25

1529 Words

Reza Pulang ke rumah dalam keadaan wajah babak belur mengundang keprihatinan dan kekhawatiran dari Mbok Siti. Dia langsung mengambil baskom berisi air es untuk membersihkan luka di sekujur wajahku. "Den, kenapa bisa seperti ini?" Nada cemas sangat terdengar dari suara Mbok Siti juga gurat wajahnya yang khawatir. Aku menggeleng lemah. Pikiranku kacau bahkan terlampau kacau. "Mbok?" "Iya, Den?" tanya Mbok Siti, wanita paruh baya ini masih fokus mengompres lukaku. "Mbok pernah gak sih berada di titik bimbang dalam hidup?" Mbok Siti tampak tercengang dengan pertanyaanku, sebelum akhirnya tertawa kecil. "Hidup Mbok mah sulit, den. Bimbang itu hampir setiap waktu. Apalagi mbok jauh dari keluarga serta anak. Rasanya sakit, setiap malam mbok selalu nangis kalau rindu sama mereka." Mbok Si

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD