Part 4

1368 Words
Felly POV Dulu tak pernah berpikir, perjalanan asmaraku akan rumit seperti ini. Aku bahkan beberapa kali mengomeli Annisa ketika dia harus terus menerus mengalah karena pekerjaan yang super padat dijalani Tirta. Tapi sekarang semuanya seakan berbalik padaku. Bahkan bisa dikatakan lebih parah. Karena sejak tadi malam tidak ada notif apapun yang masuk dari Reza. Aku tahu dia sibuk. Tapi, masa iya aku diselingkuhin sama pekerjaan. Makan malam terakhir di rumah hampir seminggu berlalu, namun masih menyisakan kesedihan sekaligus bingung dengan sikap Reza yang tiba-tiba melunak dan merengkuh tubuh lelahku dalam dekapannya. Memberi kesan nyaman yang sangat luar meskipun rasa kecewa pada sikapnya tak bisa kuhindarkan. Semua kata yang diucapkannya malam itu masih terekam dengan jelas di otakku. Tidak ada yang harus melepaskan. Aku untuk kamu dan kamu untuk aku. Percayalah. Hanya kamu yang aku inginkan Ucapnya terdengar mantap di telingaku. Mencium keningku lama. Jujur saja wajahku merona hanya dengan perkataannya. Kamu tahu Za, kuharap Tuhan menyatukan kita. Aku hanya harus memupuk kepercayaan yang dalam dan menghapus semua praduga negatif pada lelaki itu, lelaki yang selama setahun menempati ruang kosong di hatiku. Hubungan akan cepat berakhir jika tidak adanya komitmen dan pondasi yang kuat tentu saja aku tidak mau itu terjadi pada hubunganku dan Reza. "Hidup kadang tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Belajarlah untuk lebih bersabar dan berdamai dengan keadaan. Kalian bukan anak kecil yang harus saling diam ketika masalah menghadang. Mama bukannya tidak menyadari perubahan sikap Reza, tapi Mama percaya ada alasan yang kuat di balik itu semua. Mama yakin dia bisa menjagamu dan menjadi imam yang baik untukmu. Tersenyumlah menatap hari jika kamu tak mau Mama dan Papa khawatir di sana." Begitulah petuah yang Mama kasih sebelum keberangkatan mereka ke Jepang seminggu yang lalu, dan bisa kupastikan kalau Mama mendengar pembicaraan dan aksi kami di beranda depan malam itu. Ketukan di pintu membawaku pada kenyataan. Kak Keenan membangunkanku untuk sarapan bersama. Yah seperti yang dikatakan Mama malam itu. kak Keenan––kakak lelakiku satu-satunya dan Kak Shira––istrinya dan putranya tinggal bersamaku. Setidaknya aku tidak kesepian karena kehadiran mereka, apalagi ditambah dengan kehadiran Devan keponakan tampanku yang baru berusia dua bulan. Setengah melompat aku mengambil handuk dan meluncur ke kamar mandi berendam dengan air hangat mungkin akan sedikit mengurangi beban yang kupikul. Hari ini aku akan seharian di Butik, aku berencana me-launching busana hasil karyaku minggu depan. Aku ingin memberikan yang terbaik sebagai desainer. "Pagi kak," sapaku pada Kak Shira yang tengah menyiapkan sarapan. "Pagi," sahutnya lembut. Mataku berkeliling mencari sosok yang tadi membangunkanku. "Kak Keenan ke mana kak? Bukannya udah bangun?" tanyaku membantunya menyiapkan sarapan untuk kami. "Lagi siap-siap kali, tadi pagi dia terbangun buat nenangin Devan yang nangis," jelas Kak Shira, aku mengangguk paham. Senyumku mengembang ketika kulihat keponakan lelakiku sedang tertidur pulas di kereta bayi tak jauh dari meja makan sambil mengulum jempol tangan kanannya. Aku menaruh tiga gelas s**u di atas meja makan sebelum menghampiri bayi tampan itu. "Pagi jagoan, aunty.." Aku tersenyum, berjongkok di depan kereta bayi Devan. Tanganku mengelus pipinya yang lembut dan gembul, wajahnya benar-benar fotokopy dari Kak Keenan. Otakku secara tiba-tiba membayangkan hubunganku dan Reza berakhir di pelaminan dan memiliki anak yang tampan dan cantik dan tentu saja menggemaskan. Aku tersenyum getir. Ck, rasanya terlalu jauh untuk menuju ke arah sana meski persiapan pernikahan sudah dimulai tanpa tahu kapan akan dilaksanakannya. "Devan lucu kalau lagi tidur gini, Kak." Mataku menoleh ke arah Kak Shira. "Makanya cepat menikah dong. Anak-anakmu pasti akan lebih lucu dari Devan. Ahh, semua orang pasti ngiri padamu." Tenggorokanku tercekat ketika Kak Shira dengan lancarnya mengeluarkan kata-kata itu. Seperti dilayangkan tonjokan tepat di dadaku, rasanya sangat sesak. Aku tak berniat menjawab dan memfokuskan diriku kembali pada Devan. "Kenapa diam, Fel, kakak salah bicara?" Suara Kak Shira terdengar menyesal. Entah sudah berapa kali aku menghela napas pagi ini. Aku melirik ke arahnya dan mencoba tersenyum walau terpaksa. "Tidak Kak, hanya saja belum ada kepastian perihal ke arah sana," lirihku. Entah kenapa airmataku selalu meluruh setiap ada orang yang menyinggung soal pernikahan. "Menikah itu butuh proses. Harus ada pemikiran yang benar-benar matang sebelum kalian melangkah. Sebuah komitmen harus ada saat ijab kabul dibacakan. Bersabarlah! Akan ada waktu di mana kamu dan Reza berjodoh, kakak yakin. Maafin kakak soal tadi, kakak gak berniat menyinggung perasaanmu." Aku bersyukur hidup bersama orang orang yang selalu memberiku semangat dalam menghadapi setiap masalah. Aku bangkit menghampiri Kak Shira yang saat ini kuanggap pengganti Mama untuk berbagi cerita. Senyum masih bisa ku perlihatkan walau terpaksa. Aku memeluk Kak Shira dari belakang. Ibu muda ini memang sudah akrab denganku dari sebelum dia menikah dengan Kak Keenan "Nggak papa, Kak. Felly cukup sadar akan hal itu. Makasih kakak sudah banyak memberi nasehat untuk Felly. Semoga doa kakak tadi terkabul karena jujur saja Felly sangat berharap bisa menikah dengan Reza," cicitku lirih, semakin membenamkan wajahku di lekukan lehernya yang jenjang. Kak Shira mengelus punggung tanganku yang berada di pinggangnya. "Kamu bisa menghadapi semua ini, Fel. Ayo sarapan! Sebentar lagi Kakakmu pasti keluar. Hapus air matamu itu jika tidak ingin kakakmu ngomel." Yah Aku cukup tahu dan jeli dengan tatapan tak sukanya kak Keenan pada Reza jika mereka bertemu. Apalagi kalau dia tahu aku menangis karena Reza. Kak Keenan bisa memaki Reza habis-habisan. Aku kembali menghela napas, melepaskan tautan tanganku di perut kak Shira dan kembali duduk di meja makan seolah tak terjadi apa-apa tanganku meraih dua lembar roti dan mengolesnya dengan selai coklat kesukaanku. Tak lama Kak Keenan muncul dengan pakaian formal khas CEO perusahaan dengan tas kerja yang ditenteng di tangan kanannya. Mendekati sempurna Kak, pikirku. Gen Ayah sangat mendominasi wajah rupawannya. Aku benar benar iri sebagai adiknya. "Pagi semua," sapanya dengan suara berat. "Pagi," jawabku tanpa minat, lebih berminat menyuap roti isiku. Kak Keenan memeluk Kak Shira yang tengah mengolesi selai ke roti dari belakang, membenamkan wajahnya di tengkuk Kak Shira kemudian mengecup kening Kak Shira lama. Astaga wajah mesummu ituloh, Kak! Bikin aku mual saja. "Ehem.. di sini masih ada adikmu yang cantik jelita loh, Kak. Hentikan acara mesra-mesraannya sebelum aku melempar rotiku ke wajah Kak Keenan," ancamku, mengacungkan roti yang sedang kumakan. Kak Keenan menyeringai jahil, sedetik kemudian duduk di kursi yang biasa ditempati Papa. "Bilang aja iri pengen punya suami yang romantis seperti, Kakak. Iya kan?" Aku mendengus, kemudian bibir mengerucut. "Ih pe-denya over dosis. Iri dari mana? Yang ada eneg kalau calon suamiku romantisnya berlebihan seperti Kak Keenan." Aku tersenyum penuh kemenangan. Tapi bukan Kak Keenan jika langsung mengalah. "Setidaknya aku gak kaku dan memperlihatkan ke-posesifanku pada wanita yang kakak cintai, gak kayak si bule KW tunanganmu itu." Aku mendelik tajam ke arahnya. Seringai penuh kemenangan masih terpancar jelas di wajah tampannya. Cih, Kakak macam apa yang menjelek-jelekan tunangan adiknya sendiri. "Reza mencintaiku dengan caranya sendiri," tukasku mantap. "Cih, terserah kamu saja. Yang penting Kakak sudah memperingatkanmu," ucapnya santai, tak sadar kalau omongannya itu menyakiti perasaan adik terkasihnya ini. "Bagaimana dengan tawaran Papa? Kamu menyanggupinya?" Kenapa harus membahas soal itu di sela sarapan sih, moodku hilang seketika. Sebelum terbang ke Jepang, Papa memintaku untuk bekerja di perusahaan pusat sebagai wakil direktur menggantikan Pak Damar yang ditempatkan di kantor cabang. Aku awam dalam dunia bisnis dan perkantoran meskipun kuliahku di bidang Ekonomi dan Bisnis itu tak menjamin kemampuanku, karena dasarnya itu paksaan dari Papa. Aissh... memikirkan hal itu membuatku pusing. "Entahlah kak, belum sepenuhnya aku pikirkan. Sekarang aku sedang fokus untuk launching busana hasil karyaku ke publik akhir pekan nanti, baru setelah itu aku akan berpikir mengenai permintaan Papa. Sabarlah sebentar Kak, dunia bisnis itu jauh dari duniaku toh papa juga gak memaksanya," jelasku. Kak Keenan mendelik dengan sorot tajam kepadaku, sementara Kak Shira hanya menjadi pemerhati yang baik tanpa berkomentar. "Sekarang Kakak yang mengambil alih perusahaan, sebagai anak harusnya kamu mengerti keinginan orangtua. Apa gunanya kamu kuliah di bidang ekonomi bisnis sampai S2 kalau mengelola bisnis papa saja tidak mampu. Toh kamu bisa membantu suamimu dalam mengelola perusahaan kelak." Jengah dengan keadaan, aku bangkit dan meraih tasku yang berada di atas meja makan. "Akan Felly pikirkan, Kak. Felly berangkat duluan." Meskipun agak sebal dengan kata kata tajamnya tadi, aku tetap menaruh rasa hormat kepada kakakku satu-satunya ini dengan mencium punggung tangan dan pipi kanan kak Keenan kemudian melakukan hal yang sama pada Kak Shira. *** Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD