06

1319 Words
Jeffrey terdiam. Kalau sekarang mereka sedang tidak di mobil, entah apa yang sudah ia lakukan pada Haura. "Besok hari minggu, aku mau konsultasi lagi dengan dokter kandungan. Aku sudah buat janji," ujar Haura, untuk melupakan obrolan mereka sebelumnya. "Aku harap kau bisa datang." "Untuk apa? Kau sudah berkali-kali konsultasi dan tidak pernah ada hasilnya," balas Jeffrey. "Itu karena kau tidak pernah ikut. Kitakan harus kerjasama. Masalahnya belum tentu sepenuhnya ada padaku," "Kau bergurau? Jelas-jelas masalahnya sepenuhnya ada padamu. Aku dulu sudah pernah punya anak," "Tapi itukan dulu, sekarang bisa saja berbeda. Setelah kau kehilangan istrimu, kau banyak minum alkohol dan mengkonsumsi obat anti depresan," "Ya, jadi kita tidak bisa punya anak itu salahku?!" "Aku tidak bilang ini semua salahmu. Tapi sudah seharusnya kita periksa bersama, dan jalani terapi bersama juga. Yang mau punya anak itu kita, bukan hanya aku atau kau saja! Kita harus kerjasama! Apa yang salah dari itu? Coba sekali saja kita bisa bicara baik-baik, tanpa ada argumen dan kekerasan. Apa yang aku katakan tidak salah. Coba kau tanya orang-orang, apa yang aku katakan salah?" Jeffrey bungkam, sementara Haura menghela napas berat. "Atau kalau kau memang tidak mau punya anak dariku, tidak apa-apa. Aku malah merasa lega, kalau cerai darimu, kita bisa benar-benar berpisah, karena tidak ada ikatan anak," "Aku akan menurunkanmu kalau masih terus mengoceh," "Aku akan hubungi teman priaku untuk menjemputku," Jeffrey mendesis kesal, dan akhirnya ia yang tidak bicara lagi. Akhirnya mereka tiba di sekolah Matthew. Jeffrey yang turun, karena Haura hanya mengenakan kemeja Jeffrey. Sembari menunggu, Haura sambil memperhatikan sekitar melalui jendela mobil. 'Meskipun tidak bisa cerai, setidaknya untuk sekarang aku harus bisa lebih keras melawannya. Yah, walau aku tidak bisa benar-benar melawannya saat dia sudah main tangan. Kalau mati, matilah. Aku juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi,' "Ibu!" lamunan Haura buyar, saat tiba-tiba mendengar suara Matthew di jok tengah. Ia pun menolehkan kepalanya ke belakang, dan tersenyum pada putranya itu. "Bagaimana harimu di sekolah?" tanya Haura. "Baik! Selalu baik! Hehe, ah, lalu aku dapat ini dari teman perempuanku," Matthew melepas tas ranselnya, kemudian sibuk merogoh-rogoh isinya. Jeffrey awalnya tidak memedulikan, dan memilih sibuk hendak menjalankan mobil. Matthew tak lama mengeluarkan satu bungkus plester luka bergambar kartun putri dari tasnya. "Aku awalnya dikasih satu, karena tadi aku jatuh waktu main bola. Lalu aku bilang, ibuku sering terluka juga, jadi dia malah memberikan semuanya. Jadi ini untuk ibu, kalau ibu luka pakai ini ya..." ujar Matthew sembari menyodorkan plester tersebut pada Haura. Haura dan Jeffrey sama-sama tercenung, terutama Jeffrey, perasaannya seketika mencelos. Haura pun menerima plester tersebut sembari tersenyum. "Terimakasih yaa..." ucap Haura. "Sama-sama bu. Tapi pipi ibu kenapa bengkak? Kalau bengkak begitu, tidak bisa diobati pakai plesterkan?" "Ah, sepertinya terbentur waktu kerja. Biasa... Ibukan ceroboh. Nanti sampai rumah akan Ibu kompres," Matthew menganggukan kepalanya sebagai respon. "Ya sudah, ayo kita pulang sekarang," kata Jeffrey, untuk mengalihkan pembicaraan, agar tidak membahas luka di wajah Haura lagi. "Ayah, aku mau makan ayam panggang," pinta Matthew. "Iya, nanti Ayah masakkan untukmu," balas Jeffrey sembari tersenyum. "Oh iya, Ayah hari ini memang pulang cepat ya?" Jeffrey menganggukan kepalanya. "Asik! Aku jadi bisa dengan ayah dan ibu lebih lama. Kalau ayah pulang malam, jadinya kita hanya bisa bertiga sebentar," "Maafkan Ayah ya?"                                                "Tidak apa-apa, asal sekarang kita bisa lama-lama bertiga. Ayo kita nonton film Yah!" "Okee..." 'Hah, apa yang aku pikirkan? Dengan mudahnya bilang berpisah, tanpa memikirkan perasaan Matthew.' Batin Haura. ••• Ibu menggelengkan kepala, melihat Yongtae tengah menonton televisi sambil tiduran di sofa, dan menggaruk-garuk perutnya, menggunakan tangan yang baru ia gunakan untuk mencomot cemilan. "Harusnya di saat tidak punya kerjaan begini, kau coba kencan buta," ujar ibu sembari duduk di sofa single. "Aku sudah delapan kali coba, tapi tidak ada yang cocok," balas Yongtae, dengan mata tetap fokus ke televisi. "Tidak cocok bagaimana? Makanya jangan pilih-pilih dong," "Ya harus pilih-pilih dong, kalau aku salah pilih bagaimana?" "Ck, kau ini tidak ada perjuangannya sama sekali dalam mencari jodoh," Yongtae langsung berpura-pura tidur, mengisyaratkan ia tidak mau mendengarkan ocehan ibunya lagi. Ibu kemudian memukul kepalanya. "Dasar kau ini ya," ucap ibu. "Aku capek kalau ibu bahas soal pasangan terus..." keluh Yongtae. "Aku tidak akan mati tanpa pasangan?" "Kau impoten?!" seru ibu. "Aish, ibu kalau bicara selalu saja sembarangan. Yang benar saja?" "Ya habis kau itu sudah tua, tapi kok tahan sendirian begini? Jadi Ibu pikir begitu. Atau kau melakukan hubungan bebas ya? Kalau benar begitu milikmu lebih baik dihabisi," Yongtae langsung mengangkat kepalanya yang sebelumnya telungkup, lalu menatap ibunya dengan mata melotot. "Aku tidak begitu! Ah, ibu, jangan bicara yang kejam-kejam dong, ibu itu tidak boleh bicara sembarangan loh pada anaknya. Aku justru sehat, solo saja jarang, jadi lewat mimpi. Memang tidak menyenangkan, tapi mau bagaimana lagi?" "Hah, ya sudahlah, terserah kau saja," "Meskipun ibu bilang begitu, pasti besok dibahas lagi," dengus Yongtae. "Tentu saja! Ibu kan mengkhawatirkanmu," "Kalau sudah waktunya, nanti aku juga akan bertemu dengan jodohku, ibu tidak perlu khawatir. Besok lebih baik ibu bersenang-senang saja, ke salon, belanja, aku yang akan bayar. Percantik diri ibu, dan senangkan hati ibu, agar ayah juga senang." ••• Hari ini Yongtae membawa ibunya ke mall, untuk ke salon dan belanja apapun yang mau ibunya beli. Yongtae juga ikut creambath. Selain untuk merawat rambutnya, agar ia dapat pijatan juga di kepala dan bahunya. Jujur saja kepalanya mau meledak karena ibunya terus membahas soal pasangan. Ia memang sering merasa kesepian, tapi sepertinya ia tidak pernah menunjukkannya di depan ibunya. 'Kalau Johnny belum menikah, sebenarnya aku tidak akan terlalu kesepian. Ada yang bisa aku ajak main. Tapi aku sudah bapak-bapak juga kalau mau main, serba salah.' "Kau Lee Yongtae?" Yongtae tersentak, saat tiba-tiba ada yang bicara padanya, padahal ia hampir saja tertidur. Seseorang yang baru saja menyebut namanya tadi, kemudian duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Yongtae terkejut melihat siapa dia. Suami Haura? Batinnya. Dia ingat wajahnya saat marah-marah dengan Haura di kafe Johnny. "Iya, aku Lee Yongtae," ucap Yongtae. "Aku Jung Jeffrey, suami Haura. Kau sudah pasti mengenalnya kan?" "Tentu, dia temanku," Rahang Jeffrey seketika langsung mengeras mendengar jawaban Yongtae, yang dilontarkan dengan enteng. "Kebetulan kita bertemu di sini," gumam Jeffrey. "Iya ya, kebetulan sekali. Lalu dimana Haura?" "Dia sedang facial," balas Jeffrey, sembari mengeluarkan rokok elektrik dari saku celananya. "Oh, kau suami yang baik ternyata..." gumam Yongtae dengan nada lirih, hingga Jeffrey tidak dapat mendengar suaranya. "Ngomong-ngomong kau tahu aku dari mana? Haura memberitahumu?" tanya Yongtae. "Dia memang bilang punya teman, tapi dia tidak pernah memberitahu siapa," balas Jeffrey. "Oh, jadi kau menguntitku ya? Kau bisa dilaporkan ke polisi," "Aku tidak menguntitmu, aku hanya mencari tahu kau siapa. Ternyata kau hanya bos dari perusahaan kecil," Yongtae seketika menegakkan tubuhnya, saat mendengar Jeffrey mulai meremehkan pekerjaannya. "Setidaknya aku bekerja keras untuk membangun itu," ucap Yongtae sembari menatap tajam Jeffrey. Sementara Jeffrey menanggapinya dengan tawa sinis. "Oke... jadi kau seorang pekerja keras? Apa kau akan kerja keras juga untuk merebut istriku?" Yongtae menatap Jeffrey dengan salah satu alis terangkat. "Apa maksudmu? Kenapa kau bisa-bisanya berpikir begitu? Aku bahkan tidak punya pikiran sama sekali untuk melakukan itu. Kau pikir aku orang seperti apa, hah?" nada suara Yongtae mulai meninggi. "Kalau begitu jauhi istriku. Tidak usah pakai modus berteman, kau bisa saja membuatnya goyah," Yongtae tertawa sinis. "Kenapa kau takut dia goyah? Kau berarti tidak percaya padanya. Kalau dia memang mencintaimu, tidak semudah itu dia berpaling. Kecuali kau melukainya, dan dia tidak tahan lagi, sudah pasti dia akan meninggalkanmu." Jeffrey tidak menunjukkan reaksi apa-apa mendengar penuturan Yongtae, namun dari ekspresinya Yongtae dapat menangkap sesuatu. "Kau sepertinya tersinggung dengan kata-kataku. Hahaha, dari yang tadinya mau melarangku untuk tidak berteman dengan istrimu, malah membuatmu membuka kartu sendiri.Ada yang posesif karena dasarnya sifat dia begitu, ada juga yang karena diam-diam dia selingkuh, jadi takut pasangannya melakukan hal yang sama seperti dirinya, atau... dia sadar sikapnya selama ini jahat pada pasangannya, sehingga ada kemungkinan pasangannya akan meninggalkan dirinya. Tapi dia tidak bisa berhenti menyakiti, namun tidak mau juga melepaskannya. Egois sekali ya?"   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD