Bau khas rumah sakit menyeruak menusuk hidungku ketika aku membuka mata. Aku menatap lirih ke punggung tanganku yang terinfus. Dan kali ini, bukan hanya sakit fisik yang aku rasakan tetapi juga sakit hati. Masih terekam jelas diingatan, bagaimana kebahagiaan yang kulalui bersama Reza seolah lenyap dengan satu kebohongan yang dia sembunyikan. Suara pintu berderit, menampilkan sosok jangkung yang menjadi objek tangisanku kali ini. Segera saja aku memalingkan wajahku, mengenyahkan keingintahuanku kenapa aku bisa berakhir di ranjang rumah sakit. Seingatku, tadi siang aku hanya berlari menghindari sosok yang sekarang mungkin sudah berdiri di samping ranjang. "Kamu mau minum?" tanyanya rendah. Aku menggeleng dan berbalik memunggunginya. "Aku mau pulang," ucapku datar. Usapan terasa di bahuku

