05

885 Words
"Aku izin ya, maaf tidak bisa kembali. Yang tadi datang itu suamiku," kata Haura pada orang di telepon. Ia sesekali melirik Jeffrey yang terlelap. Memastikan pria itu tidak terganggu dengan suaranya. "Apa?! Jadi dia suamimu?! Tapi kasar sekali padamu tadi..." "Tidak usah bahas yang tadi," "Oke, baiklah. Tapi kau tidak apa-apakan?" "Tidak apa-apa,"                              "Suamimu sepertinya orang kaya, mobilnya juga mewah. Tapi kenapa kau kerja?" "Aku hanya tidak betah ada di rumah. Lagi pula tidak ada yang bisa aku kerjakan di rumah," "Ah, begitu... lalu kau itu kan lulusan S2. Kenapa tidak kerja yang lebih bagus?" "Jadi pegawai restoran juga pekerjaan yang bagus kok. Dan itu dekat dengan kafe favoritku," "Oh begitu..." "Sudah dulu ya? Aku agak pusing, mau istirahat." "Oke, oke. Nanti aku sampaikan ke manajer kalau kau izin," "Terimakasih." Sambungan telfon pun berakhir. Haura meletakan ponselnya di meja nakas, dan kembali berbaring di kasur, sembari menarik selimut sampai sebatas dadanya. Selalu berakhir begini, ia kembali menerima Jeffrey lagi dan lagi. Hanya karena ia memeluknya dengan lembut, padahal kata maaf tidak pernah terucap di bibirnya. Bodoh. Haura tahu. Tidak perlu orang lain yang bilang, ia sudah tahu, betapa bodoh dirinya. 'Aku ingin Jeffrey menceraikan aku duluan, karena pada akhirnya aku selalu luluh padanya. Ditambah aku juga memikirkan Matthew. Kalau kami cerai, bagaimana perasaannya? Hak asuhnya akan jatuh ke siapa? Aku tidak mau berpisah dengan Matthew." ••• "Aduh, perjaka tua ini... apa yang katanya bisa merawat diri sendiri? Ini kenapa koyo menempel banyak sekali di punggungmu?" Yongtae meringis saat ibunya memukul punggungnya. Salahnya sih, mau mandi tapi sudah duluan buka atasannya di luar kamar mandi. "Aku hanya terlalu banyak duduk bu. Mau ada yang mengurusku atau tidak, punggungku akan tetap sakit," balas Yongtae. "Ya tapi ini kan karena kau juga mengerjakan pekerjaan rumah," "Ya apa salahnya? Kalaupun aku sudah beristri aku akan tetap mengerjakan pekerjaan rumah," "Ya tapikan tidak akan terlalu sering, karena kalian akan saling membantu." "Iya, iya buu... ah, sudahlah, jangan bahas soal pasangan terus, aku jadi stress." Ibu akhirnya diam, dan membiarkan Yongtae masuk kamar mandi. 'Kalau Haura belum bersuami, aku pasti sudah mengincarnya, ck. Seolah aku memang ditakdirkan untuk tidak punya pasangan seumur hidup. Memang banyak perempuan di dunia ini, tapi sulit mencari yang benar-benar nyambung denganku," batin Yongtae sembari menarik ke belakang rambutnya yang baru diguyur air dari shower. 'Aku juga belum kenal dekat dengan Haura sih, tapi dari pertemuan pertama saja sudah membuatku terkesima. Baik, manis, bicara denganku juga nyambung. Tapi dia diperlakukan baik tidak sih dengan suaminya? Suaminya sepertinya kasar.' Yongtae jadi berdebat dengan pikirannya sendiri. 'Suaminya sepertinya jahat,' 'Ya lalu kalau memangnya jahat kenapa? Bukan urusanmu Lee Yongtae! Kau bahkan baru mengenalnya.' 'Tapi kasihankan? Lebih baik dia dengan pria seperti aku,' 'Hahaha, ya ampun! Memangnya tidak ada gadis lain yang belum menikah hah? Kenapa harus yang sudah menikah?' 'Yah, tapi apa salahnya kalau memang suaminya tidak baik?' 'Tidak, tidak. Kalau memang tidak baik, Haura pasti sudah meninggalkannya.' Tok-tok-tok. "Ya ampun Lee Yongtae! Mau berapa lama kau mandi hah?! Memangnya kau anak gadis?! Oh iya, kau memang anak bujang. Bujang lapuk!" "Akh! Ibu! Iya-iya, ini aku segera selesai!" 'Ya ampun, aku belum pakai sabun dan sampo.' ••• "Apa kita perlu ke klinik?" tanya Jeffrey sembari mengancingi kemejanya di tubuh Haura. "Tidak perlu, kita harus segera pulang, dan menjemput Matthew," balas Haura, tanpa berani menatap wajah Jeffrey. Jeffrey meraih dagu Haura, agar kepalanya mendongak dan menatapnya. Ia kemudian meraih pipi kanan Haura, dan mendekatkan wajahnya pada wajah wanita itu. Haura hanya bisa diam dan memejamkan matanya, saat Jeffrey mencium bibirnya secara berulang. Apa mungkin ini isyarat permintaan maaf? Batinnya. Jeffrey selalu melakukan hal ini setiap ia terlihat murung dan tidak mau menatapnya. "Lalu bagaimana dengan luka-lukamu?" tanya Jeffrey, sesaat setelah melepas ciumannya. "Aku bisa mengobatinya sendiri," balas Haura. "Ya sudah kalau begitu." Jeffrey bangkit berdiri. Ia kemudian mengambil jasnya yang ia letakan di atas kasur, dan mengenakannya pada tubuhnya yang tinggal berbalut kaos putih polos tanpa lengan. "Kau sudah tidak berpikir konyol lagikan?" celetuk Jeffrey. "Berpikir konyol bagaimana?" tanya Haura. "Bercerai," ucap Jeffrey singkat. "Kenapa kau ingin aku tidak berpikir begitu? Memangnya kau mencintaiku? Selama ini yang ada di hatimu kan hanya Jia." Jeffrey terdiam. Tidak mampu menyangkal, tapi juga sebenarnya tidak mau membenarkan. "Aku tidak suka kau membahas cerai," gumam Jeffrey. "Kenapa? Kau takut kehilangan samsakmu ya?" kata Haura di selingi tawa lirih. "Jangan membuatku marah lagi. Kalau aku bilang tidak suka, ya tidak suka." Jeffrey masih bicara dengan nada tenang, Haura pun memilih tidak melanjutkan kalimat sarkastiknya. Tubuhnya masih sakit, dan Matthew harus segera dijemput. ••• To: Yongtae Aku rasa kita tidak bisa bertemu dengan leluasa, From: Yongtae Loh? Kenapa? To: Yongtae Suamiku tahu dan marah. Aku juga tidak mengerti dia bisa tahu dari mana. From: Yongtae Aku kan hanya temanmu. Sudah kau jelaskan begitu? To: Yongtae Iya, sudah. Tapi dia memang posesif. From: Yongtae Maaf, tapi pasti itu tidak menyenangkan. To: Yongtae Yah, sejujurnya... 'Kalau dia memang benar-benar mencintaiku, mungkin tidak akan terasa terlalu berat.' Batin Haura. "Chat dengan siapa?" celetuk Jeffrey, yang membuat Haura terkejut. Ia buru-buru menurunkan ponselnya dari depan wajahnya, sembari membuang mukanya ke jendela mobil. "Aku akan benar-benar menghukummu, kalau kau masih bertemu dengan teman priamu itu," ujar Jeffrey. "Dan aku juga akan benar-benar menuntut cerai, kalau kau terus begini padaku." Balas Haura, yang membuat Jeffrey bungkam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD