Part 5

1294 Words
Menunggu memang sesuatu yang menyebalkan dan membosankan. Bagaimana bisa, hampir jam makan siang tapi Reza belum menghubungiku sama sekali. Aku tahu dia sibuk, tapi mengertilah aku di sini khawatir dan sangat merindukannya. Beberapa kali kutatap layar ponsel beberapa kali juga aku harus menelan rasa kecewa. Ingin rasanya aku menelponnya tapi selalu saja kuurungkan mengingat kesibukannya. Untuk mengurangi kegalauanku, menyibukkan diri dengan mendesain serta menyulam motif pada bagian beberapa busana yang akan di launching pekan depan dibantu beberapa asistenku dan juga asisten Annisa mungkin pilihan yang tepat. Karena sejatinya butik ini dibangun dan dikelola oleh aku dan Annisa. Dan Annisa meninggalkan tanggung jawabnya, sahabat terbaikku itu untuk beberapa bulan harus menetap di Singapura karena sang suami yang ditugaskan di sana. Kuharap dia menepati janjinya untuk datang ke acaraku nanti. Awas aja kalau sampai berani tak datang. Ponsel yang kugeletakan diatas meja kerja berdering begitu nyaring. "Mbak, ada telepon dari Mas Reza tuh kayaknya," tegur Wita asisten pribadiku yang hanya terpaut dua tahun lebih muda dariku. Bibirku mengulum senyum, dengan setengah berlari menuju meja kerjaku, duduk santai di kursi kerja dan mengangkat telepon dari Reza. "Hallo," sapaku dengan nada bicara seriang-riangnya. "Hallo, Sipit, apa kabar?" tanya dia di ujung sana. Entah apa yang harus aku ekspresikan sekarang, senang karena suaranya agak sedikit melunak dan secuil kata perhatian yang dia tanyakan. Atau sedih karena tak bisa melihat wajah tampannya secara langsung ketika mengucapkan kata 'apa kabar' tadi yang menurutku sedikit manis. Ah berlebihan kurasa. "Baik. Kamu gimana?" "Baik juga," jawabnya singkat yang sedikit membuatku mencelos. Hah, baru detik tadi aku memujinya sekarang berubah lagi. "Ke mana aja?" Rasa penasaranku sudah tak bisa ditolelir lagi. Dia menghela napas berat, seakan tahu arah pembicaraanku. "Maaf yah, aku ada meeting dari pagi. Jadi baru bisa ngasih kabar sekarang, ini juga ngambil waktu di sela istirahat," jelasnya. Suaranya terdengar berat dan lelah. Masih jelas diingatanku dulu dia sering menguap ketika kencan denganku, wajah lelahnya begitu mendominasi meskipun dia terus memaksakan buat menemaniku. Reza mungkin satu dari sekian banyak orang yang larut dalam pekerjaan. Hahh, kenapa jadi mengingat kejadian yang sudah berlalu sih. "Capek banget ya?" tanyaku lembut. "Ya, sedikit." Aku tersenyum kecut. "Oh ya sudah kamu istirahat gih. Eh tapi sebelum itu aku ingin memberitahumu tentang sesuatu." "Apa itu?" "Aku ingin kamu hadir dalam acara launc---" "Maaf, Sipit, kayaknya waktu istirahatku sudah habis. Aku harus kembali mengikuti meeting. Nantiku telepon lagi. Bye." Dia menutup teleponnya secara sepihak. Kecewa? Pasti. Siapa yang tidak kecewa jika dia terkesan lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan dengan tunangannya sendiri. Sabar Felly, sabar. Akan ada waktunya di mana perhatiannya akan sepenuhnya untukmu. Moodku hilang dalam sekejap hari ini, melipat tangan di atas meja dan menenggelamkan kepalaku di sana kurasa lebih baik untuk sekedar menenangkan pikiran walaupun tidak sepenuhnya. "Reza lagi?" Kaget. Suara yang sangat familiar ditelingaku, aku mendongak. Oh Ya ampun, lihat siapa yang datang? Seorang ibu muda dengan bayi tampan berusia enam bulan di gendongannya. "Nisa!" teriakku dengan mengerjapkan mata beberapa kali. "Kapan datang?" tanyaku sambil meraih bayi dalam gendongannya. Dan beralih ke gendonganku. Kuciumi pipi tembem bayi tampan ini dan dia hanya tertawa renyah. Jujur saja aku sangat suka sekali dengan anak kecil. "Tante kangen banget sama Rafa. Rafa gak kangen apa sama tante?" tanyaku mengajak Rafa bicara, Rafa hanya senyum untuk menjawab pertanyaanku. "Tadi pagi," jawabnya, lalu duduk di sofa yang tersedia. "Kata Ibu, dari pagi lo ngelamun terus. Ada masalah?" "Nggak kok," jawabku sesantai mungkin, ikut duduk di samping Annisa dengan terus bermain dengan keponakanku yang lucu dan tampan ini. "Lo tuh ya, beberapa bulan ditinggal ke Singapura masih aja galau." Kurasa Annisa tahu masalahnya tanpa harus kujelaskan. "Rafa montok banget sih, Nis. Jadi gemas," ujarku mencubit pelan pipi Rafa gemes. Mengalihkan pembicaraan mungkin lebih baik. "Tahu, tuh. Tapi gak apalah tandanya Rafa sehat," sambungnya. "Coba deh lo tanya sama dia kenapa sikapnya berubah? Lo