Part 2

1295 Words
Reza Satu persatu aku kancingkan kemeja polos putih bergaris biru abu yang aku kenakan untuk menghadiri makan malam di rumah Felly. Sudah dua minggu, aku memang tak berkunjung ke rumah calon mertuaku itu. Berbicara soal Felly, Aku bukan tak menyadari perubahan sikap Felly yang terkesan menjadi pendiam, dan bukan tanpa alasan aku membiarkannya seperti itu, hanya saja sekarang aku sedang menyelesaikan satu masalah yang masih belum ada jalan keluarnya, dan ini harus selesai sebelum aku menikahi Felly. Aku memang satu dari sekian banyak orang yang pintar menyembunyikan sebuah masalah dengan sikap dinginku dan kini imbasnya kepada Felly. Setelah siap, aku ambil kunci mobil yang berada di nakas samping tempat tidur kemudian keluar dari apartemenku. Ponselku bergetar, tanda telpon masuk, merogoh ponselku yang berada dalam saku celana. Shafira calling. "Ya, Fir.." "Maaf Za, aku ganggu kamu, tapi ini darurat. Sesha demam tinggi, Za. Tadi pagi sebelum aku jemput dia di sekolah malah main ujan-ujanan sama teman-temannya." Suara Shafira di seberang sana terdengar berat dan lirih. Oh Tuhan kenapa harus di saat yang tak tepat seperti ini. Mana yang harus kupilih pergi ke rumah Felly atau melihat Sesha, tapi Sesha adalah tanggung jawabku. "Oke kamu tenang yah. Aku akan segera ke rumah." Aku berusaha menenangkannya. "Aku lagi di taksi mau ke rumah sakit terdekat." "Baik, aku on the way," jawabku memutuskan sambungan. Tanpa ditunda-tunda aku segera masuk mobil, dan menjalankannya dengan kecepatan lumayan tinggi. Jujur saja aku sangat khawatir kepada Sesha. Kulihat Shafira sedang resah berjalan ke sana ke mari di depan ruangan UGD khusus anak dengan sesekali menggigit ibu jarinya kebiasaan yang tak pernah hilang dari dulu jika dia sedang resah dan panik. "Bagaimana, Fir?" tanyaku menghampirinya, sejenak dia menoleh, matanya sedikit sembab. Shafira menggeleng lesu. Orangtua mana yang tidak khawatir melihat anaknya terbaring sakit. Aku menghela napas sejenak, sebelum menarik tubuhnya ke dalam dekapanku mencoba menyalurkan kekuatan yang kupunya padanya. Membiarkannya menangis menumpahkan semua bebannya di dadaku. "Tenang, Sesha pasti akan baik-baik saja dia anak yang kuat," kataku mengusap-usap punggungnya. Shafira hanya menganggukkan kepalanya. Shafira, satu-satunya gadis yang kucintai dulu. Shafira adalah sahabatku dari jaman SMA. kupikir setelah sekian lama aku bersahabat dengannya dia pun akan merasakan perasaan yang lebih dari sekedar sahabat sama seperti diriku. Tapi ternyata semua pikiranku salah. Aku ditolaknya, dan seminggu kemudian dia dengan teganya berpacaran dengan Kakak kandungku sendiri. Hatiku sakit. Melihat mereka mesra-mesraan di depan mataku sendiri membuatku ingin menghancurkan semua isi Bumi. Aku yang dikenalnya lama tak pendapatkan sepeser pun hatinya, Tapi dia malah memberikan hatinya kepada Kakakku yang baru dikenalnya dua bulan saja. Sejak saat itu aku mengutuk semua wanita, kecuali Bunda. Bagiku wanita hanya sebuah boneka yang bisa dimainkan kapan saja sesuka hati, dan kalau bosan tinggal dibuang ke tong sampah. Tapi, kemudian aku menemukan sesuatu yang unik dan berbeda dalam diri Felly, dia bukan boneka tapi dia bidadari dalam hatiku yang akan selalu kujaga sampai kapan pun. Hubungan Shafira dan kakaku kandas di tengah jalan dalam kurun waktu satu tahun, kakakku memilih tinggal di Australia dan Shafira pergi entah ke mana. Lima tahun berlalu, tiga bulan yang lalu aku bertemu lagi dengan dia di salah satu Mall di bilangan Jakarta dengan seorang anak perempuan yang cantik dan manis berusia lima tahunan bernama Rasesha Aluna Ryder. Keluargaku terlalu banyak menyakitinya, tapi entah kenapa alasannya hingga Shafira memakai nama Ryder di belakang nama gadis yang menyebut Shafira dengan sebutan Mama itu. Tak lama, seorang dokter paruh baya beserta dua orang suster keluar dari kamar Sesha membuatku tersadar dari lamunan panjangku dan langsung melepaskan pelukanku terhadap Shafira. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Shafira penuh dengan rasa cemas. Dokter bernama Shandy yang kulihat di-name tag-nya tersenyum. "Demamnya sudah sedikit turun, saran saya biarkan pasien istirahat," ucap Dokter Shandy. Aku dan Shafira mengangguk paham. "Terima kasih, Dok." Dibalas dengan senyuman ramah oleh Dokter Shandy sebelum dia meninggalkan tempat ini. Aku membiarkan Shafira masuk terlebih dahulu ke ruangan Sesha sedangkan aku mengekor di belakangnya. Shafira mengusap kening anak semata wayangnya dengan sayang dan dikecupnya berkali-kali. Aku malu. Sungguh-sungguh malu. Keluargaku mencapakkannya begitu saja tanpa bertanggung jawab. "Za, sekali lagi aku minta maaf, aku dan Sesha udah banyak ngerepotin kamu." Nada suaranya parau. Aku menyunggingkan senyum, aku ikhlas bagaimana pun Shafira dan Sesha adalah bagian dari keluargaku. "Fira, aku ikhlas. Aku sayang sama kalian berdua. Dan aku janji aku akan bikin Ilham bertanggung jawab," ucapku mantap. Shafira berbalik badan menatapku nanar, sebutir airmata meluruh dari sudut matanya. Menghampiriku dengan gontai. Aku tahu ini sulit baginya. Membesarkan Sesha seorang diri tanpa ada suami yang mendampinginya. "Gak perlu, Za. Toh Ilham gak pernah mengakui Sesha sebagai darah dagingnya. Sekarang lebih baik kamu jalani hidup kamu dengan Felly gadis yang sangat kamu cintai itu, buat dia bahagia. Jangan terlalu khawatirin aku dan Sesha. Kami akan baik-baik saja," lirihnya. Aku salut sama Shafira, dia begitu tegar sekarang berbeda dengan Shafira lima tahun yang lalu. Ilham, lo, anjing! geramku dalam hati. Aku janji akan buat ilham bertekuk lutut kepada Shafira. Kini Shafira memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuatku mengerutkan kening dan mengikuti arah pandangnya. Adakah yang salah dengan penampilanku kali ini? "Kamu lagi ada janji ya? Rapih banget." Aku kembali mengerutkan keningku, berpikir apakah benar aku punya janji? Dan ah ... Felly? Aku harus ke rumah Felly malam ini, kulihat arloji yang melingkar di tangan, telat hampir satu jam. Aku menepuk dahiku keras merutuki sikap pelupaku ini. "Aku lupa, malam ini Felly lebih tepatnya orangtua dia mengundangku dinner di rumahnya." Aku panik, kurogoh saku celana mencari benda persegi panjang tipisku. Sial tadi aku menaruhnya di samping bangku kemudi. "Ya udah sana pergi. Jangan mengecewakan Felly dan keluarganya karena menunggumu terlalu lama," ucap Shafira. "Hubungi aku kalau terjadi sesuatu. Aku akan kemari lagi nanti," sahutku, langsung keluar dari kamar Sesha meluncur secepat mungkin ke rumah Felly. Kuambil ponsel yang tergeletak begitu saja. s**t! 15 panggilan tak terjawab dari Felly. Aku langsung tancap gas, membiarkan mobilku membelah jalanan dengan cepat, dan tak butuh waktu lama aku telah sampai di rumah besar bernuansa putih dan emas milik Felly. Aku merapikan penampilanku dan dengan ragu mengetuk pintu. "Reza," pekik Felly, dan langsung memelukku. Aku tahu dia khawatir. "Kenapa?" tanyaku santai. Dia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan raut khawatir. "Aku pikir kamu kenapa-kenapa. Aku pikir kamu gak bakal datang," lirihnya. "Maafin aku, tadi a-aku jenguk keluarga Bunda yang dirawat di rumah sakit," jawabku bohong, karena sampai saat ini aku belum bercerita tentang Shafira dan Sesha. "Ya udah masuk yuk! Mama dan Papa udah nunggu." Seketika kesedihannya hilang tergantikan oleh senyum yang menawan, dan langsung menarik tanganku ke dalam rumahnya. Kulihat Tante Inggrid dan Om Hito tersenyum hangat ke arahku, dengan rasa hormat aku pun tersenyum membalas. Duduk di sebelah Felly, dengan tante Inggrid berada di depan kami dan Om Hito di kursi tunggal. Dengan cekatan Felly menuangkan nasi beserta lauk pauk yang kusukai ke dalam piringku "Makasih," ujarku, dan dibalas anggukan oleh dia sebelum kembali duduk dan kami masing-masing melahap makanannya. "Reza," tegur Om Hito. Aku menghentikan sejenak aktivitas makanku dan memperhatikan ke arah Om Hito. "Om sama Tante gak akan maksa kamu buat cepat menikah dengan Felly, tapi Om minta jagain Felly dengan setulus hati kamu. Om ada kerjaan di Jepang, dan harus tinggal di sana selama dua tahun. Kamu maukan?" Om Hito menatapku penuh harapan. Kutolehkan kepala ke arah Felly yang kini sedang menundukkan kepala. Kulihat Tante Inggrid hanya tersenyum penuh harap ke arahku. "Pasti Om, Tante, tenang saja Reza bakal jagain Felly terus." Felly langsung menoleh dengan mata berbinar, mencoba mencari tahu tentang kebenaran di mataku. Aku mengangguk pasti. Om Hito dan Tante Inggrid menghela napas lega. "Syukurlah, Om dan Tante akan jauh lebih tenang di sana nanti." "Felly, mulai besok Kak Keenan sekeluarga juga akan tinggal di sini." Kulirik Felly mengangguk pelan tanpa minat. Syukurlah setidaknya Felly tidak kesepian selama di rumah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD