Part 6

1405 Words
Kuabaikan semua panggilan ataupun sms yang masuk dari Reza sejak kemarin. Biarlah aku butuh ketenangan untuk sementara waktu. Seperti hari ini, waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam tapi aku masih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk launching besok. "Haii," desis seseorang bersuara berat yang familiar di telingaku. Dengan ragu aku berbalik badan menuju asal suara itu, sosok lelaki yang menjulang tinggi dengan memakai kemeja dongker berdiri di hadapanku dengan memasang senyum. Beberapa kali mataku mengerjap memastikan bahwa apa yang kulihat adalah nyata. Dengan refleks dan tak sadar aku mencubit lengan dia. Membuatnya meringis. "Aduh, kok dicubit sih?" Aku terkesiap, langsung mengusap lengannya yang tadi kucubit dan nampak ada bekas kemerahan. Aku jadi merasa bersalah. "Maaf Za, aku pikir ini mimpi. Jadi refleks aja mencubit lengan kamu. Maaf banget," kataku menyesal dengan menelungkupkan tanganku di d**a. "Gak papa kok." Reza tersenyum manis, senyum yang jarang dia tunjukan akhir-akhir ini. Kemudian mengacak-acak rambutku. "Gak kangen?" Reza mengedipkan matanya, Dia baru saja menggodaku sekaligus menyindirku. Mataku membulat tak percaya. Kangen? Ya pastilah. Tapi ada gengsi untuk mengatakannya, secara tidak langsung aku marah padanya sejak kemarin. Dan sekarang jika aku menjawab 'Ya aku kangen' mau ditaruh di mana harga diriku di depan lelaki tak peka ini. Sepersekian detik kurubah ekspesiku dengan menampilkan wajah cemberut. "Nggak," jawabku ketus. "Toh kamu juga gak kangen sama aku." Reza duduk di sofa, mengernyitkan satu alisnya dan menatapku lekat. Argh jantungku berdebar kencang jika dia mengunci pandangannya seperti ini. "Gimana mau bilang kangen kalau dari kemarin kamu susah dihubungi. Telepon gak pernah diangkat, sms gak dibales. Wita bilang kamu ngambek gara-gara aku memutuskan sambungan teleponnya padahal kamu mau bilang kamu akan launching busana di hari minggu lusa dan memintaku hadir bukan?" jelasnya dengan ekspresi yang gak bisa k****a membuatku terdiam sesaat. "Terus?" Dia menarik tanganku untuk duduk disampingnya. Baiklah aku nurut kali ini. "Itu sebabnya aku ke sini buat jelasin ke kamu kalau kamu hanya salah paham. Selama di sana aku beneran sibuk, Sipit. Aku hanya punya waktu luang sedikit di siang hari sedangkan malam mungkin selesai jam sepuluh. Dan jika aku meneleponmu aku takut kamu sudah tidur. Kalau untuk undangan acara kamu itu, aku pasti datang kok." Aku menghela napas, Aku ingin memprotes tapi hati dan pikiranku sangat bertolak belakang. Pikiranku mengatakan kalau dia bohong. Tapi hatiku seolah percaya kalau dia memang bicara yang sejujurnya. Lagi-lagi aku harus berdamai dengan keadaan percaya dengan semua ucapannya. "Maafin aku ya," ujarnya, jemarinya kini mengapit jemariku. Aku mengangguk pelan. "Kapan kamu nyampe Jakarta?" Tanyaku membuka topik lain. "Sekitar tiga jam yang lalu," jawabnya santai. "Ohh." Aku berohria sambil manggut-manggut. "Udah sana pulang, aku masih ada kerjaan," usirku melepaskan jemarinya dan beranjak menjauhinya. Namun lengan kekarnya kembali mencekalku. "Mau nge-date bersamaku malam ini?" Tanya dia yang sukses membuatku melongo dan kaget. ngedate?? Really?? Senyumku merekah. Namun detik kemudian aku mendatarkan ekspresiku. "Aku