tahu gak sih kalau gue tuh kangen sama sikap lo kayak dulu." Aku menarik napas, bukan aku tak berusaha untuk mencoba menanyakan hal itu. Hanya saja aku terlalu pengecut untuk memulainya. "Gue nunggu keajaiban Nis," jawabku sekenanya. Kulihat Annisa memutar bola matanya jengah mungkin. "Keajaiban dari Hongkong. Kayak bukan lo aja, Fel," sindirnya. "Apa perlu gue minta Tirta untuk nanyain hal itu gimana ke Reza?" Aku mengerutkan dahi disertai gelengan kepala yang cukup cepat. "Jangan, ini masalah gue, Nis. Gue bisa selesaikannya sendiri. Udah deh gak usah berlebihan, gue baik-baik aja kok." "Tapi ini udah keterlaluan Felly," ucap Annisa penuh penekanan. Aku tersenyum singkat. "Udahlah jangan bahas soal itu lagi. Mending makan yuk di Cafe Doni. Lo belum ketemu dia kan?" Kucoba mengalihkan pembicaraan lagi, hari ini terlalu pusing untuk membicarakan hal yang berhubungan dengan Reza. Akhirnya Annisa menyetujui ide-ku. Membuatku tersenyum lega. Setidaknya dia tidak mengorek lebih lanjut mengenai hubunganku dan Reza yang semakin runcing apalagi ditambah dengan kesibukan dan sikap datar sekaligus dinginnya itu. Ponsel sengaja kutinggalkan di butik takut Reza menelpon, bukan aku tak rindu dengan Reza hanya saja hari ini terlalu banyak drama yang membuatku jengah. "Wita, nanti kalau ada Reza telepon kamu angkat aja dan bilang kalau aku lagi sibuk buat persiapan launching busana minggu ini. Dan aku berharap dia datang," jelasku pada Asistenku. Wita tergugup, mungkin dia merasa kurang sopan jika menuruti kemauanku. "Saya takut, Mbak. Mbak aja yang bilang deh. Kenapa juga handphone-nya harus ditinggal?" "Lagi malas aja ngomong sama dia. Udah deh gak usah protes. Aku pergi dulu," pamitku tidak mau dibantah. Mengambil tas dan langsung pergi karena Annisa sudah menunggu di dalam mobilku. "Mentang-mentang gak ada Reza. Lo gak ke sini selama dua hari kemarin," omel Doni di saat kita telah duduk santai di cafe-nya. Aku tersenyum manis. "Kan gue udah bilang gue sibuk di Butik," sanggahku cepat. "Ya deh terserah. By the way lo kapan datang Nis?" Kini tatapan Doni beralih ke Annisa yang duduk di sebelah kanannya, tengah asyik bercengkrama dengan sang buah hati. "Tadi pagi, Don. Kebetulan tugas Tirta selesai lebih awal jadi bisa pulang deh," jawabnya tenang. Aku dan Doni mengangguk paham. "Jadi kalian berdua mau pesan apa? khusus hari ini gue ngasih diskon 30% deh buat dua teman deket gue yang cantik-cantik ini." Mataku membulat penuh, terkesiap dengan perkataan Doni. Namun detik kemudian berbinar dan mengumbar senyum penuh minat jarang-jarang kan dia ngasih diskon. "Serius?" tanyaku dan Annisa serempak. Doni mengangguk yakin seraya memanggil waiter yang sudah siap untuk mencatat. Aku menyangga daguku di kepalan tangan sambil menunggu makanan tiba, menatap Rafa yang tengah asyik dengan dengan botol susunya yang tinggal setengah. "Nis, kalau nanti anak gue cewek, gimana kalau kita jodohin sama Rafa aja?" Annisa melongo sebentar kemudian tertawa, memangnya lucu apa? "Nis, gue serius," keluhku, dan kini Annisa berhenti tertawa. "Lo percaya gak sih, tentang sebuah kebetulan," ucapnya santai, aku mengerutkan dahi bingung. Benar-benar ambigu. "Maksud lo?" "Gue sama Tirta emang udah ada niatan buat jodohin Rafa sama anak lo kalau nanti anak lo cewek, Fel," jelasnya. Membuatku melongo dengan mulut yang terbuka lebar. "Serius lo?" Annisa mengangguk, otakku kembali berpikir jauh di mana aku dan Reza memiliki anak perempuan yang sangat cantik. "Aku jadi gak sabar buat punya anak," kataku tersenyum merekah. "Nikah aja belum!" Suara Doni menginterupsi dengan tangannya yang menyenggol tanganku yang menjadi penyangga. Membuatku kaget. "Sialan! Seenggaknya gue udah punya calon. Nah, elo apa kabar?" sindirku. Doni tersenyum misterius, membuatku curiga. "Nanti deh tunggu anak cewek yang lo idamkan itu lahir. Dan kalau dia udah dewasa gue bakal jadi menantu lo," ucapnya percaya diri. "Enak aja, gak mungkinlah gue nikahin anak gue sama Kakek tua kayak lo," cibirku telak. Membuatnya juga Annisa tertawa keras. "Bercanda doang kali. Nanti deh gue kenalin calon gue sama kalian." Tak lama pesanan pun datang, dan jadilah acara makan siang ini menjadi ajang curhat-curhatan sekaligus reuni kuliah walaupun kita berbeda jurusan. Hanya dengan mereka aku bisa melepaskan penat yang menumpuk di kepala. TBC ^_^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD