"Kok bisa sih, Don?" suaraku tercekat saking kagetnya. Doni menghela napas sambil bersandar. "Sebulan lebih yang lalu, pikiran gue kalut karena dia gak siap nikah sama gue. Gue sampai mabuk berat dan nekad menemui dia ke apartemennya, gue berpikir saat itu gue bakal membuat dia jadi milik gue selamanya. Gue lepas kontrol Fel, Za," ucapnya dengan nada menyesal. Aku menggeleng tak percaya. Kembali membuka undangan merah itu. Mataku kembali melotot saat melihat ada kejanggalan. "Pradina? Bukannya pacar lo namanya Pradita ya?" Air muka Doni semakin gusar dia mengusap wajahnya dengan kasar. Aku yakin ada yang tidak beres di sini. "Itu masalahnya. Yang gue hamilin itu kembaran Dita." Jawaban Doni membuatku terlonjak kaget. Reza yang sedang meneguk air putih di gelas pun langsung tersedak.