masih banyak kerjaan, Za. Besok sudah harus selesai," jawabku sekenanya. Tanpa berbalik badan. "Ini udah malam, Fel. Toh ada karyawan sama asisten kamu. Kata Wita dari tadi siang kamu memforsir diri dengan kerjaan. Aku juga capek nih butuh refresing. Jadi mau gak jalan denganku sipit?" "Ayo!" seruku pelan. Reza tersenyum simpul. Dengan segera dia menggenggam lenganku dan berjalan menuju mobilnya. "Masuk," katanya santai, setelah membukakan pintu mobilnya untukku. Gentlemen huh!! Kencan bersamanya? Entah kapan aku terakhir kali kencan dengannya seperti ini. Tapi ah sudahlah toh sekarang aku mau berkencan dengan dia. "Jadi mau ke mana?" tanyaku sambil memasang sabuk pengaman. Di saat mobil ini sudah membelah jalanan ibu kota. "Lihat aja nanti." Aku merengut. "Nyebelin huh!" Aku meninju pelan lengannya. Dia tertawa renyah sambil menarik pelan hidungku gemas. Bibirku mengerucut dengan tangan yang mengelus hidung bekas tarikan Reza. "Jangan ngambek dong, kan tadi baru baikan. Masa ngambek lagi." Reza tersenyum manis, jantung oh jantung meleleh. Kalau seperti ini ketampanannya diatas normal. "Iya." Keadaan hening, aku memilih memandang keluar jendela sementara Reza fokus ke jalanan. "Ayo turun!" ajaknya. Aku segera keluar dari mobilnya dan berdiri disampingnya. Mataku menyipit, salon? "Mau ngapain ke salon, Za?" "Udah ikut aja." Reza menggenggam tanganku dan melangkah memasuki salon kecantikan ini, sementara aku masih bingung sendiri. "Aku tunggu di sini ya," ucapnya. Mendorong bahuku untuk masuk ke dalam. Meskipun bingung akhirnya aku menurut, memperhatikan setiap detail make up yang pegawai salon poleskan ke wajahku didepan cermin. "Nah selesai, sekarang mbak ganti baju. Gaunnya sudah kami siapkan di ruang ganti. Mari saya antar!" kata pemilik salon, semakin membuatku bingung sebenarnya ada apa ini. Mataku membulat sempurna ketika melihat sebuah gaun cantik berwarna navy semata kaki tanpa lengan dengan aksen pita dibagian tengahnya. "Gaun ini Mas Reza yang pilih sendiri. Mbak pakai sekarang ya. Saya tunggu di luar." Pemilik salon berlalu membuatku mengerutkan kening. Dengan ragu aku memakai gaun ini. Kulihat pantulan bayanganku di cermin, gaun ini begitu pas di tubuhku dengan make up yang natural dan rambut panjangku yang di curly membuatku terlihat berbeda. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum puas. "Subhanallah, cantik sekali, Mbak. Gak salah Mas Reza memilih calon," puji Pemilik salon ketika aku keluar. Aku tersenyum kikuk. "Mas Reza sudah menunggu di depan. Mari saya antar!" seru si pemilik salon, aku mengangguk pelan jantungku berdebar kencang. Sepersekian detik kita terdiam menatap satu sama lain. Reza tampak gagah dengan balutan kemeja navy. Aku menelan ludah dengan susah payah, sangat tampan. "Mas Reza sampai gak berkedip lihatnya," sindir si Pemilik salon terkekeh geli. Mau tak mau aku tersenyum. Reza tercekat menggaruk tengkuknya yang kuyakini tak gatal. "Eh, ah, udah siap?" Aku mengangguk dengan senyum yang tak lepasku perlihatkan. Reza mengulurkan tangannya, dengan ragu kuraih dan kitapun pergi ketempat tujuan. "Kamu, cantik," bisiknya membuatku merona. Dan membuat debaran jantungku berdebar dua kali lipat. Tak sampai setengah jam kita sudah sampai ketempat tujuan, Reza mengitari mobilnya dan membukakan pintu untukku. Serasa tuan Putri deh. Aku terhenyak kaget ketika Reza melingkarkan tangannya di pinggangku membuat aroma wangi dan segar parfum maskulinnya menyeruak menusuk penciumanku. Jantungku semakin berdegup kencang. Aku mengedarkan pandangan kesegala arah dengan dahi berkerut. Tampak asing dengan tempat ini. Aku menatap takjub sebuah meja makan telah siap di sebuah Dermaga, dengan lilin-lilin kecil di sekelilingnya. Lampu taman yang temaram yang memantul di air laut membuat kesan indah dilihat mata. Aku menggigit bibir bawahku kuat seolah tak percaya dengan apa yang kulihat. Apa Reza yang mempersiapkan semua ini? "Za," pekikku, menghentikan langkah kami, dia berbalik dengan senyum misterius. "Ini semua--,?" "Untukmu," bisiknya, kembali menuntunku mendekati meja makan. Dia menyeret kursi dan menyuruhku duduk, dengan ragu aku duduk. "Emm, Za, dalam rangka apa?" tanyaku gugup. "Untuk satu tahun hubungan kita. Untuk kamu yang selalu bersabar dengan sikapku, untuk kamu yang selalu menemaniku, untuk kamu yang selalu mengerti aku, dan untuk kamu yang aku cintai," ucapnya, yang membuatku refleks menutup mulut dengan tangan. Satu tetes airmata meluncur dipipiku. Aku pikir dia tidak ingat dengan hari ini. Lidahku kelu, bingung harus berkata apa, "Za, a...ku, aku---." Tiba-tiba Reza menggenggam jemariku, mengusap cincin yang melingkar dijari manisku, kemudian menatapku dengan teduh. "Fellyan Tiffani Hirata, aku bukan seorang lelaki yang selalu mengumbar kata-kata cinta untuk wanitanya. Tapi satu hal yang harus kamu percaya. Bahwa aku sungguh-sungguh serius sama kamu. Maaf untuk sikapku belakangan ini yang selalu membuatmu kesal, marah bahkan menangis. Tapi teruslah di sisiku aku butuh kamu untuk candu dan penyemangatku," jelasnya dengan senyum yang begitu merekah, aku menatap matanya mencari sebuah kebenaran, yah aku menemukannya, Reza serius mengatakannya. Aku tak kuasa membendung airmataku kali ini mengalir begitu deras. "Aku punya sesuatu," Dia mengeluarkan kotak beludru berwarna merah dari saku jasnya, dengan ragu kuraih dan membukanya perlahan. Aku kembali menutup mulutku. Sebuah kalung berbandul huruf F. Reza bangkit, berjalan ke arahku mengambil kalungnya dan memasangkannya ke leherku. "Makasih," ucapku, tersenyum merekah. Reza mengangguk kemudian mencium keningku. "I love you." Aku tercekat. Oh Tuhan Reza, dia mengatakan kata-kata cinta untukku, tubuhku terpaku seperti tersengat listrik, jantungku berdebar tak karuan, bahagia sangat bahagia. "Love you too," jawabku pelan. Tuhan jika ini mimpi, jangan bangunkan aku lebih cepat. Aku ingin menikmati kebahagiaan ini bersama dia yang kucintai lebih lama lagi. Tapi jika ini nyata, kumohon biarkan kami melewati kebahagiaan ini setiap harinya. Karena aku mencintainya. Reza kembali duduk. Tak lama beberapa pelayan datang dengan berbagai makanan dan menyajikannya di meja kami. Dan satu yang mencuri perhatianku, datang beberapa pemusik yang mengalunkan musik klasik membuat suasana kian romantis. Dan aku tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Terimakasih Tuhan. Kuharap setelah ini sikap Reza akan terus seperti ini. Tbc ^_^ Reza sweet deh. Huh kalau beginikan ngeliatnya adem seneng gitu. Bener gak? Vote ya. Thanks readers.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD