saja, meskipun beda warna, itu hanya warna dari kulit," "Anak muda? Aku sudah tua," "Tua? Kau masih tampak seperti anak-anak kok," "Heum, mungkin karena aku belum punya anak juga, haha, jadi begini..." Air muka Haura seketika berubah mendengarnya. 'Aku juga...' "Semoga segera diberi momongan," ucap Haura sembari tersenyum simpul. "Sebenarnya itu karena aku belum siap saja untuk punya anak, hehehe. Kalau punya anak kan, tanggung jawabnya besar, aku takut tidak bisa mendidiknya dan membahagiakannya dengan benar," kata Heni. "Aku pikir karena tidak bisa..." gumam Haura lirih, hingga tidak dapat didengar Heni. "Kalau aku panggil kakak boleh?" tanya Heni. "Tentu," balas Haura. Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba terdengar ada yang mengomel dibawah, sambil menyebut-nyebut nama seseorang yang tengah Haura hindari. "Siapa sih dia memangnya?! Sialan! Pakai mengatai aku bekerja di perusahaanku kecil! Memangnya kenapa kalau perusahaanku kecil?! Jung Jeffrey itu sialan sekali!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD