Part 7

1390 Words
Surprise Reza semalam sukses membuat senyuman terus tersungging dari bibirku. Rasa bahagia yang membuncah begitu terasa. Semangatku yang pernah layu, seakan mekar kembali dengan siraman sikap hangat yang Reza tunjukan semalam. Dan aku berharap itu akan terjadi setiap hari dan hubungan kami akan terus hangat seperti ini. Aku gak tahu kalau bahagia sesederhana ini Tuhan. Hari ini, hari penting untukku. Launching busana ketiga selama karirku akan terlaksana. Semua persiapan sudah 95% rampung, Model-model peragaan pun sudah siap dengan busana masing-masing. Para undangan dan penonton sudah duduk manis di deretan bangku di depan panggung. Termasuk Kak Keenan dan Kak Shira dengan Devan di gendongannya, Annisa dan Tirta dengan Rafa di gendongan Tirta. Juga ada Doni beserta sang pacar yang kemarin dia kenalkan padaku. Semalam juga Reza berjanji akan menghadiri acara launchingku. Semoga launching ini berjalan lancar dan berkesan. Bukan hanya untukku tapi untuk semua orang yang menyaksikannya. Lagi-lagi bibirku memperlihatkan senyuman lebar kepada semua orang yang menyapaku. Aku mempersiapkan semua ini dengan matang, tak ingin gagal karena ini mungkin akan menjadi launching busana terakhirku. Karena sudah dari jauh-jauh hari aku memikirkannya dan keputusanku sudah bulat, menyerahkan semua tanggung jawab atas Butik pada Annisa sepenuhnya dan beralih profesi menjadi karyawan perusahaan seperti yang diharapkan Papa dan Kak Keenan akan kujalani mulai senin esok. Semua pekerjaan akan terasa ringan dan menyenangkan jika dijalani dengan hati yang tulus dan ikhlas. Yah, seperti itulah yang kutahu. Mataku melirik ke arah audien, mencari sosok yang sangat kuharapkan bisa hadir dalam acara bersejarah bagiku ini. Aku menghela napas kecewa karena yang ditunggu masih belum menampakkan batang hidungnya. "Mbak, lagi ngapain?" Wita menepuk pundakku yang sukses membuatku terlonjak dan langsung menoleh ke arahnya. "Gak lagi ngapa-ngapain," jawabku pelan berjalan dua langkah di depannya. "Ayo semua siap-siap sebentar lagi acara dimulai!" seruku, menepuk-nepuk kedua tanganku sebagai instruksi. Sementara acara berlangsung, aku kembali merilik jajaran undangan dan penonton dari balik panggung. Kak Keenan dan Kak Shira tersenyum sambil mengacungkan jempol mereka begitupun dengan yang dilakukan Annisa, Tirta dan juga Dicky, mereka tak hentinya memberikan semangat untukku. Aku tersenyum kecil ke arah mereka. Semangatku pudar menyadari belum ada tanda-tanda kedatangan lelaki yang notabene adalah calon suami ku. Ck, rasanya masih asing ketika menyebut Reza seperti itu. Beberapa kali aku mencoba menelponnya namun selalu tak ada jawaban. Khawatir, sedih, kecewa, gusar, perih, sakit semua rasa bercampur aduk menjadi satu. Nano-nano. Kamu dimana Za? Kamu lupa dengan hari ini? Kamu pasti datang kan? Jari jemariku dengan enggan mengetik sebuah pesan. Bahkan beberapa kali aku menghela napas antara klik kirim atau tidak. Kejadian semalam seolah hilang begitu saja dari benakku berganti dengan rasa kecewa yang tak bisa ku tahan akan sosoknya yang begitu tega pada diriku, bahkan dihari spesial untukku. Satu tetes airmata jatuh dari persembunyian. Entah berapa lama lagi aku bisa bertahan dengan semua sikapnya. Semalam sikapnya begitu hangat dan romantis. Semalam dia mampu membuat perasaanku melayang seakan ada ribuan kupu-kupu bertebaran dihatiku. Semalam dia bilang akan hadir tapi mana buktinya? Sampai acara selesai pun dia tak menampakan batang hidungnya. Tidak berhargakah aku? Oh Tuhan aku lelah. Bolehkah aku mengeluh? Ketegaran yang selama ini ku pupuk seolah lenyap begitu saja hari ini. Seharusnya aku bahagia hari ini karena launching busana ku berjalan lancar dan sesuai dengan ekspetasiku. "Selamat Mbak, karya anda sangat bagus dan menarik," puji seorang perempuan sekitar tigapuluh tahunan, salah satu undangan yang tidak sengaja berpapasan denganku. Dia tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya. Aku meraih dan berjabat tangan sopan, dengan senyum manis yang kutunjukan. Ralat senyum yang dibuat manis karena hatiku tidak semanis apa yang aku tunjukan. "Terima kasih, Ibu sudah berkenan hadir," balasku sopan. Bahkan aku berharap kamu yang pertama kali mengucapkan kata 'Selamat' untukku Za, tapi ternyata itu hanya harapan semu saja dan bahkan aku tak tahu kamu sekarang di mana dan sedang apa. Annisa datang ke ruang make up dan langsung berhambur memelukku "Selamat sahabat. It so amazing!" ucapnya riang dengan tangannya yang menepuk-nepuk punggungku. Aku tersenyum haru. Setelah Annisa, teman-temanku yang lain pun mengucapkan selamat atas keberhasilanku, tak lupa dengan Kak Keenan dan juga Kak Shira. Sebisa mungkin aku menutupi wajah sedih dan kecewaku di hadapan mereka. Bersikap seolah baik-baik saja. Bahkan ucapan serta senyuman mereka tak mampu menghapus rasa kecewaku yang tertuju pada satu orang. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, menahan air mata yang akan meluncur. Dengan malas, aku membereskan semua peralatanku kembali. Berada dikamar dan menumpahkan semua keluh kesah mungkin lebih baik daripada harus menangis didepan orang banyak yang hanya akan membuat mereka mencap aneh sekaligus prihatin. "Loh Fel, udah mau pulang?" Doni menepuk pundakku ketika aku menutup ritsleting tas kecilku. Aku hanya bergumam tanpa melirik kearahnya. Dengan wajah suntuk dan kusut seperti ini Doni pasti akan mencecarku dengan berbagai pertanyaan. "Kok gak semangat gitu, sih. Harusnya hari ini tuh lo bahagia kali karena acara lo sukses." "Enggak papa. Gue cuma sedikit capek aja," kilahku malas, membalikan tubuhku ke arahnya. "Gue duluan yah," sambungku, melangkah melewati Doni yang masih mematung. Baru selangkah, tangan kekar Doni mencekal lenganku. "Berapa lama sih lo kenal gue?" tanyanya. Aku masih bergeming tak ingin berbalik ke arahnya. "Lo lagi ada masalah?" tanyanya lagi. Kali ini aku menarik napas panjang. "Gue baik-baik aja," sanggahku. "Lo bohong. Kenapa sih lo jadi rajin banget nyimpen masalah lo sendiri. Apa susahnya sih berbagi sama sahabat lo sendiri," kata Doni penuh menekanan. Aku tersenyum getir, memilih tetap mengelak. "Gue gak papa Doni, cuma capek aja." "Kalau lo gini terus apa gunanya gue dan yang lain sebagai sahabat lo? Nyimpen beban sendiri itu cuma bakal buat hati lo nyesek, Fel," ujar Doni sangat lembut dan penuh kesungguhan. Kali ini aku harus membenarkan ucapannya. Menyimpan beban memang membuat rasa nyeri sekaligus sesak dihati. Mataku memanas, kugigit bibir bawah untuk menahan airmata agar tak mengalir deras. Namun apa daya, airmata meronta untuk keluar, aku menangis bahkan tubuhku bergetar. "Fel, lo nangis?" Nada suara Doni terdengar khawatir. Sekarang dia menyentuh bahuku untuk berbalik menghadapnya. "Lo kenapa? Mau cerita sama gue?" selidiknya dengan menatapku dalam. Pertahananku rapuh, aku berhambur kepelukan Doni yang masih syok dengan aksiku yang tiba-tiba. Namun detik kemudian dia mengelus punggungku lembut memberikan kesan hangat dan nyaman sebagai sahabat. "Tanpa perlu gue jawab. Lo pasti tahu jawabannya," lirihku tak ingin menyebut nama lelaki tak peka itu. Rasanya hatiku perih jika harus menyebut nama dia. "Kalo dia emang gak peduli sama lo, masih ada gue, Nisa, dan yang lain yang peduli sama lo. Kita siap buat dengerin semua keluh kesah lo." "Tapi dia jahat, padahal dia yang gue tunggu-tunggu buat datang kesini, tapi dia gak muncul sama sekali. Sakit, Don," Lirihku dengan napas tersenggal, tanganku meremas bagian punggung kaos Doni. Setelah bercerita seenggaknya bisa membuat perasaanku sedikit lega. "Iya gue tahu, pasti sakit banget. Tapi kalo dia jahat kenapa lo masih bertahan?" "Karena dulu gue yakin dia akan kembali seperti Reza yang dulu." Doni melerai pelukannya, kini jemarinya mengusap airmata di pipiku. "Kalau lo perioritas utama dia, dia pasti datang hari ini." "Tapi dia jahat." Doni tersenyum menenangkan. "Udah, jangan nangis lagi jelek tahu. Sejak kapan sih sahabat cerewet gue jadi melow begini," guraunya, menyeringai menampakan deretan gigi putih rapinya. Aku cemberut meninju pelan lengannya. "Sejak negara api menyerang. Puas lo?" jawabku asal. Namun detik kemudian aku tersenyum meskipun sedikit tertahan. Doni mengacak-acak rambutku gemas. "Nah gitu dong. Kan manis." "Doni?" "Mmm." "Apa gue gak berarti buat dia?" Doni menyipitkan matanya, menatapku lekat. "Kalau dia cinta sama lo, lo pasti bagian paling berarti buat hidup dia," jawabnya membuat satu garis senyum di bibirku. "Lo itu cantik, tapi lebih cantik kalo senyum," goda dia, tak urung membuatku salah tingkah. Seandainya yang sekarang memujiku itu Reza. Ah sudahlah! "Udah ah gue mau balik. Thanks..udah dengerin curhat gue. Perasaan gue lega sekarang." Aku menepuk pundak Doni beberapa kali. "Perlu gue anter?" Aku menggeleng. "Gak perlu, meskipun galau gini gue masih bisa nyetir mobil sendiri," ucapku, kemudian mataku menangkap sosok cantik yang berdiri sekitar dua meter di belakang Doni sedang menatap kami dengan raut wajah cemburu. Aku meringis, kemudian tersenyum sungkan padanya. Fokusku kembali pada Doni menyeringai tanpa dosa membuatnya mengernyitkan dahi. "Kayaknya lo butuh energi lebih buat bikin pacar lo gak cemburu sama gue." "Maksud lo?" "Gue balik yah," jawabku berbalik, dua langkah di depannya namun aku berbalik lagi menghadap Doni, menggoda sahabat sendiri memang sungguh menyenangkan. "Sekarang, lo balik badan. Dan selamat berbahagia Doni Gustama. Bye." Aku melambaikan tangan dan segera mengambil langkah penuh sebelum Doni mengeluarkan sumpah serapahnya. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD