Part 3

1396 Words
REZA Setelah makan malam selesai, aku memilih duduk di Gazebo yang ada di taman belakang rumah Felly. Pikiranku terus berputar mengenai Sesha. Apakah keadaan gadis kecilku itu sudah membaik? Sejenak, aku memijat pelipisku karena sedikit pusing. "Wajahnya ditekuk muluk dari tadi? Nih, teh hangat buat kamu." Teguran Felly membuat semua lamunanku buyar sudah, kepalaku mendongak mendapati Felly kini berdiri tepat di depanku dengan membawa segelas teh yang tadi dia tawarkan. "Ambil," serunya, aku menghela napas sejenak lalu mengambil teh di tangan Felly dan menyesapnya pelan. Felly duduk di sampingku tanpa berkata apa-apa. Wajah sendu yang selalu dia perlihatkan beberapa bulan terakhir ini terlihat lebih dari biasanya. Seperti sedang bersedih. Aku menggeser posisi dudukku ke arahnya, mataku manatap mata hazel beningnya, ada pancaran yang sulit kuartikan. "Ada apa?" tanyaku penasaran sambil menyimpan cangkir teh ke samping paha. Dia memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Kamu yang apa ada? Dari tadi gelisah banget. Ada masalah?" Pertanyaan itu membuatku terhenyak kaget. Gak mungkin aku memberitahu Felly tentang Shafira dan Sesha. Aku menggeleng cepat. Dan kali ini aku harus merutuki diriku sendiri karena tak pandai menyembunyikan wajah gelisahku di depannya. "Nggak. Perasaan kamu aja kali," jawabku sekenanya. Felly memutar bola matanya, sekarang menatap tajam padaku. Entah kenapa mata hazelnya seolah mengikatku dan membuatku sulit berpaling. "Gak perlu bohong." Dia menghela napas berat sebelum melanjutkan ucapannya. "Selesaikan apa yang ada di pikiranmu. Pergilah!" lirihnya. Aku tahu dia tersakiti dengan sikapku, tapi mau bagaimana lagi. Hanya dengan sikap dinginku ini aku bisa menutupi semua rahasia itu. Dan jika harus jujur, aku sangat sangat merindukan Felly yang ceria seperti dulu. Aku menyunggingkan senyum kecil, kedua tanganku merengkuh bahu Felly, menatap manik matanya lebih dalam. Sungguh aku ingin sekali meyakinkan gadisku ini kalau aku baik-baik saja. "Aku masih mau di sini, Sipit," ucapku meyakinkan. "Buat apa masih di sini. Tapi hati kamu tidak di sini. Ayo aku antar kamu ke depan." Dengan cepat Felly menghempaskan kedua tanganku dari bahunya, Dia lantas bangkit dari duduknya. Sungguh aku sama sekali tak berniat membuatnya kecewa untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini pikiranku sangat kacau dan resah. Terlebih Shafira belum menghubungiku tentang kondisi Sesha. "Sipit, aku---" Belum sempat aku berucap dia sudah lebih dulu memotongnya. "Ayo aku antar ke depan. Selesaikan apa yang membuat kamu gelisah seperti ini!" Felly berjalan menjauh dari hadapanku. "Maafin aku, sayang," gumamku pelan. Dan dengan gontai aku mengikuti langkahnya menuju pintu depan. Dan di sinilah kami berdiri. Di beranda depan rumah Felly, tak ada kata yang keluar dari mulutku ataupun Felly. Bahkan kali ini wajah Felly semakin sendu. "Baiklah, aku pulang dulu." Akhirnya dengan berat hati kata itu meluncur dari mulutku membuatnya menoleh kearahku dan sedikit menganggukan kepalanya, sedangkan mulutnya masih terkatup rapat. Akhirnya aku melangkah menuju mobilku, berhenti sejenak dan menoleh ke belakang Felly masih mematung ditempatnya dengan tatapan kosong. Oh Tuhan! Apa yang ku lakukan? Tak tahan dengan diamnya Felly aku berbalik badan, dan merengkuh tubuh Felly ke dalam dekapanku. Kuyakin dia kaget dengan aksiku ini, namun aku tersenyum lega ketika dia balas memelukku erat menenggelamkan kepalanya di dadaku bahkan ku dengar isakan keluar dari mulutnya, dan kurasakan sesuatu yang hangat membasahi kemeja bagian dadaku yang kuyakini itu adalah airmata Felly. "Aku capek," gumamnya setelah lama terdiam dalam pelukku memukul pelan dadaku. Oh Tuhan, kenapa hatiku seolah dihantam ribuan batu hingga membuatku sesak mendengar kata itu keluar dari mulut Felly ditambah tangisannya yang semakin menjadi. Aku telah menyakiti gadisku ini. Aku memejamkan mataku dengan tangan yang masih mengelus punggung Felly, mencoba menenangkannya. "Sipit––" Lidahku kelu, dan hanya kata itu yang kini keluar dari mulutku. "Apa kita mampu untuk mempertahankan hubungan ini? Jika aku ataupun kamu sudah tak mampu lagi, Maka kita harus sama-sama melepaskan." Aku tercekat, tak pernah terpikir dalam otakku jika dia akan berbicara seperti itu. Perlahan aku melepaskan pelukanku, kepalanya menunduk, kuangkat dagunya agar menatapku. Mata semu sipitnya sangat bengkak dan merah begitupun dengan hidungnya yang kemerahan. Jariku dengan cekatan menghapus sisa air matanya. "Tidak ada yang harus melepaskan. Aku untuk kamu dan kamu untuk aku. Percayalah. Hanya kamu yang aku inginkan," ucapku mantap dan berusaha menampilkan ekspresi lembutku yang biasa kulakukan dulu. Dia hanya mengangguk pelan. "Maaf aku gak bermaksud berkata seperti tadi. Aku cuma terbawa emosi," lirihnya menyesal dengan nafas tersenggal senggal. Aku tersenyum, "Masuk gih, tenangin pikiran kamu. Sekarang aku pulang dulu," ucapku menenangkan, tanganku terulur untuk menarik tengkuknya dan mengecup keningnya cukup lama. "Selamat malam, Sipit." Aku mengacak-acak rambutnya lembut. "Malam, Za," balasnya pelan. Kulanjutkan berjalan menuju mobil sebelum langkahku terhenti karena Felly berseru namaku pelan namun masih bisa kudengar dengan jelas. Aku menoleh. "Hati-hati," gumamnya. Aku tersenyum seraya mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobil langsung menuju rumah sakit untuk memastikan kondisi Sesha. *** Kuusap wajah cantiknya yang tenang dan damai dikala tertidur. Entah kenapa aku menyunggingkan senyum miris melihat wajah Sesha yang sekilas mirip Bunda. "Loh, Za, kok udah pulang?" Suara interupsi ala Shafira membuatku dengan cepat menoleh kearah suara itu berasal. Kulihat Shafira sedang membawa kantong plastik berwarna putih berukuran besar yang kuyakini isinya adalah makanan yang baru dia beli. Karena saat aku masuk ke sini, Shafira tidak ada di sini. Aku menghela napas sejenak. "Felly menyuruhku pulang," jawabku. Shafira mengerutkan keningnya bingung. "Memangnya kenapa? Kalian bertengkar?" Tanya dia, sebelum melangkah menuju sofa dan menaruh plastik belanjaannya diatas meja, kemudian duduk di sofa sudut ruangan. Aku menghampirinya dan menghempaskan tubuhku yang lelah ini di sebelahnya. "Tidak bertengkar, aku cuma gelisah aja dengan kondisi Sesha dan Felly tahu tentang kegelisahanku itu." Kulihat Shafira memutar bola mata jengah. "Sudah aku bilang, jangan terlalu khawatir pada Sesha, kasihan Felly, dia sudah banyak mengalah sama sikap kamu itu." Ya, aku sadar akan hal itu, tapi aku sudah terlanjur menutupi ini semua dari Felly. Dan aku harus menanggung semua konsekuensinya. "Za, sejatinya tak ada wanita yang ingin berbagi. Meskipun aku bukan siapa-siapa kamu, tapi separuh waktumu kamu habiskan untuk bersama Sesha. Dan itu pasti mengundang kecurigaan Felly." "Aku kembali ke kota ini, bukan untuk mengganggu hubunganmu dengan Felly. Jadi mulai sekarang, perbaiki hubunganmu dengannya seperti dulu sebelum aku kembali ke sini. Bukankah kamu sangat mencintainya?" Aku mengangguk cepat. Lima tahun yang lalu Shafira menghilang tanpa meninggalkan jejak, semua media sosialnya off. Tetapi dua tahun yang lalu, kita kembali berkomunikasi. Berawal dari dia yang mengirim email berisi kumpulan video Sesha yang sedang asyik bermain. Mulai saat itu aku bercerita banyak hal padanya, layaknya seorang sahabat yang berpisah lama dengan sahabatnya. Sampai akhirnya aku bertemu Felly, dan menceritakan semuanya dengan perasaan membuncah bahagia pada Shafira, dari mulai ketertarikanku pada Felly sampai terakhir tentang pertunanganku dengan dia. "Sebagai sesama wanita aku tahu perasaannya, Za. Dikhianati sama orang yang kita cintai itu menyakitkan," lrihnya, meremas baju bagian dadanya. Aku sangat tahu rapuhnya dia ketika dulu masa depannya hancur karena hamil, dan lelaki yang menghamilinya kabur tanpa mau bertanggung jawab. Bahkan dia hampir mengakhiri hidupnya di atap gedung kampus, beruntung aku bisa menghalanginya. Kedua tangannya mengulur memegang bahuku, refleks aku menatapnya bingung. "Pertahankan dia, jangan sampai kamu menyesal," ucapnya seraya menepuk-nepuk bahuku. Aku mengangguk pasti. "Kamu pulang gih, biar aku saja yang menjaga Sesha." Shafira kembali ke tempat duduknya. "Aku akan tidur di sini malam ini. Tidak ada penolakan, lebih baik kamu istirahat biar aku yang menjaga Sesha." *** Keesokan harinya, mataku mengerjap ketika cahaya mentari menelusup masuk. Leherku terasa berat dan sakit akibat tidur dengan keadaan duduk. Mataku memandang sekeliling, Sesha masih dalam tidur nyenyaknya, pandanganku beralih pada sofa yang semalam ditiduri Shafira namun sofa itu kosong. Mungkin Shafira pulang sebentar pikirku. "Papa." Suara kecil yang ku yakini adalah suara Sesha itu membuatku bangkit dan mendekat ke ranjang Sesha. Gadis kecil berusia 4 setengah tahun itu menggeliat dengan lucunya. "Kamu sudah bangun, sayang? Nyenyak tidurnya?" tanyaku lembut seraya mencondongkan badanku tepat di wajahnya. "Sesha di mana? Sesha mau pulang, Papa. Di sini bau obat, Sesha gak suka." Sesha cemberut, dia memang tergolong pintar untuk anak seusianya. Kutempelkan punggung tanganku di dahinya, suhu tubuhnya sudah kembali normal. "Nanti siang juga pulang, sayang. Sesha mau Papa beliin es krim yang banyak?" Matanya berbinar cerah dan senyumnya mengembang. "Benarkah? Yeay, Sesha mau, Pa." "Tapi janji dulu, Sesha gak boleh main ujan-ujanan lagi dan harus nurut sama Mama. Janji?" Aku mengacungkan jari kelingkingku. "Janji!!!" teriaknya mantap seraya menyambut jari kelingkingku. Tak lama Shafira datang, pakaiannya sudah berganti. "Kalau begitu Papa pulang dulu karena harus kerja, nanti Papa beliim es krimnya kalau Sesha udah sembuh, okay?" Sesha tersenyum. "Oke, Pa." ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD